Tampilkan postingan dengan label JOKO PINURBO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JOKO PINURBO. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 September 2015

TUKANG CUKUR karya : Joko Pinurbo

yang gemar mencukur rambutnya

sebenarnya kata-kata.

maka kubayangkan kau tukang cukur itu.

duduk menunggu pasien

di sebuah gang dalam leher pasar.

gelisah sendirian, menggengam gunting

dan sisir.

bangkit dari kursi yang menghadap cermin.

cermin yang menggantung pada batang pohon mahoni.

menanti-nanti, satu kata atau dua kata

lewat dari lubuk sepi.

memang kalau bukan hari raya atau liburan

kau lengang, tak banyak dikunjungi.

tiba-tiba, ketika kau enak menghisap rokok filter

sebuah kata yang sudah lama hilang

muncul di hadapan.

sebuah kata yang gondrong bagai rambut penyair.

“mas, tolong cukur habis rambutku!”

kau mengangguk dan mempersilakannya duduk.

terkesima, kau pun lupa bertanya

gaya apa yang diminta.

“kamus, tempatku bersemayam membuatku

seperti ini.”

kau menatap lekat padanya.

tatapan seorang bapak kepada anaknya.




2012

=JOKO PINURBO=

Selasa, 21 Juli 2015

PELAJARAN PUISI karya : Joko Pinurbo

Ia sering bingung: apa yang harus ia lakukan untuk

murid-muridnya saat ia memberikan pelajaran puisi.

Susah-susah amat. Ia bentangkan saja puisi di papan

tulis atau di dinding kelas.

“Puisi itu hutan rimba,” ia memulai pelajaran. “Kalian

mau jadi anak rimba?” Meskipun sebagian besar

muridnya anak-anak kota, mereka ternyata mau

mencoba menjadi anak-anak rimba. “Kota juga rimba,”

cetus pak guru yang pandang matanya seluas rimba.

Setelah menunjukkan beberapa celah untuk masuk

rimba, ditambah sedikit penjelasan tentang peta rimba,

ia meminta murid-muridnya segera menjelajahi rimba.

Semula ada yang takut-takut, namun setelah dilecut-

lecut akhirnya berani juga. Ada pula yang belum-belum

sudah bergidik: “Kalau ada ular, bagaimana?” Pak guru

merasa geli: “Jangankan di hutan, di kamar mandi pun

kadang ada ular.”

Ribut sekali. Mereka berhamburan ke dalam rimba

sambil bersorak-sorak: “Rusa jantan berlari masuk

hutan….” Kemudian ada yang menimpal: “Curang!

Memangnya hanya rusa jantan yang bisa berlari masuk

hutan? Rusa betina juga bisa. Ayo balapan!”

Guru puisi itu tampak tenang-tenang saja, tapi waspada.

Ia sudah sangat sering masuk hutan dan tahu rahasia

rimba. Ia sibuk berjaga-jaga, siap memberikan

pertolongan darurat bila, misalnya, ada muridnya yang

linglung atau tersesat.

Tiba-tiba suasana berangsur senyap. Tak terdengar lagi

derai tawa dan suara bernyanyi bersahutan. Ia mulai

panik. Jangan-jangan mereka benar-benar tersesat.

Jangan-jangan ditelan gelap. Jangan-jangan ada yang

masuk jurang. Jangan-jangan ada yang digigit ular. Ia

ingin sekali mencari dan menemukan mereka, tapi sama

sekali tak ada sinyal suara. Malah ia sendiri tiba-tiba

takut tersesat. Takut pada yang tak terlihat.

Ia masih tercenung gundah ketika murid-muridnya satu

persatu muncul dari dalam rimba. Ada yang pakaiannya

kusut dan kotor. Ada yang wajahnya belepotan tanah.

Ada yang lecet-lecet, bahkan luka-luka. Ada yang pantat

celananya jebol. Ada yang kehilangan tas dan kamera.

Ada yang pura-pura kesurupan dan sakit jiwa.

Setelah semuanya berkumpul kembali, dengan nada

murung ia berkata: “Maafkan saya ya, tadi cuma

menunjukkan jalan masuk rimba, tapi tidak memberi

tahu jalan keluar rimba. Aku ingin menjemput kalian

sebenarnya, tapi khawatir kalian merasa dikira anak

manja.” Seorang murid yang rambutnya jadi mirip

rimba menukas: “Jangan terlalu sensi(tif) dong Pak.

Kami baik-baik saja. Lihat nih, kami masih utuh.”

Tiba-tiba matanya berbinar-binar kembali. Lalu ia agak

kewalahan mendengarkan celoteh murid-muridnya. Tadi

saya hampir terperosok ke jurang lho Pak. Saya

berpapasan dengan ular. Saya malah sempat mandi di

pancuran. Saya ketemu pelangi di sungai. Tadi ada

monyet naksir saya lho Pak. Saya terjatuh tanpa sebab.

Saya terguling di tebing. Saya anak rimba!

Bel berbunyi. Bubar. Pelajaran puisi (untuk sementara)

selesai. “Terima kasih ya Pak.” “Lho, jangan berterima

kasih kepada saya. Berterima kasihlah kepada puisi.” Ia

baru sadar bahwa tadi ia tidak sempat sarapan sehingga

perutnya kembung. Agak terburu-buru ia meninggalkan

ruang kelas. Langkahnya kelihatan goyah. Tubuhnya

kelihatan ringkih. Tapi ia adalah raja rimba. Ia kepalkan

dan acungkan tangannya: “Hidup puisi!”

Gerimis berderai membasuh rambutnya yang keperak-

perakan. Gerimis siang. Seperti ribuan diksi dan imaji

berhamburan dari pohon hayat yang rimbun dan tinggi.

Seperti ribuan morfem dan fonem bertaburan dari

pohon waktu yang tak pernah mati. Dan ia berjalan

tergesa dengan perut lapar dan kembung. Nun di

belakang sana murid-muridnya berdiri dan bernyanyi:

“Rusa jantan berlari masuk kantin ….”




=JOKO PINURBO=