Tampilkan postingan dengan label DINULLAH RAYES. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DINULLAH RAYES. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Agustus 2015

RINDU karya : Dinullah Rayes

Pohon dan hutan                       : rindu merindu

sukma dan badan                      : rindu merindu

burung dan ranting                    : rindu merindu

ikan dan air                               : rindu merindu

bayi dan susu                            : rindu merindu

petani dan sawah                      : rindu merindu

bocah dan mainan                     : rindu merindu

biduan dan lagu             : rindu merindu

penyair dan puisi                       : rindu merindu

tinta dan kertas             : rindu merindu

aksara dan buku                       : rindu merindu

surat dan amplop                      : rindu merindu

tanah dan air                             : rindu merindu

kopi dan gula                            : rindu merindu

kota dan warga             : rindu merindu

kaki dan sepatu                        : rindu merindu

garam dan asam                        : rindu merindu

flora dan fauna              : rindu merindu

dipan dan kasur                        : rindu merindu

kain dan kapas                         : rindu merindu

kekasih dan Kekasih                 : rindu merindu

insan dan Tuhan                        : rindu merindu



 

(1986 / Suara Muhammadiyah, No 8 Th. Ke-66 , April II-1986)

=DINULLAH RAYES=

MALIOBORO karya : Dinullah Rayes

Catatan sepintas buat Emha dan Linus

 

Lorong-lorong jalan kotamu gemerlap
Malam-malam gagal menitip gelap senyap
di trotowar, emperan toko
Aku bersama Bambang Widiatmoko
melepas kangen di lahan lesehan
selama ini tergadai sang waktu
Sejak senja kita memecah tabung sunyi 
Senda gurau, tawa bahak kita
terkadang terhenti getaran tali guitar pengamen
yang membalut nasib terluka
dalam dandanan jaman berlari


Di samping kiri kita ada perempuan mata seribu
menawarkan betinanya yang terkoyak
pada siapa haus birahi malam gerah 
Di sebelah kanan kita ada pemuda-pemuda
menggelar diskusi seputar radius pers
Mencakar-cakar pengendali negeri berlidah ganda
Memaki-maki demonstran asing merobek panji jati diri
Ah, belakang depan kita gedung-gedung menghadang
Kita takut melangkah diterkam rahang gurita
Malam ini batuk dan kantuk sirna

Bulan sepotong itu 
betapa arif bijaksana
membagi rata cahaya emas
bagi pepohonan rindang perkasa
buat jemari rerumputan yang kerdil kaku

Kita bergegas menatap langit hitam pekat
tiba-tiba dingin mengigit 
Kita pun gemetar
merebut mimpi yang buyar



(Yogyakarta, Agustus 1995 / Dari Negeri Poci 3, 1996)

=DINULLAH RAYES=

DINDING-DINDING JASAD karya : Dinullah Rayes

Siapapun mengerti makna wujud tubuh

yang luar yang dalam

Pilar-pilar putih topang daging bernyawa

Sebuah lahan batin bermata air kasih

Adalah tempat menuai harapan

Kepastian hidup hari esok

menuju pelabuhan janji-Nya



 

1992

=DINULLAH RAYES=

RUMAH KECIL DI PUCUK OMBAK karya : Dinullah Rayes

Buat : Agus Talino, hari-hari melap limbah batin

 

Rumah kecil di pucuk ombak

laut pasang, langit legam

Payung hitam mengembang

Bulan sepotong. Sebutir bintang rontok

Tiada kepak camar di atasmu

Sayapnya basah, gemetar

gigil dalam senyap

 

Dalam lambung rumah nelayan

ikan-ikan kecil menggelepar

Nyala pelita condong ke kiri

redup dan sirna

dari bilik hati

Siapakah mengayunkan lengan angin

menampar pipi laut

hingga meraung-raung sepanjang malam?

 



(1992 / Dari Negeri Poci 2, 1994)

=DINULLAH RAYES=

BAYANG BAYANG REBAH karya : Dinullah Rayes

Bayang-bayang rebah

Sekujur tubuh kota

Mencari jati diri

Di bangku-bangku terminal

Di langit metropolitan

Bulan sepotong pucat pasi

Kehabisan darah

 



(Jakarta, Agustus 1995/ dari Negeri Poci 3, 1996)

=DINULLAH RAYES=

REUNI karya : Dinullah Rayes

dalam ruang gelap senyap

siapa pula yang bersandar

pada dinding angin. menjilati cairan

gula enau. matahari terpelai dedaunan

tiada terhitung dengus nafas dalam

temaram. menyentuh rumpun bunga

rahasia saling pandang lalu berjalan

berbimbingan tangan angan. dari balik daun

pintu jelaga terdengar suara ketukan

pelan-pelan kemudian nyaring

lalu mendaki lereng malam dan tiba

pada titik puncak lalu menurun

ini sebuah irama hidup, katamu

tetapi mengapa kau tetap diam menunggu?

tak menyapa siapa. di sini suara bicara

dalam isyarat. di luar tak ada sosok misteri

menunggumu lagi. angin mengendap sepi menyergap

segalam melebur dalam gua gelap

berbaur bayang Maha Misteri. barisan roh

menunggu aba-aba akhir-Mu



 

(Simponi, 17-5-1987)

=DINULLAH RAYES=

DOA karya : Dinullah Rayes

1

Bisik-bisik bunga rasa

Mendaki lereng kening-Mu

Semesta pun pesta cahaya

Tuhan merekah senyum

 

2

Tangan pun menadah

tetesan embun-Mu

Basah kuyup jemari batinku

 

3

Kuterbangkan merpati putih

hinggap di kubah benak-Mu

sunyi pun tersipu

 

4

Engkau diam dalam senyum

Lidah-Mu lisankan aksara cinta

buka pintu bumi sepi kasih

 

5

Hatiku kertas putih

Kumohon alif-ba-tas-Mu

Luluh dalam kaligrafi

bumi, langit batinku



 

(1996; Nusa Tenggara Minggu, 5 Januari 1997)

=DINULLAH RAYES=

Sabtu, 15 Agustus 2015

AKU DAN BAYANGAN karya : Dinullah Rayes

Menggores aksara

saat sumpah setia. Atas nama

adam dan hawa.

 

Kulit pohon palma ini

terbaca wajah zaman

pelepah daun yang luruh

harapan-harapan yang mengubur diri.

 

Kembali malam ini

aku dan bayangan di bawah bulan tua

melepas angan memburu wajahmu

yang pergi

tiada kembali lagi.

 

Doa berkendara kereta langit

Tuhan!

warnai hidupku selalu

pancarkan nur-Mu dalam hatiku

kelam berdebu




=DINULLAH RAYES=

(Puisi-puisi/Pertemuan Sastrawan 1974)

GUNUNG TAMBORA karya : Dinullah Rayes

Gunung Tambora

menyundul langit biru Sumbawa

Pagi hari mentari mengirim sinar

Menerpa wajah hijau berseri

Sore hari terpateri

Cahaya layung ramping

Kening gunung menjulang

menyimpan misteri

memendam materi

Air bening mengular

membelit tumit bukit

menuruhi lahan sawah

Mengalun kesuburan

Membuka kelopak senyum warga dusun

Damai pun menyemai

Di mana-mana




=DINULLAH RAYES=

Suara Muhammadiyah, No. 14/75/1990