Selasa, 25 Agustus 2015

MELINTASI SELAT SUNDA karya : F. Rahardi

Awan comulus hitam

gugusan para kampret

bergerak dalam derap

lagu-lagu mars

Semangat

nyali

harapan-harapan

bahkan impian

semua menggumpal dalam suasana

tegangan tinggi

jutaan volt.

 

Menurut mimpi para kampret itu

pulau Sumatera adalah kampung-kampung kecil

seperti suasana desa Citeureup

pada zaman Hindia Belanda

hutan-hutan masih perawan kencur

dengan burung enggang

macan

ular

dan lapisan serangga

yang tebal di udara

dengan arus yang deras

para kampret tinggal santai

mengangakan mulut

lalu macam-macam serangga gurih

dan empuk itu

mengalir lancar masuk mulut

lalu tinggal menelan begitu saja

tak perlu ada usaha

tak perlu ada kerja

semua sudah tersedia

lengkap dan alami.

Sumatera adalah Eden

yang nyaman dan abadi

dan pernah ditinggali

nenek moyang manusia

Adam dan Hawa

 

Gugusan comulus kampret itu

melintas di atas Cilegon

di Barat sana tampak comulus beneran.

 

“Itu Selat Sunda

kalau selat itu kita seberangi

sampailah sudah kita di Sumatera

mari kita nyanyi teman-teman.”

“Hidup Sumatera, hidup Sumatera.”

“Gua yang besar dan adem

di atas bukit-bukit kapur

dengan Tobing-Tobing

yang Manurung

penuh Pohan-Pohan

yang Singarimbun

Parangin-angin bertiup Sitorus

ke arah Hutabarat

ada Rajagugguk

ada Sinaga

Itulah Sumatera

Hidup Sumatera.”

 

Syahdan

gunung Anak Krakatau

yang mungil dan nongol

di selat Sunda itu

tampak lagi rewel

dia batuk-batuk

menyemburkan pasir-pasir pijar

pemandangan bagus sekali

dari kejauhan para kampret

terkagum-kagum

 

“Apa itu kawan?

Kok seperti kembang api di saat lebaran

Apa itu tungku pandai besi tukang bikin golok?”

“Bukan kawan

itu gunung api lagi meletus

itu berbahaya

kita mesti menjauhinya.”

“Ya kita agak ke arah utara saja.”

Gugusan kampret itu pun memutar haluan

agak ke arah utara

di atas pelabuhan Merak

awan Comulus beneran makin tebal

kapal-kapal merapat di dermaga

perahu-perahu nelayan ngumpet

di balik teluk.

 

“Kok cuaca begini jelek

Teman-teman?”

“Ya kita agak turun saja

sekalian sarapan serangga laut.”

“Mana ada serangga laut?”

“Tapi ini memang musim barat.”

“Ya, tapi kita harus terus.”

Gugusan kampret itu pun

nekad nyemplung menyeberangi

selat Sunda

yang sedang kumat sangarnya.

Pada saat itu

kebetulan Nyai Roro Kidul

yang menguasai Laut Selatan

sedang mengirim anak cucunya

para jin dan peri parahyangan

untuk mengaduk-aduk Selat Sunda

anak Krakatau juga makin ngambek

berton-ton pasir dan kerikil

dan uap panas disemprotkannya ke langit

para kampret oleng

angin

petir

badai

ledakan Krakatau

menghajar gugusan kampret itu

jadi cerai berai

ada yang langsung nyungsep lalu

dicaplok hiu

ada yang diangkat sampai

ketinggian 10 ribu meter

lalu dijatuhkan di Lebak

banyak juga yang dibanting-banting

sampai remuk

lalu sekalian digiling dan

ditaburkan di ladang-ladang singkong

di Lampung sebagai pupuk organik

hanya sebagian kecil saja dari rombongan itu

yang dapat selamat

dan berhasil menepi di daratan Sumatera.

 



=F. RAHARDI=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar