Tampilkan postingan dengan label DIMAS ARIKA MIHARDJA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DIMAS ARIKA MIHARDJA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 September 2015

MEMBANGUN MALAM karya : Dimas Arika Mihardja

00:00 detik membangunkan kesadaran
air mengucur dri selang kehidupan
membasah segala yang kubasuh
memercik debudebu hanyut ke selokan waktu

01:00 detak berloncatan di dada luka
kubalut luka sujud usai tahajud
air kehidupn deras mengalir di danau hati
tiktok-Nya berdenyut di dinding, berdenting
dan berdentang mengiring suara gemuruh menuju danau
mengalir dan menyihir lalu mencair di dermaga
tempat sampan dan harapanku tertambat

o, aku bangun malammalam penuh keintiman
mengurai makna dan magma cinta
sebelum pada akhirnya matahari bangun oleh kicau burung
dan nafas lafaz tandas di gelas bening
yang mendentingkan keharuan



 

bengkel puisi swadaya mandiri, 7 mei 2011

=DIMAS ARIKA MIHARDJA=

IBU PEREMPUAN YANG MENEMU karya : Dimas Arika Mihardja

~ milad ke-71 penyair diah hadaning


di teratak ini, pilarpilar menyangga atap
menampung hujan kerinduan saling berdekapan
bunga bakung menyumbulkan kelopak putih
di tepian telaga warna dan emprit gantil hinggap di dahan kantil
prenjak pun memanggilmanggil sepenuh gigil

aku, perempuan yang menemu sejatinya rindu
yang rindang; telah kuronce kembang tujuh rupa
pada musim pancaroba; rabalah dada cintaku
ciumlah punggung tanganku: aroma senja kian menyata
menyatu di pokok pohon gondosuli

panggil namaku mei, bulan ontranontran telah kukandung
bersama melarutnya embun; telah kudulang emas intan berlian
berkilauan dari cahaya batinku




bengkel puisi swadaya mandiri, 4 mei 2011

=DIMAS ARIKA MIHARDJA=

GAYO, YO AYO karya : Dimas Arika Mihardja

Gayo, yo ayo humpimpah hum

menghirup secangkir kopi pagi
aku menangkup dan menangkap wajah sejarah
jalan yang terentang memanjang, menjangkau pulau-pulau

Gayo, yo ayo humpimpah hum
aroma kopi mengepulkan tarian saman
yo iya iyo Gayo Gayo gayung telah bersambut
menarikan rentak zaman ke penjuru dunia

Gayo, yo iya iyo humpimpah ya allah
hidup dan mati ada di cangkir puisi
yo iya iyo Gayo! Gayo! tarikan lagi irama kopi
bernuansa salsa dan dansadansi
sampai pagi




(bengkel puisi swadaya mandiri, desember 2012)

=DIMAS ARIKA MIHARDJA=

BINCANG PAGI DI KEDAI KUPI BEUNGOH karya : Dimas Arika Mihardja

pagi. mentari mereguk kupi di atjeh tv
kemalawati dan helmi merintis jalan di depan
djazlam dan dam diam di belakang
jalan tak lelah meriwayatkan sisasisa tsunami
teraduk di secangkir kupi beungoh

penjaga warung masih mengenakan sarung
sisa doa bergetar di sudut bibirnya
aku mereguk senyum perempuan berjilbab
menunjukkan telunjuk ke jalan ziarah menuju jazirah

di kedai ini semuanya mencair
dan ngalir
di kedai ini iklaniklan berenang tenang
melahap setumpuk hasrat:
saling dekap!




=DIMAS ARIKA MIHARDJA=

DHAPU KUPI karya : Dimas Arika Mihardja

di dapur, ibu menyeduh kopi ulee kareng dan kopi murni
uap dan asapnya mengepulkan harap
dan nikmat; lalu di cangkir yang terhidang di meja itu
mengapung seraut wajah bocah hitam manis
dalam senyum yang ranum

inikah anakku? begitukah kehendakmu?
pada asap dan aroma kopi yang kureguk
terasa ada sesuatu yang menikmatkan
kuharap sendok demi sendok yang kuaduk
mencairkan segala doa dan harap

dalam cangkir kopi
di genang kenangan bersama prasetyo
segala rasa berenang ke tepian ranjang waktu
ada pusaran dan gelombang
lalu kembali erat berdekapan




Hotel Jeumpa Banda Aceh, 24 Desember 2010

=DIMAS ARIKA MIHARDJA=

SALAM JEUMPA, IBU karya : Dimas Arika Mihardja

sayap kataku sepagi ini kembali melangit
di serambi mekah. mekarlah kerinduan yang rindang
terhidang di bandara sultan iskandar muda
merayap di ruang hotel jeumpa
mencair di dhapukupi

kulihat senyummu netes bersama kuah mie
di antara kepiting rebus, tempe dan tahu
yang kautahu semua itu adalah pendar doaku

salam jeumpa ibu
aku telah menjadi gerakan anak merdeka [gam]
dan diamdiam terus menampung getar kerinduan
sepagi ini, ibu, aku bersua dengan suarasuara
dan makna mengendap di luas sajadah membasah




Hotel  Jeumpa, kamar 203

=DIMAS ARIKA MIHARDJA=

SAJAK IBU PERTIWI karya : Dimas Arika Mihardja

 

“kulihat ibu pertiwi

 

sedang berduka hati ….”

 

dadanya diguncang gempa

 

hatinya dilanda tsunami

 

 

“kulihat ibu pertiwi

 

sedang berduka hati ….

 

gempaNya mengguncang dada

 

tsunamiNya melanda hati

 

 

“kulihat ibu pertiwi

 

sedang berduka hati ….”

 

dada gempaNya mengguncang sesiapa

 

hati tsunamiNya melanda apa saja

 

 

“kulihat ibu pertiwi

 

sedang berduka hati ….”

 

Indonesia bau, begitu kita berseru

 

Indonesia baru, berseteru melulu

 

 

“kulihat ibu pertiwi

 

sedang berduka hati …. “

 

bau Indonesia berseruseru

 

baru Indonesia begitu sendu

 

 

“kulihat ibu pertiwi

 

Sedang berduka hati …. “


 

 

Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, 2005

=DIMAS ARIKA MIHARDJA=

BALLADA MUSYAFIR GILA karya : Dimas Arika Mihardja

ada musafir gila

berjalan sepanjang lorong kumuh

memimpikan denyut kehidupan:

puisi penuh keindahan

 

lihatlah, mantelnya kuyup oleh keringat semangat

padahal mentari di langit begitu menyengat

ia rebah di sofa merah

angin bangkit dan mengusik dengan kerisiknya

ia menyusun lembarlembar hatinya yang remuk

dan menatap tumpahan tinta hitam di lantai rumah

ia terbatuk dan terantuk

tapi gelegaknya berkata serak:

beri aku tuak sajak

 

hari ini kubuka paket berisi 142 penyair menuju bulan

jaketmu berlumuran darah kata

nafasmu tersengal, tapi kulihat tangan terkepal:

ajal, aku tak mau melayat langit


 

 

bengkel puisi swadaya mandiri, 2007-04-02

=DIMAS ARIKA MIHARDJA=

SEMATA CAHAYA karya : Dimas Arika Mihardja

menit meniti malam, kau berbisik pelan "tulis puisi untuk aku!" 

lalu jemari puisi pun menari di cerlang cahaya 

aku sungguh silau dan terpukau oleh kilau mata merindu

pada telapak tangan kurasakan denyut hidup

dan rembulan purnamakan doa-doa semesta)

 

 

Dalam gemilang bulan penuh cahaya

jemari menggelinjang sendiri:

menggelepar ditampar misteri Ilahi

Seperti baling-baling berputar

sejarah kembali mendaur ulang ibadah hingga sajadah pun

basah oleh kilau cahaya

 

Setiap kali berkaca pada bening hati kurasa

dinding-dinding hati bercahaya

baling-baling iman bercahaya

ranting-ranting doa bercahaya

Aku tak kuasa berkata-kata

tapi terasa lidahku cahaya

Bibirku cahaya. Mataku cahaya.

Pikirku cahaya. Rasaku cahaya.

Jiwaku cahaya. Dinding hatiku cahaya.

Keping rinduku cahaya. Lengking cintaku cahaya!

 

Ya, Allah pencipta bulan penuh cahaya

Akankah Kaupelihara lidah cahaya ini, bibir cahaya ini,

mata cahaya ini, pikir cahaya ini, rasa cahaya ini

jiwa cahaya ini?

Dari hari ke hari kususun batu-batu iman

hingga dinding-dinding hatiku cahaya.

Dari detik ke menit kususun remah kangenku

hingga keping rinduku cahaya.

Dari diri berlepotan dosa ini kupekikkan rasa cintaku

hingga lengking asmaraku cahaya.

 

Di relung bulan penuh cahaya ini, ya Ilahi Robbi,

aku saksikan ayat-ayat yang terpahat pada kitab bercahaya

Segala makrifat bercahaya

Segala isyarat bercahaya

Aku pun mandi cahaya

Dalam cahaya benderang kian tampak batin ini berjamur

Kalbu ini dilekati benalu.

Jasad ini berlepotan debu

Darah mengalirkan nafsu

 

Bulan penuh cahaya

membongkar kenyataan-kenyataan yang sangat menyakitkan:

rinduku pada-Mu begitu mudah dipermainkan angin lalu

cintaku pada-Mu serasa tak lahir dari rahim Iradat-Mu

jiwa ini La Ilaha Ilallah fanafanafanafanafana terasa

raga ini berlepotan noda.

 

Ya, Allah

jangan Kausiksa aku dengan cahaya benderang menyilaukan

Aku tak sanggup menyangga mata yang liar tak terkendali.

Aku tak sanggup menyangga lidah yang menyebar fitnah;

Aku tak sanggup mengolah alam pikir dan dzikir atas ridha-Mu

rasa dan jiwa berhiaskan pengharapan semu

Sugguh, aku tersiksa oleh terang cahaya-Mu!

 

Cahaya benderang-Mu, ya Allah,

telah mempermalukan aku.

Seperti Chairil Anwar, “ Aku hilang bentuk remuk”

“Aku mengembara di negeri asing”

tapi sayang, “Aku tak bisa berpaling”

 

Ya, Allah, rasanya aku tak layak berfatwa

seperti Rabiah Al-Adawiyah yang dengan sikap rendah hati,

tulus dan tanpa pamrih dalam doanya meminta :

”Jika aku berdoa mengharapkan terbukanya pintu sorga, ya Allah

maka masukkanlah aku di liang neraka hingga neraka penuh oleh dosa-dosaku

dengan begitu orang-orang lain leluasa dapat masuk ke dalam sorga.”

 

kini aku benar-benar menggelinjang sendiri

Sendiri dipanggang api cahaya-Mu

abadi mendekap luka-luka ini



 

Bengkel Puisi Swadaya Mandiri 9/6/2010

 =DIMAS ARIKA MIHARDJA=

WAJAH IBU karya : Dimas Arika Mihardja

pepohon rindang daun adalah engkau, ibu

tak lelah mengairi dan mengalirkan embun di musim kemarau

engkaulah, wajah yang bukan sekedar wajah

semata tengadah pada buaian rindu

 

telaga warna adalah wajahmu, ibu

merenda kenangan menyulam riak

dan ombak kasih sayang. Engkau ngalir

dalam nadi menjadi energi mewarnai pelangi

 

dengan persinggahan adalah juga wajahmu, ibu

sebuah tikar kesabaran tergelar

di altar persembahan

 

ibu ialah laut biru

di luas hatiku


 

 

Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, Jambi 2010

=DIMAS ARIKA MIHARDJA=

SERAUT WAJAH karya : Dimas Arika Mihardja

seraut wajah, tengadah

ke langit. matanya ialah kejora

bibirnya rekah delima

suaranya desah dari lembah

 

seraut wajah, merunduk ke bumi

hatinya ialah sungai, perasaannya gelora samodera

suara batinnya semerbak melati

damba dan pintanya: sorga

 

seraut wajah, diabadikan sejarah

diabdikan pada cinta merekah

seraut wajah, pasrah

sajadah menghitam basah


 

 

Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, Jambi 2010

=DIMAS ARIKA MIHARDJA=

DZIKIR karya : Dimas Arika Mihardja

 

kueja makna katanya

penuh damba

 

siasia sembunyikan

air mata

duka dihadapan-nya

mahasempurna


 

 

1993

=DIMAS ARIKA MIHARDJA=

Sabtu, 19 September 2015

PASAR ANGSO DUO karya : Dimas Arika Mihardja

harga cabe naik

harga diri turun

turun naik sampan

merapat di tanggo rajo

 

 

Agustus, 2010

=DIMAS ARIKA MIHARDJA=

MENGUAK MIMPI 2 karya : Dimas Arika Mihardja

selamat pagi—kata sekeping hati
pagi, ratap nurani. sendiri
aku berselimut kabut. lalu
ada suara—entah dari belahan jiwa mana
berdegup di dada luka:

dimas, berkeramaslah
bergegas menggelar sajadah
pasrah; ikuti geletar darah
takuti petaka berdarah
cabuti jiwa rekah

arika, keranda tersedia
untuk kaubawa berkendara
tertawalah memapah resah-resah
tertawalah selebar sajadah
kau mesti hijrah. hijrah

mihardja, kau dekap kamboja
aromanya menghias makam-makam
keramat. bersiapkanjadi mempelai
merambah kehidupan abadi
sebab mimpi telah dilunaskan
janji telah dikatamkan
dan puisi telah dimakamkan




Sungaiputri, 930923

=DIMAS ARIKA MIHARDJA=

MENGUAK MIMPI 1 karya : Dimas Arika Mihardja

engkau datang serupa bayang
mengeram dalam tilam kelam
kelambu tidur-jagaku
lalu angin nyeret rahasia-mu

engkaulah bayang itu
mengusik tidur-jagaku 
tiap waktu luput mengusap wajah-mu
dalam bayang rindu
kuseru cuaca berdebu

engkaulah bayang itu
mengetuk-ngetuk rasa kantuk
lalu dentam rebana bertalu-talu
di hatiku yang merindu




Kota Beradat, 930923

=DIMAS ARIKA MIHARDJA=

CATATAN MUSIM LUKA karya : Dimas Arika Mihardja

Di lemari besi kusimpan kata
Sebab kata kata berdarah
Tumbuh sepanjang lembah

Kusimpan kata kata luka
Dalam dada dalam peta dalam tahta
Dalam kedalaman rasa



1993

=DIMAS ARIKA MIHARDJA=

GOLGOTA karya : Dimas Arika Mihardja

kaupalungkan luka
menganga di dada 
di kepala mahkota duri 
memberi arti cinta
kasih seputih melati


1992/1993

=DIMAS ARIKA MIHARDJA=

QASIDAH CINTA SEMATA karya : Dimas Arika Mihardja

kulidahkan bahasa sajadah
bagi sang guru batinku

aku datang mendekap mesjid
menguntai wirid

sajadah basah
airmata semata

kupadamkan api benci di hati
kupadamkan

kupahamkan api sufi di hati
kupahamkan

kusahamkan iman di hati
kusahamkan

kumakamkan dendam di hati
kumakamkan

rebana bertalu-talu menghalau risau
rebana berdentam-dentam menikam dendam

engkau sungguh maha pualam
tak pernah diam




Sungaiputri, 1993

=DIMAS ARIKA MIHARDJA=

SKETSA SENJA 1 karya : Dimas Arika Mihardja

pada figura berdinding kaca
cakrawala langit mencumbu laut biru
debar-debar waktu
langkah satu-satu:
menuju pangkuan-mu

haluan hidup mana belum kukecup?
padang perburuan mana belum kusinggahi?

kuselami kuala hatiku sendiri
dan terasa pedang aliflammim
mengiris-iris gelisah rasa




Telanaipura, 1993

=DIMAS ARIKA MIHARDJA=

LEBARAN karya : Dimas Arika Mihardja

rendang dihidang
hati dicincang
airmata berlinang



1993/1913 H

=DIMAS ARIKA MIHARDJA=