Tampilkan postingan dengan label HASAN ASPAHANI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HASAN ASPAHANI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 September 2015

MENGATAKAN AKU, MENGAKUKAN KATA karya : Hasan Aspahani

Hanya kata. Tapi awal jadi dari segalanya

Hati kubuka dengan kata. Hati bersembunyi dalam kata

 

*

Aku ingin bebas dari kata, tapi aku menjadi kata

Aku ingin bebas dari aku, dibebaskan oleh kata




=HASAN ASPAHANI=

TENTANG ULAR YANG BERDIAM DI DALAM APEL karya : Hasan Aspahani

ADA seekor ular berdiam dalam tiap

buah apel yang dulu kita yang menanam.

Ini sudah musim panen, di kebun liar

kita. Kita masygul, kenapa semakin lebat

kecemasan?

 

Kita tak berani memetik.

Juga tak berani memungut yang jatuh.

karena tak ada lagi, di tangan, tempat

untuk sakit yang lain. Jejak sepasang

taring jadi luka-luka. Tak akan kering.

 

Hati akan jadi keranjang kosong

yang kita seret pulang. Kita sepasang

petani, berselisih jalan di jalan ke rumah

yang berbeda alamat dan arah.

 

Kita tak berani pergi lebih jauh lagi.




=HASAN ASPAHANI=

GAMBAR UNTUK SEBUAH PETANG karya : Hasan Aspahani

KITA memang tak pernah benar-benar siap,

Waktu, dengan tangannya, kita terperangkap.

Kita murid di kelas tujuh, dengan pelajaran

terlambat, atau belum saatnya diberikan.

 

Ada selembar fotografi, gugus geometri, yang

kau curi, dari perempuan lain yang mengelincir,

pada mimpi warna tua, yang miring-licin.

 

Tubuhmu, harus kumengerti sebagai rumus

sudut-sudut siku. Rumit, dengan angka-angka

berbaris lama, panjang di belakang nol & koma.




=HASAN ASPAHANI=

ULAT YANG RAKUS DAN EMBUN YANG SANTUN karya : Hasan Aspahani

AKU daun dan kau ulat yang rakus. Aku sudah tak ada, ketika kau

menjelma menjadi kupu-kupu, mengembangkan warna sayapmu.

 

Aku malah dan kau embun yang santun. Aku sudah tak ada ketika di

ujung daun, pagi dan matahari mencemerlangkanmu.




=HASAN ASPAHANI=

ROMANTISME BADUT karya : Hasan Aspahani

APAKAH tangis? Tangis adalah tawa yang jujur. Dan tawa? Tawa adalah tangis yang

berpura-pura. Aku tahu sebab aku badut yang kau larang melucu.

 

Padahal sejak dahulu, aku hanya ingin menjadi badut bagimu, menjadi diri yang janggal, dan

kau tak lagi perlu payah mengerti aku, lau kau tertawa saja dan padamu semua sesal selesai.

*

HIDUP bukan cuma bagi singgah iseng di tenda sirkus. Kau menolak ajakanku, lalu

pergi sendiri, membelu ketegangan dari tubuh-tubuh yang terampil mempermainkan bahaya.

 

Lalu muncullah aku dengan topi yang tak muat, dan hidung merah tomat, di sela-sela tepuk

tanganmu, melemparkan bola-bola yang tak cukup di dua tangan, lalu kau tertawa dan

padaku segala kesal dimulai.




=HASAN ASPAHANI=

AKU TAK AKAN MENYALAHKANNYA karya : Hasan Aspahani

CINTAKU adalah rasa asin pada lautmu. Matahari mengira ia bisa

menguapkan aku dari engkau, mengawankanku dari langit yang asing.

 

Ia keliru, tapi biar saja, aku tak mau menyalahkannya.

Cintaku adalah hara menyebati di tanah kebunmu. Matahari mengira

 

hanya ia yang menumbuhkan engkau dan memekarkan bunga

bungamu. Ia salah, tapi bisa saja, aku tak akan menyalahkannya.




=HASAN ASPAHANI=

 

YANG SEMBUNYI DI DALAM MATAKU karya : Hasan Aspahani

Yang sembunyi di dalam mataku

Menatap pada tebing punggungmu

 

Karena ia terbuka, maka aku mengira

kau tantang aku berani menebaknya

 

Yang mengarang di tungku diriku

Mengapi tersebab tebas betismu

 

Karena langkahmu semakin tajam

Aku menjelaga, lekat ke silam sepi

 

Yang memelangi di dinding langitku

Cahaya ragu dari kembang gaunmu

 

Karena aku hidup yang tak bermusim

Aku tinggal ladang tak bertanaman




=HASAN ASPAHANI=

IA MENULIS DI LINIMASA karya : Hasan Aspahani

PADA usia ke-40 dan beberapa dentang kemudian,

ia menulis di linimasanya, hidup yang baik telah

memberi satu hal: aku telah mampu untuk lupa.

 

Lupa, adalah gudang tanpa pintu, dan di situ,

sejumlah peristiwa terperangkap, berhenti,

bersama beberapa nama, dan segenap perannya.

 

Di gudang itu, tak apa-apa, bila sesekali ia kembali,

misalnya ketika ia perlu satu alasan sangat sepele

mengenang apa saja yang tak memaksa dikenang.

 

Itu bisa ada pada sepotong foto yang terlipat, lengket

Atau bisa pada jam bekas, berhenti berdetak pada 3.50!

 

Atau pada tumpukan acak majalah berita mingguan

yang sebagaian besar halamannya tak sempat dibaca.

*

PADA usia ke-40 dan beberapa dentang kemudian

ia menulis di linimasanya, hidup yang baik tetap

memberi satu hal: aku masih mampu untuk ingat.

Itu sebabnya ia masih menulis puisi: yang dengan

caranya ajaib, pada bait-bait selentur kantung karet,

 

memberi tempat pada segala yang hendak dilupa,

dan segala yang menerus-terus hendak diingat. 




=HASAN ASPAHANI=

Rabu, 02 September 2015

DI RANJANG KAU ENDAP SELURUH ERANG karya : Hasan Aspahani

: bagi penyanyi dangdut, siapa saja.

jangan bilang aku salah, bila dengan mudah
tergelincir pada licin lincah lidah

desah basah, resah ruah, tapi
lelah, ah, betapa hanya seolah-olah!

di pinggangmu kupetik kembang goyang
di dadamu kutanam mimpi paling nyalang
di bibir dan matamu, "siapa yang tak nyaris hilang?"

di panggung tak hilang kumandang:
ayo, ayo kita joget sampai pagi mati

di ranjang kau endap seluruh erang:
basah, basah, ah, bukan madu yang tumpah.



Des2002
=HASAN ASPAHANI=


BERMAIN RUMAH DENGANMU karya : Hasan Aspahani

ini batas rumah kita, ujarmu, lalu kubuat garis di atas pasir
itu, jadilah denah rumah, dan tanganmu dengan kelincahan
yang selalu kukagumi menambahkan garis-garis lengkung
tanaman berbunga, di sini petunia, ujarmu, lalu alamanda,
dan difens, dan coleus, serta warna-warni begonia

ini kamar tidur kita, ujarmu, lalu kau sketsakan lelap tidur kita di
sana, kau imajikan warna, desain ruang, dan aroma melati
yang semerbak lewat jendela, dan sedepa dari sana kau
tanam wangi kenanga

lalu kau lingkarkan kurva melingkupi kau aku dan gambar
rumah kita, dan kau minta aku mengeja nama kita di pasir
itu, juga nama anak-anak kita yang telah lama kau reka

ketika laut mulai pasang, angin menggiring tangan-tangan ombak.
tiap deburnya sejangkal lebih dekat ke pantai bermain kita

kau cemas, tapi apa kata senja? terimalah ombak itu
karena ia akan mengabadikan rencana-rencana



menjelang mei1996
=HASAN ASPAHANI=

RITUAL MANDI karya : Hasan Aspahani

- 1 -

ia ingin ada yang memandikannya,
di sumur tempat mula dulu, ia menimba
umur, di sumur yang jernih airnya dulu
pernah membasuh matahari tiap pagi.

ia sudah lepaskan seluruh dirinya
tinggal jiwa yang telanjang, yang
menggigil teringat suara yang dulu
melepas pergi, dan kelak memanggil pulang.

- 2 -

hidup cuma sehari, saudara, cuma dua
kali mandi, kau mulai saat kau bayi,
lalu sekali lagi mandi ketika kelak
kau mati.

di antaranya? ah! siapa
yang suruh kau kotori
diri sendiri!

- 3 -

di suatu pagi, di kamar mandi,
sudah ia siapkan upacara, bersama
sabun yang tulus, handuk yang tabah
air di bak yang pasrah, gayung biru
yang tak pernah lelah, kran air
yang pemurah, sikat gigi yang ramah,
doa di pintu yang resah, juga sebuah
siul yang selalu gundah.

mestinya ia bersegera mandi,
"apa lagi yang kau nanti, saudara?"

"tunggu, tunggu! tubuhku,
di mana tubuhku!"

- 4 -

seperti archimedes, sudah berhari-hari
ia tak mandi, mencari jawab teka-teki
muskil itu, lalu di hari kesekian
di puncak ketidaktahuan, ditanggalkannya
seluruh pakaian, lalu diperhatikannya
tubuh telanjang di cermin besar di kamar
mandi itu, dan tiba-tiba ia merasa

telah menemukan sesuatu yang selama ini
ia cari.

"eureka! eureka!"

akhirnya...


- 5 -

cinta mereka tumbuh di mana-mana
dan terutama di kamar mandi, wah!
alangkah suburnya, alangkah suburnya

sebab cuma di sana, mereka punya
dua alasan untuk selalu telanjang
menanggalkan seluruh bayang bayang-bayang

alasan pertama, dan alasan kedua
rasanya tak perlu disebutkan dalam
puisi yang sopan santun ini

ya, di kamar mandi cinta mereka
tumbuh subur sebab mereka bisa
selalu kangen bertemu, untuk

alasan pertama, lalu melakukan
sesuatu dengan alasan kedua, atau
sebaliknya, atau sekaligus kedua-duanya

ya, di kamar mandi yang showernya
selalu mengucurkan air ke tubuh
mereka, cinta mereka tumbuh dengan suburnya.



Jan2003
=HASAN ASPAHANI=

Minggu, 30 Agustus 2015

REPORTASE DARI TELUK karya : Hasan Aspahani

1
suatu hari di antara arus eftrat dan tigris
sekawanan lebah mengumpulkan nektar darah
amis madu bangkai-bangkai sejarah serdadu

2
dendam yang merecup subur di ladang-ladang
hitam mesopotamia, siapa yang menuainya?
eh, ada kupu-kupu bersayap besi dan peluru

3
dengung capung, "aku sisa evolusi berabad-abad
kusinggahi sudah samarra, ur, niniveh, baghdad
ada yang terlupa pada piktograf dan babad-babad"

4
lalu datanglah melayat berjuta-juta lalat
taman babilonia terkubur unggun mayat
wahai kitab suci, bisakah ayatmu diralat?

5
maka dikabarkan lewat dongeng semut-semut
penaklukan yang luput di padang-padang rumput
meninggalkan remah racun dan mesiu tak tersulut

6
dalam bahasa serangga, mari kita simpulkan
dalam rumah manusia bernama peradaban
perang adalah rayap yang riuh meruntuhkan



Mar 2003 

=HASAN ASPAHANI=

REPLY KENANGAN 1978 karya : Hasan Aspahani

mayat, ini mayat budi, mayat budi!
aih, aku rindu kalimat itu, Pak Guru
kalimat yang dulu kubayangkan
kautulis dengan kapur yang membuat
kau seperti dikepung uban (baca: usia),
tahun 1978, diam-diam aku mengejakannya
di bukuku dan kemudian bangga sendiri
lihat! aku sudah cakap menulis, kan?

tentu tak pernah ada gambar dan warna darah
di buku inpres yang sampai juga ke kelas kita
lewat birokrasi kantor penilik sekolah kecamatan
(belajar tulis baca, tak sopan dengan tema kematian),
lalu dengan bakat menggambarku kubuat budi
dengan matanya kelam, senyumnya hitam: ini mayatnya
aih, kenapa tak diponten gambarku itu, Pak Guru?

Pak Guru, aku memang bukan murid yang bisa kau
banggakan, senam pagi, talkin indonesia raya, tak
lebih menarik bagiku daripada membayangkan:

prosedur kematian,
prosesi kehancuran!



Feb2003
=HASAN ASPAHANI=

PUISI SIA SIA, AIRMATA SIA SIA karya : Hasan Aspahani

: petisi menentang perang, make poems not war

aku melihat bicaramu di televisi (tak kutemu, mesti letih
mencari alasan untuk bersetuju dengan hujjahmu) aku menyimak
persiapan laskarmu (tapi tak dapat meyakinkan aku siapa
sebenarnya musuh yang pantas dimusnahkan) aku melihat
dendam menghitam di wajahmu (kenapa kami harus mencoreng
juga arang di wajah puisi? terbakar pawaka yang kau sulutkan)

aku mencatat adegan mereka memeluk anak isterinya (senjata
yang kau hunus entah berpamitan pada siapa?), aku mendengar
deru kapal peluru mengarung laut ke peluk teluk mauk (tuan, bahan
bakarnya ditambang dari negeri yang hendak kau hancurkan itu kan?)
aku melihat tanggal ancaman yang kau lingkar dengan jumawa
(patera luruh dari pohon almanak tua sejarah manusia)

aku membaca lagi puisi ini (lalu terasa sangat sia-sia menuliskannya)
aku mencari kata yang hendak kubisikkan ke hatimu (hanya lirih, pawana
yang ringkih berhembus tanpa sebisikpun kata, hanya sedih, basah mata
yang menitik kukira darah ternyata cuma air mata yang sebenarnya
kupersiapkan luruh kelak saat datang duka maha duka, lalu tiba-tiba aku
merasa sia-sia meneteskannya)



Mar 2003

=HASAN ASPAHANI=

Selasa, 25 Agustus 2015

BALADA SIAPA SAJA karya : Hasan Aspahani

IA bernapas dengan harmonika, gamang membayangkan

syair, sajak penyair terakhir, tentang maut & lahir.

 

Ini seperti balada tentang siapa saja, seperti

petualang menemukan peta pantai hilang, lalu ia

berikrar akan jadi tua, meninggal nama, di sana.

 

Sebuah lagu akan rampung dihirup-hembuskan, ia

mengecupi harmonika seperti bibir kekasihnya.

 

Selalu itu membuatnya lebih dalam mematakan pejam.

 

Ini seperti balada tentang siapa saja, dan itu

berarti yang paling mungkin (dan paling mustahil)

ia akan bernyanyi tak henti tentang Cinta & Sunyi.

 

Cinta sebab ia telah pernah berani memimpikan mimpi.

Sunyi karena ia tahu akan kembali menjadi sendiri.

 

Keduanya melahirkan lagu nafasnya pada harmonika,

pada kecup dalam dan lama di lapar bibir kekasihnya.

 




=HASAN ASPAHANI=

LUKAMATA karya : Hasan Aspahani

AKU akan jadi tua

tebu terunduk,

 

seseruas batang memanjang,

 

sebelum datang seorang penebang,

dengan parang tak berlidah,

tak kenal manis atau hambar sepah.

 

Pada mata luka di ruas usia

ada kusimpan

sesisa nanah dan bau segenggam tanah

seperti rekening di bank syariah,

umur akan selesai kucicil,

setoran tak berbunga.

 

            Siapa itu menyelumur

 

bagai lepas daun tebu,

mengering tanpa mengerang

 

jatuh tanpa teraduh-aduh

 

lalu batal niat-gatal

si tepung-pupur jamur?

 

*

 

YA, aku akan jadi tua

duduk, tunduk,

mengenang pokok tebu

seruas dulu kutanam

jadi serumpun kini memagar lingkar sumur.

 

Lalu lepas sesarang lebah,

kudengar dengung ramai bagai seregu barongsai,

mencuri nektar dari malai.

 

Manis. Madu. Menangis. Merdu.

            Manis. Madu. Menangis. Merdu.

                        Manis. Madu. Menangis. Merdu.

 

Lagu tabah ratu lebahkah sampai pada dengarku?

 

*

 

AKU akan jadi tua

dan menggali sendiri lubang panjang membujur,

yang bukan sumur.

 

Ketika itu lidahku akar tebu

mampu sudah mengecap manis dari sesisa air

yang mengalir

        dari tipis pelipis

                dari alur alis

                      dari damai dahi

                             dan tepi pipi.

 

Dari luka mata. Mataku sendiri

 




=HASAN ASPAHANI=

SEMAK MARX ! karya : Hasan Aspahani

 

MALAM itu, engkau seperti orator ulung,

tubuhku mimbar, sarung tilam bergulung

 

"Bersatulah orang jatuh cinta sedunia!"

 

Udara kamar sesak, segala sudut bergetar

 

Menunggu tiap akhir kalimatmu lalu hingar,

tepuk & teriak, bagai ribuan rakyat lapar!

 

*

 

Malam itu, engkau juru kampanye partai besar

aku tak lagi mau peduli pada apa ideologi

 

"Bersatulah orang-orang tolol sedunia!"

 

Kusut remang kamar, segala mengerang,

segala pangkal dan asal tak lagi terlacak

 

Alamak! Aku terjebak, semak janggut Marx!

 




=HASAN ASPAHANI=

NAH, NIETZSCHE karya : Hasan Aspahani

 

IA sentuh ubun-ubun engkau dengan kecup embun,

menuntun aku tentang tabiat Kasih dan Kasihan.

 

Ia belum mati, Ia belum mati, Puan Kasih! Kasihkan!

Bahkan bila ia berkenan, aku mohon nabi permpuan:

Ia utus kau padaku, satu-satunya pembenarmu.

 

Kekal cium pada engkau, Puan, di punggung lengan.

 




=HASAN ASPAHANI=

MARSYA TIMOTHY DI KENTUCKY FRIED CHICKEN larya : Hasan Aspahani

 

AKU kira bukan hanya ujung hidung dan pelipismu yang berpeluh,

ketika kau kunyah renyah dada berbubuk merica, semulut penuh.

 

"Ini menu baru," seperti begitu, sabda Kolonel Sanders dalam teks

promosi itu, "Kami tambahkan sesuatu, pada 13 rahasia bumbu!"

 

Dan kami antre di depan kasirmu, seperti barisan umat minta berkat,

atau para duafa berbaris di balai kota, minta sedekah dari penguasa.

 

Di kerumunan itu, tentu saja tak ada engkau, Marsya, tentu saja tak ada.

 

Lalu di layar besar itu kau berlalu, setelah mengibas palma tanganmu,

menyeret gaun saos tomatmu, dan aku tak mau menebak arti ajakan itu.

 




=HASAN ASPAHANI=

KUBERITAHU ENGKAU BAGAIMANA CARA KAMI MENAPAIKAN KETAN karya : Hasan Aspahani

: untuk mamaku Siti Mariyam, juru tapai paling hebat sedunia

 

ENGKAU harus yakin telah memilih beras ketan baru, yang seputih

santan, yang berbulir lencir, lalu kau tampi lagi, agar terbang segala

dedak debu. Telah selesai tugas kulit padi. Menjaga bulir yang setetes

demi setetes terisi, membernas di runduk malai, di petak-petak

sawahmu.

 

Sementara itu engkau siapkan tungku, dandang pengukusan,

dan kayu secukupnya kayu. Api harus tetap menjaga nyala,

menembuskan panas ke dinding dandang, sementara di dalam

dandang itu nanti gelegak air menguji seberapa lekat ketan yang

telah kau pilih, kau bersihkan, dan kelak hendak kau tapaikan.

 

Engkau mestinya sudah menyiapkan perasan daun pandan yang

kau petik di sumur tempat engkau mandi hari raya, sebelum salat

Idulfitri, pandan yang berumpun subur, hijau dan wangi yang kelak

menyeimbangi aroma fermentasi.

 

Di nyiru, yang tadi kau pakai menampi, kini seharusnya sudah

engkau lapisi helai daun pisang, jangan terbalik membentang, sisi

atas yang hijaunya sedap dipandang, di situlah engkau hamparkan

nasi ketan yang mengepulkan uap yang baru engkau kaut dari

dandang, lalu biarkan hingga suhu kamar, sambil engkau percikkan

padanya harum dan hijau perasan air pandan.

 

Aku beri tahu rahasia satu: agar tak lekat tanganmu, celupkan

keduanya dalam air remasan pucuk katu, kami percaya ini akan

banyak membantu, ragi yang kelak ditugaskan berfermentasi, dia

bekerja tidak sendiri.

 

Rahasia yang paling rahasia sebenarnya adalah saat kau menaburkan

ragi (dan menebarkan ragu, "maniskah kelak tapaiku? Maniskah?"),

pastikanlah bahwa saat itu suhu ketan yang tentu telah menghijau

itu tak lebih panas dari suhu udara di dapurmu. Jika segumpal

saja ada yang masih menyimpan lebih suhu, oh, kau sudah

menggagalkan seluruh ritual penapaianmu. Yang segumpal itu akan

memerah dan memasamkan seluruh manis tapaimu!

 

Saatnya, engkau menunggu, setelah menyimpan bakal tapaimu

dalam wadah tertutup, sebab ragimu, ragi tapaimu, adalah dia yang

bekerja dalam ruang tak berpintu. Kelak, akan terkabarkan padamu,

wangi manis tapaimu, di pagi hari rayamu.

 




=HASAN ASPAHANI=