Tampilkan postingan dengan label RAMADHAN AL FATIH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RAMADHAN AL FATIH. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Oktober 2015

MENGENAL DIRI, MENGETAHUI TUHAN DAN MENGERTI SEMUA karya : Ramadhan Al Fatih

Jika kau adalah lelaki yang perkasa,mencabik hati putri-putri Hawa.
Maka giringlah rembulan.
Ikatlah tubuhnya dengan tali kehebatanmu,
lalu kaitkanlah di tiang teras rumahmu.
Karena aku akan berguru padamu dan menggali ilmumu.

Jika kau memiliki pikiran yang tanpa batas untuk menghardik
dan mematahkan tulang belulang saudara-saudaramu.
Maka loncatlah pada mahkota matahari,
berdirilah persis di depan wajahnya tanpa bergeming dan tundukan cahayanya.
Karena aku akan membasuh tumitmu hingga kuluruhkan ciumanku pada atap telapaknya.

Namun...
Jika yang ku utarakan padamu tak sanggup kau penuhi,hanya membuat kaca biibirmu merinding
dan jantungmu berdentum,maka bukan aku yang kau datangi.
Merangkaklah,bunuh kegilaanmu dihadapan Tuhan.
Kemudian perkenalkanlah dirimu kepada dirimu sendiri,
biarkan Tuhan menjadi saksi akan pengetahuan hatimu,kekasihmu dan saudaramu.




=RAMADHAN AL FATIH=

Rabu, 14 Oktober 2015

PERIHAL DOA karya : Ramadhan Al Fatih

Dalam perjalananku yang lalu,saat aku berada dalam cengkraman malam,yang melesatkan kilau peluru-pelurunya menembaki kawanan iblis. Aku melihat seorang perempuan yang duduk menyendiri dalam sebuah baitullah,hanya bibir terkatup dan tanpa pecahan kristal memburai di pipinya. Matanya seperti ibuku saat mencari jarum yang terpental dan hanya lantai yang mengetahui keberadaannya. Semakin tertegun aku melihatnya,tapi bukan kecantikannya yang menjadi sasaran mata hatiku. Melainkan aku melihat bayangan ruh yang terkapar di pundaknya dan sepertinya,itu adalah sosok do'a yang timbul dari berkecamuknya cinta dalam jiwanya.

Tak lama perempuan itu beranjak meninggalkan lantai yang terpukau menatapnya. Kemudian dia melintas di hadapanku,memandangku seraya berkata ; " Aku teraniaya dan hatiku terdesak oleh cinta kekasihku. Sekali,aku merangkak meminta pertolongan pada Tuhan. Kedua kali,aku berjalan menuju rumahnya yang suci,hingga ketiga kalinya aku berlari,mencari dan memanggil nama-NYA,namun tak ada balasan apapun dari-NYA. Malah yang kudapati adalah kekasihku semakin bengis merajaiku ". Mulailah kristal -kristal berguliran menghiasi pipinya,wajahnya memerah dan kudengar gemertak tulang belulangnya bergetaran. Perempuan itu tak juga meninggalkanku,dia masih menatapku dan gelegak suara jiwanya seperti mencekik leherku,hingga membuatku berkata ;

" Demikianlah Tuhan menjawab do'amu,kau mengetuk pintu rahmat-NYA. Do'amu yang tak terhitung banyaknya telah melepasmu dari bencana dan menangkal cakaran syaitan yang hendak mencabik-cabikmu. Teruslah minta kepada Tuhan,berlindunglah kepada-NYA selalu dan selalu. Kendati demikianlah langit akan mencahayai bumi yang memangkumu lalu menjauhkan petaka yang menggelayutimu ".

Perempuan itu masih berdiri di hadapanku,namun kristal yang pecah berubah menjadi kaca yang terselubungi embun,bibirnya mulai mengembang seperti sayap merak yang menunjukan kekuatan dalam keanggunannya. Setelah akhirnya Dia pergi meninggalkan senyuman yang panjang dalam riuh madah bintang-bintang.




=RAMADHAN AL FATIH=

MARI BERHITUNG ! DAN BAYANGKAN JAWABANNYA karya : Ramadhan Al Fatih

Sore di sebuah tanah lapang yang bermekaran layang-layang,
seorang bocah kecil mendatangiku dan berkata :

Sampai dengan hari ini telah berapa kali kau tertawa?
Baik karena bahagia atau,menertawakan kesedihan orang lain? Mungkin jari jemarimu tak akan pernah sanggup menghitungya.

Hingga detik ini berapa banyak air matamu bergulir?
Baik karena buah kebahagian atau, duka meranggas. Mungkin butiran tasbihpun tak mampu kau gulirkan untuk memanen jumlahnya.

Dan sekarang taukah hidangan nikmat yang telah kau rasakan?
Baik yang haqq atau bukan. Sungguh kerdil pikiranmu untuk menggapainya.

Namun bayangkan jika kau tahu jumlah akhir semuanya adalah ;
Seratus, dan hitungan yang telah kau peroleh dari hal-hal di atas berada pada angka ;
Sembilan puluh sembilan???

Kemudian Bocah itu kembali pergi bersama layang-layangnya, sementara aku hanya duduk terpaku membayangkan jawabanya. Bulu mataku bergetar, pikiran dan hatiku serasa erat berpelukan dan roh dalam jiwaku tersudut menggigil. Seakan esok malaikat akan datang menjaringnya,memasukannya dalam keramba tanpa cahaya.




=RAMADHAN AL FATIH=

BUJUK ILUSI - RAYU HALUNISASI ??? karya : Ramadhan Al Fatih

Kupecahkan lantai kamarku, kugali tanahnya untuk mencari cahaya yang tependam oleh pondasi kaki zaman.

Hingga nampaklah kemilaunya terjepit tumpukan kerikil gagasan para remaja tentang sebongkah halusinasi. Bersulang dalam seteguk pelarian meninggalkan sisi religius menuju bintang kekasih yang tengah bermimpi.Sementara jauh dalam batas sadarnya memalang empat puluh mata jeruji runcing memagari jiwanya.

Kugali lebih dalam lagi, kusingkirkan kerikil-kerikil yang mengenaskan dan kudapati sebuah lapisan penuh bebatuan besar. Mengalun aroma wangi tubuh ilusi meninggalkan hakikat cinta yang suci , demi berpaling pada rendah harga diri.

Tak ada lagi peduli falsafah sejati para wali dan rambu-rambu dogma pun lenyap dalam gairah klimaks birahi serta ambisi materi.Semakin dalam tanah bawah kamarku kugali, kutemukan jari-jariku nyeri tertimpa tiang peradaban .

Lalu kutinggalkan kamarku, kubiarkan tanah galiannya berantakan. Agar kelak sahabat-sahabatku yang datang melihat dan mendapati isi dalamnya,bahwa ;

Syaitan adalah nyata keberadaanya,

merayu Adam serta memberikan tawaran pada Isa.

Khamar yang di tawarkannya kelak akan menjadi sungai Khabal

dan zina mengantar pada kekekalan dalam keadaan terhina.




=RAMADHAN AL FATIH=

BIDADARI BIDADARI PENUNGGU SURGA karya : Ramadhan Al Fatih

Anak-anak cahaya mengabarkan cinta sejatinya,
bersama awan gemawan yang menyibak tirai senyum tulusnya.
Apalah daya api,jika kuatnya matahari pun tak mampu membakar jiwanya dan kekuasaan raja tak bisa menaklukan wilayah hatinya.
Wajahnya memantulkan bening taman nirwana,menggelora damai suka cita keluarga dan keteguhanya melahirkan syair pelita jiwa. Kasihnya membawa ketentraman alam raya.
Tak seperti apapun,karena hanya air mata cinta menetes dalam doa yang terpanjat untuknya.
Ikhlasnya adalah keperawanan suci dari pemimpin cahaya yang menghampiri dan menjadikan bintang-bintang jatuh mensyiarkan buah kedudukannya.
Mengantarkan keselamatan kasih dalam kesederhanaan,serta merta melahirkan batu permata penerang dunia dalam tugas mulia perintah Sang Maha Cinta.
Kemuliaanya menundukan kesombongan dan kesabarannya menampakan surga. Mengentaskan rintih perindu,mewujudkan merdu nyanyian panjang kesejahteraan.
Mereka adalah Sang Bidadari penunggu syurga.
Adalah ;
Iman , Ikhlas , Amal dan Cinta.
Adalah ;
Siti Khadijah ,
Siti Asiyah ,
Siti Maryam
dan Siti Fatimah.




=RAMADHAN AL FATIH=

INSPIRASI MATI karya : Ramadhan Al Fatih

Aku tak lagi memiliki inspirasi,
tak ada lagi kudengar riuh pepohonan berpuisi,tak juga semilir angin menyampaikan kesegaran syair imajinasi.
Aku seperti wajah tanpa mata
,tak melihat namun hanya mampu menatap khayalan.
Seumpama jiwa-jiwa yang terhempas,tersungkur dalam kemelut prahara.
Tubuhku diam,harapanku menganga dalam singit matahari korban remuk peradaban.
Hari-hariku menjadi kegelisahan yang terbentur diufuk timur-barat,terlempar keselatan-utara
dan terbengkalai pada dalamnya sumur zaman.

Nafasku hanya mencium bau kematian manusia-manusia yang di tawan kemiskinan,
kekalahan duniawi menuju tanah kemenangan surgawi.
Hukum materi menjadi hakim keadilan yang mengetukan palu keberhasilan,
nilai budaya leluhur menjadi bungkusan bangsa yang tersimpan di bawah peti-peti ambisi distorsi. Suara hati dianggap sebagai kebenaran hakiki,
menjauhkan posisi Tuhan dari nyala kepedulian manusiawi
dan gagasan cemerlang harta menjadi sikap yang merajai rohani.

Kesadaran spiritual seperti dada pelampiasan kekasih yang bersemayam dalam lembah pelupaan
dan bersemedi di balik dinding tradisi.
Tak banyak lagi kudengar syair para nabi di puji,
melangkah pergi rindu Illahi mengilhami
terusir nafsu asmara duniawi.



=RAMADHAN AL FATIH=

Selasa, 06 Oktober 2015

SANG KEKASIH karya : Ramadhan Al Fatih

Mungkin tak ku mengerti lebih dirimu,tapi kutahu itu bayang cahayamu yang menyelinap kepikiranku
lalu masuk menuju beranda hatiku.
Aku tak mengenal lagi selain namamu,karena hanya kulihat sekilas langkahmu berkelebat diakhir tahiyatku dan saat kuucap salamku, hanya telingaku mendengar desah nafasmu menyelubungi kelambu jantungku.

Aku tak sanggup meraihmu,kau terlalu suci demikian di artikan munajat kesaksianku.
Aku merasakan udara berlarian menyusuri rongga paru-paruku dan kau menyentuhkan lembut ujung jarimu pada kerangka tubuhku,tak tersamakan kecupan khusyuk pena para penyair.
Apa yang mesti kuutarakan padamu,karena aku terlalu mencintaimu,mengagumimu
bahkan sangat merindukanmu ku ikhlaskan segenap jiwaku.

Tak terhitung,jika harus kutahu berapa kali bibirku menyebut indah namamu.
Malam persinggahan mimpi jiwa-jiwa, siang menjadi riuhnya pengaduan ide dan ratapan manusia.

Sementara baris setia namamu tersuarakan panggilan rindu yang tak lekang oleh alunan waktu.




=RAMADHAN AL FATIH=

RINDUKU DALAM TAFAKUR karya : Ramadhan Al Fatih

Hatiku yang mungil berjejal penuh rasa mencintaiMU.
Segar cintaMU kurasakan melalui air susu ibuku,menetes lalu tumpah pada gelora samudra.

Pantaskah aku mendapat kasihMU?
Yang membentang memayungi matahari dan menaungi seisi bumi.
Kau cinta yang membangkitkanku,menopang dia,menyertai mereka dan merajai akhir senja.
Cintailah aku,seperti kau mengajari kekhilafanku
dan seperti diriku memaafkan hinaan yang meludahi wajahku.

Memang aku terlalu merindukanMU,bahkan begitu hebatnya telah ku singgahi pelosok-pelosok negri untuk mengikuti panggilan rindu ini.
Namun telingaku hanya mendengar ratapan seorang istri yang di campakan suaminya,
mataku melihat bayi dan ibu yang di rundung kelaparan membara.
Seorang perempuan tua menyentuh pundakku menitipkan rindunya
untuk buah hati yang telah lama mendaki tingginya bukit pelupaan.

Sungguh cintaku teramat murah untuk ku berikan padaMU,
jiwaku tinggalah kecompang-campingan kulit pembungkus tulang belulang.
Bersegeralah rubah aku menjadi debu-debu yang berterbangan terpikul sayap angin
menuju tanah wilayah kerajaanmu,Ya Robb.



=RAMADHAN AL FATIH=

MENUJU SUNYI karya : Ramadhan Al Fatih

Engkau yang tak tersamakan apapun ?
Jika dapat kupahat sisa nafasku di rentanya bumi hanya untukmu,
membalut repihan waktuku yang kian menguning hanya dengan kerinduanku padamu.
Sungguh mataku begitu pedih melihat aturan-aturan dan pandangan manusia yang mulai menunjukan kebenaran-kebenaran pribadinya.
Seperti kudengar lirih gerutu watak mereka menyampaikan keTuhanan,
namun yang terkandung hanya nilai-nilai penghasutan,
memberitakan ajaran-ajaran dengan menyulut api kebencian terhadap hak yang lain.

Aku menyaksikan tingginya terbang keyakinan manusia terhadap sebuah pembenaran,
namun mereka melupakan benih-benih cinta dan kedamaian.
Duhai Tuhan yang menguasai hari pembalasan?
Biarkankanlah kupelihara jiwa kotorku dalam kesunyian ini,
karena aku terlalu lemah untuk menghadapi riuhnya gagasan-gagasan manusia
tentang siapa yang benar dan siapa yang salah,
tentang membalas kesalahan manusia lain dengan kebencian dan buruk sangka.

Sungguh aku hanya mampu berserah dalam tikar ikhlasku,
ketika mendapat penghakiman dari para manusia yang terlalu gila menyuarakan kebenaran.
Sementara mata hatinya seperti cermin pecah yang bersemayam dalam remangnya keegoisan. Ampunilah aku,oh Tuhan?
Seperti Kau mengajariku memaafkan kesalahan-kesalahan sesamaku.



=RAMADHAN AL FATIH=

PADA-MU karya : Ramadhan Al Fatih

Karena aku tak dapat membelah hatiku untuk menunjukan besarnya cintaku pada-MU,
sebab matahari pun tak mampu kutukar dengan cahaya-MU yang memancar dalam langkah-langkahku.

Memang KAU begitu suci,
bahkan tajam mataku tak bisa menembus terang wajah-MU.

Siapalah diriku,
jika bukan sekujur ratapan yang mengusung peti harapan dengan lemah di hadapan-MU.

Aku mati Tuhan,sekali lagi aku mati untuk-MU.

Karena tak dapat ku pungkiri rinduku bangkit meronta membelai karya-karya Agung-MU.
Aku melihat dengan mataku bocah-bocah tersungkur dalam padas pelupaan
jauh sang bunda dari ingatannya,terjerembab tanpa doa mengukir.

Telingaku merupakan kenyerianku,akan seuntai dusta
yang tersandung kaki tiang lampu jalanan,bersimbah air mata penyesalan.

Aku benar-benar mati Tuhan,
kuhaturkan keriput keningku dalam tangan-MU.

Diseberang sana KAU menungguku,
tempat Kekasihku merajut munajat pada-MU
dan kelak jika pantas aku pun bertemu.



=RAMADHAN AL FATIH=

SABDA SANG NABI karya : Ramadhan Al Fatih

Aku mendengar telingaku berbicara pada mulutku.

Sembunyikanlah ucapanmu dari lidahmu yang mengecap rasa manis
atau
pahitnya suguhan sahabat-sahabatmu.

Jika kau tak mampu menuturkannya dengan kata-kata manis,
maka kau lebih baik diam.
Karena sesungguhnya Nasehatmu yang sebenarnya adalah
menasehati untuk menilai dirimu sendiri.

Kemudian aku pun melihat mataku seolah meremehkan pandangannya
pada tanganku yang tengah menari,mengukir tulisan.
Sorotnya memancarkan kesombongan dan ketajamannya membangkitkan kebencian,
sementara kelopaknya hanya menyembunyikan pengakuan dusta belaka.

Hanguskanlah hinaanmu pada yang lain,
sebab ketika kau menjaga kehormatan orang lain,niscaya demikianlah kehormataanmu akan terjaga
dan terjauhkan dirimu dari hinaan itu sendiri yang akan melumatmu
seperti api menghabiskan kayu bakar.

Adakah kau memiliki cahaya matahari,duhai mataku?
Seru hatiku dalam ketakutannya.

Apakah tubuhmu merasa puas dengan sutra yang memelukmu
dan untaian mutiara yang melingkari rambutmu?
Lirih pikiranku berbisik.

Selain amal pahala dan dosa dalam peti-peti kesaksian kau tak memiliki apapun dalam dirimu.
Hendaklah kau mengerti bahwasannya akal tertinggi ialah menasehati dirimu sendiri
dengan kebenaran Tuhan
dan sedikitpun celah pintu surga tak akan kau lihat apabila kau hidup sebagai jiwa
yang dungu suka mengadu domba.



=RAMADHAN AL FATIH=

( Beberapa kalimat Bersumber dari ; Haditz-haditz Nabi Muhammad . SAW yang telah banyak menginspirasi saya dalam menulis ).

SANG KEKASIH ABADI karya : Ramadhan Al Fatih

Sejauh apakah itu,aku akan setia mengikutimu.
Apapun itu aku tak perduli,
meski harus terhempas jiwaku di atas jejak jalananmu,
meski hancur tubuhku di hantam batu-batu besar nan panas.

Kataku,
tikamlah dadaku,
koyaklah jantung dan empeduku.
Karena malam-malam yang mencekiku dengan bualannya,
tidaklah terasa mengkerutkan kantung kerinduanku.

Nyaliku terlalu besar untuk mencintaimu,
bahkan
tingginya singgasana para Dewa tak mampu meruntuhkan pendapa kesungguhanku.
Bukan rahasia,demikian kejujuran hatiku yang kuungkapkan di hadapan badai yang memberontak.
Aku setengah mati mendambakanmu,
aku tak merasa bergeming jika maut berdiri mengancamku,
sebab sekali aku mati,maka seribu air mata akan tumpah memujamu.

Aku akan lahir sebagai anggur cinta,
mabuk penuh kesadaran,
syukur menyantap kurma keberkahan.
Matiku adalah hidup menuju keabadian cintamu,

Ya Muhammad.




=RAMADHAN AL FATIH=

SEBENAR-BENARNYA CINTA karya : Ramadhan Al Fatih

Kau tak perlu membuatku menangis,
sebab jiwaku teramat kenyang menelan manis pahitnya air mata.

Aku bukanlah orang yang pantas kau cintai,
karena aku hanyalah sekumpulan debu berterbangan yang menabrak dinding kamarmu.

Tambatkanlah sepenuh hatimu pada cinta yang sebenarnya.
Cinta yang akan membuatmu kuat dan tak terkalahkan.
Bertasbihlah dengan cintamu saat hawa rindu menyeretmu.
Tunggulah cinta menyambutmu pada hari yang dikenal,
sebab cinta yang sesungguhnya akan menunjukan padamu
tentang golongan-golongan mana yang berada di atas dan bawah.

Itulah sebenar-benarnya cintamu yang merupakan sumber kebenaran,
yang memiliki dipan bertahtakan emas dan permata.
Curahkanlah segenap ketidak pantasanmu,
minumlah air kasih yang senantiasa mengalir dengan sloki kenikmatan,
tanpa merasakan khawatir akan pusing dan mabuk membelenggumu.

Memang aku yang menghantui pikiranmu,
namun aku terlalu banyak memberikanmu kegilaan,
menjerumuskanmu pada lembah nikmat kedustaan dan membutakan



=RAMADHAN AL FATIH=

MUTIARA NIKMAT karya : Ramadhan Al Fatih

Semua yang ada di bumi itu akan binasa,
maka nikmat Tuhan manakah yang telah kamu dustakan?

Aku bertanya kepadamu duhai kekasihku.

Bukankah kita telah menyaksikan bersama hancurnya kehidupan para remaja
yang takluk melawan dirinya sendiri.
Bukankah kita sama-sama mendengar ratapan
dan jeritan gadis-gadis yang terbodohi kepalsuan cinta.

Apakah yang kau temukan dalam malam-malam panjang bergelimang kemewahan
dan benarkah itu nikmat sesungguhnya yang kau syukuri?

Benarkah kau menginginkanku,wahai kekasihku?

Sementara kau dan aku laksana tembikar dari tanah kering,
akupun tak mampu memberikanmu buah-buahan serta pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang dan bunga-bunga yang harum baunya.
Namun jika cintamu padaku terlalu nyata merampas hatimu,maka ikutlah bersamaku menuju majelis ilmu. Sebab akan kuberitahukan padamu ayat-ayat cinta,
dimana malaikat mencantumkan nama kita sebagai berkah cinta.

Bukalah lebar-lebar bening matamu,Oh kekasihku?

Lihatlah betapa tingginya langit,demikianlah sebenarnya neraca keadilan itu terletak.
Supaya kau dan aku tak melampaui batasnya
dan lihatlah lautan-lautan bertemu dalam batas-batas yang tak dilampaui oleh masing-masing.
Disana ada bahtera-bahtera yang memilki tinggi layarnya laksana gunung-gunung,
lalu pada kedalamannya kita temukan mutiara juga marjan
dan matahari pun patuh berada dalam kedua tempat yang terkendali.

Maka nikmat Tuhan manakah yang telah aku dan kau dustakan?




=RAMADHAN AL FATIH=

NEGRI CAHAYA karya : Ramadhan Al Fatih

Disanalah negri keabadiaan itu berada.
Dimana air mengalir tanpa henti,
buah matang tak menunggu dekapan musim
dan begitu mudah untuk mememetiknya.

Disini negri yang sebagian berisi dengan orang tertidur,
wujud-wujud yang nampak adalah mimpi-mimpi berwajah lelap
dan suaranya hanyalah berisik dengkuran.

Disini yang memiliki iman akan menyalakan pelita hatinya.
Memang hati bukanlah cahaya,melainkan ibarat cermin yang dapat memantulkan cahaya.
Jika terbiarkan kotor penuh noda,maka cahaya tak dapat memantul
apalagi untuk bercermin,

sebab yang akan terlihat hanyalah prasangka buruk
dan prasangka baik menurut dirinya semata.

Disanalah bidadari-bidadari cinta bermata jeli menundukkan pandangannya,
bertelakan di atas bantal-bantal hijau dan permadani nan indah.

Pergilah kenegri disana,tinggalkanlah negri disini dan ambilah sari-sari manfaatnya
sebagai bekal keselamatan.
Ajaklah kekasihmu, wanita yang mengemban harapan menjadi istri soleha
dan laki-laki yang tenang jiwanya senantiasa taqarrub serta mengamalkan ilmunya yang bermanfaat.

Disanalah Negri Cahaya,
kerajaan berhuni jiwa-jiwa terpilih oleh Sang Maha Cinta.



=RAMADHAN AL FATIH=

SATU karya : Ramadhan Al Fatih

Dia laksana cahaya,
cobalah kau nyalakan pelita dalam kegelapan.
Demikianlah sinar-NYA menyinggahi semua arah.

Aku sungguh takut kepada-MU,
sebab cinta ini terlalu tinggi untuk kuutarakan dengan jiwaku yang kotor.

Dalam kesunyian hatiku keramaian bergelegar,
memikat dan memaksaku jatuh hati.
Namun kubungkam mulutnya satu persatu
dan kupasung dengan eratnya agar berserah lalu
memohon kepadamu Ya Robb?

Aku tak memiliki pilihan yang lain dan memang tak ada yang lain,
selain Engkau Dzat yang Maha kekal.
Kau mengajariku berbicara,
sebab hanya kepadamu aku tak mendapat kesia-sian.

Dialah jalan sesungguhnya,
yang menurunkan orang kafir dari atas mimbar
dan mengangkat orang beriman dalam kedudukan tinggi lagi mulia.



=RAMADHAN AL FATIH=

Rabu, 30 September 2015

KEMARIN DAN HARI INI karya : Ramadhan Al Fatih

Bulan-bulan yang berlalu telah cukup memandikanku dalam perenungan panjang,

menerima nasehat Tuhan dan melepaskan kegaduhan duniawi.

Hari-hari telah cukup kutangisi dan waktu-waktu yang bengis pun telah cukup menawanku.

Itu adalah benih-benih pengetahuan yang kutanam dengan tangan bergetar

dan bibir penuh ratapan. I

nilah ranum buahnya yang kupanen sebagai lambang kesabaran.

Apa kau pikir bahwa kemarin aku telah mati terkubur dalam kekalahan?

Tidak seperti itu wahai saudaraku,

karena Tuhan memberikan petunjuk-NYA yang nyata

ketika kuhaturkan lukaku dalam keikhlasan.


Ini adalah jiwaku yang baru,namun bukan lahir dari yang mati dan tidak sekalipun

akan membunuh sebagai pembalasan.

Karena hari ini aku datang dari kemenangan untuk membawakan obor padamu,

supaya kau dapat melihat jalanmu sekaligus mengantarmu pada Tuhan yang satu.

Sebab dunia yang kau dewakan itu hanyalah sumur begitu dalam,

sementara di dasarnya hanyalah tanah kering yang menyuguhkan keanehan teramat nyata.

Inilah yang kusebut makna kehidupan,yakni rendah diri dan menyerah

untuk kembali pada Tuhan itulah kemenanganku.


Jika kemarin aku memilih diam kepadamu,itu bukan berarti aku takut kepadamu,

duhai sahabatku?

Namun aku tak memiliki perkataan apapun yang lebih baik,

sementara hatiku menahan kesedihan terhadapmu yang mencari kepuasan duniawi.

Sehingga kau memberikan tuduhan-tuduhan kepada sesamamu

dengan menggalang opini kebenaran,

agar dirimu senantiasa mencumbui harta

dan kemewahan yang berada dalam rasa aman lindungan syaitan.




=RAMADHAN AL FATIH=

AMALAN HATI karya : Ramadhan Al Fatih

Aku menutup diriku yang sebenarnya,dari perempuan yang hendak menyentuh hatiku.
Sebab aku tahu bahwa, apa yang tersembunyi dariku akan membuatnya berpaling
dari kebenaran yang seharusnya dia cari.

Apa yang terlontar dalam jeritan dan tangisan bayi adalah keinginan murni yang tenang.
Siapa yang melihatnya dengan ketidak sabaran,hanyalah akan menimbulkan kebutaan hati yang tak dapat meraba jalan menuju pintu rumah jiwanya sendiri.

Kesengsaraan dan kemalangan yang kututurkan pada sahabat yang kusayangi
merupakan kulit dari isi buah kebahagian,
namun dia memandang pemberian kasih dari sisi luar yang terbentuk
dan tertangkap oleh mata wajah.

Seorang pengemis yang buta matanya memperoleh sebutir koin dengan jumlah rendah
dari pemberian hati yang tulus.
Kemudian hatinya berucap syukur seraya berdoa pada Tuhan yang maha melihat;

semoga Engkau melapangkan rizkinya ya Tuhan.

Hati bagiku adalah pancuran kekayaan yang terasa segar
jika mengalir keikhlasan
dan hati yang mampu menterjemahkan keadaan sebenarnya.




=RAMADHAN AL FATIH=

KUTAHU karya : Ramadhan Al Fatih

Yang ku tahu kau selalu menungguku disana.

Diatas sebuah menara istana,

dimana matahari memahat puisi keteduhan

dan rembulan terlena oleh lantunannya.


Di seberang sana kau berada.

Lewat angin kau titipkan kata padaku ;


Datanglah ke kotaku,sebab tak ada yang sia-sia di jalannya.

Bunga-bunga tak pernah layu

dan tenda-tenda berhuni bidadari menunggumu penuh cinta.


Aku tahu,kau mencintaiku apa adanya.

Meski telah seribu kali aku membuatmu kecewa.

Namun ku tahu cintaku padamu lebih dari luar biasa.

Karena ku tahu,

KAU MAHA TAHU.





=RAMADHAN AL FATIH=

KEMBALI karya : Ramadhan Al Fatih

Saat tiba di halaman rumahmu,aku melihat pintu-pintu terbuka lebar menyambutku.

Aku datang padamu,sebab kau mengetuk pintu kelalaianku.


Dari dalamnya lautan aku tenggelam dan menyembul sebagai karang.

Aku berpetualang menaklukan imajinasi,menumbangkan ganasnya rasa takut

yang menghadangku.

Tapi apa artinya bila kau tak mencintaiku.

Aku takut padamu,bukan karena maut yang mengerikan menghampiriku.

Melainkan tak akan kusiakan hadir sebagai salah satu tamu

dalam perjamuan kasihMU.




=RAMADHAN AL FATIH=