Tampilkan postingan dengan label TOTO SUDARTO BAHTIAR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TOTO SUDARTO BAHTIAR. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Agustus 2015

JEMBATAN TUA karya : Toto Sudarto Bahtiar

Sudah begitu lama, masih juga aku lalu

Berapa banyak kaki telanjang dan bersepatu

Menggetarkan tangan-tangannya

Yang siang begitu menyala dan malam begitu biru

 

Bergandengan tangan kadang sepasang merpati

Melambatkan langkahnya dan kemudian berhenti

Waktu memandang ke bawah air bisu mengerdipkan matanya

Berlaksa mimpi menemukan matinya yang indah di sana

 

Awan yang lena terkaca di atasnya

Sarat mengandung muatan mendungku ini

Tergila-gila memang hatiku yang banyak meminta

Tanpa sebab, dalam terowongan perjalanan yang akan sebentar saja

 

Tetapi selalu, kalau aku di sana, aku mendengarnya

Suara yang tak habis-habisnya sampai

Kalau engkau sekali menjadi setuaku

Nasibmu mungkin lebih baik dari padaku




=TOTO SUDARTO BAHTIAR=

TANGAN DALAM KELAM karya : Toto Sudarto Bahtiar

Tangan halus yang bisa merabaku dari jauh

Jadi tangan bisik yang mengulur belas padaku

Tangan mesra yang jari-jarinya sayang

Aku sangat rindu kepadanya

 

Kalau hidup mengandung neraka

Hendaklah hidupku ini saja

Tanpa hidup orang-orang lain yang baik

Yang tangannya jauh tak berdaya

 

Tangan halus yang bisa dari jauh cinta padaku

Cukup baik untuk memegangnya

Ah, dunia dosa

Aku kembali bermimpi tentangmu

 

Takut tanpa ujung karna hidup terlalu cinta

Jari-jariku ingin mengurai wajahnya

Tanpa kaku, tanpa terlena tidur

Karena kantuk semangatku jadi kendur

 

Tangan yang mengulur mesra kepadaku

Wahai dunia yang gaungnya kudengar

Apa arti jari-jari yang terkulai lapar

Biar dia melambai kepadaku

 




=TOTO SUDARTO BAHTIAR=

MUKA karya : Toto Sudarto Bahtiar

Pada kaca jendela kulihat wajahku

Berat bersinar matinya yang akan tiba

Sangat dekat nafas usia, tapi tak teraba

Tapi aku betul tahu, dia memang wajahku



=TOTO SUDARTO BAHTIAR=

TEGAK karya : Toto Sudarto Bahtiar

Antara ada dan tiada

Yang kutahu diriku hanya

Memandang lantun tertinggi hidup kita

Betapa juga pendeknya ...

 

Cinta, riah musim yang debar-debar jantungnya

Sangat tambah mesra ajakannya

Bersolek di atas cahaya matamu

Betapa sibuknya kupandang sekali

 

Juga alangkah sibuknya cinta dan kerja

Asyik menghitung satu dua tiga tiada habisnya

Tapi bisa terbengkalai sebab sepi yang datang

Antara ada dan tiada

 




=TOTO SUDARTO BAHTIAR=

JENDELA karya : Toto Sudarto Bahtiar

Dulu kutengok lagi dari sana, mungkin kau datang

Kebetulan tirai tersingkap angin pagi yang lantang

Mengantar pipimu yang merah tersipu

Alangkah beratnya rindu

 

Pada jendela berdetik-detik air hujan

Kutahu pasti kau akan tiba

Tak usah memandangku penuh hiba

Aku ingin tahu apa aku bisa pergi selamanya

 

Tak usah juga engkau menampikku

Karena aku pun sedia pergi

Menuju arah di mana musim-musimnya bisu

Buat selamanya

 




=TOTO SUDARTO BAHTIAR=

DANAU M karya : Toto Sudarto Bahtiar

(untuk Bahar)

 

Serasa pernah kukenal gunung-gunung ini

Juga paras danau

Yang tepinya tak kelihatan

Sangat lajunya sekunar berkejaran

 

Burung-burung terbang siang hari

Air gemersik perlahan meninggalkan daunan

Ada daunan layu serba 'kan gugur

Yang dahannya langsing melentur-lentur

 

Semuanya mengacu padaku

Dan sampai pada jamahan tiada berupa

Hidupnya perasaanku pagi ini

Tapi hidupku tak hidup di sini




=TOTO SUDARTO BAHTIAR=

Minggu, 02 Agustus 2015

KAWAN karya : Toto Sudarto Bahtiar

Biasanya dia berjalan malam-malam

Menggigil karena angin terlalu tajam

Orang-orang memandangnya dengan membelalak

Tapi aku tidak

 

Apa yang tak memikatnya sampai ke hati

Lampu dan bintang-bintang menyala tinggi

Matanya sayu membelai semua yang berjalan

Perempuan-perempuan, anak-anak berkejaran

 

Kalau malam putus asa tambah menurun

langkahnya pun bertambah berat berembun

Kadang-kadang dia berhenti, melihat padaku

Kami sama-sama tersenyum pahit pilu

 

Aku tak perlu tahu dia siapa

Tapi kami pernah sama mencintai malam

Aku dan dia tak ada bedanya

Hidup keras indah menari depan mata




=TOTO SUDARTO BAHTIAR=

ETSA karya : Toto Sudarto Bahtiar

Suara kasih dalam hati malam

Kian lincah, tapi kemudian membeku

Tanpa bulan, karena bulan beradu

 
Dan hatiku sendiri kian terbenam




=TOTO SUDARTO BAHTIAR=



AU REVOIR karya : Toto Sudarto Bahtiar

Pada waktu itu, pada hati waktu

Yang mengandung gelita yang membatu

Burung hantu dan malam

Yang gelisah bagai serdam alam

 

Bersama kemerdekaan yang terus mengelana

Detik demi detik membebankan nasib dengan bencana

O, terasa nyaman mengenang jalan-jalan di luar penjara

Menajamkan sanggurdi bagi pemacu jalanan!

 




=TOTO SUDARTO BAHTIAR=

PUSAT karya : Toto Sudarto Bahtiar

Serasa apa hidup yang terbaring mati

Memandang musim yang mengandung luka

Serasa apa kisah sebuah dunia terhenti

Padaku, tanpa bicara

 

Diri mengeras dalam kehidupan

Kehidupan mengeras dalam diri

Dataran pandang meluaskan padang senja

Hidupku dalam tiupan usia

 

Tinggal seluruh hidup tersekat

Dalam tangan dan kari-jari ini

Kata-kata yang bersayap bisa menari

Kata-kata yang pejuang tak mau mati




=TOTO SUDARTO BAHTIAR=

FOCUS karya : Toto Sudarto Bahtiar

untuk Sitor Situmorang

 

Kalau djarum kematian menusuk detak hati

Aku akan mendjadi asing sendiri

Sangat berarti djeritan jang menolak berpisah

Bisik jang mendera dan mentjinta gerak djantung hari

 

Ah, akan tertinggal maknaku pada waktu

Bersama ketjintaanku

Lintasan hidup jang kena tjahaja

Gerak jang mewarnai manusia

 

Hati akan tinggal ubun hati

Kemerahan jang mau menandingi matahari

Panas bulan Djanuari

Punya tanja dan kasih sendiri

 

Karena djarum yang menikam, detak hati djadi membisu

Terpaksa kuasingkan matahari dan ada jang kuberi salam

Djalinan bisik dan kesan jang berkata sendiri

Lintasan hidup jang kena tjahaja

Gerak jang mewarnai manusia



 

1953

=TOTO SUDARTO BAHTIAR=

DUNIA SEBELUM TIDUR karya : Toto Sudarto Bahtiar

Kenangan mati bagi jang mati

Hormat bagi jang hidup setiakan derita

Ulurkan tanganmu

Sangkutkan sepatu pada kaki berdebu

Dan mimpilah merenung djendela terbuka

Nun adalah dunia dosa, duniaku sajang

Aku berpihak padamu

 

Kau ingin dengar

Suara angin menghembus kamar

Udjung ketenteraman samar-samar

Dada bertemu dada

Kami bersandar kepadanya

Betapa terkenang, betapa tenang

Bintik hitam dalam dunia jang gelisah

 

Kenangan hidup hanja bagi jang hidup

Bingkis tjahja

Dalam musim jang segera matang

Menghalau degup rongga berudara sedih

Djari-djari penanggalan

Telah lama

Terlalu lama mengandung topan

 



1954

=TOTO SUDARTO BAHTIAR=

Sabtu, 01 Agustus 2015

KETERANGAN karya : Toto Sudarto Bahtiar

H.B. Jassin.

Dimana berachirnja mata seorang penjair?

Kau sudah lama sekali tahu, kuburan dia

Hanjalah nisan kata-katanja selama ini

Tentang mimpi, tentang dunia sebelum kau tidur

 

Terkadang kalau dia mau

Tulisannja hanja nasib djari jang lemah

Terkadang dia merasa aneh

Kalau anak bisa merasa kehilangan sesuatu

 

Seperti aku, dimana kata tak tjukup buat berkata

Tertelungkup dibawah bakaran lampu seharian bernjala

Terkadang djemu terus melihat matahari

Pesiar, tanpa kawan berkedjaran

 

Tanpa merasa tahu tentang apa

Dia menjeret langkahnja

Sampai dimana dia akan tiba

Tapi dengan djari kakinja ditulisnja sebuah sadjak



 

1955

=TOTO SUDARTO BAHTIAR=

SUARA karya : Toto Sudarto Bahtiar

Kapan ada sesuatu, ialah kamarku didalam

Suara penutup paling djauh telah membawa bunji

Sedang kubuat lagi djelaga diri semesta

Dilorong-lorong kelam kotaku Djakarta

 

Nafsu ialah bandingan suara dan djelaga

O, perempuan-perempuan jang tak tahu bahasa

Arti agung jang mendukung dukana!

O, tingkap tertutup sebelum membuka!

 

Sekali ini tak ingin lagi kutjari diriku

Kapan lagi hudjan sepi dan bisu

Hingga kapanpun, bila masih ada pertjaja

Pertjajalah pada hubungan jang lama



 

1953

=TOTO SUDARTO BAHTIAR=

PEKARANGAN karya : Toto Sudarto Bahtiar

Tjinta. Engkau jang sudah sekali datang masuklah

Menjatu diri dengan irama tanpa tepi

Laut jang selalu mengalir, malam tiada berachir

Tjumbu hidup nafas kotaku jang kekal

 

Dimana angin sangsai tak menghambat tjeritera

Berupa bisik tjintaku masa depan

Serta perempuan-perempuan tahu mengapa

Berharap larut dahaga pada malam-malam sengsara

 

Dimana pula dalam arti dosa dirumah derai airmata

Redup bulatan djedjakku, redup keruntuhan bajang tjintaku

Menahan dendam melulur sepandjang hari

Dalam nafas kotaku yang kekal selalu!



 

1953

=TOTO SUDARTO BAHTIAR=

KAKI LANGIT karya : Toto Sudarto Bahtiar

Jang sampai dimalam bisu

Desah jang mendjadi kalimat terachir

Untuk tekebur dan menolak kedjang lupa

O, kekasih biarpun jang dimana

Dari putus asa sampai lapar putus asa

Kugamit suaraku sendiri

Sampai tak ada jang mendengar

Kemudian. Sampai menemukan sebuah nama:

Jang memantulkan katja: Terlintas bajang-bajang

Sendiri diatas runtuhan

Keruntuhan adalah djedjak tjinta! Tunggu!



 

1953

=TOTO SUDARTO BAHTIAR=

PERNJATAAN karya : Toto Sudartp Bahtiar

kepada C.A.

 

Aku makin mendjauh

Dari tempatmu berkata kesekian kali

Laut-laut makin terbuka

Dibawah langit remadja biru pengap melanda

 

Apakah tjinta tinggal tjinta, kujup

Tanpa kehendak biar sajup?

Berkata tentang diri sendiri

Berkatja dan kembali berlari?

 

Balai malam jang gugup

Mendjadi saksi kita berdua

Terhadap makna dan kata-kata

Jang hidup dalam hidup keras berdegup



 

1955

=TOTO SUDARTO BAHTIAR=

PADA SANGKALA karya : Toto Sudarto Bahtiar

Akan selalu terdengar keluh pandjang terhadapmu

Gangguan jang selalu membatas arwah kami

Akan selalu terdengar kutuk hina terhadapmu

Karena bersekutu dengan jang kami bentji

 

Mana ada sempat, bitjara dengan diri sendiri

Kapan akan terdengar suara djiwa, suara sanubari

Kepunjaanku, kepunjaan mereka bersama

Kami sesak karena djangkauan tanganmu

 

Bila kita terdjebak olehmu

Kami tak sempat memilih kata pisah sebaik-baiknja

Begitu terang djalan jang menudju keruntuhan

Begitu kelam dunia jang kami hadapi

 

Kau tak tahu bagaimana merasakan

Tingkat demi tingkat diatas tangga

Talu-bertalu paku jang menembus tubuh

Apa arti darah dan gairah hidup

 

Seandainja kamu tak ada didunia kami

Kamipun tak tahu dimensi keempat dan djalan

Tapi akan selalu terdengar olehmu

Keluh pandjang dan kutuk jang paling hina



 

1955

=TOTO SUDARTO BAHTIAR=

RIWAJAT karya : Toto Sudarto Bahtiar

Tiang agung tersambar halilintar

patah ditengah-tengah

 

kapitan pingsan diatas peta benua

penuh pahatan darah

 

Kelasi tjuma tarik tali dan pukul tifa

bernjanji: Cherchez la femme, cherchez la femme

 

Kapal masih djauh dari daratan

Kelumit pahit mengganti gema jang hilang

 

Sedjak seputaran hidup kapitan membasuh darah

dan pelabuhan telandjang dihaluan

Gema jang hilang mulai pulang

 

Kelasi tjuma tarik tali dan pukul tifa

terus bernjanji ditimang angin:

Cherchez la femme, cherchez la femme

 

Kapitan memahatkan darah

dipintu pelabuhan pertama dan mendoa:

Cherchez la personnalite, cherchez la personnalite



 

1952

=TOTO SUDARTO BAHTIAR=