Hanya kata. Tapi awal jadi dari segalanya
Hati kubuka dengan kata. Hati bersembunyi dalam kata
*
Aku ingin bebas dari kata, tapi aku menjadi kata
Aku ingin bebas dari aku, dibebaskan oleh kata
=HASAN ASPAHANI=
Hanya kata. Tapi awal jadi dari segalanya
Hati kubuka dengan kata. Hati bersembunyi dalam kata
*
Aku ingin bebas dari kata, tapi aku menjadi kata
Aku ingin bebas dari aku, dibebaskan oleh kata
ADA seekor ular berdiam dalam tiap
buah apel yang dulu kita yang menanam.
Ini sudah musim panen, di kebun liar
kita. Kita masygul, kenapa semakin lebat
kecemasan?
Kita tak berani memetik.
Juga tak berani memungut yang jatuh.
karena tak ada lagi, di tangan, tempat
untuk sakit yang lain. Jejak sepasang
taring jadi luka-luka. Tak akan kering.
Hati akan jadi keranjang kosong
yang kita seret pulang. Kita sepasang
petani, berselisih jalan di jalan ke rumah
yang berbeda alamat dan arah.
Kita tak berani pergi lebih jauh lagi.
KITA memang tak pernah benar-benar siap,
Waktu, dengan tangannya, kita terperangkap.
Kita murid di kelas tujuh, dengan pelajaran
terlambat, atau belum saatnya diberikan.
Ada selembar fotografi, gugus geometri, yang
kau curi, dari perempuan lain yang mengelincir,
pada mimpi warna tua, yang miring-licin.
Tubuhmu, harus kumengerti sebagai rumus
sudut-sudut siku. Rumit, dengan angka-angka
berbaris lama, panjang di belakang nol & koma.
=HASAN ASPAHANI=
AKU daun dan kau ulat yang rakus. Aku sudah tak ada, ketika kau
menjelma menjadi kupu-kupu, mengembangkan warna sayapmu.
Aku malah dan kau embun yang santun. Aku sudah tak ada ketika di
ujung daun, pagi dan matahari mencemerlangkanmu.
=HASAN ASPAHANI=
APAKAH tangis? Tangis adalah tawa yang jujur. Dan tawa? Tawa adalah tangis yang
berpura-pura. Aku tahu sebab aku badut yang kau larang melucu.
Padahal sejak dahulu, aku hanya ingin menjadi badut bagimu, menjadi diri yang janggal, dan
kau tak lagi perlu payah mengerti aku, lau kau tertawa saja dan padamu semua sesal selesai.
*
HIDUP bukan cuma bagi singgah iseng di tenda sirkus. Kau menolak ajakanku, lalu
pergi sendiri, membelu ketegangan dari tubuh-tubuh yang terampil mempermainkan bahaya.
Lalu muncullah aku dengan topi yang tak muat, dan hidung merah tomat, di sela-sela tepuk
tanganmu, melemparkan bola-bola yang tak cukup di dua tangan, lalu kau tertawa dan
padaku segala kesal dimulai.
CINTAKU adalah rasa asin pada lautmu. Matahari mengira ia bisa
menguapkan aku dari engkau, mengawankanku dari langit yang asing.
Ia keliru, tapi biar saja, aku tak mau menyalahkannya.
Cintaku adalah hara menyebati di tanah kebunmu. Matahari mengira
hanya ia yang menumbuhkan engkau dan memekarkan bunga
bungamu. Ia salah, tapi bisa saja, aku tak akan menyalahkannya.
=HASAN ASPAHANI=
Yang sembunyi di dalam mataku
Menatap pada tebing punggungmu
Karena ia terbuka, maka aku mengira
kau tantang aku berani menebaknya
Yang mengarang di tungku diriku
Mengapi tersebab tebas betismu
Karena langkahmu semakin tajam
Aku menjelaga, lekat ke silam sepi
Yang memelangi di dinding langitku
Cahaya ragu dari kembang gaunmu
Karena aku hidup yang tak bermusim
Aku tinggal ladang tak bertanaman
PADA usia ke-40 dan beberapa dentang kemudian,
ia menulis di linimasanya, hidup yang baik telah
memberi satu hal: aku telah mampu untuk lupa.
Lupa, adalah gudang tanpa pintu, dan di situ,
sejumlah peristiwa terperangkap, berhenti,
bersama beberapa nama, dan segenap perannya.
Di gudang itu, tak apa-apa, bila sesekali ia kembali,
misalnya ketika ia perlu satu alasan sangat sepele
mengenang apa saja yang tak memaksa dikenang.
Itu bisa ada pada sepotong foto yang terlipat, lengket
Atau bisa pada jam bekas, berhenti berdetak pada 3.50!
Atau pada tumpukan acak majalah berita mingguan
yang sebagaian besar halamannya tak sempat dibaca.
*
PADA usia ke-40 dan beberapa dentang kemudian
ia menulis di linimasanya, hidup yang baik tetap
memberi satu hal: aku masih mampu untuk ingat.
Itu sebabnya ia masih menulis puisi: yang dengan
caranya ajaib, pada bait-bait selentur kantung karet,
memberi tempat pada segala yang hendak dilupa,
dan segala yang menerus-terus hendak diingat.
=HASAN ASPAHANI=
1
suatu hari di antara arus eftrat dan tigris
sekawanan lebah mengumpulkan nektar darah
amis madu bangkai-bangkai sejarah serdadu
2
dendam yang merecup subur di ladang-ladang
hitam mesopotamia, siapa yang menuainya?
eh, ada kupu-kupu bersayap besi dan peluru
3
dengung capung, "aku sisa evolusi berabad-abad
kusinggahi sudah samarra, ur, niniveh, baghdad
ada yang terlupa pada piktograf dan babad-babad"
4
lalu datanglah melayat berjuta-juta lalat
taman babilonia terkubur unggun mayat
wahai kitab suci, bisakah ayatmu diralat?
5
maka dikabarkan lewat dongeng semut-semut
penaklukan yang luput di padang-padang rumput
meninggalkan remah racun dan mesiu tak tersulut
6
dalam bahasa serangga, mari kita simpulkan
dalam rumah manusia bernama peradaban
perang adalah rayap yang riuh meruntuhkan
Mar 2003
=HASAN ASPAHANI=
: petisi menentang perang, make poems not war
aku melihat bicaramu di televisi (tak kutemu, mesti letih
mencari alasan untuk bersetuju dengan hujjahmu) aku menyimak
persiapan laskarmu (tapi tak dapat meyakinkan aku siapa
sebenarnya musuh yang pantas dimusnahkan) aku melihat
dendam menghitam di wajahmu (kenapa kami harus mencoreng
juga arang di wajah puisi? terbakar pawaka yang kau sulutkan)
aku mencatat adegan mereka memeluk anak isterinya (senjata
yang kau hunus entah berpamitan pada siapa?), aku mendengar
deru kapal peluru mengarung laut ke peluk teluk mauk (tuan, bahan
bakarnya ditambang dari negeri yang hendak kau hancurkan itu kan?)
aku melihat tanggal ancaman yang kau lingkar dengan jumawa
(patera luruh dari pohon almanak tua sejarah manusia)
aku membaca lagi puisi ini (lalu terasa sangat sia-sia menuliskannya)
aku mencari kata yang hendak kubisikkan ke hatimu (hanya lirih, pawana
yang ringkih berhembus tanpa sebisikpun kata, hanya sedih, basah mata
yang menitik kukira darah ternyata cuma air mata yang sebenarnya
kupersiapkan luruh kelak saat datang duka maha duka, lalu tiba-tiba aku
merasa sia-sia meneteskannya)
Mar 2003
=HASAN ASPAHANI=
IA bernapas dengan harmonika, gamang membayangkan
syair, sajak penyair terakhir, tentang maut & lahir.
Ini seperti balada tentang siapa saja, seperti
petualang menemukan peta pantai hilang, lalu ia
berikrar akan jadi tua, meninggal nama, di sana.
Sebuah lagu akan rampung dihirup-hembuskan, ia
mengecupi harmonika seperti bibir kekasihnya.
Selalu itu membuatnya lebih dalam mematakan pejam.
Ini seperti balada tentang siapa saja, dan itu
berarti yang paling mungkin (dan paling mustahil)
ia akan bernyanyi tak henti tentang Cinta & Sunyi.
Cinta sebab ia telah pernah berani memimpikan mimpi.
Sunyi karena ia tahu akan kembali menjadi sendiri.
Keduanya melahirkan lagu nafasnya pada harmonika,
pada kecup dalam dan lama di lapar bibir kekasihnya.
AKU akan jadi tua
tebu terunduk,
seseruas batang memanjang,
sebelum datang seorang penebang,
dengan parang tak berlidah,
tak kenal manis atau hambar sepah.
Pada mata luka di ruas usia
ada kusimpan
sesisa nanah dan bau segenggam tanah
seperti rekening di bank syariah,
umur akan selesai kucicil,
setoran tak berbunga.
Siapa itu menyelumur
bagai lepas daun tebu,
mengering tanpa mengerang
jatuh tanpa teraduh-aduh
lalu batal niat-gatal
si tepung-pupur jamur?
*
YA, aku akan jadi tua
duduk, tunduk,
mengenang pokok tebu
seruas dulu kutanam
jadi serumpun kini memagar lingkar sumur.
Lalu lepas sesarang lebah,
kudengar dengung ramai bagai seregu barongsai,
mencuri nektar dari malai.
Manis. Madu. Menangis. Merdu.
Manis. Madu. Menangis. Merdu.
Manis. Madu. Menangis. Merdu.
Lagu tabah ratu lebahkah sampai pada dengarku?
*
AKU akan jadi tua
dan menggali sendiri lubang panjang membujur,
yang bukan sumur.
Ketika itu lidahku akar tebu
mampu sudah mengecap manis dari sesisa air
yang mengalir
dari tipis pelipis
dari alur alis
dari damai dahi
dan tepi pipi.
Dari luka mata. Mataku sendiri
MALAM itu, engkau seperti orator ulung,
tubuhku mimbar, sarung tilam bergulung
"Bersatulah orang jatuh cinta sedunia!"
Udara kamar sesak, segala sudut bergetar
Menunggu tiap akhir kalimatmu lalu hingar,
tepuk & teriak, bagai ribuan rakyat lapar!
*
Malam itu, engkau juru kampanye partai besar
aku tak lagi mau peduli pada apa ideologi
"Bersatulah orang-orang tolol sedunia!"
Kusut remang kamar, segala mengerang,
segala pangkal dan asal tak lagi terlacak
Alamak! Aku terjebak, semak janggut Marx!
IA sentuh ubun-ubun engkau dengan kecup embun,
menuntun aku tentang tabiat Kasih dan Kasihan.
Ia belum mati, Ia belum mati, Puan Kasih! Kasihkan!
Bahkan bila ia berkenan, aku mohon nabi permpuan:
Ia utus kau padaku, satu-satunya pembenarmu.
Kekal cium pada engkau, Puan, di punggung lengan.
AKU kira bukan hanya ujung hidung dan pelipismu yang berpeluh,
ketika kau kunyah renyah dada berbubuk merica, semulut penuh.
"Ini menu baru," seperti begitu, sabda Kolonel Sanders dalam teks
promosi itu, "Kami tambahkan sesuatu, pada 13 rahasia bumbu!"
Dan kami antre di depan kasirmu, seperti barisan umat minta berkat,
atau para duafa berbaris di balai kota, minta sedekah dari penguasa.
Di kerumunan itu, tentu saja tak ada engkau, Marsya, tentu saja tak ada.
Lalu di layar besar itu kau berlalu, setelah mengibas palma tanganmu,
menyeret gaun saos tomatmu, dan aku tak mau menebak arti ajakan itu.
: untuk mamaku Siti Mariyam, juru tapai paling hebat sedunia
ENGKAU harus yakin telah memilih beras ketan baru, yang seputih
santan, yang berbulir lencir, lalu kau tampi lagi, agar terbang segala
dedak debu. Telah selesai tugas kulit padi. Menjaga bulir yang setetes
demi setetes terisi, membernas di runduk malai, di petak-petak
sawahmu.
Sementara itu engkau siapkan tungku, dandang pengukusan,
dan kayu secukupnya kayu. Api harus tetap menjaga nyala,
menembuskan panas ke dinding dandang, sementara di dalam
dandang itu nanti gelegak air menguji seberapa lekat ketan yang
telah kau pilih, kau bersihkan, dan kelak hendak kau tapaikan.
Engkau mestinya sudah menyiapkan perasan daun pandan yang
kau petik di sumur tempat engkau mandi hari raya, sebelum salat
Idulfitri, pandan yang berumpun subur, hijau dan wangi yang kelak
menyeimbangi aroma fermentasi.
Di nyiru, yang tadi kau pakai menampi, kini seharusnya sudah
engkau lapisi helai daun pisang, jangan terbalik membentang, sisi
atas yang hijaunya sedap dipandang, di situlah engkau hamparkan
nasi ketan yang mengepulkan uap yang baru engkau kaut dari
dandang, lalu biarkan hingga suhu kamar, sambil engkau percikkan
padanya harum dan hijau perasan air pandan.
Aku beri tahu rahasia satu: agar tak lekat tanganmu, celupkan
keduanya dalam air remasan pucuk katu, kami percaya ini akan
banyak membantu, ragi yang kelak ditugaskan berfermentasi, dia
bekerja tidak sendiri.
Rahasia yang paling rahasia sebenarnya adalah saat kau menaburkan
ragi (dan menebarkan ragu, "maniskah kelak tapaiku? Maniskah?"),
pastikanlah bahwa saat itu suhu ketan yang tentu telah menghijau
itu tak lebih panas dari suhu udara di dapurmu. Jika segumpal
saja ada yang masih menyimpan lebih suhu, oh, kau sudah
menggagalkan seluruh ritual penapaianmu. Yang segumpal itu akan
memerah dan memasamkan seluruh manis tapaimu!
Saatnya, engkau menunggu, setelah menyimpan bakal tapaimu
dalam wadah tertutup, sebab ragimu, ragi tapaimu, adalah dia yang
bekerja dalam ruang tak berpintu. Kelak, akan terkabarkan padamu,
wangi manis tapaimu, di pagi hari rayamu.