Tampilkan postingan dengan label SITOR.SITUMORANG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SITOR.SITUMORANG. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 September 2015

AMOY-AIMEE karya : Sitor Situmorang

Terbakar lumat-lumat

Menggapai juga lidah ingin

Api di pediangan

 

Terkapar sonder surat

Mati juga malam dingin

Lahirnya hari keisengan

 

Mari, cabikkan malam Amoy

Jika terlalu – ingin malam ini

Besok ada mentari sonder hati

 

Belum apa-apa hampa begini

Jauh dalam terowongan nadi

Berperang bumi dan sepi




=SITOR SITUMORANG=

KRISTUS DI MEDAN PERANG karya : Sitor Situmorang

Ia menyeret diri dalam lumpur

mengutuk dan melihat langit gugur

Jenderal pemberontak segala zaman,

Kuasa mutlak terbayang di angan!

 

Tapi langit ditinggalkan merah,

pedang patah di sisi berdarah,

Tapi mimpi selalu menghadang,

Akan sampai di ujung: Menang!

 

Sekeliling hanya reruntuhan.

Jauh manusia serta ratapan,

Dan di hati tersimpan dalam:

Sekali 'kan dapat balas dendam!

 

Saat bumi olehnya diadili,

dirombak dan dihanguskan,

Seperti Cartago, habis dihancurkan,

dibajak lalu tandus digarami.

 

Tumpasnya hukum lama,

Menjelmanya hukum Baru,

Ia, yang takkan kenal ampun,

Penegak Kuasa seribu tahun!




1955

=SITOR SITUMORANG=

PENDARATAN MALAM karya : Sitor Situmorang

Tentara tak berbekal mendarat

Di malam disuburkan lapar

(Bila fajar bawa berita

kayu apung istirahat mereka)

Tentara tak berbekal mendarat

Di malam disuburkan lapar




=SITOR SITUMORANG=

JAKARTA 17 AGUSTUS 45 DINIHARI karya : Sitor Situmorang

Sederhana dan murni

Impian remaja

Hikmah kehidupan

berNusa

berBangsa

berBahasa

Kewajaran napas

dan degub jantung

Keserasian beralam

dan bertujuan

Lama didambakan

menjadi kenyataan

wajar, bebas

seperti embun

seperti sinar matahari

menerangi bumi

di hari pagi

Kemanusiaan

Indonesia Merdeka




17 Agustus 1945

=SITOR SITUMORANG=

Minggu, 09 Agustus 2015

MATINYA JUARA TINJU karya : Sitor Situmorang

Telah berlaku pula

Hukum dewata

Janganlah beri nama

Ia mati apa

Dengarlah ceritanya

Cerita orang tua-tua

Kusampaikan pada pembaca

 

Di seluruh negeri terkenal ia juara

Juara yang selalu menang

Dan orang mengalah saja

Mendengar segala ceritanya

Tiada yang berani

Tiada yang mau

Membantah kata-katanya

Di kedai-kedai

Ketika minum tuak garang

 

Selain juara ia pemburu pula

Kalau bukan rusa, babi hutanlah mangsanya

Mana juara, pula pemburu

Pandai menari

Membuat ukiran indah sekali

Serta memetik kecapi...

 

Ia suka mabuk

Dan bila ia mengutuk

Tak ada yang tak kena

Tapi dari segala mangsa

Istrinya yang paling menderita

 

Dua anak dilahirkannya

Satu laki, satu perempuan

Satu pun tak ada kesukaan bapaknya

Berkata orang: “Mana ‘kan pula

Anak lahir, bapak di penjudian.”

 

Tiba saat anak laki dikawinkan

Hal itu dirundingkan

Si anak: Aku terlalu muda.

Si bapak: Kawin sesukamu, asal jangan yang buta

Si ibu: Kawinlah, Nak, baik ada teman

Si gadis diam

Tak sepatah pun keluar

Hatinya terbelah antara ibu penyabar

Dan si bapak yang kejam.

 

Akhirnya jadi juga

Dengan gadis pilihan ibunya

Dan si bapak mendongkol sejak mula

Hanya karena bukan pilihannya

 

Tahun berganti tahun, juara semakin tua,

Anak gadis dewasa, tapi tak juga kawin.

Pula menantu tak memenuhi ingin

Cucu ditunggu tak datang-datang juga.

 

“Mana hanya satu anak laki

Menantu pilihan ladang mati

Mampus kau semua.”

Demikian kutuk juara

Di hari-hari kalah judi

 

Si anak laki tak peduli

Putuskan pergi merantau

Berkata pada ibu tersedu:

“Tak akan aku pulang, jangan ditunggu

Atau bapak harus mati.”

 

Tinggallah ibu

Bersama anak gadis

Tak ada yang meminang, takut bapak bengis

Yang kini hanya berburu

Lupakan judi

Dan ingat anak yang pergi

 

Lama ditunggu

Datang kabar dari jauh

Menantu mati di rantau

Dari kerongkongan ibu lepas keluh:

“Demikianlah nasib

Kelahiran yang kasip

Ditinggalkan yang hidup

Ditinggalkan yang mati.”

Lalu ia menanti

Di bayang-bayang bulan redup

 

Mereka hidup berdua kini

Juara lama telah pergi

Kawin lagi

Harapkan anak lelaki

Sebelum mati

 

Tak ada yang kembali

Juara dapat anak tiga

Tak ada laki-laki

Dan pada suatu hari

Ia merasa tua

Datu berkata:

“Adakan pesta

Doakan rahmat dewata

Undang istri pertama

Tapi anak terutama.”

 

Juara dengan hati berat

Kirimkan surat

Minta datang anak dan istri

Lalu ia menanti

 

Pesuruh pulang

Bawa berita bertentangan

Anak datang, anak tak datang

Hati juara dirundung kesangsian

Mungkin datang, mungkin tidak

Dan supaya lupa

Ia pergi berburu

Di hari anak ditunggu

Mungkin datang, mungkin tidak

 

Ia berburu di lereng gunung

Di luar kampung

Sepanjang hari

Ia menanti

 

Menjelang malam hari

Di kampung tiba anak-istri

Juara tak tahu

Asyik berburu

 

Di malam hari ia digotong

Dada berlumur darah

Berkata orang: “Tak dapat lagi ditolong

Ajal menuntut sudah.”

Lalu dibaringkan di tengah rumah

Dekat anak dan istri

Lama dinanti

Lalu mati

 

Kembali sudah, kembali juara

Juara pulang dari berburu rusa




=SITOR SITUMORANG=

MIMPINYA karya : Sitor Situmorang

I

Pada segala surat menanti nama

Pada segala surat dinanti nama

 

II

Pada segala air terpasang layar

Pada segala air terkulai layar

 

III

Pada segala mata menanti cahaya

Pada segala mata dinanti cahaya




=SITOR SITUMORANG=

JAKARTA karya : Sitor Situmorang

Buat Sumantri

 

Diriku rawa

Panas membatu di putih dinding

Semua punya arti, manusia dan malaria

 



=SITOR SITUMORANG=

PANTAI karya : Sitor Situmorang

Pada F.P. Thomassen

 

Ibu, telah kulihat pantai

Telah kulihat laut pandai berkata-kata

 

Telah kulihat kapal enggan berlayar

Serta matahari bersinar

 

Ibu, telah kulihat tubuh gadis mandi

Jangan kau lagi berkata

Kau mau beranak

 

Telah kulihat pantai pasir

Membujur dalam diri

 

Putih sekali

 




=SITOR SITUMORANG=

CONDITION karya : Sitor Situmorang

Kami telah berharap dengan kehangatan tunas di musim hujan,
dan bila kami kecewa seperti anak, tidak pun karena kebohongan lagi,
hanya karena ketiadakamanan kata, perumus ingin berhubungan dalam balutan pengertian.
Juga perpisahan tiada lagi menyedihkan sejak mati sendiri tak mematikan rindu,
ya, rindulah nafas yang menguap dari segala yang kami belai atau hancurkan,
sejak kami melepaskan hak merasa asing di pembuangan, sejak pembuangan itu saja
Yang merasakan raut senja dan fajar benda yang dilupakan dan memberati diri.




=SITOR SITUMORANG=

Sabtu, 08 Agustus 2015

PARIS-LA-NUIT karya : Sitor Situmorang

Malaikatku, malaikatku

Turun menyelimuti senja

kebosanan

Menggeliat dalam beribu lampu

lusuh

Duka yang melapuk pada dinding hati

menjadi ragi

anggur nafsu

hingga darah bening

dan berlagu

 

Malaikatku, malaikatku

Dari asap pembiusan iseng

Menguap ia di malam tipis

Melepas dari kelabu rumah-rumah kota mati

musim rontok

Warna musim mengalun dalam angin jatuh

berbisik: Anak dulu sudah jadi gadis.

Angin, menyapu daun serta meluluh

bayang ingin jalan,

Lincah menggigil dalam tangis.

 

Kabut iseng kotaku

Terbalut dalam duka perawan keputihan salju,

kala bangun: hanya malaikat tak kenal dosa

 

Malaikatku

terbalut tilam sutera malam dosa

pada hati binatang kota belantara.

Harimau piaraan di buah dada,

isengku mendendam pada genitmu,

Menatap dalam hutan malam candu

Khayal serigala ingin yang kulepas

berbiak dan meraung dalam mulut godamu

Memuntahkan benih keisengan baru

pada mulut yang mengutuk puas.

 

Tawa jahanam di buas bibirnya menyelinap

Malaikatku

Lalu jejak di ambang malam berderap

Tanda hari baru bangkit: telanjang subur

Dari jurang pelaminan kubur

Cahaya dari awan kelesuan mati:

 

di wajah paginya rambut terurai kubelai

 

Lalu bangun di tengah hari perutnya

Memuntahkan dan menjilat lagi benih keisenganku




=SITOR SITUMORANG=

PAUL ELUARD karya : Sitor Situmorang

- Besar penyair karena duka -

Hatinya pemberontakan

Senyumnya kedamaian

Saudara bersaudara

 

Manusia serat kasih

Singgah sehari putih

Merpati terbang lalu

Sesudah itu salju




=SITOR SITUMORANG=

JALAN BATU KE DANAU karya : Sitor Situmorang

Lewat Tarutung dan Siantar

ada dua jalan baru

menuju danau

Aku tahu

 

Lewat Tarutung dan Siantar

ada dua jalan batu

menuju kau

 

Aku tahu

 

Dari Taruntung dan Siantar

ada dua jalan rantau

ke pangkuanmu

 

Aku lalu

 

Dari Taruntung dan Siantar

ada dua jalan rindu

Teringat kau

 

Aku tak tahu

 




=SITOR SITUMORANG=

SENJA DI DESA karya : Sitor Situmorang

Buat Bakri + Banda

 

Senja di desa-desa

Antara kampung-kampung

dan matahari dijunjung

gadis-gadis remaja:

Periuk bundar-bundar

tanah liat terbakar

tempaan tukang tua

matahari senja.

 

Antara sumber air

dan gerbang perkampungan

terlena jalan pasir

pulang dari pancuran ...

gadis-gadis remaja

Bulan di kepalanya.




=SITOR SITUMORANG=

Senin, 03 Agustus 2015

CATATAN 1961 TERSISA karya : Sitor Situmorang

di pelataran atas gerbang istana kaisar

wu pi phu – presiden negara –

deng xiao ping – sekjen partainya –

 

menerima para gubernur dan

tamu-tamu dari 6 benua

 

langit malam diterangi kembangapi

menggelegar seperti gemuruh pedang

1000 jengis khan dari padang udara

bergema sampai jauh di lautan

 

tentara mongol atau lasykar han?

sejarah terbalut kaligrafi sajak

di kaki patung raksasa mao –

tak mampu aku baca artinya

 

di wajah tuan rumah

yang terbalut pekat malam

nampak lakon sekilas

percikan kembangapi

di langit yang bisu

 

siapa penakluk, siapa yang ditaklukkan?

siapa pemenang, siapa yang dimenangkan?

- kelir berganti -

dalang, penonton, pengamat

samasama terbalut langit bisu




=SITOR SITUMORANG=

PESAN RUTH PADA TIAP PERAWAN karya : Sitor Situmorang

Ke mana kau pergi, ke sana aku pergi,

Di mana kau tinggal, di sana aku tinggal

Bangsamu akan menjadi bangsaku,

Tuhanmu akan menjadi Tuhanku.

 

Aku daging dari dagingmu, Hidup

seia-sekata, dalam suka dan duka,

Tetap bersama kecuali ajal memisah –

Ku-iakan Tuanku, demi perintah Allah.

 

Hujan dan matahari, musim akan

berganti. Kasihku akan kekal.

Siang dan malam, tahun-tahun pun

berganti. Rambutku saja yang berubah.

 

Harta? Lihatlah burung di langit

Tak kurang suatu apa. Padanya

Tuhan tak lupa. Pandanglah bunga,

tumbuh di ladang. Demikianlah kita,

dari kasih Allah akan dapat pahala.




=SITOR SITUMORANG=

DANAU TOBA karya : Sitor Situmorang

Aku rindu pada bahagia anak,

Yang menunggu bapaknya pulang,

Dari gunung membawa puput,

Sepotong bambu tumbuh di paya-paya.

 

Pada perahu tiba-tiba muncul sore,

Dari balik tanjung di teluk danau,

Membawa Ibu dari pekan,

Dengan oleh-oleh kue beras bergula merah.

 

Aku rindu pada malam berbulan,

Kala si tua dan si anak mandi sinar purnama,

Berkaca di permukaan danau biru –

Sebelum air mengelucak di musim kemarau

 

Aku rindu pada bunyi seruling gembala,

Bergema di bukit memenuhi lembah,

Pada permainan di gua-gua batu penuh lebah,

Kala api panen mengusik hewan di tengah sawah.

 

Aku rindu. Aku rindu pada tebing hijau,

Tempat ikan emas bercengkerama,

Di antara lumut menggeliat bening,

Seperti taman zambrut dalam impian.

 

Aku rindu pada batu-batu besar dan hitam,

Muntahan lahar dari perut bumi,

Pada pemandangan tua ribuan tahun,

Si gembala domba, termenung di atas batu.

 

Aku rindu bau-bau di musim panen,

Gelak si tani purba membakar jerami,

Rindu pada si nelayan pulang dari danau,

Menyandang pukat dan ikan di sore hari.

 

Aku rindu pada suara kakak,

Memanggil aku pulang makan,

Rindu pada resah bambu di benteng kampung,

Melambaikan daunnya pada angin gunung.

 

Aku rindu pada adikku, yang rindu padaku,

Aku rindu bunyi palu tukang perahu

Aku rindu lenguh sapi, pada bau kerbau,

Aku rindu, rindu suara Ibu, terkubur di pinggir danau.

 

Aku rindu lonceng gereja bertalu-talu,

Rindu gemanya merayap-rayap di udara,

Menyongsong malam, mengumumkan satu-satu Kematian,

Merayakan Perkawinan – serta Kelahiran,

Pada malam Natal, kisah tiga Raja dari Timur,

Datang menghormati Anak Manusia,

Di sana, di tepi Danau Toba, kelahiranku.




=SITOR SITUMORANG=

DI HUTAN LINTONG karya : Sitor Situmorang

jalan setapak ini

jalan ayah, jalannya nenek

jalan nenek dari neneknya

 

jalan berawa berlumut

samar di dasar hutan

jalan ziarahku kini

 

ke pemukiman 8 generasi

kini kosong terbuka

di tengah rimba

 

tanpa hewan tanpa manusia

tinggal batu peti tengkorak

di benteng berbambu ciut

 

tinggal angin tinggal embun

degup jantungku

dikejut anggrek liar

 

dan kawanan rusa

di bekas ladang-ladang dulu

makan rumput muda

 

di malam purnama




=SITOR SITUMORANG=

NAMA DAN PERTANDA karya : Sitor Situmorang

Dari anakku kuambil nama,

Dari istriku kuambil cinta,

Bagiku jadi pertanda,

Bagiku jadi manna.

 

Manna yang memberi hidup,

Pertanda yang menyuluh jalan,

Sepanjang malam pengembaraan,

Hidup tak menemukan tujuan.

 

Di padang pasir kutemukan lagi,

-- Pulang dari pembuangan –

Menuju lembah – telah dijanji,

Seperti Israel menuju Kanaan.

 

Ke sana aku pulang segera,

Menemui sanak saudara sejati,

Lepas dari perbudakan manusia,

Menuju kebebasan kasih murni.

 

Telah nampak bukit dan hutan,

Negeri kerinduan di tepi langit,

Melambai dari seberang dengan tangan,

Fajar di atas air menggamit.

 

Pertanda telah menuntun jalanku,

Manna di gurun menuntun hidupku,

Anakku telah memberi aku manna,

Ibunya telah memberi aku cinta.




=SITOR SITUMORANG=