sebelum sampai ke Raudhah, ingin kupotong
kegelapan di kalbuku: seperti memotong hewan
kurban. Hati yang karam ke dasar malam
betapa sulit dijangkau. Tinggal kilau mata pisau
di tanganku yang gemetar menujuMu
2008
=SONI FARID MAULANA=
sebelum sampai ke Raudhah, ingin kupotong
kegelapan di kalbuku: seperti memotong hewan
kurban. Hati yang karam ke dasar malam
betapa sulit dijangkau. Tinggal kilau mata pisau
di tanganku yang gemetar menujuMu
2008
=SONI FARID MAULANA=
tiga jam ke arah utara,
kota tua, kabut mengendap
di bukit dan lembah raja
cahaya lembut bintang pagi
di atas pucuk cemara.
“itu bintangku!” katamu,
yang tiada bosan menarik tubuhku
ke dalam pelukanmu, sehabis bencana
dan kerusuhan melanda kalbuku
dan kau bertanya, kembali bertanya:
adakah esok hari, kebahagiaan hidup
tersaji senikmat hari ini?
jam digital berdenyut lagi
maut bergeser dari tempat duduknya
di ruang tunggu yang lengang,
yang gaib dari pandangan matamu
dan mataku, seperti pisau sepi
yang selalu menikam kalbu kau dan aku
yang tak pernah terlihat wujudnya
serupa apa. “Itu bintangku,
dan aku milikmu. Reguklah sedap
madu dari puting kalbuku,” bisikmu.
Langitmu dan langitku bersatu lagi
di kota tua, tiga jam ke arah utara.
“aku milikmu, paku aku cintaku
di kayu nasibmu, jangan ragu.”
2006
=SONI FARID MAULANA=
aku berkaca di alir sungai Seine
ada wajahmu di situ
yang dulu berkata, “sayangku!”
pekik burung gagak dan merpati laut
mengguncang dinding hatiku sehijau
lumut waktu. Kau? Entah di mana
2007
=SONI FARID MAULANA=
- untukAjip Rosidi
malam belum begitu gelap
ketika anjing melolong panjang
di bawah remang cahaya bulan
"ternyata hidup butuh agama!"
ujar Jante Arkidam seperti gumam
ketika maut menaksir detik jam
dalam detak jantungnya
kini kesepian
menampakkan dirinya
di hadapan Jante
yang dilanda batuk
dan sakit kepala
"ke mana nyi ronggeng
yang dulu hadir dalam hidupku,
yang dari meja ke meja perjudian
aku rajai dunia malam," tanya
Jante.
sesekali didengarnya
bunyi tiang listrik dipukul orang
juga lolong anjing tengah malam
sehabis mupukembang
lalu angin dingin kembali meraja
menghajar raga Jante dekat jendela
di sebuah rumah pinggir kota
yang dulu dijadikan tempat sembunyi
dari kejaran lelaki satu kampung
dan kini di mana lebat kebun tebu
setelah dengus zaman
menyulapnya jadi perumahan
yang dibuat asal jadi?
“betapa tanganku berlumur darah,
Betapa hidupku salah arah. Mengapa
cahayaMu terlambat aku kenal?”
batin Jante. Detik jam
bergeser lagi
sesaat, Jante menarik napas
dalam-dalam. Lalu dihembuskannya
pelan-pelan. Dari hari ke hari
ia buron sudah diburu bayang-bayang hidup
yang kelam, yang ingin dihapusnya
seperti menghapus sebuah tulisan
di papan tulisMu yang kekal
“masihkah terbuka celah ke Baitullah?”
tanya Jante saat ia berkaca
melihat wajahnya sendiri dalam cermin
seperti batu retak di dasar sumur tua
yang absen disapa timba
tanpa ikan dan lumutan
siit incuing ngear di batin Jante
“beri aku kesempatan meneguk
anggur cintaMu!” tangis Jante
di atas sajadah yang basah
oleh airmata
2007
=SONI FARID MAULANA=
- untuk Rendra
di pantai laut merah di tepi kota Jeddah
tak kutemukan jejak musa selain deretan cafe
dan wajah para pelancong yang lelah
yang datang dari negeri jauh, yang menyandarkan
tubuhnya di kursi kayu, melepas pandang matanya
ke luas biru laut bertilam lembut angin panas
dengan ombak yang tenang
pemandangan seperti ini pernah aku lihat
dalam sebuah lukisan di sebuah galeri kota paris
ketika musim dingin menggigilkan daging dan tulang
dan kau tak ada di sampingku. Hanya pekik burung
yang aku dengar sore itu, sebagaimana aku dengar
siang ini di tepi pantai laut merah di tepi kota Jeddah
dan kau tak ada di sampingku
kini aku terperangah mendapatkan kaligrafi usiaku
memutih di tujuh helai rambutku, yang disingkap
lembut angin laut musim panas. ”Yang Maha Hakim
jangan sampai hamba karam ke dasar palung hitam
bagai fir'aun, yang lalai mengingatMu,” suara itu
aku dengar di tempat ini, bikin ruhku gemetar,
o menggelepar, layak seekor ikan di paruh
burung itu. Di paruh burung itu
2008
=SONI FARID MAULANA=
aku bercakap dengan bayang-bayang wayang
serupa amba. Tabuhan gamelan serupa risik angin
di tangkai pohonan. Suara-suara serangga malam
terdengar juga dari arah samping halaman rumahmu
yang kelam oleh kabut dukacita. Lalu kata-kata
menyusun dirinya dalam larik-larik puisi orang sufi
yang dari lembah ke lembah kehidupan tiada lelah
mencari kekasih idaman. Di cermin, rambutku
putih sudah. Malam kelam di buritan, dan kau
serupa amis gula, cintaku, terpisah dari sepah tebu
di lidahku. Dan kini segala yang aku teguk tawar
sudah. "Mengapa semua ini harus terjadi, selagi
segalanya belum genap melunas rindu?" tanya
tanpa jawab. Menggema di lorong jiwaku
2008
=SONI FARID MAULANA=
- untuk Leila S. Chudori
tetapi leila apakah malam ini milik kita?
di langit hanya semata kabut, dan hujan
yang turun kali ini, hujan yang lain
kau dengar risik angin di rumpun ilalang
kau dengar langkah sang ajal di detik jam
kau dengar degup rinduku padamu
ditelan gelombang lautan maha dalam?
di sini malam seperti tilam hitam
membentang entah ke mana, dan hujan
kembali bicara menyapa sunyi pepohonan
menyapu kau dan aku di kabut malam
o angin menyeruak dari arah kuburan
o kebahagiaan hidup yang luput kudekap
bawa aku ke maha sumber cahaya
2008
=
- untuk Beni Setia
derai salju seluas pandang
dingin angin subuh menyilet tulang
detik jam seakan maut di urat darah
nyawa menggigil di cangkang daging
2007
=SONI FARID MAULANA=
1
pohon-pohon berasap
tiga ekor burung menggigil
dalam kabut
lalu gaung timba
di sumur tua mengoyak
ketenangan air di kedalaman
“selamatkan aku sebelum bencana
bermukim dalam rahim pikiranku!”
kau bilang
tapi mengapa kau biarkan
kista endometriosis tumbuh di situ
yang akarnya menyubur di gelap
bawah-sadarmu?
2
medikamentosa, itukah
yang kau harap: mampu membebaskan diri
dari kelam kabut pikiran:
sebelum bunga bangkai
ligar di ranjangmu: pada sebuah malam
yang kau sebut malam pertama?
aku diam ditafsir air mata
desember runtuh dalam tubuhku
kegelapan menghapus cahaya
gemuruh laut malam
dikhianat garam
2004
=SONI FARID MAULANA=
aku tahu, hari itu akan tiba di luar kata dan cuaca
detik ini. Dan kau mendesah saat telapak tanganku
mengusap pundakmu.
rambutmu hitam
bagai ribuan garis tinta cina
dalam sebuah drawing Picasso
di sebuah galeri
dekaplah aku meski bukan
untuk yang terakhir kali. Angin terasa dingin
di batin. Pekik camar laut
mengguncang dinding kota. Mata arloji
menaksir detak jantungku,
di sisimu. Cahaya bulan menyentuh
miring tubuhku.
2005
=SONI FARID MAULANA=
jejak atas pasir
diusir deras arus air
maut bergulir
matahari pun lingsir
dan kau berkata:
apa yang tersisa di rongga dada
selain kata, selain cahaya, atau kelam?
langit redup seperti warna hutan
dalam kabut
barangkali dulu
seseorang pernah datang
ke ranjangmu. Datang
dengan berkuntum
bunga teratai
dan mungkin setelah itu:
ia berkemah di balik dastermu
berselancar di ombak tubuhmu
dan kau tak kuasa menolaknya?
ya, memang: maut menggilir
dan hari bergulir. Lalu detik jam
dalam tubuhmu kian lemah suaranya
aku dengar. Adakah ia serupa tanda
bahwa matahari yang lingsir
tak lagi menggelar fajar
sebab ia meledak sudah
di langit yang lain, di luar kata
yang diburu para penyair.
aku tahu ada yang ingin
kau katakan, sebelum subuh
sehening batu: ditebing
kalbumu yang curam
2005
=SONI FARID MAULANA=
di ujung dermaga seseorang menanti
ia jatuh cinta pada cahaya kecil
di bola matamu. Dicatatnya harum rambutmu
dalam tujuh larik puisi yang ringkas
jika salju turun seluas kalbumu
kau pasti memburunya tanpa ragu. Sebab api
yang menyala di rongga dadanya:
adalah kehangatan hidup yang kau cari
ya, memang sepanjang jarum jam berputar
di dinding jantungmu: ia hanya buih
yang menanti kawih. Tapi, jika waktunya tiba
ia metafora dalam merdu kawihmu.
2005
=SONI FARID MAULANA=
ada yang jatuh ke dalam sumur waktu
suaranya sanggup menggetarkan hatiku,
sepanjang nadi jam
berdenyut dalam jantungku
lalu keriangan itu apa? Hatiku yang murung
kehilangan kaca kata. Sungguh di situ,
aku tak bisa lagi melihat wajahku serupa
apa?
cahaya perlahan susut diserap kabut
dering daun jatuh di lauhul mahfudz
bikin hutan kelabu dalam deras hujan
di tubuhku
2006
=SONI FARID MAULANA=
“apakah dadamu dihuni ashabul kahfi?”
demikian kau bertanya di sebuah malam yang lengang
sehabis hujan. “Tidak. Ia justru dihuni sekompi
binatang buas. Raungnya kau dengar, mengguncang
tebing alif-lam-mim-mu, merindu cahaya al-Tawwab”
2000
=SONI FARID MAULANA=
di tengah perjalanan antara rumahku dan tanah kubur
Ia menyapaku. “Semoga api dan gigitan tujuh ular
berbisa: tak bersarang di tubuhmu,” kata-Nya. Ruhku
pucat-pasi, kalbuku gusar sungguh: miskin alif-lam-ra,
ya Rabbi!
2006
=SONI FARID MAULANA=
aku mendengar
nyanyian angin pagi
di tangkai pohonan
aku melihat cahaya sunyi matahari
berkilau lembut dalam bening embun pagi
yang bergayutan di punggung rumputan
aku mendengar salam itu,
salamNya, dilantunkan
kokok ayam jantan
negeri langit
1976
=SONI FARID MAULANA=
untuk Kautsar M. Attar
perempuan itu terbaring di ruang bersalin
bayang-bayang sang ajal berkelebat dalam
biji matanya; memperkenalkan diriku
pada warna darah dan tanah. Dan kau yang
dilahirkan sore itu, tangismu keras,
air matamu adalah arus sungai yang deras
menyeret kesadaranku ke palung derita
seorang ibu, yang sisa amis darah
persalinannya; masih melekat di tubuhku,
yang kini rapuh dikikis waktu, digali detik
jam yang terus melaju ke dunia tak dikenal,
di luar hiruk-pikuk kehidupan kota besar;
ada yang menjauh dari surau dari kilau
telaga kautsar yang Dia berikan
2003
=SONI FARID MAULANA=
di ujung malam sedingin
es dalam kulkas;
apa yang kau harap
dari suara
terompet akhir tahun?
fajar yang menyingsing
tanpa bunyi kayu dilahap api,
tanpa tubuh yang hangus
seperti sisa bakaran kardus?
kita berharap
semisal tak ada kurap
di daging waktu
yang esok hari kita kunyah
dalam pesta kehidupan yang renyah?
tapi apa artinya berharap
dan tidak berharap,
bila langit muram terus membayang
seperti pengalaman yang kelam:
o, bunyi kayu yang hangus
dan tulang kepala yang meletus
dalam kobaran api di bulan Mei
yang ngeri di ini negeri?
di ujung malam sedingin
es dalam kulkas;
apa yang kau harap
dari ujung bunyi terompet
akhir tahun?
1998
=SONI FARID MAULANA=
siapa yang tak hanyut
oleh guguran daun: ketika angin
mempermainkannya di udara terbuka
ketika lembar demi lembar cahaya matahari
menyentuh miring dengan amat lembutnya
siapa yang tak hanyut oleh guguran daun
ketika maut begitu perkasa
mencabut usia hingga akarnya, ketika matahari
menarik tirai senja, ketika keheningan
menyungkup batu-batu di dada. Siapa
yang tak hanyut oleh guguran daun: ketika
lobang kuburan ditutup perlahan, ketika
doa-doa dipanjatkan dengan suara tersekat
ketika kutahu pasti kau tak di sampingku
1980
=SONI FARID MAULANA=
aku mendengar suara ricik air sungai yang ngalir
di antara batu-batu dan batang pohonan
yang rubuh ke ciwulan
aku mendengar suara itu mengusik jiwaku
bagai alun tembang cianjuran
yang disuarakan nenekku di gelap malam
1979
=SONI FARID MAULANA=