Tampilkan postingan dengan label KOMANG IRA PUSPITANINGSIH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KOMANG IRA PUSPITANINGSIH. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Agustus 2015

ZIARAH SUNYI karya : Komang Ira Puspitaningsih

apa kau percaya

malaikat yang melindungiku

adalah arwah kakek nenek

yang lama kurindukan

 

apa kau percaya

peri yang menemaniku

adalah ruh anjing hitam

yang menjaga masa kecil

 

kini aku terdiam

ketika orang-orang tak lagi percaya

pada malaikat, peri-peri

dan kilau sayapnya

 

: aku terbuang




Jogja, 2006

=KOMANG IRA PUSPITANINGSIH=

MALAM NATAL karya : Komang Ira Puspitaningsih

Tiap tiba advent

Aku tanya bintang

: adakah perabuan terakhir

untuk jasadku?

 

Misa dan puasa

tak juga selesai

Lalu orang-orang melantunkan

eleginya sendiri

 

Bayangkan

Perang-perang, yang

lewat sekejap

Peluru-peluru menyayat kulit

tak sengaja

 

Musim mengering, cuaca luka

Bunga-bunga menutup kelopaknya

Meneteskan wangi yang tersisa

dan menguap di udara

Sebelum sampai di tanah yang merah

pasrah karena anyir darah

: adakah perabuan terakhir

untukku?

 

Sedang mayat-mayat

masih pulas tidur

Dengkur tertiup angin yang layu

Dan bisikan bisu

: tak ada lagi tempat

untukmu




Jogja, 2004

=KOMANG IRA PUSPITANINGSIH=

EMPAT BURUNG DALAM DONGENG TIDURMU karya : Komang Ira Puspitaningsih

(1)

Malaikat tersedu

Tiga pendeta sangsi

Berulang menimbang

mawas diri

:adakah kematian

jadi jalan paling suci

meski dosa tak pernah luput

menghampiri diri?

 

Ini harus dilalui

Bukankah tiap kematian

memikul satu kelahiran baru

 

(2)

Kota makin bising

Bukan karena ringkik kuda

Atau rintih sapi

penarik pedati

 

Aku terbangun dalam keramaian

Yang enggan memaknai hari

Dengan menghirup dalam-dalam napas

Kota pun menangisi kematiannya

Tentang musim yang tak pernah jelas

nampak

 

Tulisan-tulisan tak terbaca

Banyak cerita tak diceritakan

Raib di tangan para rahib

Seolah disucikan

Dipenggal arus

waktu ke waktu

Menghanyutkan kata

hingga kuburnya

 

Ladang adalah tempat istirah

Menjelma makam

Penghabisan nama-nama

di hari yang murung

: akankah peri-peri

memberi sihir

yang membuat tanah

jadi hijau?

 

Lalu kembalilah padaku

dari hidup yang teraniaya

Saat bulan gemetar di kejauhan

Setiap cerita

menjelma pulau-pulau kecil

dan laut yang mengitarinya

 

(3)

Langit jernih

Bidadari pagi sibuk

Membunuh satu demi satu bintang

dan kilau murungnya

 

Detik-detik bertalu

diburu biru waktu

Orang-orang menabuh sunyi

 

Lalu pergilah mereka

Empat burung dengan

empat benih padi berwarna

 

(4)

Aturan-aturan tak mesti dipatuhi

Badai mengubahnya lebih indah

dari segala arah angin

Memukul-mukul bebatuan

Dengan tangannya

yang bernama ketiadaan

 

Retaklah batu,

Seperti bulat mata mereka yang pucat

 

Terbanglah kalian

Dara, Kuteh dan Titiran

Terbang jauh dalam mimpi

Sebelum mimpi buruk mengejar

 

Kita yang berpulang

Menjelang malam

Membawa keluh yang selalu sama

 – tentang puisi –

 

Gelegak rindu ingatan

pada lahir kata

Hijau rahim kata-kata

 

(5)

Inilah kami, Dewi

Tiga burung, dan

tiga benih padi berwarna

 

Matahari langsat dengan ronanya

Mungkin tubuh jadi gumpal getir

Dan amis kental darah

meruah

Menggembur tanah

 

Sembunyikan kami

Lewat benih-benih ini, Dewi

Dengan sihir di keempat tanganmu

Biar tualang usai tanpa rupa

 

(6)

Aku gelisah

Dengan tinta yang makin beku

Menuliskan sekian perjalanan

Entah untuk kali yang keberapa

 

Hidup cuma hitam-putih

Kita, bidak-bidak catur

Tercenung

Memikirkan jalan nasib

sendiri-sendiri

 

Lalu padamkan doa

dan ayat-ayat suci

(meski tak selalu sia-sia)

 

Tuhan yang kosong

: adakah Ia

semesta yang selalu hampa?




Jogja, 2007

=KOMANG IRA PUSPITANINGSIH=

Puisi ini terinspirasi kisah dari Bali berjudul “Empat Burung Pembawa Empat Bijih Padi Berwarna”.

SARI GADING, YAJNA SEPASANG NELAYAN karya : Komang Ira Puspitaningsih

I

Cemasku terbit sudah

Ketika kugiring waktu terakhir

sebelum pasir menjeritkan

tangismu yang pertama

(Kecemasan ibu

Yang tak dapat kau lihat

di wajah perempuan mana pun)

 

Aku terdiam

Memandang hampa semesta

dan jagat raya

Karena keheningan

– aku percaya –

adalah teman paling kekal

Ombak yang tenang

adalah pertemuan dingin

di batas nasib

Perjumpaan akrab pesisir

yang dibelai lembut buih

dan tiupan angin

Pergulatan yang menyimpan guruh

Antara pusaran air di dasar laut

dengan pijakan bumi

Saling tahan, saling gerus

Saling beradu kesunyian

 

II

Aku bumi

tak pernah miskin gelisah

Kau langit

tak juga padamkan gundah

Kita sama-sama ringsut

mengadu hidup

dengan patahan kata

 

Segalanya tak bersuara

(kecuali alam yang terus bekerja)

 

Napas sendiri terdengar

serupa sengal anjing yang meronta

dalam ikatan

Degup yang hidup di dada

seolah karang

retak dilebur gelombang

sepanjang malam

 

Lalu lewat udara kita menanya makna

Lewat udara kita susun dongeng

tentang putri kecil

Yang akan dimimpikan anak-anak kecil

di setiap dengkurnya

Dan ranggasan daun-daun kering

di musim hujan

Dengan sendirinya

Menggenapi kisah panjang

yang sesat di lautan

 

Sepanjang umur

Laut tak pernah sempurna, sayangku

Laut yang jernih

tempat kita akan berpulang

 

III

Om, sembah ing anatha tinghalana de tri loka sarana

wahyadhyatmika sembahinghulun i jong tan hana waneh

sang lwir agni sakeng tahen kadi minak sakeng dadi kita

sang saksat metu yan hana wwang amuter tutur pinahayu

 

Takdir tergurat, anakku

Dengan saudara tuamu, sang ari-ari

Kubeli bubur merah putih,

empuk-empuk, pisang saba

sunggar dan sebuah tabung bambu

yang berisi air,

juga sebilah sisir

 

Lalu karena kasih

Kuserahkan ikhlas

Sekecup hidupku,

hidupmu

pada Hyang Agung

dan Dewa Dewi

 

Ini yajna yang tak terganti sepanjang umur

di sisa hari yang murung

Meski tanganku tak bisa mengusap kulitmu

Air susu tak akan tumpah

memerahkan wajah

atau ngalir memasuki jantungmu

Dan mulut tak sempat melantun tembang pucung

juga pesan hidup yang tersirat di kidung suci

untuk pengantar tidurmu

 

IV

Pantai yang keruh

pasir yang lusuh

Kaukah pilu yang menjelma suratan buruk

Aku datang dengan beribu kelu

 

Sari Gading namaku

Perempuan yang lahir sebagai kurban

dan menjelma pohon gebang

yang setia mencumbu bumi

Persembahan bagi kau nelayan, sepertimu

 

Lalu sempurnalah hidupmu

Lanjutkan kembaramu

lewat sepenggal kisah bagi ritus laut

Dengan peninggalanku

(Wasiat tanda sujud pada ayah ibu

yang membuatku mencium aroma pantai)

 

Angkat sauh, layarkan perahu

Haturkan sesaji, dan lafalkan mantra

Biar jiwaku menyambangi kalian

Lewat sebilah harap – meski pengap –




Yogya, 2007

=KOMANG IRA PUSPITANINGSIH=

Puisi ini terinspirasi cerita dari Bali berjudul “Sari Gading”

Catatan:

1.     Yajna (baca: yadnya, bhs sanskerta): persembahan, kurban

2.     Adalah sebuah kidung yang termuat dalam Kekawin Arjunawiwaha, artinya

Om, sembah hamba yang hina semoga dilihat oleh Beliau yang menguasai tiga dunia

Lahir bathin sembah hamba ke hadapan kakiMu tiada lain

Bagaikan api di dalam kayu, bagaikan minyak di dalam santan

Yang akan nyata tampak bila ada orang yang membawa pikiran/pengetahun ke jalan yang benar

3.     Pucung: adalah salah satu jenis tembang di Bali dengan gu laghu 4u – 8u – 6a – 8i – 4u - 8a

MAKAM KECIL karya : Komang Ira Puspitaningsih

Terbaring di sisi

makam kecil, adikku.

 

Aku terbayang pohon natal

Cemara penuh cahaya

dan boneka para serdadu

     tergantung

          terayun bisu

Kertas-kertas emas

Buah-buah kayu

Berdesakan di ranting

 

Terbaring di sisi

dipan mungil, adikku.

 

Aku ingat, mata biru

Rambut putih, wajah peri

Senyum bidadari yang sunyi

 

Kamar tidur kecil, diayun angan

Terbaring di sisi, makam kecil, adikku




Denpasar, 2000

=KOMANG IRA PUSPITANINGSIH=

RUMAH LEBAH karya : Komang Ira Puspitaningsih

Sebab tanda selamat

Selalu bernaung di bawah puisi

Aku ziarah ke rumah lebah

Tempat setiap kata keramat

Redam dan terendam dalam-dalam

 

Bekukan tinta

Karena kata muncul di bibir juga

Mendendang lengang pokok dan cabang

 

Dinding-dinding rebah

Angin telah menerobos rumah

Melewati seribu lubang dan celah-celah

Mengepung lalu menggiring kita

Kepada puisi dan makam kata




Bantul, 2008

=KOMANG IRA PUSPITANINGSIH=

Selasa, 18 Agustus 2015

ULUWATU karya : Komang Ira Puspitaningsih

Embun-embun di tepi daun

menetes pelan

menangis bagai gerimis

akhir senja

 

liar kupu-kupu putih

yang mulai

menyeberangi musim

mengubah senja

jadi malam curam

kupu-kupu putih

sayap-sayap letih

yang kecil

kaki para dedari yang mungil

tercermin pada kaca pecah

seperti langkahmu

mendaki tangga batu

langkah kakimu ringan

seringan kaki kupu-kupu putih

yang menggantung layang

pada bulan

 

tunggulah hingga kupu-kupu

beranak pinak

ranting lalang kering yang murung

jatuh ditelan angin

yang perlahan hilang

hanya bintang remang

 

saat sayup kudengar

rancak tari kecak

dari tebing pantai Uluwatu

dalam damai

yang tak pernah usai




Denpasar, 2001 

=KOMANG IRA PUSPITANINGSIH=

IMPERMANENCE karya : Komang Ira Puspitaningsih

Puisi beterbangan jauh ke langit

Kian tak terjangkau lenganku

Meski warna-warna melambungkan nyawaku

Tanda-tanda kembali menjatuhkan hujan

juga aku

 

Kita selalu menyepi dalam diri

Di kota yang selalu gegas dengan bunyi

Jerat apakah yang tuhan nyatakan untukku

Sesat apakah yang tuhan nyanyikan padaku

 

Ini kotak pandora yang dititipkan Minerva

Peti berukiran cahaya kata-kata

Mantra-mantra luruh menyentuh cahaya

 

Dan puisi

Puisi-puisi pergi menjauh dengan gaduh

Bersama nujuman yang ranum oleh waktu

 

Siapa yang berani menitah kuasa waktu

Bermain-main dengan kesementaraan waktu

 

Tukang tenun yang ditenung itu

Melilitku dengan benang-benang hitam

Menghimpitku tanpa celah arah

Aku tak melihat anak panah

menuju pintu-pintu cahaya

 

Aku menyerah

Sejenak menapaki jalan menuju rumah

Burung-burung menderukan angin

Menderukanmu yang sekarat dan hampir mati

 

Aku membaca perangai riangmu

Mengiangkan igau-igau kesakitan

Di senyum alis matamu

 

Dan aku

Aku tak mampu berlari

Aku tak dapat lagi menjangkau puisi




Jogja, 2012 

=KOMANG IRA PUSPITANINGSIH=

PUISI karya : Komang Ira Puspitaningsih

Menyeberangi sebaris puisi

Seperti melewati sebuah taman

Aku jadi bangku, dan

cahaya matahari

serupa waktu

 

Seseorang akan datang

membaca ulang

Sesat ke ujung malam

Atau menemui terang

fajar terakhir

 

Seseorang akan datang

dan duduk di bangku

Menulis sebuah pesan

Atau membisikkannya perlahan

Bukan kepada angin

tapi pada semesta

 

Puisi mungkin mirip

keluh anjingku

Samar, sekaligus nyata




Denpasar, 2001 

=KOMANG IRA PUSPITANINGSIH=

GANDUM-GANDUM RANUM karya : Komang Ira Puspitaningsih

Apa jadinya

Bila gandum-gandum yang hampir ranum

di ladang

Menangis kesepian

Kaena nyaring bunyi senapan mesin

Karena mayat serdadu tua itu

dilihatnya menganga

 

Sekotak coklat, belum dibagikan

Sebungkus rokok, masih tersegel rapi

Dan setumpuk kartu pos

yang belum sempat dibalas

“Aku belum mau mati.”

 

Kuambil kotak coklat itu

dan kugenggam

Dan segera leleh

Seperti sayap bidadari

yang hilang

jadi sebaris cahaya

 

Anganku terbang

Menggantung,

melayang

Saat anak-anak kecil murung

Menyamar jadi peri kesedihan

jadi peri masa lalu

yang kehilangan bayangan

 

Peri kecil berwajah sedih

Bidadari mungil tak bersayap

Dan cahaya bintang yang murung

Hangus terbakar cuaca,

remuk jadi arang hitam

Seperti lelehan coklat

di tanganku

 

Mayat serdadu tua itu

masih menganga

“Aku letih.

Tapi istirahku belum usai

di pangkal penghabisan.”

 

Apa jadinya

Bila gandum-gandum yang hampir ranum

di ladang

Menangis kesepian

 

Tapi waktu mengingatkanku pada

sebuah tugu batu tanpa nama

Di sisi ladang gandum

kian menguning




Denpasar, 2002

=KOMANG IRA PUSPITANINGSIH= 

KERIKIL BERJATUHAN DARI LANGIT karya : Komang Ira Puspitaningsih

                : tsabit kalam banua

 

Tiba-tiba

Kerikil berjatuhan dari langit

Menjelma hujan yang

membangunkan tidurmu

 

Lalu kau memanjat jendela

Mengintip halaman perlahan

Mengintip hujan, pohon-pohon kedinginan

dan ayunan basah

 

“Bunda, jangan ribut.

Hujannya sedang berubah jadi kerikil.”

Bisikmu dengan mata yang kau sipitkan

Sambil menarik ibumu ke kamar tidur

 

Di luar,

Hujan menghapus malam

Menyesatkan malaikat dalam gelap

Dan bocah kecilku lelap

Dengan kerikil-kerikil berjatuhan

dalam mimpinya




Jogja, 2004-2005 

=KOMANG IRA PUSPITANINGSIH=

KAU BUKAN PERAWAN SUCI YANG TERSEDU karya : Komang Ira Puspitaningsih

: saras

 

Aku tak sedang menyulam

kenangan

Atau menyeberangkanmu

ke musim yang semi

 

Tanamlah jarum sulamku

Menjadi semak berdaun duri

Sebelum bandul pendulum itu

Menjemputmu,

bayanganmu

Menjemput semua yang luput

dari matamu

 

Aku tak sedang memintal tangismu

jadi nasib baik

Roda pemintal telah kuistirahatkan

 

Kau bukan Saraswati

Yang menggugurkan helai-helai teratai

di tangan kirinya

Bukan juga perawan suci

yang tersedu

 

Tuhan tak akan berkata di telingamu

Karena angsa-angsa pergi

Meninggalkan rebab, genitri, dan

keropak meragu, juga

tangkai teratai yang layu




Jogja, 2005 

=KOMANG IRA PUSPITANINGSIH=