Menjelang ufuk mulai terbentuk, kau dan aku
akan takluk. Pinggul tumpur. Sumsum memasuki api
dengan lenguh lembu hitam.
Kau pun hangus aku arang.
Dan sesudah itu abu.
Upacara mencapai air. Berbulan-bulan
air. Aroma lumut membangun candi
dari puing-puing garam dan cahaya
tubuh mati.
Lalu teluh yang gemuruh semalaman akan kembali
merasuk tanah. Bersekutu. Dan segera tumbuh genta
yang gemanya menidurkan bunga bungur di pepucuk
perbukitan. Sehabis desis dan peluh punah
diterjang topan yang melesak dari Aras: tahta bengis
merah-ungu
Yang menumpas. Menghempaskan
kau dan aku, sekali lagi, pada padang
semut api. Buas. Bringas. Kudus.
KuasaNya!
Dia telah selamatkan nikmat ini, laknat ini,
berkali-kali, dari takut dan kiamat.
“Demi Yang Di Atas Sana. Untuk apa?”
1999
=ARIF BAGUS PRASETYO=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar