Tampilkan postingan dengan label AHMAD FAISAL IMRON. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AHMAD FAISAL IMRON. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 September 2015

BAHASA ITU LAUT karya : Ahmad Faisal Imron

mula-mula aku melihatmu dengan amarah sepeti itu
kau masih juga kelabu, kau akan kehilangan diriku
maka terjadilah sebuah interview yang singkat
setelah enam belas tahun silam: aku menelanjangimu

pasir putih, gelombang putih dan sebuah lengkungan memanjang
selalu saja ditandai dengan sebuah rangkulan, tarian, dengusan
selalu saja melahirkan dirinya sendiri, benar-benar fantastis
dan itu, sama bentuknya dengan evolusi mimpi-mimpiku

masih di tepi ini, kulihat kau begitu mengapa
o, sebab aku tak mengirim sesaji untukmu?
bunga-bunga langka
ribuan kepala domba
Tuhan begitu bermakna

sangat sulit mendengar kepak sayap ratusan camar
atau lambaian tangan saat melepas kepergian sebuah kapal
tak ada jaring nelayan maupun mercusuar
perawan-perawan bugil ataupun gerak cuaca
laut ini untukku, dan yang lebih gila dari khayalanku
angin yang kusut mengangkat pasir-pasir ke udara
inilah anggur neraka! sebuah metafor sederhana
bahkan jika sore ini hujan dilengkapkan, sangatlah ayu bagiku

kedahsyatan itu, kebiruan itu, menekan diri sendiri
namun, sekali waktu, pahamilah bahasaku ini
bagaimana ombak-ombak tak menyakiti pantai dan tubuh karang
bagaimana pembuatnya seperti syair-syair sufi yang tenang
syair-syair cinta yang tak akan membuat alam bertanya
namun, di hati ini, kau masih juga menderu
menyetubuhimu adalah cerita lain, duhai dewa biru!
kemudian kulihat lidahmu menjilat pantat anak-anak
atau kemudian mereka yang segera menjatuhkan diri
hempasan demi hempasan, sebuah lukisan hancur di kejauhan
sore ini pula, matahari yang tawar, memar di pundakmu

kaulah neraka itu
kaulah firdaus itu
begitulah aku akan selalu menyebutmu

sejak semula aku melihatmu dengan tubuh yang hancur
ya, enam belas tahun yang tak akan kulupakan itu:
kelahirannya, kefanaannya, menjemput diri sendiri

setelah diam-diam gerimis menyentuh pelipisku ini
esok atau lusa, pada siapa kutitipkan cinta ini
sebab kau masih juga menderu
sepertinya aku ingin mengutukmu

singkatnya, bahwa segala apa yang kaumiliki
menyerupai pula getaran doa-doa malamku
tangisan masa lalu yang selalu kusemburkan kembali
laksana jutaan anak panah, melubangi luka-luka
merobek usia yang tersisa, yang selalu tersisa itu

o, bahkan bumi yang kaubalut ini
seperti tak pernah percaya
bahwa kuburan burung-burung itu adalah aku
bahwa kuburan perahu-perahu itu adalah aku

maka sempurnakanlah tubuhku, selamanya untukmu
dan hanya dengan begitu nuraniku dapat mengagumimu
tetapi indah tarianmu, lidahmu, rahasiamu
sungguh, enam belas tahun terlewati, masih juga terbaca



1999
=AHMAD FAISAL IMRON=

 

Minggu, 23 Agustus 2015

MALIUN HAWA karya : Ahmad Faisal Imron

setelah itu
kau datang padaku
membawa sebuah parodi
yang tak terduga

bahwa masih di kamar ini
selain puisi, lukisan jingga atau peninggalan Suri
hanya ada seruling kuno, sayap coklat cendrawasih
jarum jam yang kelam atau bunga abadi
yang tak pernah kurelakan pada siapa pun

setelah itu
setelah kau datang padaku
membawa Maliun Hawa
kesedihan yang sempurna

maka lengkaplah
langit di awal Maret ini, seperti pula
detak jantung kita yang membosankan
lebih kelam dari nilam manapun
atau lebih kudus dari lelehan purnama

sabarlah, di luar, tuhan begitu bersayap

dan tak mungkin membiarkan sukma kita menggigil
hujan adalah bahasa lain dari kesedihan itu
namun matahati kita selalu mengira
bahwa purnama yang tenang dan kembali menghilang
bahwa bunga-bunga yang tumbuh dan berguguran kemudian
bukanlah isyarat dari suatu kefanaan

yang semakin menyiksa
melupakan segalanya

tapi kau selalu mengatakan, di luar langit masih berdarah!



1999
=AHMAD FAISAL IMRON=

Rabu, 29 Juli 2015

JAMUAN PESISIR karya : Ahmad Faisal Imron

- Facot Roskata

 

di perjamuan orang-orang pesisir

mencintai angin adalah segalanya

 

hanya bagiku, kaulah si pelaut itu;

seorang anak yang ingin menjadi laut

 

tapi di tepi laut, air hanya mengerak

di dekat perapian, kau semakin menghitam

seperti jarum jam dan malam

seperti milik bunyinya yang berjatuhan

 

tik, tik, tik, tik, tik ….

 

dan malam, seperti di dusunmu ini

aku telah dapatkan kegelapan paling panjang

pohon-pohon menipis seperti ribuan silet

mengiris jejak bulan dan pikiranku

 

tapi, ini semangkuk manisan gori, katamu

 

udang bakar

seluruh rasa yakinmu

nyaris lebih linier

dari rumput dalam eter

disajikan di musim

yang segera beralih

 

dan pikiranku

kembali bagai semburan lava

berapa derajatkah suhu yang akan digapai

 

di ini laut, bagi seutuh tubuhku?

ya, di atas permadani biru yang mempesona ini

juga gadis-gadis pesisir dengan kaki mengkilat

serta elok tubuh dan rambut hitam memanjang

kulihat ia dan laut sama halnya sepasang pengantin

mampu menelanjangi seluruh keyakinanku

menancapkan beribu-rabu jarum di pundakku

 

langit pun kembali seperti masa-masa yang telah kulalui

walau ini hari begitu bergolak dalam hati

 

ada sebuah cincin merah siam yang selalu kupakai

yang kudapatkan saat kepedihan menjadi diriku

ini yang kemudian akan memetakan seluruh laut

sebelum langit berganti, sebelum aku menyadari

 

kapan aku harus meninggalkanmu, di sini

 

laut juga kebiruannya yang terhampar itu

barangkali hanya sedikit dari amsal

hari-hari yang kelak datang, kelak meradang

hari-hari yang tak mungkin seramah para penziarah

 

tapi lupakanlah

sebab bumi dan sungai-sungainya

yang mengalir di atas sajadah tahajud malammu

pohon-pohon serta beribu-ribu burung

yang hinggap dan merancang sarang di dalamnya

adalah untaian doa lain yang tak terhingga

meski sebenarnya, ia masih tak bernama

 

tapi sedingin apapun, laut, selalu bagai api



 

2002

=AHMAD FAISAL IMRON=

 

BATAS karya : Ahmad Faisal Imron

tak ada salak anjing

bintang jatuh, di nisan tua yang rapuh

 

tak ada sesuatu yang terjaga

pada pembuangan perwira Belanda

 

sebuah bentangan perak

desah paling sempurna

di bukit belerang, neraka merah

dan kabut menyimpan dirinya

pada selaput dan rasa iba

 

juga hitam yang mengagumkan

bagai gemuruh tarian Istanbul

juga hitam pada pikiranku:

sebuah jalan dan sebuah lembah abadi

seperti jerit 1000 kematian

 

kita mengira, di angin tukus bulan dan kelelawar

berebut sesajen, seperti sketsa yang tak mengarah

dan kadang lupa, jalan hitam, jalan coklat

dan bunyinya yang seperti maut mendarat

akan kita lewati pada dini hari, pada saat

 

yang tak ada batas



 

2006

=AHMAD FAISAL IMRON=

SEGENGGAM SAWARMA karya : Ahmad Faisal Imron

malam sedingin leher Ismail

di taman-taman yang seluruhnya batu

seluruh jemaah dan sisa puing-puing

merapatkan diri pada lampu-lampu

 

kubayangkan Raudloh

 

dan seseorang dari pedalaman India

sebelum isya, mengunyah segenggam Sawarma

sebelum khusyuk dalam alunan Khudaefi

 

kubayangkan juga maqom-maqom itu

 

berjejal orang-orang

seperti tak terlintas ruang

di mana tak ingin pulang

 

malam sedingin leher Ismail

di taman-taman yang seluruhnya batu

para jemaah menghabiskan matahari

sore yang terlewati, tak abadi



 

2004-2005

=AHMAD FAISAL IMRON=

SOLO karya : Ahmad Faisal Imron

tersusun di langit yang ikal

warna kuning kumparan awan

 

seseorang tak dikenal membekukan diri pada semburan senja

dengan kaki seperti sebuah kerucut dan tangan berdekapan

memandang jejak kereta yang punah ditelan dingin baja

 

namun malam masih memberi kesan pada tubuh kereta

sementara rerumputan melepaskan juga airmatanya

 

namun antara sebuah lagu, daun telinga dan hati yang papa

seorang pengamen dengan rupa Afrika yang mengerut

terlihat begitu resah, membawa Jembatan Merah

 

dari sebuah jendela yang meleleh

matahari yang dewasa menyapa seorang dara

pohon-pohon mengubah diri menjadi loncatan sayap angin

dan seorang lelaki tua nampak kelihatan bagai pertapa

 

kemudian pagi, juga segala bentuknya:

relief keemasan, para pengamen yang kelelahan

atau rasa lapar yang selalu dilupakan

 

saat kita bergegas melewatinya, merantau ke dunia lain

dengan tanpa melihat-lihat, berkata-kata atau berpikir lagi

ada sebuah pintu terbuka, dan kenapa kita tak bertanya!



 

1998

=AHMAD FAISAL IMRON=

SAJAK DINGIN karya : Ahmad Faisal Imron

sepasang matamu yang nyaman

seakan kepanjangan lain dari musim bunga

di timur kota

 

seperti sajak yang kekal

kukekalkan pertemuanmu dengan bulan

seluruh aortaku bergetar

di bawah kerudungmu yang kelam

 

laksana gairah baru yang selalu membuat hati bersayap

atau bagai garis pelangi yang selalu terbenam di bibirmu

diam-diam ingatanku bergelombang

diam-diam kau menjadi setangkai bunga

 

pandangi mataku!

akan kautemukan dirimu dalam hakikat mawar

 

menikmati garis-garis dan bening tubuhmu

kesunyian menganga di atas harapan yang mati

dengan tulus kulukis wajahmu yang santun

kubaringkan di atas gaun dan sebuah mimpi merah

 

angin begitu sayu saat mengirim harum rambutmu

malam ini, kugenggam wajahmu meski bayang-bayang

seraya mengingat lentik bulu matamu, suaramu yang pilu

dan seperti perisai badai di dasar kata-kata

 

ijinkan nyanyian ini agar selalu berputar di hatimu

jauh sebelum kukirim sesuatu pada kesunyianmu

menggali kuburan sendiri; mengutuk garis keturunan

atau peribahasa lama yang selalu berayun-ayun dalam hidupmu

 

setidaknya, wahai perempuan kepedihan

dari rasa yang berlimpah sejak dingin ini kauraba

pagi yang lembut, sebuah jendela yang terbuka di hatimu

atau saat-saat yang kita abaikan, semuanya terkenang

remang-remang atau kembali menjelma sebuah kuburan



 

1998

=AHMAD FAISAL IMRON=

DI TAMAN TAMAN karya : Ahmad Faisal Imron

apabila seorang pencuri tersungkur di sungai itu

ia sama lusuhnya dengan ingatanku saat ini

 

begitulah, di stasiun kelabu, pualam-pualam berdebu

seperti sebuah masa lalu yang sangat lengkap bagiku

 

dan kenapa aku hanya menyimpan sebuah memo

alamat-alamat lokal, nomor-nomor yang sesat

 

begitulah, penemuan ini tak dapat dibandingkan

udara senantiasa membusuk, lebat di tubuhku

seakan-akan menjadi sandera bagi setiap manusia

 

di taman-taman, sebuah galeri yang hening

sepanjang jalan utama, taring-taring cahaya

bahkan di halte-halte di mana waktu berlalu

Tuhan seperti tak mengenal lagi kata-kataku

 

kota ini benar-benar mewariskan berbagai kesombongan

dengan label di kepala atau hurup lain di awal namanya

 

akan kukabarkan pula keganjilan-keganjilan ini:

kota yang hanya memiliki sedikit bukit

gedung-gedung yang merobek selaput cakrawala

sayap-sayap sunyi, sejauh ia melarikan diri

masih pula ia mengeram dalam setiap nyanyian

nada-nada dingin, kenikmatan dari sebuah senapan

 

di bibir trotoar saat kulihat seorang lelaki

tak dapat menyebrangi akalnya sendiri

seorang lelaki lain kulihat jidatnya mengkilat

 

ada yang mencari wajahnya di balik jendela kaca

sementara aku telah kehilangan sebuah peta

 

siang begitu bertaring

kebisingan berdenting

 

dan bagai nafas rajawali

kutahan kegelisahan ini

 

dan bagai seorang pertapa

kubiarkan lapar sempurna

 

itulah sebabnya mengapa bebanku selalu berkurang

di angkasa, setiap kali kulihat sang saka mengerang

peluru-peluru rahasia, membuat kota ini berlubang

 

begitulah, aku melangkah lagi

aku tinggalkan segala apa yang disebut keniscayaan

aku lupakan orang-orang dengan semua kejayaan

sebab aku telah menamainya: para pemabuk masa depan



 

1998

=AHMAD FAISAL IMRON=

BENTAR UTARA karya : Ahmad Faisal Imron

di Bentar Utara

di langit yang sekuning Van Gogh

kapinis menggores sebentuk tangis

untukmu, yang masih si pewaris

 

bayang-bayang Izrail

 

akhirnya, takluk pada kesia-siaan

pada seruling krem yang kaumainkan

aku rasakan segala yang berguguran

 

seperti doa Ayub penghabisan

 

seperti juga jerit sorgawi

 

pada ronamu y ang kini semerah amarah

pada hitam pastel bayang-bayang soremu

tatapanmu yang keliru, dulu, ketika aku

mengajarimu di gubuk ini dan terkejut

bahwa yang meleleh di tubuh-tubuh itu

 

nyatanya, seperti kerianganmu yang dulu

 

nyatanya, semuanya telah tiada!

 

ketika kita masih bagai perunggu; jiwa yang lugu

dengan tenang, bercerita tentang gadis bibir elastis

matanya yang sebulat purnama atau direbut purnama

di sore yang agung, saat awan-awan putih

menggores langit dengan jemarinya yang santun

mungkin, sedetik sebelum kepedihan mengental

 

mengental dan dalam

bagai seribu paku berkarat di jantungku

mengental dan dalam

bagai membekunya ujung peluru

 

kepulangan burung-burung itu

menggarisbawahi nama kita

untuk kematian hari esok

lepas dari seluruh yang telah tiada

 

Bentar Utara

di mana dendam pada beribu-ribu

gerutu sang suhu

 

di mana kau

dan hela nafas menjadi

secepat panah mengarah

 

di mana adzan

juga awan yang bagai kafan

seperti dipersiapkan

 

bagi sisa iman kita yang sebenarnya

 

tapi sungguh, dari seruling krem penghabisan

dari ritme-ritme dan tanda seru yang berhamburan itu

tiba-tiba aku ingin melihat sang Suri sedekat mungkin

menyentuh kedua pipinya, seperti menyentuh lelehan lilin

 

aku pahami benar itu isyarat atau tiga cakar bekisar di matamu

tapi detik ini, rasanya ingin kematian menjadi halus bagiku



 

2001

=AHMAD FAISAL IMRON=

MUAISIM karya : Ahmad Faisal Imron

bermula dari magma

sesudah itu kita berkata: sebelum di titik subuh

sebelum kerikil sampai di genggaman ke-7

ada semacam harap

 

apalah artinya

antara Arafah dan Muzdalifah?

 

padang pasir yang sunyi

penderitaan Hajar di suatu hari;

ibu dari semua wanita yang terusir

telah kurangkum pedih bumi ini

dalam diriku, dingin subuhku

 

pada sisa reruntuhan sang Ibrahim

doa para penziarah melepaskan diri ke angkasa

seputih buih, tenda-tenda bergulung di bianglala

malam, gelombang angin, kemudian pagi

 

dan fajar menyusun kembali seluruh Mina

 

dan aku tahu

kota juga keramaian ini hanya sementara

meski badai dan semburan darah domba itu

tercipta menjadi tiga monumen batu

 

yang tidak demi satu masa



 

2005

=AHMAD FAISAL IMRON=

Jumat, 24 Juli 2015

MAZLA karya : Ahmad Faisal Imron

engkau selalu menjadi Geisha

dalam setiap mimpiku

 

aku, tentu seorang pembawa keranda

yang tak mungkin kau tahu

 

pohon dan musim sebelum hujan

matahari dan tubuhmu menyimpan warna yang sama

 

ada nyanyian kecil

pada teras yang redup

dan kita seperti lilin

pada lantai angin bertiup

 

misalkan esok

kita tak lagi memaknai betapa hari-hari yang musnah

gelisah yang singgah dan sajak-sajak semu itu

biarkan jerit langit juga burung-burung berpulang

bukankah samudera punya rasa yang sama seperti airmata

pada malam ia menderu, pada siang

seluruh cahaya terpantul darinya

 

mungkin ini bukan pertama kalinya

aku memandangmu, mungkin kutulis namamu

 

pada nisan kayu



 

2006

=AHMAD FAISAL IMRON=

TASIK DAN SEBATANG POHON karya : Ahmad Faisal Imron

bahkan di situ

di antara garis lengkung, bercak-bercak kelabu

orang-orang membandingkan warna tubuhnya

 

mungkin wangi gerimis

pada senja yang mulai merangkak

menjulur bagai selendang Balqis

 

berdua, pada hari ketika ufuk bara

berpihak ke kampungmu

seseorang dengan pontoh dan paras teraniaya

nama samaran yang lugu

sebuah ungkapan Cina dahulu

hilang ingatan saat menikmati sebuah alunan

 

warna asar pun bergegas

 

setiap kali

kuingat bayang-bayangmu

kuingat mawar yang dulu terbakar

tempurung kelapa dalam jala

sisa potongan rambutmu

benar-benar abadi di sini

dekat ilusimu sendiri

 

Dimar, barangkali ada kalanya pertemuan tiba

sementara biarlah ia mengilhami seluruh kata-kata

sebab cinta hanyalah secarik prosa kehidupan

yang tak terduga

 

setiap pagi mimpimu disentuh ratusan zohar

mungkin berbunga, mungkin luluh bersama bunga-bunga

tadi malam, setelah kuterima wejangan penuh pancaran

siapa yang kemudian memerahkan wajahmu itu?

 

senja biru yang mulai kekuning-kuningan

yang mulai digemari langit

dalam tubuh awan, melumuri kusam tubuhmu

memar di ujung alis mataku

ada burung malam di antara semilir angin

di situ kegelisahanmu nampak lebih telanjang

menjalar tak tergenang

 

gelap yang kembali meratap

dibiarkan berlalu, sehabis rasa pilu

 

sempurnalah anganmu

menyerap torso-torso yang meleleh

sisa pembakaran yang masih terasa

di bawah satu-satunya pohon

 

sementara waktu tak pernah bersifat remang

ia lebih lempang dari bentuk bayang-bayang

rasa benci yang seringkali ditakuti sebuah keimanan

 

barangkali, seperti itulah puisi

mengendap bagai kebenaran

nurani kaum sufi

 

maka seyogyanya, setelah perjalanan singkat ini

temukanlah pijaran kata-kataku

walau masih sebening

sajak-sajak Zamzam; sajak-sajak sorgawi

Tasik, selalu mengingatkan kita

pada gerbang bumi arah timur:

 

di mana orang-orang menggaruk tanah purbanya sendiri

 

dan kita, masih di antara riuh pesta

bercakap-cakap tentang kota yang gosong

atau tentang serdadu-serdadu yang keliru

 

saat ini, ketika layar hitam dan sebuah lentera ditiadakan

rasa lapar dan keheningan malam kembali kita hayati

 

kelak, apabila kau hendak membakar duniamu sendiri:

ribuan jalan berbatu, kristal airmata

lorong-lorong berduri, kegelapan yang ranum

atau sorga tanpa sentuhan bunga

mesti kauhadapi dengan ubun dan jidat mengerut

dengan vocal yang terlepas bagai di ujung maut

 

bukankah dulu bumi ini ditafsirkan dengan berbagai kehidupan

tapi lihatlah! kuburan yang kaucari telah terbuka di mana-mana



 

1998-2000

=AHMAD FAISAL IMRON=

WALANTAKA karya : Ahmad Faisal Imron

di jalan itu ada banyak kerikil

kerikil serta cahaya bulan

seseorang menyandarkan cintanya

pada kekosongan

 

dan malam, di musim seperti ini

 

di sawah-sawah yang keruh, di air yang kusut

ketika gumpalan awan membeningkannya kembali

dengan menyimpan bayang-bayang putihnya di situ

 

angin dan daun-daun

seperti hendak berlindung ke utara

Walantaka amatlah jauh

kau hancur dalam kegelapan

 

bagai bau jenazah, abadi di hembusan udara

tercium olehku aroma daun kemboja, malam itu

dingin seakan mengusir orang-orang bersemedi

sebuah cahaya pun mengendap di sebuah tikungan

 

tapi kau datang

dengan niat yang jantan

lambung yang hampa

pikiran-pikiran baru

sebuah hitungan ganjil

 

barangkali kehidupan mesti dimulai dengan rongga terbuka

keranjang-keranjang kosong serta mata bagai elang merana

 

di tanah ini

telah kutemukan cermin sunyi

bentuk bahasa yang cantik

kebiruan yang terbentang

 

atau sesuatu yang tak mungkin menjadi tanda seru

 

ketika di tubuh merah api kembali bergemuruh

ketika mengantarmu ke arah matahari menyerah

ada pasar dan majlis-majlis yang riuh di pagi hari

kaligrafi bumi yang miring, hari-hari yang lipur

jalan-jalan bergelombang bagai bentuk dadamu

 

setelah ritual dimulai

setelah kitab itu menjadi milik kita

 

setidaknya, kita dapat menafsirkan kehdiupan ini

dengan tetesan darah atau deraian airmata

cinta yang sanggup melelehkan batu-batu di angkasa



 

1998

=AHMAD FAISAL IMRON=