Tampilkan postingan dengan label ARIF BAGUS PRASETYO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARIF BAGUS PRASETYO. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Agustus 2015

HOLOCAUST RUMAH MUARA karya : Arif Bagus Prasetyo

sunyi

telah mati

di muaraku

 

Tapi, dekat pada malam, bersama dingin

dan pilar senja yang berjatuhan masih kaupanjatkan;

terus kaupanjatkan ringkik angin, deram ombak,

tiang-tiang kapal yang tengadah

ketika burung-burung hingar di udara, memekik-mekik!

(seperti ingin mencabik langit)

 

mesias,

tak kaulihatkah sayap-sayap camar itu terkoyak sudah?

(meluka, meluka)

 

Dan kembali: bertahanlah!

Berapa jauh air matamu menyentuh laut menjelmakan

darah. Menukar warna asin yang berkilauan

seperti hujan. Seperti pecahan karang yang menghambur

menyusun peta, lukisan nasib, atau penampakan musim

yang teramat

kelam.

 

badai, badai

kemana garis pantaimu kian melindap?

 

Sungguh,

padahal sudah lengkap cuaca: sudah kaukirimkan

gelap pada pasir (cintamu) sudah kaukirim banjir

kawanan hama, bangkai burung-burung yang berenang

dalam arus-darah itu

: memburu muaraMu!



 

1994

=ARIF BAGUS PRASETYO=

JULA-JULI PEJALAN TIDUR karya : Arif Bagus Prasetyo

- Surabaya, suatu masa

 

Takkan kuputar sumbu tubuhmu

menyusuri jejak hangus kata-kata

yang tercecer sepanjang jam dan bulevar.

 

Aspal menggigil oleh influenza.

Plaza dan bank perlahan hilang.

Hilang, tenggelam dalam balsam.

 

Dingin mengasah lembing-lembingnya di udara.

Dingin berdenting. Udara merinding

Terkepung gaung dan bayang-bayang.

 

Kau terbaring di sisiku. Legam dan berkilauan.

Sungai telanjang pada ranjang keemasannya.

Di tepi sungai, sebuah ponten nyaris meluap.

 

Beberapa sejoli masyuk memarkir motor di kegelapan.

Serombongan laki-laki terhuyung masuk ke tenda rombeng.

Dengus mereka masih membekaskan panas di tengkukmu.

 

Menyentuhmu, terpesona ahli nujum kakilima

Gairahku membangun taman air mancur

dengan peri pelacurnya yang sehijau hujan pagi.

 

Di tepi taman, panglima perang dari perunggu

memandang dingin ke batalyon kupu-kupu

yang bertahan di selatan. Mereka terjebak

 

di sepetak taman lain yang lebih gaib. Lebih aib.

Tempat tugu bambu runcing, totem kejantanan itu

tegak memancung batang lehernya sendiri.

 

Kau tergetar. Getah tubuhmu mulai tercurah.

Angin purbani menggulung bayang-bayang taman.

Gaung berkubang dalam kilang-kilang darah.

 

Sekujur sungai terserang kejang.

Dam dan bangkai kapal selam berebut bangkit dari delta

Menghantui etalase yang dahulu sal-sal seram rumah sakit.

 

Dari lunglai belulangmu, dari ringsek rerusukku

Fajar kembali memecahkan cangkang-cangkangnya.

Nama-nama terjulai oleng. Simpang kehilangan lonceng.

 

Jam terbuat dari air dan tak bisa dipercaya.



 

2002

=ARIF BAGUS PRASETYO=

LIBRETTO MUSIM GUGUR karya : Arif Bagus Prasetyo

(chit oo nyo & bounthanong xomxayphol)

 

Mississippi hanya ingin bernyanyi, ingin berbagi

seperti Chit yang sering menjelma jadi Rama

 

saat jauh dari pesing penjara Burma, dan menari

dalam hingar-bising rock ‘n roll, musik traktor

 

padang-padang jagung Iowa, di demam plaza

malam Sabtu, sehabis dua-tiga gelas dry tequila

 

dan Jim Beam yang berenang dalam darah Nong

menggerutu:

 

Bangsat. Tahu apa kalian semua tentang musik?

Tentang sungai yang budiman perangainya dan

 

suka mengalirkan uang biar semua orang senang

dan tak sudi lagi berperang.

 

Omong kosong. Whitman sudah lama mati

dan di pesisir Mississippi masih kaulihat sesosok saman

 

mengelebat di antara tonggak-tonggak cedar merah.

Lelaki-lelaki bersisik merah melepas lembing. Sementara

 

puak Meskwaki harus membeli tanahnya sendiri

dengan aib rumah judi.

 

Come on. Mendingan kalian melancong ke Mekong.

Tak ada demokrasi. Dan silakan sepuasnya

 

mengisap candu dan perawan!

 

(michael zeller)

 

Tapi siapa yang tak pergi, desah seorang lelaki kisut,

di geladak Mississippi. Matanya basah terbasuh Rhine:

 

Kita boneka jerami tua. Kuda celaka

yang kehilangan ladam dan penunggang,

 

terkutuk untuk pergi, sendiri, selamanya

mengusung beban yang tiada.

 

Dewa-dewa. Mereka juga telah minggat. Tapi jejaknya

yang bergelimang darah, memburuku sampai ke sini.

 

Lihat, Wagner mendekam di etalase Coralville Mall

- Music of The Gods. Digital Stereo. The Gold Collection. Made

in USA.

 

Gila. Aku selamanya pergi, tapi mereka

masih terhina, terluka parah:

 

‘Apa? Dari Eropa, kaubilang?’ seorang lelaki Polandia mencegatku

dan bersungut-sungut sengit, ‘Jadi sekarang kalian pikir

 

Eropa adalah Jerman!’

 

(narlan matos)

 

Yeah. Memang kacau. Ke manapun aku pergi

180.000.000 kanibal mengekorku.

 

Menabuh tambur-tambur leluhur

di kegelapan rimba-rimba Amazon.

 

Kita semua binatang bebal, akhirnya.

Air liur kita mencemari sungai-sungai.

 

Sini, kubaptis kau jadi batu jadi akik jadi emas

jadi kapal-kapal Portugis jadi Kristus jadi kadal. Dung-dung.

 

Mabuklah. Dung-dung. Ini belahan bumi utara. Dung-dung.

Dingin meretakkan rahang. Dung-dung. Tapi jangan

 

bakar aku dengan anggur atau wiski. Dung dung. Di Java House

ada kopi rasa puisi. Dung-dung. Konon pahitnya enak sekali.

Dung-dung.

 

Sayang tak ada orang Jawanya. Dung-dung. Ayo pesta dan bercinta

di jok mobil di bioskop di asrama dengan kondom ceri hutan

 

sambil mengunyah keripik kentang memamah pizza 3 menit

berjingkrak-jingkrak memekik-mekik kesetanan di jalan-jalan

 

di bangku-bangku lapangan futbol dan menggelar

bazar amal dan karnaval dan diwisuda dan

 

menguasai dunia. Dung-dung-dung….

 

(chorus)

 

Pergi. Pergilah, Mississippi. Sia-sia kau bernyanyi.

Gendang telinga kami pecah, melelerkan lumpur nanah.

 

Sungai-sungai malam hari di balik belukar dada kami

bergemuruh, gemeretak, dan gua-gua bawah tanah

 

menyerpih runtuh. Menyerpih runtuh.

 



2003

=ARIF BAGUS PRASETYO=

BINTANG karya : Arif Bagus Prasetyo

Mataku lelah, tapi tak mau terpejam.

Bersikeras memandang bintang yang ingin padam.

 

Aku dan bintang saling pandang.

Bertukar tanda, luka, sehembus hasrat yang hampir hilang.

 

Jam-jam dingin.

Dinding menjalarkan angin.

 

Di jantung bintang aku tenggelam.

Mabuk mencucuki bibir memar malam.

 

Di jantungku bintang membayangkan hangus.

Gemetar, ingin padamkan cahaya firdaus.

 

4 pagi: matahari segera datang.

Dan sejoli burung malam akan pulang, menghilang.

 

Mataku basah, Bintang, basah.

Sehening daun-daun mapel menjelang rebah.

 



2008

=ARIF BAGUS PRASETYO=

PERJALANAN AMBANG : MEDITASI karya : Arif Bagus Prasetyo

Mendadak wajah kita penuh kabut

Terjatuh di antara tebing, riak air, dan

Tiang-tiang listrik yang gemetar

Menahan kekosongan langit.

Kita menggenang seperti lembaran musim panas

Rontok dibakar kemegahan lampu taman.

Dan kehijauan asap sampah saat membusuk pada selasar

Adalah perhentian masa kecil kita yang kembali

Diledakkan. Dan berhambur memenuhi jalan batu,

Kolam pasir, jurang-jurang

Dari kegelapan kenangan.

Tapi waktu senantiasa tahu:

Di depan pintu, kita telah jauh tengadah

Menatap sore hanya serangga

Sambil membayangkan malam nanti bintang-bintang akan lepas

Bertabrakan. Sebelum luruh, menghilang ke seberang sungai

Diserap bayang-bayangMu yang menghujan tiba-tiba

Di setiap reruntuh pepohonan.

 



1993

=ARIF BAGUS PRASETYO=

EPILOG SEBUAH PAGI karya : Arif Bagus Prasetyo

Dalam kemuraman cahaya pagi

Kuterka daun-daun gugur dan menghijau

Kembali. Kemudian tik-tik gerimis

Suara gelap malam hari yang kerap runtuh

Menerpa tubuh-tubuh tak terjaga

Akan membentang laut di atas ranjangMu

 

Pun di antara desakan massa berseragam

Pernah kudengar bisikmu tertahan:

“Kami ingin berkemas untuk sebuah pantai yang tenang.

Lihatlah tangan kami berdarah setelah lama bertempur

Di hutan-hutanmu yang bagaikan peri

Menyihir lolong serigala jadi anjing penjaga!”

 

Kini kuterka lagi bila saatnya tiba

Dermaga hanya bisa mencintai satu musim seperti kami

Yakni ketika pasang terulur ke arah utara

Dan kanak-kanak turun berlari menyoraki

Seribu perahu sarat kepedihan

Terdampar di muka pintu rumahmu.

 

Namun semoga hanya pikiranku terlalu jauh menyusur laut

Hingga mataku tak lagi mampu bersembunyi

Dari setiap isyarat, kenangan, atau tanda bahaya.

Maka dengan sopan aku pun belajar menghikmati langit

Dengan cahaya bintangnya yang selalu rapi

Menyimpan degup jantungku.



 

1994

=ARIF BAGUS PRASETYO=

MEI karya : Arif Bagus Prasetyo

Cinta, sajak siapakah yang gemuruh dalam riuh jemariku yang jauh

Melepas deru beribu-ribu kereta hujan?

 

Sajak siapakah yang luruh dalam basah tubuh berdua yang fana

Dingin pada dinding museum, menara laut, lonceng surup, lalu pilu

 

Ah, segalanya, cinta. Biografi ini, kutahu, takkan

lengkap lagi terbaca. Tak akan mungkin lagi.


 

1994

=ARIF BAGUS PRASETYO=

DIE FANATIKER SIND MUDE karya : Arif Bagus Prasetyo

lahir dari api

seperti peri

ia tumbuh menjagai

mimpi

 

Mandi di keramat

Para danyang menabuh kendang.

Akar menyan, benih abu

Dingin. Tajam bagai tatapan

Pisau silet.

Dan orang-orang suci mendadak

mabok                         menggigil keras

tersungkur rebah ke tanah basah

minta bunga-bunga.

 

Pucuk gayam

Bulan tinggal sisik

 

Tapi masih tak mengerti. Tapi angin

makin dingin di sini dan kau tak mungkin lagi

berani memastikan:

Apa bencana segera reda

ataukah harus lunas segala duka

tersambar kilau liarnya!

 

Dendam kupu-kupu

Dupa

Langit yang hamil

Tua

 

“Bila aku nanti mati,

siapakah yang setia memercikkan air mawar ke penjuru

tubuhku beku?”

 

Kelahiran mengetuk pintu. Tapi

Tiada

 

Yang

Lebih

Pasti

 

Maka kaubayangkan orang-orang suci mulai menari

mendoakan awet umurmu agar kelak kau pun rindu

wangi air, gerak ikan yang tersentak tiba-tiba dan memekik lirih

saat kaumangsa

anak-turunnya.

 



1995


=ARIF BAGUS PRASETYO=

RUBAYAT karya : Arif Bagus Prasetyo

Hutan gugur itu terus-menerus melepaskan daun-daunnya ke

arah

musim yang hampir mati.

Ada selembar: hampir, bisikmu.

Tapi lihat, hei! Dekat telaga aku menjelma selembar

daun yang kaulepaskan di luar musim: ada yang memintaku

pada pasir.



 

1995

=ARIF BAGUS PRASETYO=

API SITA karya : Arif Bagus Prasetyo

Lebur jasadku ke dalam nyala!

 

Sita memekik. Sebelum ambruk

ke sebalik semak asap yang menjulang. Hawa panas

dan gemertak busa lemak terbakar menembakkan meriam

kunang-kunang ke angkasa. Topan api memerahi lazuardi…

 

Bibir getir. Sejuta bola mata nanap menatap

mencabikku meraung-raung menjeritkan kutukNya.

Berdosakah aku?

Lengan kekar kelabu. Hasrat bejat.

Kerdip nasib yang kubenci. Dan musim bunga

cuma pintar mengajarku bercinta.

 

Tiada lagi ngeri. Perang suci yang percuma.

Juga revolusi. Tapi mengapa masih kudengar

revolver pecah di sela iga. Aroma amis gerimis

lepas. Ambyar terkapar dari pelukan

lelaki kasar yang telah jauh menebus rindu.

Berahi maut. Dan kelak bila elang-elang teluk

meliuk liar mencakari hantu-hantu serdadu,

laskar pembakar titisan dewa, percikkan

rohku dalam perihmu, Dasamuka.

 

Kita menjelma sepasang naga

memangsa bulan di cakrawala.

 



1996

=ARIF BAGUS PRASETYO=

 

MAHASUKKA karya : Arif Bagus Prasetyo

Di pinggulmu selusin sayap ingin mengerjap, kunang-kunang terbang,

menikung, mengiang, membandang, terus, terus, cepat ringkus, remas,

hempas keras-keras jadi jerit bianglala yang terkulai di telaga, yang terberai,

terkapar menggapai-gapai akar darah si Teratai yang melepuh

dan terengah dan mengejang digerayang nyawa lekang nyawa datang

menggelombang melumat lutut yang mencelat dan berjingkrak dan

mengamuk meledak terpelanting berkeping-keping berpusingan pada

palung menggelegak.

 

1997

Selasa, 11 Agustus 2015

CAKA 1920 karya : Arif Bagus Prasetyo

Bahagia menjengukmu.

Duduk diam, mengamati bintang bajak tergelincir dari alur.

Bagaimana aku tahan?

Dari tanggul pelupukmu, masih basah,

kau menggeram menafsirkan jejak lumpur yang tertinggal.

Ke mana ia runtuh,

untuk apa,

bagaimana aku tahan dan berharap kau meratap.

Tapi tidak, “Dam-dam tahun telah pecah di dadaku.

Air gaduh bergemuruh hingga pinggang,

menggenangi ladang-ladang malam hari milik tuhan….”

 

Ladang-ladang milik tuhan.

Radang-radang.

Hujan hama telah turun menjenguknya,  bahagia,

dalam desah akar-akar pepohonan tercerabut dari tanah,

berjuluran ke udara jadi lidah merah bara yang menggulung bentang hari.

Bulan pejam menusukkan rerusuknya ke dadamu.

Kau tersengal dan berguncang

mirip lonceng orang suci pada simpang jalan itu,

yang abadi memanggilmu waktu tidur,

meraih ruh yang tersentak dari tubuh.

 

Bahagia bahwa aku masih tahan.

Dan sejuntai mantel basah

burung hitam yang bertengger di dadaku, sejak senja,

tiba-tiba berceloteh dengan derit pintu dapur,

rangka bintang bajak tadi,

yang tersungkur menguburmu dalam hutan mantram ini.

 

 

 

 

1998

=ARIF BAGUS PRASETYO=

Minggu, 09 Agustus 2015

INFERNO karya : Arif Bagus Prasetyo

Menjelang ufuk mulai terbentuk, kau dan aku

akan takluk. Pinggul tumpur. Sumsum memasuki api

dengan lenguh lembu hitam.

 

Kau pun hangus aku arang.

Dan sesudah itu abu.

 

Upacara mencapai air. Berbulan-bulan

air. Aroma lumut membangun candi

dari puing-puing garam dan cahaya

tubuh mati.

 

Lalu teluh yang gemuruh semalaman akan kembali

merasuk tanah. Bersekutu. Dan segera tumbuh genta

yang gemanya menidurkan bunga bungur di pepucuk

 

perbukitan. Sehabis desis dan peluh punah

diterjang topan yang melesak dari Aras: tahta bengis

merah-ungu

 

Yang menumpas. Menghempaskan

kau dan aku, sekali lagi, pada padang

 

semut api. Buas. Bringas. Kudus.

 

KuasaNya!

 

Dia telah selamatkan nikmat ini, laknat ini,

berkali-kali, dari takut dan kiamat.

 

“Demi Yang Di Atas Sana. Untuk apa?”



 

1999

=ARIF BAGUS PRASETYO=

TREMBESI karya : Arif Bagus Prasetyo

Legam dan menjulang

Burung-burung menyusun sarang di keteguhan lengan-lengannya.

 

Puri agung bagi rangrang dan bengkarung

Arsitektur yang tumbuh dari bayang-bayangnya sendiri.

 

Hari segera akan runtuh. Sendi-sendinya yang rumpang

Kian ringkih dan terpiuh.

 

Digayuti biji-biji pahit karma

Ia belajar mencintai segalanya yang tak layak dicintai.

 

Bercakap dengan mambang sepanjang malam

Penghuni dunia bawah yang matanya terbasuh susu

 

Yang susunya pernah penuh menampung hujan Januari

Dan putingnya tegak teracung dijilati matahari.

 

Dulu pernah ia berjalan membenci bintang

Hanya melangkah membunuh jarak, melupakan mata angin

 

Berpikir takkan sampai di mana pun

Takkan masuk dalam surga siapa pun

 

Dan berseru pada mereka yang bertahan, berjatuhan

dalam Tuhan:

 

“Hidup kekal memancung tugu

Atau musnah memendam diri dalam tanah!”

 

Mereka murka dan mengutuknya untuk lenyap

Meresap ke kambium pohon hitam:

 

Raja bermahkota rangka layang-layang

Lingkaran tahun dan nubuat-nubuatnya.

 

Menara azan di kejauhan. Burung-burung berdatangan

mencucuk cahaya terakhir senja dengan kicau keemasannya.

 

Para peladang bergegas pulang meramu api dan berdoa

Seraut wajah, selarik rajah dari surah sederhana

 

Kutorehkan pada jasad yang mengerang dalam batang.



 

2000

=ARIF BAGUS PRASETYO=

TERRA INCOGNITA karya : Arif Bagus Prasetyo

Berdiri antara tonggak berlampu

Kudengar angin pun langsir

Terusir desir

: dingin itu telah runduk di muka pintu

 

Hujan pun perlahan turun

Makin hijau

Makin menderam deruMu dulu

: sebelum huruf-huruf jantungKu

 

senyap

tersekap setiap makna

 

dalam vakum cahaya



 

1993

=ARIF BAGUS PRASETYO=

MCBRIDE karya : Arif Bagus Prasetyo

Hanya telaga yang terisak

ketika terik tak henti-henti menetak nadi

dan urat nadi berangsur hancur digerus badai

yang mulai bangkit menggugurkan daun-daunnya

dan setapak jalan ajal daun-daun pun tersibak.

Kau berjalan menempuhnya dan langkahmu masih tegak

seteguh batu-batu cadas yang menahan hantaman martil musim

panas.

Tapi inginmu tergelincir dari tubir agar debur dapat menjalarkan

debar ke sekujur kelenjar air.

Dan sampan-sampan takkan pernah menepi lagi dan yang berenang tak

kembali

dan tak ada yang menunggu di ujung jalan setapak ini

selain daun-daun gugur dengan urat nadi hancur

dan telaga yang teriak mengutuk terik

yang pernah tegak menetakmu semusim silam.

 



2003

=ARIF BAGUS PRASETYO=

MANHATTAN BLUES karya : Arif Bagus Prasetyo

Ditumbuhi sulur-sulur musim gugur

Aku turun dari firdaus lantai ketujuh.

 

Pelancong lancung. Gentayangan sepanjang tanjung

Menghela jam dan pohon-pohon yang berdentingan

 

Sebening kristal-kristal November yang termangu

Kekal, di etalase Lexington Avenue.

 

Raung klakson lengking sirine tikam-menikam

Berkilauan dihunus hujan tengah hari.

 

Tak terhingga manik mata, coklat-kuning

Terserak garing sepanjang jalan. Terbengkalai

 

Seperti sumur-sumur mineral yang ditinggalkan

Usai kafilah menguras teluk. Dan kabilah terhempas takluk.

 

Di ufuk gurun, di jazirah firdaus lain, aku lihat

Matahari membanting zirah perunggunya yang berkarat.

 

Menara api berderak runtuh. Jelaga menjilati mangsa.

Hujan abu mencekik kanal-kanal bahasa.

 

Debu kelabu angin kelabu flat-flat lengang yang kelabu

Mengembara di lorong-lorong belulangku.

 

Raut pucat seorang darwis yang menghilang dari balkon

Untuk sesaat menyeringai dalam arus kelam Hudson.



 

2003

=ARIF BAGUS PRASETYO=