Tampilkan postingan dengan label DARMANTO JATMAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DARMANTO JATMAN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Agustus 2015

HAI TIBUM ! karya : Darmanto Jatman

Tibum tu ya apaan sih, bisik Moci

Lho Tibum tu ya tibum

Tibum itu bukan tissue, bukan timba, apalagi t. shirt

Tibum itu t.i.b.u.m: tibum

Bum bum bum

 

E. jangan salahkan Tibum kalau mereka merampas becakmu

                                                lalu membuangnya ke laut Jawa

mereka cuma melaksanakan tugas mereka!

(Astagfirullah. Ampunilah kiranya!)

Jalan salahkan Tibum kalau mereka merubuhkan rumah

                                                kardusmu sepanjang rel SMG-Jkt

Mereka aparat yang patuh pada perintah!

(Astagfirullah. Ampunilah kiranya!)

Jangan salahkan Tibum kalau mereka menggusur PKL

                                                sepanjang trotoar Simpanglima

Mereka disiplin. Efektif dalam melaksanakan instruksi

(Ampunilah wahai

Jangan biarkan Ribum jadi bahan ejekan anak-anak ingusan:

Bum bum bum. Tibum tibum tibum)

 

Seorang guru besar sosiologi dari kampusnya berkilah:

Seperti juga birokrasi, Tibum itu Cuma jari-jari mungil gurita

                                                                     raksasa yang bernama

Pembangunan

Gurita yang juga memangsa beribu Sukardal lagi di berbagai

                                                           negeri sedang berkembang.

Itulah prakteknya dan itulah teorinya. Mudheng?!

Sementara Ki Ageng Kali bertutur:

Sebenarnya masih ada lho cara lain untuk membangun; namun, yah

Halleluya. Puji Tuhan yang telah membebaskan Sukardal dari

                                                                                    penderitaan

(Tuhan sertamu)

Halleluya. Puji Tuhan yang telah menyelamatkan kita dari

                                                                     piramida pengorbanan

(Tuhan sertamu!)

 

-    Tapi Sukardal bukan martir, bukan santu

     Ia mati bunuh diri!

                        - Ya Allah. Ampunilah ia

                           karena tidak mengerti apa yang dilakukannya.

-    Ia bukan samurai yang harakiri

     menegakkan martabat para satria Jepang

                        - Ya Allah. Ampunilah ia

                           karena ia tidak mengerti apa yang dilakukannya.

-    Amin!

 

                        -   Ia bukan pejuang Intifadah Palestina

                            Ia manusia biasa yang mati dengan dendam dan kecewa

                            Ampunilah kiranya bila matinya sia-sia

                            Jangan permainkan namanya

                            Dasar lagi sial Dal Dal

                            Dal idul idal inah!

 

Dan sekarang wahai Sukardal

Katakanlah di mana rumahmu, di surga mana

Adakah kausaksikan hati Tibum yang gegetun

dengan luka tombak di lambungnya

dan luka paku di telapak tangannya?

-    Wahai Sukardal

     Jabatlah tangan Tibum yang mestinya jadi gembalamu

-    Wahai Tibum

     Jabatlah tangan Sukardal yang mestinya jadi tugasmu menjaganya

     Tuhan bakal memberkati kalian

     Mengalirlah ampun dari keluberan hati kalian

     Amin!

 

Hei Tibum

Hei Sukardal

Merdeka!




=DARMANTO JATMAN=

PATRIOTISME KROMO karya : Darmanto Jatman

Indonesia Incorporated:

                                                                Mengubah ambisi jadi dedikasi!

 

Pulang studi dari Jepang

Kromo belanja semangat bushido

belajar melukis sumi’e

sembari latihan kendo

di desanya, di kebon mbako.

 

      Kalau mau gemah ripah loh jinawi

      Indonesia mestinya jadi perusahaan saja

      Ada presiden direkturnya, ada presiden komisarisnya,

      satpam, serikat sekerja,

      tapi yang penting, ada Basic Philosophy nya!

      Ini bukan sekedar transformasi budaya

      Ini metamorphoses bangsa!

 

Mampir di Semaul Umdong Korea Selatan

Kromo mengembangkan gagasannya:

Kanoman sebaiknya jadi brigade pembangunan

cancut taliwanda mengubah impian jadi kenyataan.

Generasi tua tu mestinya berkorban

mencukupkan diri dengan semangkuk bubur

celana pangsi hitam dan RSS

sekedar untuk bertahan

membuka harapan untuk generasi yang akan datang

 

      Indonesia INC

      bakal mengubah warganegara jadi sumberdaya manusia

      yang memiliki keunggulan kompetitif

      dengan ilmu dan teknologi

      berkepemimpinan demokratis

      serta tentu saja filsafat dasar “post capitalism”

      : Sugih tanpa bandha!

 

Singgah di Hong Kong

Kromo kulak Hong Sui, Goa Mia, Dong Su dan tentu saja Hoki

Lupa Cheong Sam, Ang Pao, Amy Yip maupun Lin Ching Shia.

“Bisnis itu hidup dan hidup itu bisnis!”

“Bekerja cari uang itu untuk orang melarat

membiarkan uang bekerja untuk manusia itu konglomerat!”

“Sepatu itu biar indah tetap di kaki,

topi biar runyam tetap di kepala!”

Sampai di tanah tumpah darahnya,

Nggrigak, Gunung Kidul,

Kromo merancang proklamasi negara usaha-nya:

      “Kami, para pemilik tanah air dan tenaga kerja Indonesia

      dengan ini menyatakan berdirinya Indonesia INC

      Kemiskinan akan kami jadikan kemakmuran

      Kebodohan jadi kecerdasa

      Kenistaan jadi kemuliaan!

      Kami sedia bekerjasama, tapi tak sudi ketergantungan!

      So. Go to hell IGGI!”

 

Kita telah membangun Borobudur

Kita telah bangun PLTN di Jepara

Proyek otorita BATAM

Toni Roma’s ribs restaurants, Sizzler,

Hard Rock Café di samping kampung Betawi & Oud Batavia

Jadi kang, tak ada alasan untuk muram

Bener!

Rupiah boleh jatuh di Wallstreet,

Tembakau boleh numpuk di Bremen,

Yayuk Basuki boleh kalah di Wimbledon

Tapi Indonesia INC bakal tetap jaya

seperti Nippon sejak jatuhnya rezim Tokugawa

Kita punya Rendra

Kita punya Habibie,

Kita punya mas Prayoga, oom Liem, eyang Oei Tiong Ham

dari pajak mereka akan kita bangun koperasi

dan dengan koperasi, kita angkat martabat lik Parto dan bik Meniek

Okay?!

 

Jadi, tak ada alasan untuk ewuh aya mas

Mari kita rubah republik jadi kumpeni

Satu negara perusahaan yang tak terbayangkan

juga oleh Sun Tzu, Musashi atau Panembahan Senopati.

 

            Demikianlah hasil langlang buana Kang Kromo

            njajah deso milang kori

            Tolong jangan ditangkap

            bila beda pendapat.

            We’re entering postmodern era bung

            Pikiran mesti terbuka

            Hati mesti ikhlas dan rela!

--------------------------

Di jalan Terate di Bandung

tanggal 2 Juli 1986

Sukardal menulis:

“Saya mati korban Tibum”

lalu ia menggantung diri di pohon tanjung

-    Innalillahi wa innailaihi rojiun

-    Rest in Peace Sukardal




=DARMANTO JATMAN=

GOLF UNTUK RAKYAT karya : Darmanto Jatman

            Lho. Kang Karto. Kok cuma ngelamun di kebun?

            Sudah pernah main golep apa belum?

            Kalau belum, ya tunggu sampai dapat dawuh

            Siapa tahu, sekali sampeyan ayunkan stick sampeyan

            Langsung deh dapet “hole in one”

 

Ini perkara pembangunan lapangan golf di awal PJPT II di Indonesia

Den Mantri Jerohan ngendika: Golf dapat meningkatkan

                                                                                    kesejahteraan rakyat!

Sedang Mantri Kanuragan bilang: golf pertanda masyaratakat

                                                                           kita sudah lebih sejahtera!

Lha iya berapa banyak lapangan golf mesti dipasang

untuk menyejahterakan 200 juta rakyat!

Berapa tumbal mesti dikorbankan

untuk mengempiskan kantung-kantung kemiskinan?!

 

            Gusti,

            kami tunggu dawuh paduka!

 

Sementara Mantri Pagupon pesan: Silakan bikin padang golf mister,

asal jangan gusur rumah rakyat!

Dan Mantri Besar Jagabaya wanti-wanti: Silakan bikin padang golf

sir, asal bangun juga sarana olahraga buat para kanoman!

 

            Gusti,

            kami tunggu sabda paduka!

 

Yes. You are right!

Tak gampang jadi orang “kajen keringan”

Serba “ewuh aya ing pambudi”

Apa ya haram memiliki vila, yacht, jet, golf stick

buat meningkatkan citra bisnis dan memperkuat “bargaining power”

Apa ya salah mengembangkan keunggulan kompetitif

dengan menguasai hitech dirgantara, samudra, persada?

Duh Gusti

            Bersabdalah!

 

-     Nenek moyang kita sih selalu mengajar kita hidup prihatin

      Tapi tak pernah mengajar kita kiat bagaimana jadi kaya.

+    Ah. Yang bener. Lha filsafat “ojo dumeh” itu?

      “Sa beja-bejane kang lali, luwih beja kang eling lan waspada?!

      Jadi perkara padang golf ini Kang Karto,

      karena menyangkut kepentingan nasional

      Yang nggegirisi dan gawat keliwat-liwat

      Marilah sama-sama kita tunggu dawuh.

      Siapa tahu, sekali sampeyan ayunkan stick sampeyan

      Langsung dapat “hole ini one”

      Hadiahnya bisa buat beli loji, pengganti

      rumah sampeyan yang kegusur Raden Sukosrono

      bolehnya muter taman golf internasional ke Indonesia!




=DARMANTO JATMAN=

SAMBEL BAWANG DAN TERASI karya : Darmanto Jatman

Ngaisah Isah Isah:

            Sambel cocok betul untuk kita

            Pengganti lauk bagi kita yang tak

            berkecukupan

            Penambah selera bagi mereka yang

            tak pernah kekurangan

            Sambel terasi sangat bagus untuk

            pencernaan

            apalagi kalau dimakan dengan kol

            pete dan kacang panjang

            Lha sambel bawang sangat baik

            untuk penambah nafsu makan

            apalagi kalau untuk para petani penjual

            bawang tentunya.

 

Ngaisah memang spesialis sambel.

Adapun filsafat sambelnya kalau diringkas jadi begini

bunyinya:

Dengan sambel kita memayu ayu bawana!

Nyambel adalah profesi dan karirnya

Sambil nyambel ia merapal mantram-mantramnya

--    Dulit sambel sedulit

      Dulit sedulit jadi sedep

      Sedep sedulit jadi rasa

      Rasa sedulit jadi ruh

      Ruh sedep sejagat manjinglah di sambelku

      Jadikanlah keranjingan ndara tuanku

      Ya Allah ya Khayun

      Ya Allah ya Khodirun

 

Demikianlah Ngaisah Isah Isah

Mengasah kalau lagi isah-isah

Mengasoh kalau lagi ngasuh

Ulah raga kalau lagi nimba

Mencipta kalau lagi ngulek sambel

Ia adalah wujud nyata dari Filsafat Sosrokartanan:

--    Sugih tanpa banda

      Menang tanpa ngasorake

Di dapurnya yang mungil

Segala tetek bengek duni modern berbaris di sana:

Ada refrigerator, ada oven, ada rice cooker

bahkan ada pula tape recorder

yang memainkan keroncong selagi ia kesurupan nyambel:

Semua bukan miliknya tetapi semua adalah wewenangnya

--    Di dapur ini den nganten cuma wenang minta

      Tapi perkara sedap tidaknya, sayalah yang menentukannya!

Ialah pemangku ajaran Jeng Gusti Pangeran Haryo

Mengkunegoro IV:

--    Rumangsa melu anduweni

      Wajib melu angrungkebi!

Sewaktu banjir bandang melanda Sampangan

mati-matian ia menyelamatkan barang-barang tuannya

di samping muntu dan coweknya

Ia bukan babu

Ia spesialis sambel

Seperti tuannya dokter spesialis amandel

Ia orang merdeka

Karenanya ia juga punya etos kerja

--    Tukang sambel pun mbakyu

      Punya angan-angan dan impian

      Siapa tahu

      Suatu kali akan kesampaian

Itulah Ngaisah Isah Isah

Orang merdeka yang memang memutuskannya

Untuk jadi pelayan bagi tuannya

Karena hanya dengan demikianlah ia merasa

Tetap memiliki kemerdekaan

Dalam posisi ketidakpunyaannya

--    Ndara tuan tokh membutuhkan kesetiaan saja

      Seperti saya membutuhkan pengertiannya:

Begitu katanya setiap kali ia berkaca

Dalam upacara yang disebutnya

“Mulat sarira angrasa wani”

Menggenapkan ajaran Jeng Gusti

Panutannya




=DARMANTO JATMAN=

RUMAH karya : Darmanto Jatman

Sang Guru Laki kepada Rabinya:

Rumah itu Omah

Omah itu dari Om dan Mah,

Om artinya O, maknanya langitnya, maksudnya ruang,

bersifat jantan

Mah artinya menghadap ke atas, maknanya bumi, maksudnya

tanah, bersifat betina

Jadi rumah adalah ruang pertemuan laki dan rabinya

Karenanya kupanggil kau Semah, karena kita serumah

Sapulah pekarangan rumah kita bersih cemerlang

Supaya bocah-bocah dolan pada kerasan

memanggil-manggil bulan dalam tetembangan:

--    Mumpung gede rembulane

      Mumpung jembar kalangane

      Suraka surak: Horee!

Na Na Na

Di kiri dan di kanan rumah ada pekarangan

Di mana biasa orang menanam empon-empon

Jahe untuk menghangatkan tubuh kalau lagi selesma

Kencur untuk ngompres kalau lagi babak belur

Kunir supaya anak yang dikandung nanti kuning lencir

Lha di pojok kanan pekarangan ada sumur

Perlu untuk membersihkan kaki kita sebelum masuk rumah

Pertanda kita selalu resik dan anteban

Tak ketempelan demit jin setan periyangan

Nah

Inilah pendapa rumah kita

Mandala dengan empat saka guru dan delapan tiang penjuru

Di atas pintu tertulis rajah:

Ya maraja Jaramaya

Yang maksudnya: Hai kau yang berencana jahat,

berhentilah berencana!

Di sinilah kita akan menerima tamu-tamu kita

Sanak kadang, tangga teparo

Yang nggaduh sawah, ladang atau raja kaya kita

Merembug sesuatu yang perlu untuk kesejahteraan bersama

Sementara di belakang pendapa ada pringgitan

di mana kelak kau bisa duduk bersila bersama anak-anak

Menyaksikan Ki Dalang Karungrungan

Menghidupkan ringgit wayang di tangannya

Medar kebijaksanaan Sastra Jendra

Lewat tutur, suluk dan tembang

Ah Ah Ah

Rumah kita bisa bak istana Junggringsalaka

Bila gamelan dimainkan

Dan waranggana nembang sahut-sahutan

Sementara digandok sebelah

Para batih serumah

Biasa silih asah, silih asih, silih asuh

Dan menyerahkan kepercayaannya dalam rumeksa kita

Somahku

Di belakang pringgitan itulah sentong

Di mana pusaka nenek moyang kita memancarkan pamornya

Keris Luk Pitu, tombak Kyai Tancep serta payung

Ra Kodanan

menjaga kita dari segala malapetaka

Di sinilah kita samadi, merukunkan diri dengan Allah

Membebaskan diri dari keterikatan duniawi

Lega, lila, legawa

Menerima nasib kita

Sebelum kupadukan tubuhku dengan tubuhmu

Sambil kutanamkan benihku

Dengan greget dan sengguh yang tak kenal mingkuh

(Kelak, memang ada baiknya kalau kita naikkan

Begawan Ciptoning, sunggingan empu Kasman

Di atas slintru sentong kita

Supaya mereka pun paham

Terkadang aku jadi Mintaraga

Terkadang pula jadi Arjuna Wiwaha

Dan kau jadi Batari Supraba)

Nah. Di muka gandok itulah sepen kita

Dengan tanda rajah:

Ya silapa palasiya

Yang maksudnya: Hai kau yang memberi lapar, berilah

kekenyangan!

Di atasnya Dewi Sri,

Di depan pintu Cingkarbala dan Balaupata

Menjaga sepen kita agar tetap sepi dari hama

Menjaga rezeki kita dari para durjana

Merekalah yang akan membuka pintu sepen kita

Bagi para papa yang membutuhkan bantuan kita

Dan akhirnya

Di sanalah garase untuk kerbau dan sapi kita!

Somahku.

Di bawah atap inilah kuserahkan sapu rumah ke tanganmu

Supaya kaupelihara rumah kita dengan premati

Jadikanlah ia kolam bagi ikan-ikan

Jadikanlah ia sawah bagi padi-padian

Jadikanlah ini rumah karena di sinilah kasih bertempat

tinggal

Buatlah slametan

Dengan gunungan nasi kuning di tambir

Iwak ingkung, beserta uba rampenya

            Setikang setikung

            Gedungku watu gunung

            Siapa mengharu biru milikku

            Jadilah mangsa Kalabendu

            Hu!

 

--------- 

Rabi Sang Laki:

Katakanlah, wahai katakanlah

Di mana angin bersarang,

Gelombang tidur

Awan melepaskan penatnya

Dan hari merebahkan diri

Katakan o katakanlah Guru Lakiku

Di mana orang-orang papa

Bakal kautempatkan dalam rumah kita?!




=DARMANTO JATMAN=

JENG karya : Darmanto Jatman

Jeng,

 

hari ini sudah lebih dua puluh tahun aku menulis sajak

sejak aku menulis Perahu Layar di Remaja Nasional

Yogya, 28 Juli 1959:

 

Kembang layar, kembang

sibak air, ukir wajah laut

kembang layar, kembang

tabur angin, renangi langit

 

pada nelayan aku berteriak lantang:

ai abang, abang

pasang layar abang, pasang layar!

lalu hati meronta berdoa kepada Tuhan:

O Tuhan, bawalah manusia ini ke padang juang

bawalah manusia ini ke tempat taburan ikan

biar hati beriak menyusuri kehidupan.

 

lalu dengan alum aku pun menembang:

kembang layar, kembang

laju ke ujung bumi, batas langit dan laut.

 

Jeng,

 

hari ini kukumpulkan sajak-sajakku tahun 1979/1980

lalu kuberi nama “karto iya bilang boten”.

 

hari ini kembali kutanyakan padamu

sudahkah kukatakan apa yang seharusnya kukatakan?!




=DARMANTO JATMAN=

Sabtu, 15 Agustus 2015

SEKARANG BAHWA AKU MERASA TUA karya : Darmanto Jatman

Know the limitation

Suffered thou not!

 

Sekarang bahwa aku merasa tua

Memandang pohon-pohon berdaunan

Kenapa aku mesti bertanya:

Sudahkah tiba saatnya

Belalang menetas dari telurnya

Kupu terbang meninggalkan kepompongnya?

Memandang kupu beterbangan

Belalang berloncatan

Kenapa mesti aku bertanya:

Bukankah akan tiba saatnya

Belalang terbang

Kupu berloncatan?!

 

Sekarang bahwa aku merasa tua

Nyinyir aku bertanya-tanya

Kenapa anak-anakku mesti menjadi tua

Dan suatu hari juga nyinyir bertanya-tanya:

Kramaleya jadi admiral

Kenapa bukan Blakasuta

--    Kromo belang hidungnya

      Waktu kecil ditanduk domba

--    Bloko minggat waktu kecilnya

      Ngomong benci sama bapaknya

--    Leyo nggembala di gunung kapur

--    Suto nanem padi di sawah lumpur

 

Ah. Ah. Ah

Sekarang bahwa aku merasa tua

Tak bisa lagi kubayangkan tingkah si Blakaleya

Pergi ke kota

Sekolah Belanda

Nghamili Bawuk

Tapi nikahi Pinten

Hmm

Sekarang bahwa aku merasa tua

Bukankah tak layak aku bertanya-tanya?!

Tapi nalar bedebah ini

Borok bagi baksil-baksil busuk

Bisakah ia berkawan dengan api

Yang membakar padi dan domba?

--    Tentu saja kita tak bisa hindari mati, katamu

      Tapi bukankah ada cara mati yang mulia? katamu pula

 

Sekarang bahwa aku merasa tua

Gemetar tanganku nyentuh bibirmu

Istri yang tua

Bijak dan setia

Taka ada lagi asmara untuk kita bagi berdua

Hanya tinggal angan-angan

Menetes pada kedua telapak tangan kita.

 

Ah. Ah. Ah

Sekarang bahwa aku merasa tua

Aku tahu ada limit waktu bagi kita

Ada batas kalori jatah kita

Yang habis kita bakar sia-sia

Waktu kau purik

Dan aku berjina

 

Sebab bukankah bunga-bunga tulip yang mekar di luar

Tak bermaksud menyuramkan hyacinth yang kupelihara di kamar?

--    Tapi kenapa mesti tanganku gemetar

      Ngusap wajahku yang makin tua

      Yang sungguh mati bukan urusanku?!

 

Dan sekarang bahwa aku merasa tua

Kenapa terus juga aku nyinyir bertanya-tanya

Sementara jawabnya dulu telah lama kauberikan

Waktu kau bersimpuh di kakiku

Yang lumpuh oleh beribu perkara

--    Ya. Ya. Kita pernah muda.

 

Ah. Ah. Ah

Sekarang bahwa aku merasa tua

Tertatih –tatih aku

Bahkan tak bisa menyuapkan nasi ke mulutku

Baru aku tahu

Bahwa aku hanya telah hidup karena kebaikanmu!

Karena tubuhmu, sawah yang siap dicangkul

Dan bukan karena lengan-lenganku yang perkasa

Karena hatimu, buah yang siap dipetik

Dan bukan karena nalarku yang cerdik

 

Dan aku

Sang admiral

 

                        Karmaleya

 

Bersimpuh di kakimu

 

                        Blakasuta

 

Istriku.

 

JENG

Jeng,

 

hari ini sudah lebih dua puluh tahun aku menulis sajak

sejak aku menulis Perahu Layar di Remaja Nasional

Yogya, 28 Juli 1959:

 

Kembang layar, kembang

sibak air, ukir wajah laut

kembang layar, kembang

tabur angin, renangi langit

 

pada nelayan aku berteriak lantang:

ai abang, abang

pasang layar abang, pasang layar!

lalu hati meronta berdoa kepada Tuhan:

O Tuhan, bawalah manusia ini ke padang juang

bawalah manusia ini ke tempat taburan ikan

biar hati beriak menyusuri kehidupan.

 

lalu dengan alum aku pun menembang:

kembang layar, kembang

laju ke ujung bumi, batas langit dan laut.

 

Jeng,

 

hari ini kukumpulkan sajak-sajakku tahun 1979/1980

lalu kuberi nama “karto iya bilang boten”.

 

hari ini kembali kutanyakan padamu

sudahkah kukatakan apa yang seharusnya kukatakan?!




=DARMANTO JATMAN=

ISTERI karya : Darmanto Jatman

isteri mesti digemateni

ia sumber berkah dan rejeki

(Towikromo, Tambran, Pundong, Bantul)

 

Isteri sangat penting untuk ngurus kita

Menyapu pekarangan

Memasak di dapur

Mencuci di sumur

mengirim rantang ke sawah

dan ngeroki kita kalau kita masuk angin

Ya. Isteri sangat penting untuk kita

 

      Ia sisihan kita,

            kalau kita pergi kondangan

      Ia tetimbangan kita,

            kalau kita mau jual palawija

      Ia teman belakang kita,

            kalau kita lapar dan mau makan

      Ia sigaraning nyawa kita,

            kalau kita

      Ia sakti kita!

            Ah. Lihatlah. Ia menjadi sama penting dengan

kerbau, luku, sawah dan pohon kelapa.

Ia kita cangkul malam hari dan tak pernah ngeluh walau cape

Ia selalu rapih menyimpan benih yang kita tanamkan dengan rasa

sukur; tahu terima kasih dan meninggikan harkat kita sebagai lelaki.

Ia selalu memelihara anak-anak kita dengan bersungguh-sungguh

seperti kita memelihara ayam, itik, kambing atau jagung.

Ah. Ya. Isteri sangat penting bagi kita justru ketika kita mulai

melupakannya:

      Seperti lidah ia di mulut kita

                                                        tak terasa

      Seperti jantung ia di dada kita

                                                        tak teraba

Ya. Ya. Isteri sangat penting bagi kita justru ketika kita mulai

melupakannya.

 

      Jadi waspadalah!

      Tetep, madep, manteb

      Gemati, nastiti, ngati-ati

      Supaya kita mandiri, perkasa dan pintar ngatur hidup

      Tak tergantung tengkulak, pak dukuh, bekel atau lurah

 

            Seperti Subadra bagi Arjuna

            makin jelita ia di antara maru-marunya;

            Seperti Arimbi bagi Bima

            jadilah ia jelita ketika melahirkan jabang tetuka;

            Seperti Sawitri bagi Setyawan

            Ia memelihara nyawa kita dari malapetaka.

 

Ah. Ah. Ah

Alangkah pentingnya isteri ketika kita mulai melupakannya.

 

                  Hormatilah isterimu

                  Seperti kau menghormati Dewi Sri

                  Sumber hidupmu.

                  Makanlah

                  Karena memang demikianlah suratannya!

                  -- Towikromo




=DARMANTO JATMAN=