Tampilkan postingan dengan label JAN ENGELBERT TATENGKENG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JAN ENGELBERT TATENGKENG. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Agustus 2015

DI LERANG GUNUNG karya : J. E. Tatengkeng

Di lerang gunung,
Aku termenung,
Duduk di sisi,
Kekasih hati.

Kamu berpandangan sejurus lama,
Dan mengerti bisikan sukma.

Dada yang debar,
Terang menggambar,
Keadaan hati,
Sesudah menanti,

Sekian lama akan waktu,
Di mana jiwa kami bersatu.......

0, Hidup! Betapa indah,
Kalau kasih ta' diperintah,
hanya dengan sendiri
itu datang memberi ! 




=J. E. TATENGKENG=

KU CARI JAWAB karya : J. E. Tatengkeng

Di mata air, di dasar kolam,
Kucari jawab teka-teki 'alam.

Di kawan awan kian kemari,
di situ juga jawabnya kucari.

Di warna bunga yang kembang.
Kubaca jawab, penghilang bimbang,

Kepada gunung penjaga waktu.
kutanya jawab kebenaran tentu,

Pada bintang lahir semula,
Kutangis jawab teka-teki Allah.

Ke dalam hati, jiwa sendiri,
Kuselam jawab! Tiada tercerai

Ya, Allah yang Maha - dalam,
Berikan jawab teka-teki alam.

0, Tuhan yang Maha - tinggi,
Kunanti jawab petang dan pagi'

Hatiku haus 'kan kebenaran,
Berikan jawab di hatiku sekarang 




=J. E. TATENGKENG=

PERASAAN SENI karya : J. E. Tatengkeng

Bagaikan banjir gulung gemulung,
Bagaikan topan seruh menderuh,

Demikian rasa
Datang semasa,

Mengalir, menimbun, mendesak mengepung
Memenuhi sukma, menawan tubuh.

Serasa manis sejuknya embun
Selagu merdu dersiknya angin,

Demikian Rasa
datang sesama,

Membisik, mengajak, aku berpantun,
Mendayung jiwa ke tempat dingin.

Jika kau datang sekuat raksasa,
Atau kau menjelma secantik juita,

Kusedia hati
Akan berbakti,

Dalam tubuh kau berkuasa,
Dalam dada kau bertakhta ! 




=J. E. TATENGKENG=

SUKMA PUJANGGA karya : J. E. Tatengkeng

O lepaskan daku dari kurungan,
Terus menjelma, Ke Indah Kata!
Biarkan daku terbang melayang,
Melampaui gunung, nyebrang harungan,
Mencari Cinta, Kasih dan Sayang.
Aku tak ingin dipagari rupa!
Kusuka terbang tinggi ke atas,
Meninjau hidup aneka puspa,
Dalam alam yang tak terbatas …
Tak mau diikat erat-erat,
Kusuka merdeka mengabdi seni,
Kuturut hanya semacam syarat,
Syarat gerak sukma seni.
Kusuka hidup! Gerakan sukma,
Yang terpancaran dalam mata. 




=J, E. TATENGKENG=

DI PANTAI WAKTU PETANG karya : J. E. Tatengkeng

Mercak-mercik ombak kecil memecah,
Gerlap-gerlip sri syamsu mengerling,
Tenang-menyenang terang cuaca,
Biru kemerahan pegunungan keliling.
Berkawan-kawan perahu nelayan,
Tinggalkan teluk masuk harungan,
Merawan-rawan lagunya nelayan,
Bayangan cinta kenang-kenangan.
Syamsu menghintai di balik gunung,
Bulan naik tersenyum simpul.
Hati pengarang renung termenung,
Memuji rasa-sajak terkumpul.
Makin alam lengang dan sunyi,
Makin merindu Sukma menyanyi 




=J. E. TATENGKENG=

Senin, 17 Agustus 2015

BULAN TERANG karya : J. E. Tatengkeng

Sunyi lengang alam terbentang,
Udara jernih tenang.
Di langit mengerlip ribuan bintang,
Bulan memancar caya senang.
Angin mengembus tertahan-tahan,
Dan berbisik rasa kesukaan.
Bulan beralih perlahan-lahan,
Menuju magrib tempat peraduan.
Hati yang masygul menjadi senang,
Sukma riang terbang melayang,
Karna lahir Kerinduan semalam:
Ribaan Hua yang kukenang,
Kudapat t’rang, kasih dan sayang,
Serta damai hati di dalam




=J. E. TATENGKENG=

DI BAWAH POHON karya : J. E. Tatengkeng

Daunan kayu permainan angin,
Sinarnya syamsu hinggap di dahan,
Wayu berembusan hawa yang dingin,
Semerbak bunga berkelimpahan.
Duduk berdua dalam percintaan,
Lupakan alam makhluk semua.
S’mbari merangkai tali kerinduan,
Hubungkan sukma kami berdua.
Adindaku! Di sini kita senang,
Kini cinta berlimpah di mata,
Kasih yang merindu susah ditahan;
Untung selamat selalu dikenang,
Persatuan jiwa bertambah nyata,
Yang kekalan, anugrah Tuhan.




=J. E. TATENGKENG=

BERIKAN DAKU BELUKAR karya : J. E. Tatengkeng

Terhanyut oleh aliran zaman, Indahlah taman,
Aku terdampar di dalam taman, Indahlah taman,
Kuheran amat, Di mata zaman!
Memandang tempat! . . . . . . . . . . . . .
Di situ nyata kuasa otak, Dan kalau hari sudah petang,
Taman dibagi berpetak-petak, Ribuan orang ke taman datang,
Empat segi, tiga segi . . . . . . . . . . . . .
Yang coreng-moreng tak ada lagi. Berikan daku Belukar saja,
Rumput digunting serata-rata. Tempat aku memuji Rasa!
Licin sebagai birun kaca.
Bunga ditanam beratur-atur,
Tegak sebagai bijian catur.
Jalan digaris selurus-lurus,
Bersih, sehari disapu terus!




=J. E. TATENGKENG=

SEPANTUN LAUT karya : J. E. Tatengkeng

Duduk di pantai waktu senja,
Naik di rakit buaian ombak,
Sambil bercermin di air kaca,
Lagi diayunkan lagu ombak.
Lautan besar bagai bermimpi,
Tidak gerak, tetap berbaring
Tapi pandang karang di tepi,
Di sana ombak memecah nyaring
Gerak dalam diam,
Diam dalam gerak,
Menangis dalam gelak,
Gelak dalam bermuram,
Demikian sukma menerima alam,
Bercinta, meratap, merindu dendam




=J. E. TATENGKENG=

PANGGILAN PAGI MINGGU karya : J. E. Tatengkeng

Sedang kududuk di ruang bilik,
Bermain kembang di ujung jari,
Yang tadi pagi telah kupetik,
Akan teman sepanjang hari.
Kudengar amat perlahan,
Mendengung di ombak udara,
Menerusi daun dan dahan,
Bunyi lonceng di atas menara.
Katanya :
Kupanggil yang hidup, Kukui apang biahe,
Kutangisi yang mati, Lulungkang u apang nate
Pinta jiwa jangan ditutup,
Luaskan Aku masuk ke hati
Masuklah, ya, Tuhan dalam hatiku!




=J. E. TATENGKENG=

O KATA karya : J. E. Tatengkeng

Sudah genap …
O kata
Dua patah,
Yang dikata dengan nyata,
Oleh badan payah patah.
Itu kata
Ada berita,
Terbesar dari sewarta,
Karna oleh kata nyata
Tuhan menang segala titah!
Karna kata,
Aku serta
Oleh Allah diberi harta
Selamat alam semesta




=J. E. TATENGKENG=