Tampilkan postingan dengan label UMBU LANDU PARANGGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UMBU LANDU PARANGGI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Agustus 2015

KUDA PUTIH karya : Umbu Landu Paranggi

kuda putih yang meringkik dalam sajak-sajakku

merasuki basabisik kantong peluh rahasiaku

diam diam kupacu terus ini binatang cintaku

dengan cambuk tali anganan dari padang padangku

 


=UMBU LANDU PARANGGI=

Keterangan: versi I; Sumber : Majalah Kolong No.3 Th. I/1996; Nusa, 10 Agustus 1997

 

KUDA MERAH karya : Umbu Landu Paranggi

kuda merah musim buru,

                berapa kemarau panjang maumu

jantung yang akan terbakar hangus,

                satu cambuk api lagi

peluki padang anak angin

               dan batu gunungku purba

melulur bayang-bayang di pasir waktu :

                               rahasia cinta

 


=UMBU LANDU PARANGGI=

(versi 3; berdasarkan tulisan tangan ULP)

RONGGENG SUMBA karya : Umbu Landu Paranggi

I

Tambur tua, ditabuh dewa

menujum sunyiku, di mulut kemarau

sirih pinang tembakau, membaun angin cendana

duh sarungkan pedangmu, dendam budak biru

gulung rokok daun lontar, kumurkan mantra pengantar

api pediangan menanti, siraman darah lelaki

 

II

Gong gong purba, meningkah bertalu talu

duh restu dewata, menjaring bulan buangan

lima perawan saringan, menghambur dalam arena

terjurai melindas baying, kain dan selendang pilihan

tenunan datu, kayu dan batu

anyaman pelangi, menyambar nyambar dukaku

 

III

gemerincing giring-giring di kaki, mabuk berburu sorak sorai

bulu ayam di kepala meronta, surai kuda di jari melambai

melipat malam lupa berbusa, hai patah tambur buat rajamu

(hingga lepas urat-urat tangan), gong-gong nyaring dan tajamkan

(bahkan hingga putus napas tarian), mari…hanya kesepianku

panggang di bara cemar, sampai subuh berlinangan

embun, pijaran riap embun, yang meramu cintaku

 

IV

rawa rawa, paya paya, duka cintaku mengibas telaga senja

rawa rawa, paya paya, di punggung sunyi hariku busur cakrawala

rawa rawa, paya paya, baris cemara meriap gerimis nyawaku

rawa rawa, paya paya, pelaminan kemarau, nyanyi fana nyanyi baka

 



=UMBU LANDU PARANGGI=

Sumber : “Persada Studi Klub dan Sajak-sajak Presiden Malioboro” dalam Suara Pancaran Sastra : Himpunan Esai dan Kritik, Korrie Layun Rampan, Yayasan Arus Jakarta, 1984. 

SAJAK KECIL karya : Umbu Landu Paranggi

(1)
dengan mencintai
puisi-puisi ini
sukma dari sukmaku
terbukalah medan laga
sekaligus kubu
hidup takkan pernah aman
kapan dan di mana pun
selamanya terancam bahaya
dan kebenaran sunyi itu
penawar duka bersahaja
selalu risau mengembara
mustahil seperti misteri
bayang-bayang rahasia
bayang-bayang bersilangan
bayang lintas bayang
pelintasanku

(2)
dengan mempercayai
kata kata kata
yang kutulis ini
jiwa dari jiwaku
jadilah raja diraja
sekaligus budak belian
sebuah kerajaan
purbani
lebih dari nafasku
bernama senantiasa
nasibmu
umbu landu paranggi

 



=UMBU LANDU PARANGGI=

Sumber : Tonggak 3, Antologi Puisi Indonesia Modern (ed) Linus Suryadi AG, Gramedia, Jakarta, 1987 (halaman 240). Puisi ini diambil dari Pusara, No. 1, Th. 43, Januari 1970.

 

 

SAJAK DALAM ANGIN karya : Umbu Landu Paranggi

Sebelum sayap senja
(daun-daun musim)
Sebelum hening telaga
(burung-burung malam)
Sebelum gunung ungu
(bisik suara alam)
Sebelum puncak sayu
(napas rindu dendam)
Sebelum langkah pengembara
(hati buruan cakrawala)
Sebelum selaksa kata
(sesaji upacara duka)
Sebelum cinta itu bernama
(sukma menguji cahaya)
Sebelum keningmu mama
(kembang-kembang telah bunga)
Sebelum bayang atau pintumu
(bahasa berdarah kenangan maya)
Kabut itu dikirimkan hutan
Gerimis itu ke padang perburuan
Gema yang itu dari gua purbani
Merendah: dingin, kelu dan sendiri
Namaku memanggil-manggil manamu
Lapar dahaga menghimbau
Dukamu kan jadi baka sempurna
Dan dukaku senantiasa fana



(Yogya, 1968)

=UMBU LANDU PARANGGI=

Sumber : Tonggak 3, Antologi Puisi Indonesia Modern (ed) Linus Suryadi AG, Gramedia, Jakarta, 1987 (halaman 240-241). Puisi ini diambil dari Pelopor Yogya, Minggu, 26 April 1970.

 

Minggu, 02 Agustus 2015

FRAGMEN UPACARA XXXIX karya : Umbu Landu Paranggi

(buat Inna Rambunaijati Pajijiara Marambahi)

 

Tujuh lapis langit kutapis

teratas:

sungsang lapar dahaga

delapan peta bumi kukipas

terbawah:

hening runtuhan sukma

mencium celah retak tanah tanah

serayaraya sawahladang terimakasihmu

dan ringkik kuda putih putus tali

ke negeri dewata terlupa

(ke mata air matahari ribuan ternak)

menggiring yang berumah di sajak sajak

membasuh debu tungkai

barisan anakanak sulungmu

barisan anakanak bungsuku

 



=UMBU LANDU PARANGGI=

(Denpasar 1984; versi 1)

 

DARI PURA TANAH LOT karya : Umbu Landu Paranggi

 

inilah bunga angin dan tirta air kelapa muda

para peladang yang membalik balik tanah dengan tugal

agar bermuka muka langit tinggal serta dalamku

 

bercocok tanam mengidungkan musik dwitunggal

dan seruling tidur ayam di dangau pinggir tegalan

atau sepanjang pematang sampai ke batang air

duduklah bersila di atas tumpukan

batu batu karang ini lakon lakon

rumput dan sayur laut mengirimkan gurau ombak

seraya uap air memercik pedihku

 

beribu para aku sebrang sana datang

mengabadikanmu pasang naik pasang surut

dan kini giliran asal bunyi sunyiku menggapai puncak meru

ke gunung gunung agung tengadah mataku mengail ufuk

tak teduh mengairi kasihku

 


=UMBU LANDU PARANGGI=

(sumber : Majalah Kolong Budaya No. 3 Th. I / 1996)

 

SEREMONI karya : Umbu Landu Paranggi

dengan mata pena kugali gali seluruh diriku

dengan helai helai kertas kututup nganga luka lukaku

kupancing udara di dalam dengan angin di tanganku

begitulah, kutulis nyawaMu senyawa dengan nyawaku

 


=UMBU LANDU PARANGGI=

(sumber : Bali Post, 1978)

TUJUH CEMARA karya : Umbu Landu Paranggi

sisa sampah debu revolusi

sapu dan lego dalam seni

di ibu kota kata sendi kata

si tua muda yogyakarta

(yogya sudah lama kembali)

kembalilah ke yogyakarta

cemara tujuh denyar puisi

 

tujuh cemara

di jantung Yogyakarta

barisan rindudendam menghela anginmu

terjaring di kampus tua

tertanam cinta terdera

di surut hari mencari

debar puisi di hati

 

tujuh gelandangan

(buah asam malioboro)

memanggul gitar nembakkan syair lagu

mentari jalanan bulan lorong kumuh

antara kampung kampus, gubuk gedongan

singsing singsing fajar lenganmu

prosesi tugu pasar alun-alun

bongkar pasang dadadadamu

kang becak andong muatan perkasa

kilatan raut pasi berpeluh debu

ciumlah bumi yang nerbitkan sayangmu

nyelamlah lubuk urat nadi hayatmu

 

tujuh gunung seribu yogya

seribu tarian gang malioboro

tujuh pikul daun pisang ibu beringharjo

(nasi bungkus pondokan selasa rabumu)

tumpukan hijau restu sanubari jelata

sujud bibir pecah yang mengulum kata sejati

hulubalang benih ilham di siang malammu

 

tujuh cemara gelandang

tujuh gunung seribu saksi tak bisu

gelaran tak sunyi gusargusur kakilima

bentangan dukacita langit sukma

manggang biji mata di kawah candradimuka

tak kau dengar keliling kidung sembilu

meronda dan menggedor mimpi mimpi igaumu

(tak kau ingat peta rute juang gerilya

gercik darah tumpah meriba pertiwi)

di bawah jam kota tujuh pengemis tua

bertumpu seperti mendoakan kita semua

di bawah tapak sudirman kami mangkal malam-malam ini

 

sisa sampah debu revolusi

sapu dan lego dalam seni

di ibu kota kata sendi kata

(yogya sudah lama kembali)

kembalilah ke yogyakarta

cemara tujuh denyar puisi

 

tujuh cemara

di jantung yogyakarta

barisan rindudendam menghela anginmu

terjaring di kampus tua

tertanam cinta terdera

di surut hari mencari

debar puisi di hati

 



=UMBU LANDU PARANGGI=

(Sumber : The Ginseng, Antologi Puisi Indonesia, Sanggar Minum Kopi, Denpasar, 1993)

 

AIDE MEMOIRE karya : Umbu Landu Paranggi

bukalah jendela, di luar angin

menyiapkan pelaminan kemarau

sebelum burung-burung dan daunan

luput dari nyalang pandang dukaku

catatan-catatan mengubur segala kecewa

upacara kecil hari-hari kelampauanku

bukalah kerudung jiwa di sini

gemakan kenangan pengembaraan sunyi

jauh atau dekat, dari ruang ini

sebelum sayap-sayap derita dan kerja

pergi berlaga mendarahi bumi

dan dengan gemas menyerbu kaki langit itu

di mana mengkristal rindu dendamku abadi

 



1967

=UMBU LANDU PARANGGI=

(Sumber : Tonggak 3, Antologi Puisi Indonesia Modern (ed) Linus Suryadi AG, Gramedia, Jakarta, 1987 (halaman 239). Puisi ini diambil dari Pelopor Yogya, 12 April 1970)

 

NI RENENG karya : Umbu Landu Paranggi

sebatang pohon nyiur
meliuk di tengah Denpasar
(akar-akarnya memeluk tanah
dan tanah memeluk akar-akarnya)
sudah terangkai sekar setangkai
menimba hawa tikar pandan
anyaman bulan di pelataran
maka kuapung-apungkan diri
berayun dan beriring menghilir
telah tereguk air telaga
dalam satu tarikan nafas
bangau tak pernah risau
akan warna helai teratai
lalu menebal dasar telaga
melayani turun-naiknya embun
datang dan perginya sekawanan pipit
perdu saja mengerti kesusahan langit
sandaran sikap kepala kita
dalam rimba babad prasasti
dan ritus tubuh tarian

selembar demi selembar daun sirih
menyalakan perbincangan senja senja
dalam perjalanan meraut kecemasan
antara sehari hari kefanaan
dan arah keabadian
sepasang mata angin
di sini, di pusaran jantung Bali
ibu, biar bersimpuh rohku
pada kedua tapak tanganmu
bekal ke sepi malam malam mantram
memetik kidung cipratan bening embun
menyusuri jelajahan jejak aksara
menjaga kemurnian rasa dahaga
dan lapar gambelan sukma kelana

 

jika kematian kebahagiaan kayangan
maka sia-sia derita mengempang raga
masih misteri sisa warna matahari
lalu kubaca-baca keriputmu
(ke mana-mana jalanan basah
bayang-bayang pohon peneduh)
dan gelombang riang di rambutmu
sebumbang kesadaran sunyi
melaut permainan cahaya
kesabaran ombak memintal pantai
jukung-jukung cakrawala menjaring angin
sambil mempermainkan punggung tangan
dan telapak bergurat rahim semesta
kata ibu keindahan itu
sedalam seluas samudera mistika
menyangga langit kerinduan kita
bersamamu kutemui pondok di dasar laut
di mana bunga-bunga bermekaran
harum bau nyawa tarian
dan semerbak syair selendang purba



 

Denpasar, Oktober-November 1984

=UMBU LANDU PARANGGI=

(Sumber : Majalah Kolong, No.3. Th I, 1996; Nusa Tenggara, 10 Agustus 1997; Kompas, Jumat, 1 September 2000; Bentara, Gelak Esai dan Ombak Sajak Anno 2001, Sutardji Calzoum Bachri. Jakarta,Kompas, 2001. (halaman 120-121).)