Tampilkan postingan dengan label SONI FARID MAULANA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SONI FARID MAULANA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 September 2015

TAHARAH karya : Soni Farid Maulana

sebelum sampai ke Raudhah, ingin kupotong

kegelapan di kalbuku: seperti memotong hewan

kurban. Hati yang karam ke dasar malam

betapa sulit dijangkau. Tinggal kilau mata pisau

di tanganku yang gemetar menujuMu



 

2008

=SONI FARID MAULANA=

BINTANG PAGI karya : Soni Farid Maulana

tiga jam ke arah utara,

kota tua, kabut mengendap

di bukit dan lembah raja

cahaya lembut bintang pagi

di atas pucuk cemara.

“itu bintangku!” katamu,

yang tiada bosan menarik tubuhku

ke dalam pelukanmu, sehabis bencana

dan kerusuhan melanda kalbuku

dan kau bertanya, kembali bertanya:

adakah esok hari, kebahagiaan hidup

tersaji senikmat hari ini?

jam digital berdenyut lagi

maut bergeser dari tempat duduknya

di ruang tunggu yang lengang,

yang gaib dari pandangan matamu

dan mataku, seperti pisau sepi

yang selalu menikam kalbu kau dan aku

yang tak pernah terlihat wujudnya

serupa apa. “Itu bintangku,

dan aku milikmu. Reguklah sedap

madu dari puting kalbuku,” bisikmu.

Langitmu dan langitku bersatu lagi

di kota tua, tiga jam ke arah utara.

“aku milikmu, paku aku cintaku

di kayu nasibmu, jangan ragu.”



 

2006

=SONI FARID MAULANA=

LANSKAP karya : Soni Farid Maulana

aku berkaca di alir sungai Seine

ada wajahmu di situ

yang dulu berkata, “sayangku!”

 

pekik burung gagak dan merpati laut

mengguncang dinding hatiku sehijau

lumut waktu. Kau? Entah di mana



 

2007

=SONI FARID MAULANA=

RENUNGAN JANTE ARKIDAM DI USIA 70 TAHUN karya : Soni Farid Maulan

                                                                - untukAjip Rosidi

 

malam belum begitu gelap

ketika anjing melolong panjang

di bawah remang cahaya bulan

 

"ternyata hidup butuh agama!"

ujar Jante Arkidam seperti gumam

ketika maut menaksir detik jam

dalam detak jantungnya

 

kini kesepian

menampakkan dirinya

di hadapan Jante

yang dilanda batuk

dan sakit kepala

 

"ke mana nyi ronggeng

yang dulu hadir dalam hidupku,

yang dari meja ke meja perjudian

aku rajai dunia malam," tanya

Jante.

 

sesekali didengarnya

bunyi tiang listrik dipukul orang

juga lolong anjing tengah malam

sehabis mupukembang

lalu angin dingin kembali meraja

menghajar raga Jante dekat jendela

di sebuah rumah pinggir kota

yang dulu dijadikan tempat sembunyi

dari kejaran lelaki satu kampung

dan kini di mana lebat kebun tebu

setelah dengus zaman

menyulapnya jadi perumahan

yang dibuat asal jadi?

 

“betapa tanganku berlumur darah,

Betapa hidupku salah arah. Mengapa

cahayaMu terlambat aku kenal?”

batin Jante. Detik jam

bergeser lagi

 

sesaat, Jante menarik napas

dalam-dalam. Lalu dihembuskannya

pelan-pelan. Dari hari ke hari

ia buron sudah diburu bayang-bayang hidup

yang kelam, yang ingin dihapusnya

seperti menghapus sebuah tulisan

di papan tulisMu yang kekal

 

“masihkah terbuka celah ke Baitullah?”

tanya Jante saat ia berkaca

melihat wajahnya sendiri dalam cermin

seperti batu retak di dasar sumur tua

yang absen disapa timba

tanpa ikan dan lumutan

 

siit incuing ngear di batin Jante

“beri aku kesempatan meneguk

anggur cintaMu!” tangis Jante

di atas sajadah yang basah

oleh airmata

 



2007

=SONI FARID MAULANA=

TAMASYA karya : Soni Farid Maulana

 

                                              - untuk Rendra

 

di pantai laut merah di tepi kota Jeddah

tak kutemukan jejak musa selain deretan cafe

dan wajah para pelancong yang lelah

yang datang dari negeri jauh, yang menyandarkan

tubuhnya di kursi kayu, melepas pandang matanya

ke luas biru laut bertilam lembut angin panas

dengan ombak yang tenang

 

pemandangan seperti ini pernah aku lihat

dalam sebuah lukisan di sebuah galeri kota paris

ketika musim dingin menggigilkan daging dan tulang

dan kau tak ada di sampingku. Hanya pekik burung

yang aku dengar sore itu, sebagaimana aku dengar

siang ini di tepi pantai laut merah di tepi kota Jeddah

dan kau tak ada di sampingku

 

kini aku terperangah mendapatkan kaligrafi usiaku

memutih di tujuh helai rambutku, yang disingkap

lembut angin laut musim panas. ”Yang Maha Hakim

jangan sampai hamba karam ke dasar palung hitam

bagai fir'aun, yang lalai mengingatMu,” suara itu

aku dengar di tempat ini, bikin ruhku gemetar,

o menggelepar, layak seekor ikan di paruh

burung itu. Di paruh burung itu



 

2008

=SONI FARID MAULANA=

Minggu, 20 September 2015

LORONG karya : Soni Farid Maulana

aku bercakap dengan bayang-bayang wayang

serupa amba. Tabuhan gamelan serupa risik angin

di tangkai pohonan. Suara-suara serangga malam

terdengar juga dari arah samping halaman rumahmu

 

yang kelam oleh kabut dukacita. Lalu kata-kata

menyusun dirinya dalam larik-larik puisi orang sufi

yang dari lembah ke lembah kehidupan tiada lelah

mencari kekasih idaman. Di cermin, rambutku

 

putih sudah. Malam kelam di buritan, dan kau

serupa amis gula, cintaku, terpisah dari sepah tebu

di lidahku. Dan kini segala yang aku teguk tawar

 

sudah. "Mengapa semua ini harus terjadi, selagi

segalanya belum genap melunas rindu?" tanya

tanpa jawab. Menggema di lorong jiwaku



 

2008

=SONI FARID MAULANA=

SONET HUJAN karya : Soni Farid Maulana

- untuk Leila S. Chudori

 

tetapi leila apakah malam ini milik kita?

di langit hanya semata kabut, dan hujan

yang turun kali ini, hujan yang lain

kau dengar risik angin di rumpun ilalang

 

kau dengar langkah sang ajal di detik jam

kau dengar degup rinduku padamu

ditelan gelombang lautan maha dalam?

di sini malam seperti tilam hitam

 

membentang entah ke mana, dan hujan

kembali bicara menyapa sunyi pepohonan

menyapu kau dan aku di kabut malam

 

o angin menyeruak dari arah kuburan

o kebahagiaan hidup yang luput kudekap

bawa aku ke maha sumber cahaya



 

2008

=

SALJU karya : Soni Farid Maulana

- untuk Beni Setia

 

derai salju seluas pandang

dingin angin subuh menyilet tulang

detik jam seakan maut di urat darah

nyawa menggigil di cangkang daging



 

2007

=SONI FARID MAULANA=

KISTA ENDOMETRIOSIS karya : Soni Farid Maulana

1

pohon-pohon berasap

tiga ekor burung menggigil

dalam kabut

 

lalu gaung timba

di sumur tua mengoyak

ketenangan air di kedalaman

 

“selamatkan aku sebelum bencana

bermukim dalam rahim pikiranku!”

kau bilang

 

tapi mengapa kau biarkan

kista endometriosis tumbuh di situ

yang akarnya menyubur di gelap

bawah-sadarmu?

 

2

medikamentosa, itukah

yang kau harap: mampu membebaskan diri

dari kelam kabut pikiran:

 

sebelum bunga bangkai

ligar di ranjangmu: pada sebuah malam

yang kau sebut malam pertama?

 

aku diam ditafsir air mata

 

desember runtuh dalam tubuhku

kegelapan menghapus cahaya

gemuruh laut malam

dikhianat garam



 

2004

=SONI FARID MAULANA=

DI SISIMU karya : Soni Farid Maulana

aku tahu, hari itu akan tiba di luar kata dan cuaca

detik ini. Dan kau mendesah saat telapak tanganku

mengusap pundakmu.

rambutmu hitam

bagai ribuan garis tinta cina

dalam sebuah drawing Picasso

di sebuah galeri

 

dekaplah aku meski bukan

untuk yang terakhir kali. Angin terasa dingin

di batin. Pekik camar laut

mengguncang dinding kota. Mata arloji

menaksir detak jantungku,

di sisimu. Cahaya bulan menyentuh

miring tubuhku.



 

2005

=SONI FARID MAULANA=

LINGSIR karya : Soni Farid Maulana

jejak atas pasir

diusir deras arus air

maut bergulir

matahari pun lingsir

 

dan kau berkata:

apa yang tersisa di rongga dada

selain kata, selain cahaya, atau kelam?

langit redup seperti warna hutan

dalam kabut

 

barangkali dulu

seseorang pernah datang

ke ranjangmu. Datang

dengan berkuntum

bunga teratai

 

dan mungkin setelah itu:

ia berkemah di balik dastermu

berselancar di ombak tubuhmu

dan kau tak kuasa menolaknya?

 

ya, memang: maut menggilir

dan hari bergulir. Lalu detik jam

dalam tubuhmu kian lemah suaranya

aku dengar. Adakah ia serupa tanda

 

bahwa matahari yang lingsir

tak lagi menggelar fajar

sebab ia meledak sudah

di langit yang lain, di luar kata

yang diburu para penyair.

 

aku tahu ada yang ingin

kau katakan, sebelum subuh

sehening batu: ditebing

kalbumu yang curam



 

2005

=SONI FARID MAULANA=

CAHAYA KECIL karya : Soni Farid Maulana

di ujung dermaga seseorang menanti

ia jatuh cinta pada cahaya kecil

di bola matamu. Dicatatnya harum rambutmu

dalam tujuh larik puisi yang ringkas

 

jika salju turun seluas kalbumu

kau pasti memburunya tanpa ragu. Sebab api

yang menyala di rongga dadanya:

adalah kehangatan hidup yang kau cari

 

ya, memang sepanjang jarum jam berputar

di dinding jantungmu: ia hanya buih

yang menanti kawih. Tapi, jika waktunya tiba

ia metafora dalam merdu kawihmu.



 

2005

=SONI FARID MAULANA=

DALAM HUJAN karya : Soni Farid Maulana

ada yang jatuh ke dalam sumur waktu

suaranya sanggup menggetarkan hatiku,

sepanjang nadi jam

berdenyut dalam jantungku

 

lalu keriangan itu apa? Hatiku yang murung

kehilangan kaca kata. Sungguh di situ,

aku tak bisa lagi melihat wajahku serupa

apa?

 

cahaya perlahan susut diserap kabut

dering daun jatuh di lauhul mahfudz

bikin hutan kelabu dalam deras hujan

di tubuhku



 

2006

=SONI FARID MAULANA=

BERITA SATU KOLOM karya : Soni Farid Maulana

“apakah dadamu dihuni ashabul kahfi?”

demikian kau bertanya di sebuah malam yang lengang

sehabis hujan. “Tidak. Ia justru dihuni sekompi

binatang buas. Raungnya kau dengar, mengguncang

tebing alif-lam-mim-mu, merindu cahaya al-Tawwab”



 

2000

=SONI FARID MAULANA=

PASTORAL karya : Soni Farid Maulana

di tengah perjalanan antara rumahku dan tanah kubur

Ia menyapaku. “Semoga api dan gigitan tujuh ular

berbisa: tak bersarang di tubuhmu,” kata-Nya. Ruhku

pucat-pasi, kalbuku gusar sungguh: miskin alif-lam-ra,

ya Rabbi!



 

2006

=SONI FARID MAULANA=

Jumat, 04 September 2015

LANSKAP karya : Soni Farid Maulana

aku mendengar

nyanyian angin pagi

di tangkai pohonan

 

aku melihat cahaya sunyi matahari

berkilau lembut dalam bening embun pagi

yang bergayutan di punggung rumputan

 

aku mendengar salam itu,

salamNya, dilantunkan

kokok ayam jantan

 

negeri langit



 

1976

=SONI FARID MAULANA=

SELEPAS KATA karya : Soni Farid Maulana

untuk Kautsar M. Attar

 

perempuan itu terbaring di ruang bersalin

bayang-bayang sang ajal berkelebat dalam

biji matanya; memperkenalkan diriku

pada warna darah dan tanah. Dan kau yang

 

dilahirkan sore itu, tangismu keras,

air matamu adalah arus sungai yang deras

menyeret kesadaranku ke palung derita

seorang ibu, yang sisa amis darah

 

persalinannya; masih melekat di tubuhku,

yang kini rapuh dikikis waktu, digali detik

jam yang terus melaju ke dunia tak dikenal,

 

di luar hiruk-pikuk kehidupan kota besar;

ada yang menjauh dari surau dari kilau

telaga kautsar yang Dia berikan



 

2003

=SONI FARID MAULANA=

SUARA TEROMPET AKHIR TAHUN karya : Soni Farid Maulana

di ujung malam sedingin

es dalam kulkas;

 

apa yang kau harap

dari suara

terompet akhir tahun?

 

fajar yang menyingsing

tanpa bunyi kayu dilahap api,

 

tanpa tubuh yang hangus

seperti sisa bakaran kardus?

 

kita berharap

semisal tak ada kurap

di daging waktu

yang esok hari kita kunyah

dalam pesta kehidupan yang renyah?

 

tapi apa artinya berharap

dan tidak berharap,

bila langit muram terus membayang

seperti pengalaman yang kelam:

 

o, bunyi kayu yang hangus

dan tulang kepala yang meletus

dalam kobaran api di bulan Mei

yang ngeri di ini negeri?

 

di ujung malam sedingin

es dalam kulkas;

 

apa yang kau harap

dari ujung bunyi terompet

akhir tahun?



 

1998

=SONI FARID MAULANA=

DAUN karya : Soni Farid Maulana

siapa yang tak hanyut

oleh guguran daun: ketika angin

mempermainkannya di udara terbuka

ketika lembar demi lembar cahaya matahari

 

menyentuh miring dengan amat lembutnya

siapa yang tak hanyut oleh guguran daun

ketika maut begitu perkasa

mencabut usia hingga akarnya, ketika matahari

 

menarik tirai senja, ketika keheningan

menyungkup batu-batu di dada. Siapa

yang tak hanyut oleh guguran daun: ketika

 

lobang kuburan ditutup perlahan, ketika

doa-doa dipanjatkan dengan suara tersekat

ketika kutahu pasti kau tak di sampingku



 

1980

=SONI FARID MAULANA=

CIWULAN karya : Soni Farid Maulana

aku mendengar suara ricik air sungai yang ngalir

di antara batu-batu dan batang pohonan

yang rubuh ke ciwulan

 

aku mendengar suara itu mengusik jiwaku

bagai alun tembang cianjuran

yang disuarakan nenekku di gelap malam



 

1979

=SONI FARID MAULANA=