Tampilkan postingan dengan label DEDISYAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DEDISYAH. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Agustus 2015

MAKNA PADA FANA karya : Dedisyah

Begitulah,

matahari mencipta fatamorgana,

dengan alam memutuskan takdir kita.

Bukan soal menang atau kalah,

tetapi bahwa hidup telah diberi makna,

sebelum akhirnya

terjungkal dalam jurang fana.



 

Salemba Tengah, 17 Agustus 2005

=DEDISYAH=

LINGKARAN DI BAWAH POHON PERTEMUAN karya : Dedisyah

Zappa. Zappa.

Di bawah naungan

pohon pertemuan,

duduk bersama di lingkaran

Menghayati napas

dan tulang punggung.

Menyadari diri sendiri,

menyapa diri sendiri,

berdiam dalam sendiri.

 

Tubuh-tubuh telanjang

memasuki alam.

Membebaskan tubuh

dari bingkai-bingkai pikiran.

Marilah mulai bergumam

dan ziarah ke masa silam.

Maka, terbukalah sayap-sayap malam

mengangkat sukma

anak-anak muda

ke udara.

 

Ya, memang

sekujur tanah ini telah banyak kenangan,

namun juga banyak dendam.

Ada wajah-wajah nenek moyang

hanyut terbawa sungai ke samodra;

Kartini berkirim surat gugatan

ke negeri Belanda

Arok menyelinap di antara pohon pisang

bersiap mengancam kemapanan

Pakodato di atas vintas,

menaklukkan ombak samodra Hindia.

Sedang di sini suatu ketika;

selembar kondom tergencet roda mobil mewah

berplat warna merah

 

Dan memang,

wajah-wajah terus saja berubah,

sebab pikiran,

erat bertaut dengan keadaan.

Aliran sungai yang sama

mustahil kembali dijumpa.

Generasi-generasi pendahulu

segera diganti generasi-generasi baru.

Jaman bergerak,

terus bergerak.

Jaman berjuang,

melahirkan generasi pejuang,

Jaman damai,

melahirkan generasi lunglai.

 

Zappa. Zappa.

Hari-hari kuliah,

dalam ruangan penuh ceramah.

Menghafal diktat-diktat purba.

Praktikum

dan laboratorium.

Ujian akhir

dan tengah semester.

Peraturan

dan tekanan dosen.

Tawa dan bicara basa-basi,

wajah-wajah tanpa ekspresi.

Total jenderal,

kopi dan tebu,

hasil program tanampaksa pendidikan.

 

Ayolah,

berlatih menggerakkan jiwa!

Saatnya sekarang, Antigone

Plato, Sokrates, Aristoteles

Pushkin,

satelit,

sembelit politik,

pergerakan alam,

perkemahan kaum urakan,

atau apa saja tentang kehidupan.

 

Asing terhadap diri sendiri,

terjerembab ke dalam lubang anarki,

lantas membrengsek keadaan atas nama protes,

sambil membakar ban bekas.

Menjadi penimbun bensin dan beras.

Aparat yang biasa korupsi.

Mafia di belakang kerusuhan dan demonstrasi.

Teroris yang meledakkan kepala saudaranya sendiri.

Atau pemimpin yang lebih percaya diri

dengan hutang luar negeri,

daripada bertumpu daya sendiri.

 

Hidup tanpa dasar kehidupan

dan bertumpu atas nilai pasar

adalah hidup tanpa akar.

Aturan utamanya

ialah mencuri selisih,

atau menumpuk barang di gudang.

Karena ilmu ekonomi

diterjemahkan sebagai ilmu efisiensi dan monopoli,

bukan ilmu saling mencukupi.

Keluhuran teori,

tanpa dilandasi semangat implementasi

adalah masturbasi.

Sama halnya,

membangun landasan etika dan moral

di bawah pedoman lagu rock n roll.

 

Seorang anak muda linglung

tak tahu apa mesti diperbuat,

bagaimana berbuat,

dan mengapa.

Dengan bangga nerocos bicara

tanpa paham ujung-pangkalnya.

Menerima kemapanan sebagaimana adanya

tanpa suka bertanya perlu dan manfaatnya.

Bahkan, dengan wajah yang bego

berusaha sembunyi dari tanggung jawab.

Lantas hendak menjawab apa?

Bukankah tanggung jawab

adalah kewajaran dalam hidup?

Bukankah hidup kehilangan arti

tanpa keluhuran hidup itu sendiri?

Yakni, apabila seorang manusia,

telah menunaikan

tanggung jawab kehidupannya,

atau memperjuangkan sikapnya

dalam suka maupun duka.

Jika ada sejumput niat baik,

sisa sejumput itulah

yang harus dipertahankan.

Sebenar-benarnya,

tak ada yang istimewa

karena itu adalah hal yang sudah biasa,

bagi manusia fana;

sangat-sangat-sangat biasa.

Jadi mengapa enggan

duduk dalam keheningan?

Sikap ragu-ragu,

akan membelenggu kesadaran,

untuk mengolah kemungkinan-kemungkinan.

Dan rupanya,

kesadaran benar-benar

sudah menjadi patung batu

dan candi-candi masa lalu.

Ya. Ya.

Patung batu semakin kukuh,

candi-candi tertutup lumut,

dan rumpun ilalang sudah tumbuh.

 

Hening malam

bertiup angin.

Anginnya kelam

menyusut bathin.

 

………………………..

Apakah kita generasi kemudian

yang termangu di halte-halte pemberhentian?

Lampu,

listrik,

atom,

matematika,

astronomi,

obat-obatan,

dan apakah yang sudah kita sumbangkan

kepada umat kehidupan?

 

Ada kurasakan

satu elektron berputar-putar

pergi meninggalkan atomnya.

Alam semesta terbentang,

seluas mata memandang;

kedua tangannya terbuka,

lebar-lebar,

lalu ia bergumam: zappa, zappa.

Tubuh-tubuh telanjang

memasuki pelukannya.

Sayup-sayup terdengar suara serangga

di pedalaman hutan Kalimantan,

pohon-pohon tumbang,

deru pesawat terbang,

gemerisik kabut dari langit,

lumba-lumba di permukaan laut,

raung sirine,

suara doa-doa dari surau,

Arok berbisik

vintas Pakodato menderit,

sobekan kertas surat Kartini,

aroma rempah,

bau limbah di permukaan kali,

bau lumut,

asap knalpot,

 

dan sebentuk rembulan bulat

di atas puncak menara.



 

Jagakarsa, November 2006

=DEDISYAH=

HUJAN DATANG karya : Dedisyah

Hujan datang,

daun-daun trembesi melayang.

Hujan datang,

membasuh jiwaku telanjang.

 

Orang-orang tua,

menjaring jejak-jejak masa muda.

Wajah merayap tegang,

hati gatal oleh buluh ilalang.

Hari itu,

aku lihat wajahmu

muncul dari balik asap tembakau.

Perlahan menjauh dan menjauh,

mengabur lalu jauh,

melesap,

meruap lenyap.

Njelma gagak hitam,

meloncat ke dalam kereta senja,

menempuh Solo ketika malam.

Dan aku memandang saja.

Hanya memandang saja

 

Duhai,

tak tahukah kamu,

suara kesedihan hatiku

adalah suara serangga ketika malam tiba?

Aku ngumpet di Yogyakarta

berusaha melupakanmu.

Namun terus saja wajahmu

memburu dan memburu.

Kupacu tuju,

dalam aral waktu,

melimpah dosa dalam saku,

namun begitu mudah terpikat

dalam satu pertemuan singkat.

 

Hujan datang

wajahmu dan wajahku melayang.

Hujan datang,

sukmamu dan sukmaku telanjang,

lenyap dalam udara fana



 

Salemba Tengah, Januari 2006

=DEDISYAH=

SUARA DUKA karya : Dedisyah

Bahkan terang tanah baru tiba

ketika sejuta bunga kemboja

mengapung di udara.

Satu demi satu kelopaknya terbuka.

Duka segala duka,

berhimpun di hati manusia,

dalam mata terpejam

datang tanpa peringatan

Sesayup-sayup angin gaib menyanyi,

membawamu pergi tinggi.

Duhai, Alwasi!

Debu bertimbun-timbun

kembali kepada bumi



 

Salemba Tengah, 27 Mei 2006

=DEDISYAH=

(Peluk terakhir bagi Nenekda tercinta)