Tampilkan postingan dengan label AHMAD NURULLAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AHMAD NURULLAH. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 September 2015

PADA TIDUR DISEBUAH SORE karya : Ahmad Nurullah

"Izinkan aku berteduh di dalam mimpimu, Nak," kataku,
beberapa menit setelah ia lelap. Aku melangkah. Di luar,
udara rusuh. Pohon-pohon beringas. Kota-kota berasap. Kata-kata
tak henti berbiak: jadi angin, jadi api, jadi petir.
Sejarah berhambur-bagai rombongan kelelawar tersembur
dari ruang kastil tua. Di tanah para tukang sihir
Negeri horor. Negeri tukang banyol.
Di selatan, lebih jauh dari selatan. Di ujung mata angin
Anakku membangun rumah di atas kelopak kembang
Di pucuknya lagi, di celah rimbun daunan
matahari berpendar: menebar cahayanya yang hijau
"Sehijau mimpimu, Nak."
Anakku berlari riang
Bersama kelinci, bebek, dan kucing
Berpegangan tangan. Berpelukan-
Tawa berderai
Waktu tersucikan.
Di pinggir cakrawala. Di tapal batas antara bumi dan
kelopak mata. Kudengar tiba-tiba bom meledak-
Aku terlonjak dan melompat ke luar dari mimpinya:
Kota-kota koyak. Bumi retak
Sejarah berhambur
kental dan gelap.
Di kamar, di ruang dan waktu yang bergerak mengusung
gerimis sore. Anakku menggeliat. Kutatap wajahnya:
Wow! Pada keningnya sebilas cahaya matahari
masih berjejak. Suatu tanda:
Ada sesuatu yang masih berharga
ke arah gelap. Bahwa bumi masih
layak dipijak.



Jakarta, 2002
=AHMAD NURULLAH=

PADA SEBUAH RESEPSI : PENGANTIN PURBA karya : Ahmad Nurullah

1
Ia datang dari sebuah dunia yang jauh
dari ubun-ubunku: "Ketika ayah dan ibumu berpengantin
di mana kau ada?"
Ruang pecah. Waktu berhambur
dan melengkung jadi sungai
Detik-detik mengucur deras
Berlari dari muara
Di tepinya aku menyusur
menyisir jejak yang tenggelam:
pada batu-batu
pada moyang rumputan
pada jam yang berlumut
detik-detik yang karatan.

2
Masa silam bagai kawanan serangga
merayap bangkit dari punggung jam:
Bukit-bukit cair
menciut lagi jadi puting
jalanan kelupas
berseruak belukar:
kadal, cengkerik, ular, dan belalang
mengerut lagi jadi telur
Pohonan surut
pulang lagi pada bijinya
Kotoran sapi melayang
ditelan lagi lubang anusnya
Kerut-kerut wajah luntur
Dunia kembali jadi muda.

3
Kampung-kampung tajam oleh bau dengkul dan garam
Dan kernyit pikulan para pedagang
dan celoteh ringan para petani
berhambur dari celah-celah waktu
dari detik-detik yang tersimpan
pada tabung ingatan. Atau semacam ingatan.

4
Sore terbit. Orang-orang baru pulang dari ladang
usai menanam harapan
pada biji-biji jagung dan kedelai
pada buncis, ketela, dan bungkah-bungkah garam:
Hari esok adalah butir-butir keringat
yang menetes dari kerja.

5
Langit gelap. Di bawah matahari yang bergeluyur jauh
ke rongga malam. Kudengar gamelan semayup bertabuh
Seperti kemerisik sisik ular di pohon ara.
Kidung tentang percintaan melilit telinga
dalam nada minor yang terjungkal
Angin berlari
menculik uap nasi
dan gurih asap lodeh
dari sebuah pesta yang basi.

6
Pelaminan terang:
Pengantin pria berblangkon
bersungkil keris Adipoday
Pengantin perempuan berkonde
berhias rantai kembang Putri Kuning
Ruang gaduh oleh celoteh pinisepuh
Senyum-senyum mekar seperti kembang
Juga tawa dan basa-basi murahan
Keanggunan-keanggunan yang dangkal.
Kusalami sepasang pengantin:
"Selamat hidup baru, Ayah.
Selamat hidup baru, Ibu.
Saya datang." Aku terisak
"Terima kasih. Anda siapa?"
"Tentu saja saya anakmu."
Ruang kembali pecah
Detik-detik terburai
Malam berlari
Di langit kudengar rohku mengerang
Surga meledak
Hanya Tuhan-sekiranya kudengar-
Diam-diam pun terisak
Sampai sekarang.



Jakarta, 2000
=AHMAD NURULLAH=

DIDALAM SAJAK INI AKAN KAU TEMUKAN SEBUAH SUNGAI karya : Ahmad Nurullah

Di dalam sajak ini akan kautemukan
sebuah sungai - katamu.
Lalu kita pun berangkat
menjelajah makna yang menggeliat
di balik lapisan tanah yang padat -
Siang gerimis
Matahari bercampur hujan
Perjalanan begitu panjang
dan mendebarkan
Bagai syahwat yang terbakar
dan menebar bara apinya
ke luar waktu -
Angin berkincir
Ruang bugil
Detik-detik istirah
Sejarah tiarap
Pada sebuah gumam
Di atas semacam tanah lapang
Masa kanak kita berceceran:
saat kita asyik menganyam sebuah kapal
dengan sisa daun kering dan lokan
dan kita berdesak di dalamnya
berlayar menuju sebuah dunia yang jauh
sejauh kita ada
sejauh kaki kita berpijak
Tidak. Di tikungan sajak ini tak kutemukan
sebuah sungai. Yang ada adalah sebentang lautan
luas tak bertepi;
makna berdebar seperti ombak
bergeriung seperti angin
berkecipak seperti kawanan ikan
dan kita tercebur
dan kita tenggelam di dalamnya. Di dalam sajak kita



Jakarta, 1999
=AHMAD NURULLAH=

Rabu, 05 Agustus 2015

SESEORANG BERDIRI DI TEPI SAJAK MU karya : Ahmad Nurullah

Seseorang berdiri di tepi sajakmu. Wajahnya sepi,
seperti sebuah kuil terpacak
di lereng bukit. Sepasang matanya kering,
seperti selongsong kulit laba-laba.
“Aku rindu kedamaian,” bisiknya.


Adakah ia seorang pertapa?

Ia tertegun: memandang kata-kata berbaris.

Atau menikung, seperti rel kereta api membelah

tanah desa. Atau berkeriap,
seperti lampu-lampu di tengah kota

di sebuah negeri yang redup

Negeri yang jalan-jalannya berputar. Atau melintir,
seperti rambut sebuah suku tua yang telah punah.

Adakah di sana terbentang kedamaian,
seperti ia impikan?

Agak ragu ia melangkah
. Masuk:

menyibak kata-kata.
Lalu, dengan terompah butut,

ia pergi keliling kota:
menyaksikan karnaval hari kemerdekaan. Atau
menonton sirkus. Atau ikut menyisip ke tengah

arak-arakan massa –

sejarah yang menuntut turun harga BBM,
atau kenaikan upah buruh.

Haus, ia minum air mancur di sebuah taman.

Lalu tertidur, sebelum dibangunkan oleh gerimis.

Dua ekor anjing menggigit ujung jubahnya –

sebuah peristiwa yang mendorongnya melompat

ke luar lagi dari sajakmu.

Di luar pagar, pada tapal batas antara

dunia dan kata-kata,
gonggong anjing masih bersahutan

menyembulkan moncongnya dari sederet penanda.

 

Ia tersengal, menyapu peluh di keningnya, dan berbisik:
“Tak ada kedamaian,” Juga tidak dalam sajakmu.


Jakarta, 2003

=AHMAD NURULLAH=

DI TEBING WAKTU : MEDITASI karya : Ahmad Nurullah

Sebelum jagat raya diciptakan,

apa yang dilakukan Tuhan?


Sunyi. Di teras: waktu merayap

Malam mengalir. Aku duduk
tapi melayang. Di langit berkeriap bintang-bintang.

Di jalan-jalan berkecipak perang. Seperti di hatiku

Mungkin juga di hatimu


Aku teringat Stephen. Ia melompat dari

bulatan asap rokok:
Membetulkan punggungnya pada kursi roda

Merogoh lubang hitam
Meng
emas lagi bangkai bintang-bintang

yang berkerumun
di bawah bulu alisnya.


Sebelum jagat raya diciptakan,

apa yang dilakukan Tuhan, Stephen?

Membangun Surga?

Merancang Neraka?

Jauh sebelum ayah dan ibumu berpengantin,

di mana kau ada?

 

Ia menyeringai. Dari bibirnya terbit

sekerumun matahari. Mengajarku
tentang cara menjinakkan bumi.

Pertanyaan Anda waras,
untuk seorang yang berani gila,
katanya.


2
Ia lalu mengajakku pergi. Jauh melayang
:

melompat dari bintang ke bintang. Berguling-guling

dari galaksi ke galaksi. Mengintip lubang cacing.

Membayangkan serbuk tubuh presiden yang terguling.


Di bawah telapak kakiku berhambur

bermiliar galaksi. Bagai butiran biji kedelai. Seperti

pecahan biji gunduk yang membercaki ruang

Laksana kepingan biji mutiara bersemai

di sudut-sudut waktu.


Lihat, katanya, menunjuk sebuah titik yang berdesak
di setumpuk cahaya.
Apa arti kau ada?


Lalu ia pun bercerita: Dulu, di sebuah celah titik
yang jauh itu, ada pertengkaran:
di dekat Tanah Nod,

jauh sebelum Zaman Es terakhir,
sebelum Colombus merajang Benua India. Sebelum

Pizarro menemukan Inca. Sebelum Bolivar

menyembul di Tanah Caracas.


3
Menginjak sebutir detik yang nanar,

aku mendadak kembali terlempar
ke satu celah di titik yang jauh itu:

ke bumi.

 

Ada bom meledak di masjid-masjid. Menggelegar

di gereja-gereja. Bergema ke dalam ruang sejarah –

menyeretku lagi pada sebuah cerita:
Tentang pertengkaran,

jauh di sebuah celah bumi yang tua.


Ketika bumi masih sebercak Kata,

apa yang dilakukan Tuhan, Stephen?

Merakit algojo?

Merancang pendeta?

Anda tahu: siapa
presiden pemenang lomba,

besok, di negeri saya?"


Ia, dituntun oleh wataknya,

kembali menyeringai.

Lalu kembali mengajakku berputar:

Berdiri di tebing waktu,

menyapu kemahaluasan ruang:

Meluncur di tanah masa depan yang berkabut
menjelajah kota-kota masa silam yang berasap.


Stephen, saya lelah jadi manusia”



Jakarta, 1999

=AHMAD NURULLAH=

BARITO karya : Ahmad Nurullah

– catatan perjalanan

 

1

Di tengah kelucak sungai Murung-Barito

Di tengah guncangan riam lawang haring

Ada sisa kenangan yang tercecer:

sepanjang Teluk Jolo

sampai bibir Desa Tumbang Topus –

secelah kenyataan tentang bagian

dari Tanah Airku:

 

Gadis-gadis Dayak berjoget

Dalam busana blue jeans dan kaos T-Shirt

Mabok tersihir lagu-lagu dangdut yang berdetak

lewat corong tape recorder

 

Dunia cuma seluas antena parabola

Terpacak tak jauh dari pantan

tempat rombongan roh melolong

Sebelum upacara purba

mengantar dari bumi ke nirwana.

 

2

Pedalaman Kalteng adalah dunia yang pecah:

Dadanya tenggelam ke dunia magi. Bersama balian,

kidung randan, tapi japen, dan bahalai:

riasan buah-buahan –

menyambut rombongan tamu agung

dari dunia seberang

 

Tapi kepalanya gatal melongok dunia luar:

Dunia (“Barat” yang) kebyar? Atau: kemajuan?

Hati-hati matamu mengerling perempuan

Bila tak ingin biji pelirmu tersangkut di pohonan

 

3

Malam. Di sebuah kamp HPH, di tepi hutan

Di bawah bayangan pemilik modal yang

mencengkeramkan kukunya pada

balok-balok kayu

semayup kudengar tarian magis:

musik Kenyah, kilatan Mandau;

sumpit berlumur getah pohon mistik

atau mungkin racun ular:

 

Para balian menari

Mantra-mantra disemburkan

buat Ranying Hatalla Langit

Tanah bergerincing

Udara merekah

Keringat mengucur

Bumi menyala.

 

4

Masihkan hutanku hutan yang dulu?

Air-menitis di celah batu-batu di sepanjang tepi sungai

Suatu saat mungkin mengering

Direguk waktu: bumi yang gelenyar

bersolek pembangunan?

Tak ada jawaban. Hanya gerusuh angin

Menyisir kesunyian hutan.

 

5

Milik siapakah bulan di langit, Saudaraku?

Para Nihin, Abdul, dan Joseph berangkul tangan

Melantunkan nyanyian hutan yan tak tumbuh lagi dari

tanah leluhur: Bersama anjing, babi,

bangkui, dan beruang. Bersama

Sang Dewa yang liat berakar.

 

6

Pagi. “Simbur, simbur! Simbur, simbur!”

Gadis-gadis Dayak menabur air dari pelipis sungai

Seolah hendak berkata, “Selamat jalan, Saudaraku!

Kapan mampir lagi di tanah kami?”

 

Sungai berkelucak

Daratan mulai menjauh

Di bawah matahari pagi,

daun-daun merbau jatuh

Hutan sunyi. Burung-burung sepi

Perahu bergegas –

membawa kami pergi.

 

7

Tak ada yang istimewa, agaknya. Tapi,

ada yang layak dicatat:

di sebuah kawasan yang jauh,

ternyata ada juga orang berbahagia. Bukti

bahwa bumi sabar mengasuh segala yang ada:

yang kecil, ganjil, sederhana

Meski, bukan tak bermakna.



 

Jakarta, 1995

=AHMAD NURULLAH=

SELAT KAMAL : MENGUPAS NOSTALGIA karya : Ahmad Nurullah

Kita tak mungkin mencebur ke sungai yang sama

– Herakleitos

 

Tak mungkin, memang. Seperti juga tak mungkin

aku berlayar di laut yang sama. Waktu membawa angin, iklim,

dan ombak yang lain. Meski di langit lintas

matahari yang sama. Seperti dulu: di masa bocahku.

 

Tapi, melayari Selat Kamal, mengulang

perjalanan yang ngilu: orang-orang berdesak

Juga mobil-mobil, motor,truk; para pedagang telur, rokok,

nasi bungkus – sebelum feri meraung, menggeliat,

lalu berangkat.

 

Pernah di masa bocah kubayangkan:

Dari langit, pulauku bagaikan seonggok buntut naga

terendam di bawah permukaan air laut:

Jawa tubuh, Sunda kepala, Jakarta urat lehernya

Kampungku: bisul dari sebuah titik di cakrawala

 

Kini buntut naga itu bergeser

Setelah terpacak Jembatan Suramadu,

yang sempat rubuh. Bukan oleh gempa atau revolusi

Tapi mungkin oleh logam yang ceking, sluf yang tonggos

Semen yang tipis – moral yang keropos.

 

Selat Kamal sesak kenangan, ramai sejarah,

juga legenda – semacam legenda:

Tentang Adirasa – adik Jokotole – yang mengantar pusarnya

Ke Majapahit, di abad yang jauh: sumber timah panas

Perekat engsel gerbangnya yang angkuh dan keramat.

 

Juga saat Trunojoyo menangkap firasat, mungkin

tanpa firasat. Sebelum sekerat hatinya jadi santapan lezat

para penghuni kaputren, dan segenap warga Kartasura

Sebelum jenazahnya dibiarkan tergeletak

di kaki tangga istana. Tanpa upacara. Tanpa doa-doa.

 

Selat Kamal sibuk dengan impian para perantau:

Rombongan pedagang dan nelayan menyeberang

Lalu terdampar dan berbiak di bibir timur Tanah Jawa

Mengusung ragam adat, dan kata-kata

Juga logat, dan panas darah. Panas darah?

 

Para calon TKW bermimpi hujan rial di Tanah Arab

Seraya diam-diam mengerling Mekkah. Atau

abang sate menyusun rumah idaman dari

kepulan asap, nyala bara, tetes keringat. Atau…

 

Selat Kamal. Telah berapa kali kulayari

Dan kutinggalkan engkau, Ayah? Ibu?

 

Kapal feri mengerang, menggeliat

Membawaku pergi, menjangkau masa depan

Sebelum akhirnya aku terdampar

di negeri kata-kata: sebuah negeri yang kurus,

dan tak seharum pesta.

 

“Tapi demi kemerdekaanku,

tak ada alasan untuk menangis, Ayah, Ibu.”



 

Jakarta, 2004

=AHMAD NURULLAH=

PADA TAPAL BATAS WAKTU karya : Ahmad Nurullah

 

Janganlah mencari tahu apa yang akan terjadi besok

– Horatius

 

Tapi, kita selalu langgar petuah itu. Kita terus melangkah:

membaca, bertanya, menduga-duga:

Apa yang akan terjadi, besok?

Akan turun hujankah di hari pengantinmu,

Kamis depan?

 

Saat kau terjaga dari tidur, adakah rumahmu

masih utuh terpacak? Akan membuncit lagikah

perut istrimu, akan beranak lagikah anjingmu,

tahun depan? Dua hari lagi

suamimu pasti studi di Holland?

 

“Janganlah mencari tahu apa yang akan terjadi besok

Jangan mencari tahu apa yang akan terjadi

di masa depan”

 

Tapi, siapa tak mau mencari tahu

apa yang akan terjadi, besok – di negeri ini,

di hari-hari depan? Usai makan di sebuah kafe,

adakah tubuhmu masih bulat, meja dan kursi

masih tegak, dan kepalamu masih setia

tinggal pada lehermu yang jenjang?

 

“Janganlah mencari tahu apa yang akan terjadi,

besok. Besok adalah rahasia waktu. Masa depan

adalah daerah Tuhan.”

 

Tapi, kita terus langgar petuah itu, dengan berani:

dengan kaki, dengan tangan. Dengan degup jiwa,

dengan segenap kesadaran. Sebab,

sejak tangis pertama pecah,

sejak popok dibalutkan,

besok tak dapat dihindar

Masa depan tak terelakkan.

 

“Tapi, apa yang akan terjadi, besok?”

 

Bulan bergerak. Detik-detik terus berguguran. Tapi

kita tak henti melangkah. Tapi kita

tak kunjung berhasil meraih jawab

Sampai, pada tapal batas waktu,

kita jera bertanya, dan kita tak membantah:

Besok adalah sebuah pintu –

dari mana kita masuk, dan kita tak kembali.



 

Jakarta, 2006

=AHMAD NURULLAH=

Sabtu, 01 Agustus 2015

NOTA BULAN DESEMBER karya : Ahmad Nurullah

Catatan  Akhir Tahun

Tak perlu kuucapkan
selamat tinggal pada detik terakhir
bulan Desember, dan
selamat datang untuk detik
awal Januari. Untuk apa? Segala waktu sama. Waktu
adalah sumbu semua sejarah, ibu segala kepedihan.

Almanak pun jatuh. Telungkup. Tahun bersalin. Tapi,
di antara detik-detik yang gugur, bulan-bulan membusuk,
hari-hari berkarat, dan jam yang menguning, banyak hal yang
masih lengket—berkecamuk dalam kenangan:

Tanah meledak, kota-kota terbakar; AIDS, flu burung,
demam berdarah, busung lapar; BBM melonjak,
harga-harga menjerat leher
, juga laut yang mendadak gila,
menghancurkan jadwal-jadwal—
menculik seluruh isi kota.

Tapi waktu tak peduli. Waktu terus berjalan, mengusung
detak-detaknya, diam-diam—

menyembunyikan wajahnya di balik
paras bulan merekah, atau matahari bersinar
Membungkus rahasianya dengan siang, dengan malam:
Waktu adalah siluman yang pandai menyamar.

“Selamat Tahun Baru,” katamu, menyeringai.
Selamat tahun baru? Untuk apa?

Seperti waktu, aku pun terus berjalan: gelisah oleh tatapan
mata bulan. Gemetar di bawah kerling
matahari. Sebab, gara-gara waktu,

banyak hal berdesak untuk diingat,

dan aku berjuang untuk lupa—sebagai jalan
pembebasanku.



Jakarta, 2006

=AHMAD NURULLAH=

MITOLOGI KATA karya : Ahmad Nurullah

Di dalam kata-katamu yang indah

kutemukan sarang ular: ia melingkar

mengerami telur-telurnya

di bawah sisik-sisiknya yang berkilau

bak permata

 

Bila di Taman Firdaus zaman Adam

ular gemar melingkar di batang pohon khuldi

Sekarang ular punya tempat sembunyi lebih nyaman:

kata-kata

 

Sebab, lebih licin dibanding pohon khuldi

kata bisa menjelma apa saja:

Hari ini seonggok sarung

Besok baju tentara

 

“Apa kabar, Kawan?” tanyanya, ceria

Aku tersenyum. “Baik,” jawabku

Diam-diam aku menyusup ke dalam kata-katanya:

Astaga! Ada jutaan ular melingkar di situ

 

Usai Waktu Penciptaan

Kata-kata telah bergeser dari peran dasarnya:

Ia bukan lagi Perawan Suci yang bertugas

menggendong Alam Semesta.



 

Jakarta, 2003

=AHMAD NURULLAH=

MENIMANG SEJARAH, MENANGISI AIRMATA karya : Ahmad Nurullah

—Kepada Orang Lain

1
Sungguh adakah cinta, jika perang adalah fakta,

dan darah adalah sejarah?

 

Kadang aku berpikir:
Mungkin kita tercipta
dari keisengan. Kala bumi kuyup
Udara menggigil. Dan malam
sesaat jadi biru.

Di bawah hujan, kota-kota lelap
Dan, seperti di hari-hari kemarin,
sepasang api purba bertumbuk, meledak,

dan terbakar. Dan kau:

di luar keinginanmu, jatuh
pada seliang rahim yang basah
dengan kepala kuyup oleh api
dengan kening basah
oleh mimpi.

2
Di bangku dasar kaureguk pengetahuan pertama:
Perang meletus sejak di sebuah lembah
di rahim: Ketika bermiliar ekor serangga berenang
dan berburu mahkota
di kepala putik bunga
Ketika kau cuma seharga anak nyamuk
tersisip di tengah gelombang massa.
Dan kau saling menikam
Dan kita terlibat di dalamnya
Dan kitalah pemenang. Kitalah pembunuh
Dan hidup bermula dari pembunuhan.

3
Lalu ibumu mengerang
Dan kau: sang pemenang itu
melompat ke dalam waktu. Debu tumbuh,
dan berbunga. Tanah berbuah: sejarah


Tentang Kain yang tangannya kuyup darah
Tentang Hitler yang mengamuk di Eropa
Tentang pesta peluru di Lebanon,

Afghanistan – Timur Tengah
Tentang perang etnik di Yugoslavia
Tentang pembantaian massal di Tiananmen
Tentang Semanggi, Ambon, Aceh, Irian Jaya,

Timor Leste. Tentang kita. Tentang kita.

4
Sungguh adakah cinta, jika perang

adalah fakta, dan darah

adalah sejarah?

Kau meludah: “Campakkan saja mimpimu
tentang cinta. Mari, perang yang lain
kita mulai. Seperti dulu. Ketika kita
berebut mahkota di kepala putik bunga
Sebelum kita sendiri mengerti
asamnya darah
pedasnya airmata.”

(Lalu kau terisak:
“Ibu, maafkanlah atas kelancanganku.”)



Jakarta, 1999

=AHMAD NURULLAH=

HOMO TEXTUALIS karya : Ahmad Nurullah

Telah kulayari laut, sungai. Telah kuceburi kali,
selokan, parit-parit, yang mengalir
dalam tubuhmu. Kupelajari segala jenis kerikil,
batu-batu; biji-biji emas, dan ikan-ikannya


Tetapi, sungguh engkaukah itu
Sungguh kaukah yang berdiri tersenyum di dalam waktu?


Mungkin bukan. Mungkin kau cuma bayang-bayang
pikiranku. Kususun dari rasa-rasaku

Kau hasil rajutan sebuah pikiran
Kau percik perasaan.


“Hallo! Kaukah itu. Sungguh kaukah yang berdiri
di depan pintu?” Kau yang baik, kau yang dungu?
Kau yang suci, yang berdebu? Mungkin bukan.


Kau angin yang berdesir, air yang bergerak,
kau batu yang berjalan
dalam diam: Kau tak bulat
. Kau tak selesai.


Telah kulayari laut, sungai. Telah kuceburi danau,
rawa-rawa, parit-parit, yang bergericik
dalam tubuhmu.


Tapi, kadang kau tak ada
Kau cuma jejak.



Jakarta, 2005

=AHMAD NURULLAH=

Sabtu, 25 Juli 2015

BURUNG BURUNG BERSARANG DIDALAM SAJAKKU karya : Ahmad Nurullah

Itulah peristiwa paling penting yang amat menentukan

jalan hidupku. Mengekalkan takdirku. Yakni:

Pada suatu sore, ketika kugubah sepotong sajak,

dan kupacak sederet citraan pohon di sepanjang

tepi sungai, dari luar jendela burung-burung berhambur

dan membangun sarang di situ. Di dalam sajakku.

 

Seketika kehidupan di tepi sungai itu ramai

Pepohonan bergegas tumbuh. Juga rerumput, semak,

belukar. Sepanjang hari burung-burung itu nyaring

berkicau. Menyuapi anak-anak mereka yang

bercericit riang: menagih ulat dan biji-bijian.

 

Waktu bergerak. Kehidupan di dalam sajakku mekar

Sungai itu deras mengalir. Airnya yang bening

bergericik ramai. Berdentang, bagai musik orkestral –

merayakan kemurnian hidup dan keasrian hutan

 

Dari sebuah titik di cakrawala, sungai itu tampak

melengkung – menipis di kejauhan,

lalu mematahkan ekornya di batas kertas

Di jeramnya ikan-ikan bertelur, berbiak –

mengasuh anak-anak mereka yang berenang-renang

di rongga-rongga batu cadas

 

Sunyi. Seperti di pagi-pagi kemarin

matahari menyembul di ujung lanskap

Semburat cahayanya yang merah

melumuri pinggang gunung, ladang, persawahan –

menguak perbukitan.

 

Jauh di kaki cakrawala,

rombongan satwa berbaris:

jerapah, pelanduk, zebra

Gadis-gadis kecil berlari-lari riang

Mereka anak-anak petani, agaknya –

penduduk asli yang tinggal di ujung desa.

 

Muak hidup berkerubung kabut di negeriku,

aku pun pergi – mengungsi ke dalam sajakku:

kawin, dan berbiak,

dan aku malas pulang

Sampai sekarang.

 



Jakarta, 2005

=AHMAD NURULLAH= 

BATU YANG BERNYANYI karya : Ahmad Nurullah

– mengenang Bunda Teresa

 

”Tuhan,” katamu, bersahabat dengan diam

Bunga tumbuh tanpa kata. Bulan bergerak,

tanpa berisik.”

Maka, menyeberang dari kata,

dari gemuruh dan tempik sorak,
dari kasak-kusuk dan teriak,

aku pun melangkah

ke dalam diam:

 
Kesunyian tumbuh

jadi kata. Diam mengembang

jadi bahasa.

Bumi terus berputar, tanpa derak.
Waktu mengalir, tanpa
gericik.
Dan
, dalam diam,

pepohonan menggeliat,

batu-batu bernyanyi.
Rerumput tumbuh, tanpa bunyi.

Embun lindap, seperti pencuri

diam-diam datang

merayakan pagi.


Bunda,bagaimana harus kudengar suara badai,
misalnya di Aceh?

 



Jakarta, 2005

=AHMAD NURULLAH= 

BERSYUKURLAH, KAU TIDAK LAHIR DARI HUJAN karya : Ahmad Nurullah

- Untuk Orang yang Tak Ada

Bersyukurlah kau tidak lahir dari hujan, sebab
langit tetap lebih teduh dibanding semua rumah

yang terpacak di bumi.


Bukan, bukan soal di sini tak ada surga
tetapi di sini terlalu banyak neraka
bahkan di kamar tidurmu
.


Bumi ini, yang mewarisi pengetahuan pertama dari
darah Habil, bukan saja kampung yang kumuh,
tapi juga pedih
.


Bersyukurlah kau tidak lahir dari hujan
Jangan! sebab kulitmu terlalu halus untuk setiap

debu dan kotoran. Untuk semua mimpi dan harum bangkai
Bersyukurlah, dan jangan sekali-kali bermimpi
untuk datang
.


Kubayangkan: di langit
rohmu bening
bagai sepasang sayap kupu-kupu belum dilukis
oleh benda-benda, oleh pelbagai cuaca
. Oleh airmata.


Bersyukurlah kau jadi orang yang tak ada
Bertahanlah terus untuk tak ada
Tak pernah ada!




Jakarta, 2003

=AHMAD NURULLAH= 

SETELAH HARI KEENAM karya : Ahmad Nurullah

Jika bumi, langit, dan seisinya dicipta selama
enam hari, apa yang dilakukan Tuhan sejak jauh

sebelum hari pertama, dan jauh setelah
hari keenam? “Aku tak hendak mengatakan:
Tuhan adalah pengangguran,” katamu.

Aku coba tersenyum. Pedih. Lalu tengadah—
Bulan malas merekah. Langit irit bintang.

Pada malam dingin di sebuah negeri berkabut
awal November tahun ini, entah:
telah berapa jauh waktu berlalu
Berapa jauh jaraknya dari hari keenam—
usai penciptaan.

Pada hari puncak itu, “Setelah segala air di bawah langit
berkumpul pada satu tempat”, dan menjelma lautan,
dan Tuhan mengalungkan nama pada tanah kering
itu
“darat”, Ia melihat: “Semuanya itu baik”. Baik.

Tapi, tak tahukah Ia: apa yang akan terjadi
sesudah itu, jauh setelah hari keenam?
Apa lagi yang akan terjadi, misalnya:
setelah Semanggi, Sambas, Aceh, atau Jimbaran?

Malam larut. Bumi redup. Langit memercikkan gerimis
Sebentar lagi mungkin hujan akan mengguyur

kota-kota. Detik ini, apa yang dilakukan Tuhan?

Aku tak tahu. Seperti aku tak tahu nasibku,
dan nasib anak-anakku
esok, di negeri ini
setelah semua tangisku berakhir, dan kapalku berangkat
dalam debu.



Jakarta, 2005 

=AHMAD NURULLAH=

PERKAMPUNGAN ILAHI karya : Ahmad Nurullah

Berjalan di halaman perkampungan Ilahi

Butiran mimpi yang tercecer hanyalah debu

Tak ada tawa tak ada airmata

Cuma seulas senyum yang gemetar

Melekat pada cuaca yang tergenang

 

Roh-roh tenggelam di lambung jam. Terpejam

Seperti burung-burung purba menclok

di ranting-ranting senja yang putih

 

Tak ada gunung tak ada jurang

Tanah mengental tanpa jarak

Seperti sebutir atom dalam ketinggian yang rapat

Sebelum awal waktu penciptaan

Sebelum meledak dan terburai jadi bintang-bintang

 

Tanah bukit lembah surut ke titik nihil

Antara nol dan minus yang panjang

Bagai barisan molekul berlari di dalam air

tanpa gelas. Bagai darahmerah darahputih mengalir

tanpa jasad

 

Di perkampungan Ilahi

Tak ada lagi kebisingan

Kecuali nyanyian

 



Jakarta, 1989

=AHMAD NURULLAH= 

TUHAN PARA PELAUT karya : Ahmad Nurullah

Tuhanku adalah Tuhan para penjelajah:

mereka yang menampik ketenangan

sebagai hadiah –

Tuhan badai, gelombang, angin puyuh

Tuhan para pemberani, dan para penemu

 

Tuhannya orang-orang yang bertanya,

dan merayakan kegelisahan

sebagai sebuah pintu

untuk berangkat:

Tuhan para pelaut

Tuhan para penakluk

 

Tapi, Tuhanku juga Tuhan rembulan,

matahari, bintang-bintang, yang bersinar –

tanpa berisik. Tuhan yang tidak minta dicari,

tapi ditemukan. Di dalam sukmamu:

sehabis melepas jangkar,

dan membuang sauh.

 



Jakarta, 2005

=AHMAD NURULLAH=