Tampilkan postingan dengan label ESHA TEGAR PUTRA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ESHA TEGAR PUTRA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Agustus 2015

PENARI PIRING karya sha Tegar Putra

berulang kali diri membilang bunyi piring diketuk kulit damar

saluang ditiup pula oleh para penghela dendang. di mana rahasia

kejadian lama disurukkan? di salempang induk beras, di kopiah

tuan kopi, atau di saku baju para penggetah burung rimba?

 

dan masih suara piring diketuk kulit damar, tingkah-bertingkah

dendang tanjung sani dinyanyikan. tapi alamat diri tetap hilang

terbuang di panjangnya jalan. jalan yang bertarian dua badan

nan dipisah antara rantau dan kampung. apakah itu

bayangan laut tempat pecahan piring diserakkan?



 

Kandangpadati, 2008

=ESHA TEGAR PUTRA=

SETUSUK SAJAK karya : Esha Tegar Putra

aku akan datang padamu, sebagai pemikat balam, atau

sebagai pemanggul kayu hutan yang senantiasa berdiri setia

di belakang guyuran hujan. meski waktu berlalu serupa

nasib yang gagal menyusun kusutnya benang kenangan

aku akan tiba padamu menyerupai bentuk kayu, batu

atau sayap kecil yang baru ditumbuhi bulu

 

kuberikan bahasa, sebagai pengirim pesan yang berkabar

lewat bunyian. kuberikan makna, agar kau selalu tahu

hendak ke mana jalur angin mengantarkan basah air

yang hilang dari gerai rambut panjangmu

 

barangkali kau akan hafal sudut kecil dari lukisan abadi

yang setiap saat selalu kukuaskan padamu. “si pemikat balam

atau si pemanggul kayu hutan. lihatlah, agar suatu kali kau

sadar bahwasanya apa yang telah dibenamkan waktu, sulit

untuk dihela kembali.”

maknailah. aku sendiri tak tahu, apa harus saat ini datang

jalan ini terlalu lapang. sebagai apakah aku harus menemuimu?



 

2008

=ESHA TEGAR PUTRA=

GAUNG DI BADAN karya : Esha Tegar Putra

sekiranya suara itu tak menggaung dalam badanku

suara yang himbau-menghimbau, menjagakan tidur

bahkan membuat geletar di lamunanku – geletar emak

yang menyauk gelegak air nasi, tersebab tangisku

lengking di kering air dadanya – takkan jadi ini puisi

 

bukankah aku tualang di tajam lidah hikayat berpisau

mematah risau yang memucuk tumbuh cerita baru?

kuraut batang bermiang, rindu berkasih. juga tubuh

berminyak air ini kugulai sebagai hidangan, peneman

para tuan dan nona di lepau, sambil bergelak-tawa

aku tak bersilat lidah di nasibku yang tidak

cuma merindu, tentang kampung, lalu lalang

orang orang bingung di jejalanan, koridor dan

ruang kelas. di mana percakapan mengenai waktu

selalu digenangi kopi dan keripik ubi

 

sekiranya suara tak menggaung dalam badanku

puisi tak akan mau berkekasih



 

Kandangpadati, 2007

=ESHA TEGAR PUTRA=

SELEPAS BERTEMU karya : Esha Tegar Putra

kau lepas lembah arau kau lepas lembah anai

ingatanmu gumpal di lekuk tebing di landai pantai

 

*

kami lepas lambai kau ingatlah panjang jalan

sajak harum bakal orang mencium titip di tiap kelokan

dan bunyi saluang dan tuah dendang bawalah

agar kau ingat pada ranah tempat raja pernah bertitah

 

*

di bukit jirek nan penuh jejak sepatu orang-orang bersenapan

kau ceritakan muasal sakit nasi kapau dalam tiap suapan

 

kami lepas lambai kau ingatlah panjang jalan

tentang tuan yang merebus daun kopi agar dibiarkan

 

dan bunyi ketipak terompak kuda penarik bendi

suatu kali bakal jadi gaungan lindap dalam setiap diri

 

*

agar kau nikmat agar kita bersua di lain masa

simpan dulu pandangan lama lepas dulu kedipan mata

isyarat pecah bulan dan terserak di batang kuranji

 

kulantunkan itu dendang agar kau tak memutus tali

kami lepas lambai kau ingatlah panjang jalan

dari penyeberangan bakal tersiar kabar persuaan

 

dan melupa dulu melupalah dulu tiap kelokan yang diingat

biar mengurung itu rindu lalu jadi buncah yang teramat



 

Kandangpadati, 2008

=ESHA TEGAR PUTRA=

TIDUR TANAH karya : Esha Tegar Putra

semalamam kuurai cara pucuk daun tersumbul

untukmu. lewat puisi yang gemetar berucap aksara.

kelak, di sesak kamar yang tak berjendela ini

seketika lafalanku fasih

tentang akar sampai pucuk batang

kan kubentangkan tubuh rimba

dengan aroma daun dingin

di tidur tanahmu yang padat



 

Padang, 2007

=ESHA TEGAR PUTRA=

DURI DALAM KOPI karya : Esha Tegar Putra

masokhis. sebut aku duri dan kau akan menemukanku

sebagai lelaki tanpa mata hati, lelaki di gulungan ombak

lelaki yang berseluncur lewat matamu. sebab hari telah

lain, sayang, rinai telah membenamkan pulau-pulau kita

dan kau berdayung dalam diri yang amuk. tetap aku duri

menusuk waktu dengan lirikan yang runcing

 

sadistik. menemukan lurah berbatu, kita. matamu yang lain

menelan jejak di sepanjang jalan. dedaun itu remuk

dan sisa kopi dalam plastik tinggal dedak, juga bayangan silam

lurah telah mengubahku jadi maut, sayang, dan percakapan

akan kutelan sebagai lengah yang tertinggal



 

Kandangpadati, 2007

=ESHA TEGAR PUTRA=

TALI HUJAN karya : Esha Tegar Putra

 

di hari yang paling pucuk,
tali-tali hujan putus
dan cuaca berupa diam yang paling rahasia

 

manakala sajak menggulung jadi kepompong
basah di punggung daun
sebuah suara dalam lembut bahasa menggema
dari ladang, dari rangkap musim, dari leburan
gabuk pohon dan urat tanah.

 

mungkin dirimu,
“sesuatu yang berkarib dengan genangan air,
genangan laju mirip sungai,”
barangkali kau
“sesuatu yang dikutuk
untuk cuma jadi gema ladang”

 

kaukah seruan liar itu,
bakal membuat tali-tali hujan
menyambung diri dengan genangan air?

barangkali kau cuma seekor kecebong,
atau mungkin kunang-kunang sepi
yang mengetuk tiap pintu pohon
untuk bertamu
dan bertemu kekasihmu



 

Jalan Tunggang, 2008

=ESHA TEGAR PUTRA=

TUKANG PUISI karya : Esha Tegar Putra

beberapa gelitik lagi kau akan sampai

pada tempat yang bernama sakit

sekian mantera, bakal tuah

penebar fitnah ke daging, telah mengapung

dalam sumur. aku cuma ingin kau bermandi

dengan sumpah gaek yang cair

sungguh sebegitu tajamnya jangkrik berbunyi

tapi ini malam adalah kuasa ucapku

lecut aku berpuluh kata umpat

maka berkali-kali lipat kata pengikat

bakal lesat dan menghuni serat dagingmu

maka sebelum pengikat itu bergetah,

berlendir, dan pecah dalam badanmu

sumpahlah dengan sebaris kalimat:

karibkan aku dengan lembab puisimu!



 

Kandangpadati, 2007

=ESHA TEGAR PUTRA=