kau masih juga kelabu, kau akan kehilangan diriku
maka terjadilah sebuah interview yang singkat
setelah enam belas tahun silam: aku menelanjangimu
pasir putih, gelombang putih dan sebuah lengkungan memanjang
selalu saja ditandai dengan sebuah rangkulan, tarian, dengusan
selalu saja melahirkan dirinya sendiri, benar-benar fantastis
dan itu, sama bentuknya dengan evolusi mimpi-mimpiku
masih di tepi ini, kulihat kau begitu mengapa
o, sebab aku tak mengirim sesaji untukmu?
bunga-bunga langka
ribuan kepala domba
Tuhan begitu bermakna
sangat sulit mendengar kepak sayap ratusan camar
atau lambaian tangan saat melepas kepergian sebuah kapal
tak ada jaring nelayan maupun mercusuar
perawan-perawan bugil ataupun gerak cuaca
laut ini untukku, dan yang lebih gila dari khayalanku
angin yang kusut mengangkat pasir-pasir ke udara
inilah anggur neraka! sebuah metafor sederhana
bahkan jika sore ini hujan dilengkapkan, sangatlah ayu bagiku
kedahsyatan itu, kebiruan itu, menekan diri sendiri
namun, sekali waktu, pahamilah bahasaku ini
bagaimana ombak-ombak tak menyakiti pantai dan tubuh karang
bagaimana pembuatnya seperti syair-syair sufi yang tenang
syair-syair cinta yang tak akan membuat alam bertanya
namun, di hati ini, kau masih juga menderu
menyetubuhimu adalah cerita lain, duhai dewa biru!
kemudian kulihat lidahmu menjilat pantat anak-anak
atau kemudian mereka yang segera menjatuhkan diri
hempasan demi hempasan, sebuah lukisan hancur di kejauhan
sore ini pula, matahari yang tawar, memar di pundakmu
kaulah neraka itu
kaulah firdaus itu
begitulah aku akan selalu menyebutmu
sejak semula aku melihatmu dengan tubuh yang hancur
ya, enam belas tahun yang tak akan kulupakan itu:
kelahirannya, kefanaannya, menjemput diri sendiri
setelah diam-diam gerimis menyentuh pelipisku ini
esok atau lusa, pada siapa kutitipkan cinta ini
sebab kau masih juga menderu
sepertinya aku ingin mengutukmu
singkatnya, bahwa segala apa yang kaumiliki
menyerupai pula getaran doa-doa malamku
tangisan masa lalu yang selalu kusemburkan kembali
laksana jutaan anak panah, melubangi luka-luka
merobek usia yang tersisa, yang selalu tersisa itu
o, bahkan bumi yang kaubalut ini
seperti tak pernah percaya
bahwa kuburan burung-burung itu adalah aku
bahwa kuburan perahu-perahu itu adalah aku
maka sempurnakanlah tubuhku, selamanya untukmu
dan hanya dengan begitu nuraniku dapat mengagumimu
tetapi indah tarianmu, lidahmu, rahasiamu
sungguh, enam belas tahun terlewati, masih juga terbaca
1999
=AHMAD FAISAL IMRON=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar