Minggu, 09 Agustus 2015

TREMBESI karya : Arif Bagus Prasetyo

Legam dan menjulang

Burung-burung menyusun sarang di keteguhan lengan-lengannya.

 

Puri agung bagi rangrang dan bengkarung

Arsitektur yang tumbuh dari bayang-bayangnya sendiri.

 

Hari segera akan runtuh. Sendi-sendinya yang rumpang

Kian ringkih dan terpiuh.

 

Digayuti biji-biji pahit karma

Ia belajar mencintai segalanya yang tak layak dicintai.

 

Bercakap dengan mambang sepanjang malam

Penghuni dunia bawah yang matanya terbasuh susu

 

Yang susunya pernah penuh menampung hujan Januari

Dan putingnya tegak teracung dijilati matahari.

 

Dulu pernah ia berjalan membenci bintang

Hanya melangkah membunuh jarak, melupakan mata angin

 

Berpikir takkan sampai di mana pun

Takkan masuk dalam surga siapa pun

 

Dan berseru pada mereka yang bertahan, berjatuhan

dalam Tuhan:

 

“Hidup kekal memancung tugu

Atau musnah memendam diri dalam tanah!”

 

Mereka murka dan mengutuknya untuk lenyap

Meresap ke kambium pohon hitam:

 

Raja bermahkota rangka layang-layang

Lingkaran tahun dan nubuat-nubuatnya.

 

Menara azan di kejauhan. Burung-burung berdatangan

mencucuk cahaya terakhir senja dengan kicau keemasannya.

 

Para peladang bergegas pulang meramu api dan berdoa

Seraut wajah, selarik rajah dari surah sederhana

 

Kutorehkan pada jasad yang mengerang dalam batang.



 

2000

=ARIF BAGUS PRASETYO=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar