Tampilkan postingan dengan label BAGUS BURHAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAGUS BURHAM. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Juli 2015

CARLA BRUNI karya : Bagus Burham

secangkir kopi, menonton tv, menggoreng omelet
mendengar engkau bersiul. gitar menari,
sudah cukup bagiku pagi ini. perancis dingin
dalam wallpaper. seseorang mengayuh
sepeda sebegitu semangat menghadapi matahari
musim-musim menjatuhkan daun-daun jeruk

 

jemari pemetik gitar berpadu dengan wanita
bertopi gatsby. tepuk tangan menghampiri
ah, sekarang aku tahu, setiap iklan sabun itu diputar,
ada suaramu sebagai latar, detik bersebentar
bernyanyilah seperti konser kaum gitana
yang menghibur jalanan batu-batu, lesu-lesu
menjadi gembira, le plus beau du quartier 

 

kilau embun di esok yang buta. angin menerjang
membawa aroma daun-daun, basahan syahdu
selalu, kamu benarkan korpus suasana itu

 


=BAGUS BURHAM=

JAM WEKER REALITAS karya : Bagus Burham

di waktu-waktu yang ini

orang-orang belum kembali

jutaan gerimis berpindah

dari langit-langit lepas pagi

ke berahi lumpur

 

bunyi-bunyian pinta tolong

memekakkan telingaku

udara pucuk lumut tembok

mendapati kamu di sebuah mimpi lemas

sedang menengadah ke langit keropos

bertanya dalam bahasa yang tak bisa kutiru

 

bahkan masuk ke dalam. jauh lebih dalam

ratusan pandom meniru putaran matari

di horison jendela sore

 

pintu yang menganga

sepasang sepatu telanjur keluar luar

mengejar sepasang kupu-kupu

di sepasang pohon, saling berbagi udara

yang diserbuk dari kejauhan

 

di waktu-waktu yang ini

orang-orang tak pernah kembali

dialog angin dengan lembar-lembar daun

menyingkap musim berganti

 



=BAGUS BURHAM=

NOCTURNO karya : Bagus Burham

menemui semak yang remang, bertombak cahaya

di relung-relung tak berterang, palung paling gulita

jika bintang tak ada malam ini, kembalilah kunang-kunang,

malam ini, gerimis membawa semacam tanda:

pura-pura rumput menari dalam kesedihan kemarau

 

rimis gerimis, serupa undangan kereta dari rel-rel

yang membawa segudang musik dan sedepa partitur

meracik hujan dalam-dalam. arus menggelombang

memperbincangkan wajah gemawan yang murung

 

cahaya-cahaya menyilang warna dalam riak

berkubang, berhentilah dan berkumpul di sebuah lubang

sementara orang-orang menunggumu pulang,

disekap waktu yang terlalu. menghentikan ini malam

 



=BAGUS BURHAM=

JELAGA karya : Bagus Burham

hamba dari segala kesesalan: aku. inilah yang kumaksudkan:

bilamana petang bersembunyi di lidah malam, burung-burung

kembali memutari senjakala, kita sudah mesti bingkas

dan meninggalkan masing-masing dari diri, menuju ke luas

ke tapal batas. angkasa yang pura-pura tak melihat kita

merangkak dengan gegas mendaki udara memenuhkan diri

 

sebelum memecah jutaan butir kerinduan pada angin

pada bentuk yang tak berbentuk. Aku aminkan hidup

dari pembakaran cinta akyu dengan sulut panas api

kesederhanaan mengulangkan arti cinta yang sejati

bertemu dengan debu dan memadukan diri dalam-dalam

kita sudah sangat tenang-tentram tak ada lagi kemasygulan

 

panjatkan doa hablur ini. pada musim yang selalu bergerak

dan kebisuan berteriak mengetahui panjang usia hanya menit

setelah urusan-urusan yang tak terbataskan waktu singkat

hanyalah terus memanjat memenuhi udara dan tersapu lembut

 

jika kematian datang tanpa perlu menyiksa, aku bersyukur

malaikat-malaikat penuh seperti pasir. hisap aku dengan cepat

dan layarkan ke dunia bawah menumpang charon.

tempat, yang barangkali aku bisa teduh mengikuti

cahaya kunang-kunang 




=BAGUS BURHAM=

UNTUK SARA BAREILLES karya : Bagus Burham


di mana kau temukan aku?
ruang waktuku kotak dalam sangkar
belenggu hujan-hujan airmata
orang-orang menanam sangsi padaku
akulah si papa yang sesungguhnya
laron-laron pesta cahaya
dan jalanan menangkap gaya bicaraku
: gelandangan dengan sajak

di sudut-sudut terpencil dari jaman
benarkah detik mengurai waktu
dan menua berkali-kali tapi abadi
hingga ajalku jadi sangat tak berarti
aku ingin mengarunginya dengan cepat

kuketuk tiap sempat aku membuka
pintu-pintu remaja dalam sebak rambut dara
biar kunci jantungku menemu pangkal
jadi mursal yang ramah kepada luka
entah, terbilang berapa, kapak-kapak
telah biasa mengoyakku; berbelah-berbagi

jika kau bisa mendapatiku
rembih garam itu telah lama tak berputus-putus
kota-kota kulewati untuk terus bersembunyi
rumahku adalah ibu dalam ibu kandungku
yang mengeramiku dari segala keropos musim
aku telah lama mengenal kesepian
dan tarian lampumu, selalu menyengat bagai lebah
yang hibuk mencari madu di taman bunga

di mana kau bisa temukan aku?
barangkali pada lagu yang kau ram



-BAGUS BURHAM=

OBITUARI TANPA KEMATIAN karya " Bagus Burham

jika engkau memanggul kematian, sebelum tutup mata,
bawalah rahasiaku: kata-kata dengan borok membusa
kalau-kalau, alamatmu ke dunia bawah, menemu anjing api
dan menyayatkan urat nadi untuk engkau tinggalkan
 

mewarnai sungai dan tumbuh-tumbuhan

kuangkat batu-batu, beku-beku yang cadas dan berat
di lereng-lereng gunung menuju puncak terjal
bergelinding untuk kembali terangkat jari-jari beban

pulanglah sebelum petang menyalami wajah sebelah dunia
sesudah burung-burung terlalu lelah untuk terbang dan kembali
hiburlah aku, layaknya seorang perempuan memberi tuak cinta
berlama-lama menjadi tembikar yang retak, berkesudahan 

 

=BAGUS BURHAM=

PAK PENO DALAM REFRAIN karya : Bagus Burham

terang bulan langit masjid

melepas angin magribi

anak-anak bersepeda

mengumpulkan kenangan

orang dewasa duduk-duduk

di beranda

jalan raya hening isya hampir tiba

sekarang ia datang, kembali

menjemput mereka yang ingin

mencicipi kebahagian sebagai

satu-satunya tiruan bulan di panci

yang matang, bersukacitalah

 

mata bocah, jernih. cahaya

nampak di setiap mimpi mereka

berkejaran melupa dunia

di langit-langit penuh lirih adzan

anak-anak bersarung, berjilbab

sebelum shalat

merasakan bahagia meluncur

ke lidah mereka

dan ia datang, dengan sepeda onta

dikayuh, selepas kumandang isya

kepada kanak yang telah tumbuh, akan tumbuh

menjadi dewasa, menjelma orang tua mereka 




=BAGUS BURHAM=

MEMORABILIA karya : Bagus Burham


 

aku selalu senang menyimak hujan

yang berjalan atas kemauannya menuruni genteng

mengeluarkan bunyi tempo yang teratur

pada cekungan-cekungan tanpa penutup

seperti tik tok memainkan detik-detiknya

 

di luar, daun-daun, rintik riang

membasahi tanah dari lintasan tubir terjatuhnya

merambati dindingmu menjadi dingin

kau akan mengambil selimut yang disisakan kenangan

masa kecil

: mendengarkan dongeng yang dinaungi hujan dari mulut

ibu

dan sebuah kecupan pengantar mimpi

 

gemuruh dan kita terbangun

dari jendela, diketuk tempias-tempiasnya

mereka ingin membawamu basah

berhujan-hujan tanpa jeda

seperti kemarin-kemarin

seperti usia yang lampau

seperti kanak-kanak tanpa kesedihan 



=BAGUS BURHAM=

Minggu, 26 Juli 2015

SAJAK CINTA karya : Bagus Burham

ladang meniupkan angin

dari balik awan-awan

di situ, hujan tangis

membasahi segala hijau

 

pintu-pintu terbuka itu

paham mengamalkan kepulangan

ia yang kamu panggil

majnun yang sedih

karena menunggumu

 

ia tak bisa mendengar apapun

selain suara-suara

yang kamu gemakan

 

di lengkung pelangi

sehabis riuh hujan

tersandung pucuk rumput

melebur airmatanya 




=BAGUS BURHAM=

GADIS JEPARA karya : Bagus Burham

siapa yang berjalan di antara malam

yang berganti cepat dengan fajar

orang-orang kartini punya semacam senyum

yang bisa kamu simpan berabad-abad

 

yang bergemuruh jika mendengar

lain-lain bicara tentang kehidupan

demikian pantai mengusik kita. supaya

mencelupkan kaki, bergembira selamanya

aku sadar mereka adalah kamu yang paham

bagaimana menaklukkan gelombang di dada

ketika mata bertemu mata

gemetar dan degup sekadarnya

bisa dinamakan cinta

 

rembulan langit kotamu senantiasa

mengingatkan kepada kami harus kembali

sebelum malam jadi sumengit dan hanyut

dalam eros. dalam kutuk sebagaimana chairil

telah sangat tersiksa

 

jejak-jejak hapus buih ombak pantaimu

berpulang kepada waktu di lepas samudra

para pecinta merindukan  di lepas sore

menginap dalam naungan suara gelombang

agar tiap kali mengusung tandu kepedihan

 

sebab patah hati seperti mendung menggarit

matahari bulan juli. hujan berjatuhan bagai jarum

menusuk kalbu kami. kami bisa bersiap

menjatuhkan jisim cinta dalam tandu itu

 

mata kami jatuh menelusup dirimu

sebelum kamu sadar, sebagai nasib

yang mesti dipertaruhkan karena ingin

mengejar sesuatu yang tak bisa kami dapatkan

kamilah adam-adam yang menghujat tiap

dinding malam dan berteriak-teriak kegirangan

kerena kesepian menjadi sajak yang bisa

kami hidupkan di dadamu 




=BAGUS BURHAM=

DIWAN SAJAK 2 karya : Bagus Burham

anggur malam menggantung di langit

udara magribi, burung-burung kembali

pada pulang, pada hasrat mengeram

sayup kemelut azan menghasut angin

suara-suara tanpa wajah dalam celah

tuhan, kesyahduan ini adalah nikmatku

dalam dosa ada juga di sana nikmat

tapi ini tak seperti salah, inilah itu;

yang dicari-cari sehabis petang barat

 

kuda-kuda isya dalam benteng troya

terbang membawa puja-puji namamu

bayi-bayi telah ditidurkan rembulan

dalam karpet layang aladin yang baik

kisah seribu satu malam diceritakan

sebagai kesaksian dari langit,

mungkin satu malaikat mengintip kami

bermain-main dosa di kegelapan

 

langit lagi berkata, selalu jendela

menghadap miringnya padaku

dan sekalian malam, membagi cahaya,

manusia kanak mendongak ke aku

mengharap ada bintang berlayar.

lalu gerimis membisik pada  tanah

pelan tapi mengersik dalam udara

 

menyerbuk basah di angkasa,

rizki telah tumpah darimu 




=BAGUS BURHAM=

SERENADA karya : Bagus Burham

entah kapan kumenemukan cahaya bulan

bintang-bintang nampak, langit mendung

lolong anjing lapar menggarit telinga

 

menelusuri garis malam burung sunyi

bersahut di lindap pohon, daun-daun kapuk

gugur, angin selatan berkibar menggeseki

entah kapan aku menemui lagi rembulan

bintang-bintang tampak di dalam kelam

 

kesepian membakar hidup yang merdeka

wajahmu selalu menertawakanku

untuk setiap kebodohan yang kubelah

dalam tajam tumpul kata-kataku

 

entah kapan, kapan datang waktu

yang benar-benar menggusurmu

seperti ingsut pasir sebab angin

mengubur bangkai camar

di tepi pantai 




=BAGUS BURHAM=

DOA karya : Bagus Burham

bulan pucat

langit berkabut

datanglah padaku

malam ini, tuhan

aku ingin bercerita

 

gembira ada pada

mata yang cahaya

ada pada mereka

yang alpa dirimu

ada pada selain aku

 

tapi, bulan pucat

langit mengabut

kubiar angin

menghantam dada

ketika hidup

ada pada luka 



=BAGUS BURHAM=

BLUES karya : Bagus Burham

maka, kembalilah lidah dari diam ke bahasa

perbincangan antara teh dan kopi robusta

di luar hujan tak surut meleleh di atas tanah

 

disini kata-kata tersambung menjadi kalimah

tak sampai selesai, terpotong suara desis gerimis

tak berunjung noktah, tertumpuk suara hibuk

orang-orang yang mencari kehangatan musim

 

saksopon mengalun merdu, serupa adagio

langkah kaki dari yang basah, masuk tanpa permisi

menelusuri meja dan memesan segelas kopi

 

kau tangkap perbincangan, meruncing ke inti

kemari, kita terus mengurai pecahan tanya

dari mulai basa basi hingga serius yang berarti

percakapan yang memakan bibir dan hati

 

kau, tak mengerti betul. tentang lidah yang tumpul

menghadapi dingin musim di luar kafe

semestinya, tempias kecil yang berlelehan di kaca

telah membangunkan deras diri hujan

 

tiang lampu sepi sendiri bergerimis hujan

dan payung yang kau sandarkan di pojok kafe

tetap menguncup, meski hujan semakin menyusup

 

angin menyingkap musik yang berdetak lembut

mengusik daun-daun, berdesik namun tak jatuh

rona lampu, berteduhlah para serangga

kita berdua, melompat pada rimisnya drama

yang mungkin tetap tak berarti apa-apa

 

kau masih betah, kan di sini? detik tetap hujan

akan tumbuh banyak luka di kayu lapuk

sekelompok laron di pendar lampu yang menumpuk

 

kuli dan penyair selau sama

mereka letih. mencoba mengartikan

semua tanda. tetapi penyairlah yang lebih derita

 

hujan tak ingin berhenti

kali ini, ada yang coba ia katakan

kepada bumi, sebelum ia masuk ke tanah

menginginkan sesuatu dari sini, tapi masih semu

 



=BAGUS BURHAM=

MICHAEL BUBLE JAM 11 PAGI karya : Bagus Burham


 

kudatangkan ia. dari jauh musik borjua

atau di bawah akar blues merdeka

kudatangkan tanpa sesiapa buat berbagi

sebab kesepian adalah diri penyair

setelah ini, setelah musik bermusim sunyi

kularung apa yang kudengar darinya

 

bernyanyi, irama orang-orang parlente

yang berjalan dan memandang angkuh

tapi kudatangkan ia, pada gubuk semesta

yang diinjak berkali-kali angin-angin tinggi

di gendang telinga, di hidup kesekian kali

 

pagimu,tuhan. pagi kita semua. suara-suara

betah tertawa seperti bocah yang kedapatan

asyik mengeja kenangan angkasa layang-layang

aku orang dari satu-satunya bocah tanpa suara

yang ingin menyimpanmu lama-lama

 

kudatangkan kalian, maujud dalam suara

musikmu musiknya kita telah jadi sama

tapi kamu dan aku selalu sendirian, tuhan

di langit dan di bumi yang kutiduri 




=BAGUS BURHAM=

DI MAKAM SOSROKARTONO karya : Bagus Burham

 

cahaya-cahaya menerobos tirai-tirai bambu

dan kita menemukan jam serupa daun-daun

gugur melintasi tanah keheningan

bacalah wahai waktu, pohon-pohon menjatuhkan

tangan mereka yang telah kering seperti engkau

melepaskan detikmu tanpa percuma kepadanya

 

misalkan kita berjalan di ruang kolonial, maukah kau

atau aku, atau mungkin kita, membawa diri untuk

memenangkan pertarungan lewat darah dan tinta?

meski cinta pada akhirnya cuma diingat lewat nama

kita berbaring untuk sekian masa menunggu hari akhir

zikir malam pecah seperti biji tasbih yang terlempar

 

sebuah alif besar menjalari hidup yang bersih

di bawah pohon teduh dan puluhan lainnya

berkumpul menaungkan tubuh ke tanah pembaringan

sang mandor terbenam dalam kedamaian

bacalah hingga akhir waktu, meski nama telah dialpakan

seusai cahaya-cahaya hanya dapat menampung doa

melarungnya ke langit tujuh lapisan yang jauh

 



=BAGUS BURHAM=