kulihat
bebas
berarakan awan
berterbangan burung
menari
berdendang
alam semesta
kulihat
dari balik
jeruji
belengguku sendiri
belenggu manusia
=ABU BAKAR=
kulihat
bebas
berarakan awan
berterbangan burung
menari
berdendang
alam semesta
kulihat
dari balik
jeruji
belengguku sendiri
belenggu manusia
=ABU BAKAR=
duduk di beranda
menghadap
guyuran hujan
sepanjang hari
menyiram menyegarkan
hutan rakyat
sekeliling
halimun tipis
lewat
kaburkan
pohon-pohon jauh
hujan lembab
nembus baju 5 lapis
dingin
nyaman
kami satu
saya
hujan
hutan
halimun
angin
ALAM SEMESTA
harap maafkan aku
karena
saya meragukan-MU
sangat ragu
namun
saya percaya
kalau keraguanku
bukan apa-apa bagi-MU
=ABU BAKAR=
tiap hari mbak jum
mikul damen dari sawah
masih ada butir-butir padi tersisa
dikumpulkan tiap hari
segenggam dua genggam
pas ramadhan
sudah ada sekarung
digiling
jadi beras ¼ karung
dimasak nasi
untuk buka
dibikin tapai
untuk lebaran
idul fitri
seluruh keluarga
riang gembira
makan bersama
hasil manis
keringat pahit
=ABU BAKAR=
ketika membaca
wiji thukul
saya sadar
bahwa saya ini
borjuis
kesasar
dalam barisan
orang lapar
Mr. $
Hidup bersama
Orang senyum-senyum paham
TTM: Teman tapi Mesra
Mr. O
Hidup bersama
Orang melotot murkah
Hoh, kumpul kebo!
Buk! Buk! Buk!
Kepruk!!!
=ABU BAKAR=
bohong sekali
selamat
bohong dua kali
masih selamat
bohong tiga kali
hampir celaka
bohong bohong bohong
CELAKA CELAKA CELAKA
CELAKA!
kata mister lim
bosku
saya dianggap
keluarga
anak
waktu
baby benz mogok
montir
ratusan ribu
ketika
saya sakit
kelewat kerja
bintang tujuh
belasan perak
kala
mereka pesta
makan-makan
sampai larut malam
aku sibuk
melayani
baru makan
larut malam
tiap hari
subuh
sampai
isa
aku sibuk
cuci baby benz
cuci pakaian
seabrek
setrikaan
idem ditto
ke pasar
masak
masak
masak
sampai loyo
bos
sak-rumah
sepanjang hari
santai
depan tivi
ada perlu
kirim perintah
lewat teriak
hilang sesuatu
aku diperintah
cari
sampai ketemu
kucari
sampai mati pun
tidak
ketemu-ketemu
maka
tak usahlah
dianggap anak
keluarga
aku
hanya batur
=ABU BAKAR=
batur = babu
janda miskin
di rumah Tuhan
diam-diam
bersedekah
50 perak
0,5 penghasilan
penguasa baru
jari-jari gurita
di rumah Tuhan
nyaring
bersedekah
seratus ribuan
0,000 000 000 1 kekayaan
harta haram
=ABU BAKAR=
wong lanang
main gila
sepi-sepi saja
wong wedok
main gila
geger
sa’jagad
wong lanang
bikin bunting
enak saja
sembunyi
wong wedok
dibikin bunting
mau sembunyi
di mana
=ABU BAKAR=
dalam
bayanganku
betapa ganteng
betapa cakep
aku
ini
dalam
bayangan kondektur,
“pelan-pelan
orang tua
mau turun!”
akukah
itu?
dalam
bayangan cermin
betapa kriput
betapa kisut
aku
ini
=ABU BAKAR=
kelas II SD
aku
tergila-gila
goat nio
bocah wedok
terpintar
sekelas
kelas IV SD
saya kasmaran
sutriani
cewek
terpintar
sekelas
kelas I SMP
asrama katolik
sempat waras
karena
tiada cewek
terpintar sekelas
semua laki-laki
remaja
aku ikut
bela proklamasi ‘45
dewasa
aku terlibat
mengisi
proklamasi ‘45
lansia
aku tersisih
derap
proklamasi ‘45
masa bodoh
diakui
atau
tidak
di kapal republik ini
aku
bukan penumpang gelap
dalam kantong
hati ini
aku membawa tiket
walau
hanya kelas dek
TUHAN hanya SATU
manusia tercabik-cabik
***
makan nasi
jangan lupa
yang nanam
minum air
jangan lupa
sumber
***
the king
can do
no wrong
‘cause
he is
the wrong’
=ABU BAKAR=