Kamis, 24 September 2015

SEMATA CAHAYA karya : Dimas Arika Mihardja

menit meniti malam, kau berbisik pelan "tulis puisi untuk aku!" 

lalu jemari puisi pun menari di cerlang cahaya 

aku sungguh silau dan terpukau oleh kilau mata merindu

pada telapak tangan kurasakan denyut hidup

dan rembulan purnamakan doa-doa semesta)

 

 

Dalam gemilang bulan penuh cahaya

jemari menggelinjang sendiri:

menggelepar ditampar misteri Ilahi

Seperti baling-baling berputar

sejarah kembali mendaur ulang ibadah hingga sajadah pun

basah oleh kilau cahaya

 

Setiap kali berkaca pada bening hati kurasa

dinding-dinding hati bercahaya

baling-baling iman bercahaya

ranting-ranting doa bercahaya

Aku tak kuasa berkata-kata

tapi terasa lidahku cahaya

Bibirku cahaya. Mataku cahaya.

Pikirku cahaya. Rasaku cahaya.

Jiwaku cahaya. Dinding hatiku cahaya.

Keping rinduku cahaya. Lengking cintaku cahaya!

 

Ya, Allah pencipta bulan penuh cahaya

Akankah Kaupelihara lidah cahaya ini, bibir cahaya ini,

mata cahaya ini, pikir cahaya ini, rasa cahaya ini

jiwa cahaya ini?

Dari hari ke hari kususun batu-batu iman

hingga dinding-dinding hatiku cahaya.

Dari detik ke menit kususun remah kangenku

hingga keping rinduku cahaya.

Dari diri berlepotan dosa ini kupekikkan rasa cintaku

hingga lengking asmaraku cahaya.

 

Di relung bulan penuh cahaya ini, ya Ilahi Robbi,

aku saksikan ayat-ayat yang terpahat pada kitab bercahaya

Segala makrifat bercahaya

Segala isyarat bercahaya

Aku pun mandi cahaya

Dalam cahaya benderang kian tampak batin ini berjamur

Kalbu ini dilekati benalu.

Jasad ini berlepotan debu

Darah mengalirkan nafsu

 

Bulan penuh cahaya

membongkar kenyataan-kenyataan yang sangat menyakitkan:

rinduku pada-Mu begitu mudah dipermainkan angin lalu

cintaku pada-Mu serasa tak lahir dari rahim Iradat-Mu

jiwa ini La Ilaha Ilallah fanafanafanafanafana terasa

raga ini berlepotan noda.

 

Ya, Allah

jangan Kausiksa aku dengan cahaya benderang menyilaukan

Aku tak sanggup menyangga mata yang liar tak terkendali.

Aku tak sanggup menyangga lidah yang menyebar fitnah;

Aku tak sanggup mengolah alam pikir dan dzikir atas ridha-Mu

rasa dan jiwa berhiaskan pengharapan semu

Sugguh, aku tersiksa oleh terang cahaya-Mu!

 

Cahaya benderang-Mu, ya Allah,

telah mempermalukan aku.

Seperti Chairil Anwar, “ Aku hilang bentuk remuk”

“Aku mengembara di negeri asing”

tapi sayang, “Aku tak bisa berpaling”

 

Ya, Allah, rasanya aku tak layak berfatwa

seperti Rabiah Al-Adawiyah yang dengan sikap rendah hati,

tulus dan tanpa pamrih dalam doanya meminta :

”Jika aku berdoa mengharapkan terbukanya pintu sorga, ya Allah

maka masukkanlah aku di liang neraka hingga neraka penuh oleh dosa-dosaku

dengan begitu orang-orang lain leluasa dapat masuk ke dalam sorga.”

 

kini aku benar-benar menggelinjang sendiri

Sendiri dipanggang api cahaya-Mu

abadi mendekap luka-luka ini



 

Bengkel Puisi Swadaya Mandiri 9/6/2010

 =DIMAS ARIKA MIHARDJA=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar