Apa jadinya
Bila gandum-gandum yang hampir ranum
di ladang
Menangis kesepian
Kaena nyaring bunyi senapan mesin
Karena mayat serdadu tua itu
dilihatnya menganga
Sekotak coklat, belum dibagikan
Sebungkus rokok, masih tersegel rapi
Dan setumpuk kartu pos
yang belum sempat dibalas
“Aku belum mau mati.”
Kuambil kotak coklat itu
dan kugenggam
Dan segera leleh
Seperti sayap bidadari
yang hilang
jadi sebaris cahaya
Anganku terbang
Menggantung,
melayang
Saat anak-anak kecil murung
Menyamar jadi peri kesedihan
jadi peri masa lalu
yang kehilangan bayangan
Peri kecil berwajah sedih
Bidadari mungil tak bersayap
Dan cahaya bintang yang murung
Hangus terbakar cuaca,
remuk jadi arang hitam
Seperti lelehan coklat
di tanganku
Mayat serdadu tua itu
masih menganga
“Aku letih.
Tapi istirahku belum usai
di pangkal penghabisan.”
Apa jadinya
Bila gandum-gandum yang hampir ranum
di ladang
Menangis kesepian
Tapi waktu mengingatkanku pada
sebuah tugu batu tanpa nama
Di sisi ladang gandum
kian menguning
Denpasar, 2002
=KOMANG IRA PUSPITANINGSIH=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar