Tampilkan postingan dengan label W.S RENDRA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label W.S RENDRA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 September 2015

SAJAK SEORANG TUA UNTUK ANAKNYA karya : W. S. Rendra

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
Dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
nasib, dan kehidupan.

Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna
Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kaukenangkan encokmu
kenangkanlah pula
bahwa kita ditantang seratus dewa.



=W. S. RENDRA=

Minggu, 30 Agustus 2015

CILIWUNG YANG MANIS karya : W. S. Rendra

Ciliwung mengalir
dan menyindir gedung-gedung kota Jakarta
kerna tiada bagai kota yang papa itu
ia tahu siapa bundanya

CIliwung bagai lidah terjulur
Ciliwung yang manis tunjukkan lenggoknya

Dan Jakarta kecapaian
dalam bisingnya yang tawar
dalamnya berkeliaran wajah-wajah yang lapar
hati yang berteriak karena sunyinya
maka segala sajak
adalah terlahir karena nestapa
kalaupun bukan
adalah dari yang sia-sia
ataupun ria yang berarti karena papa

Ciliwung bagai lidah terjulur
Ciliwung yang manis tunjukkan lenggoknya

Ia ada hati di kandangnya
Ia ada nyanyi di hidupnya
Hoi, geleparnya anak manja!

Dan bulan bagai perempuan tua
letih dan tak diindahkan
menyeret langkahnya atas kota
Dan bila ia layangkan pandangnya ke Ciliwung
Kali yang manis membalas menatapnya!
Hoi! Hoi!

Ciliwung bagai lidah terjulur
Ciliwung yang manis tunjukkan lenggoknya

Teman segala orang miskin
timbunan rindu yang terperan
bukan bunga tapi bunga
Begitu kalu bernyani meliuk-liuk
dan Jakarta disinggung dengan pantatnya




=W.S. RENDRA=

Sabtu, 22 Agustus 2015

PEMANDANGAN SENJAKALA karya : W. S. Rendra

Senja yang basah meredakan hutan yang terbakar.
Kelelawar-kelelawar raksasa datang dari langit kelabu tua.
Bau mesiu di udara. Bau mayat. Bau kotoran kuda.
Sekelompok anjing liar
memakan beratusribu tubuh manusia
yang mati dan yang setengah mati.
Dan di antara kayu-kayu hutan yang hangus
genangan darah menjadi satu danau.
Luas dan tenang. Agak jingga merahnya.
Dua puluh malaekat turun dari sorga
mensucikan yang sedang sekarat
tapi di bumi mereka disergap kelelawar-kelelawar raksasa
yang lalu memperkosa mereka.
Angin yang sejuk bertiup sepoi-sepoi basa
menggerakkan rambut mayat-mayat
membuat lingkaran-lingkaran di permukaan danau darah
dan menggairahkan syahwat para malaekat dan kelelawar.
Ya, saudara-saudaraku,
aku tahu inilah pemandangan yang memuaskan hatimu
kerna begitu asyik kau telah menciptakannya.



=W. S. RENDRA=

Rabu, 05 Agustus 2015

PETUALANG karya : W. S. Rendra

Diserahkannya rindunya pada tali-tali gitar

hatinya tidak lagi di badannya

 

Tanah ibu yang jadi asing kecuali dirindu

terbaring antara dua sisi:

istirah dirajai lesu merampas sisa umurnya

dan menggenggam tuju membusuk di dada

ke daerah yang menutup pintu sebelum membuka.

 

Sebab keyakinan ada arti pada diri

dicobanya berulang kali

berpaling dari hasrat tarik diri.

 

Dalam alir darahnya mengalir sumpah petualang:

berkubur di lautan apa rimba tak terduga.

 

Ditatapnya nyalang mula tuju

katupan pintu.

Menatap juga ia kaki belum kuasa dilangkahkan.

 

Terbawa rindu tiap kelelahan meniduri diri

tanah ibu, sumur tua, mata adiknya

menjerit-jerit ia dalam kebisuan mulutnya

diserahkannya rindunya pada tali-tali gitar.




=W.S. RENDRA=

LAGU MALAM karya : W, S. Rendra

Burung malam lepas dua-dua

membendung anak kali dari langit.

Jatuhlah merjan-merjan mimpi.

Digetarkan bulu-bulu tubuhnya

dan bersebaran kutu-kutu perak.

 

Manis, ya manis.

Tusuk peniti lima buah

pada renda menutup dadamu.

Bujang-bujang mengulurkan tangannya

tak berarah di remang-remang.

Wahai, betapa bercandunya

tangan bujang di remang-remang.

 

Ada bocah, ada nenek

ada pokok mangga dan dongeng.

Wajah yang dipahat tajam garam

menyorot atas wajah bersih telanjang.

Mata-mata mereka tengadah terbuka.

Dan terlepas dari manik-manik hitamnya:

burung emas tak bersarang.




=W. S. RENDRA=

MALAIKAT-MALAIKAT KECIL karya : W. S. Rendra

Malaikat-malaikat kecil

mengepakkan sayap-sayap kapas.

Kaki-kaki batang ubi

dan bau buah nangka

Mulut-mulut mawar kecil

omongnya melulu yang baik.

            Bukan begitu, Manis? –

Angin tertumbuk pada nyanyi

berpusar-pusar dan pergi tinggi sekali.

Bahasa air sungai,

suara gaib rumah kerang,

ya, manis, manis,

angin menggosok gunung batu.

Malaikat-malaikat kecil

menggelitik kulit kuduk.

Malaikat-malaikat kecil

mengepakkan sayap-sayap kapas.

 




=W. S. RENDRA=

Senin, 03 Agustus 2015

BALLADA SUMILAH karya : W. S. Rendra

Tubuhnya lilin tersimpan di keranda 

tapi halusnya putih pergi kembara.

 

Datang yang berkabar bau kemboja 

dari sepotong bumi keramat di bukit 

makan dari bau kemenyan.

 

Sumilah!

Rintihnva tersebar selebar tujuh desa 

dan di ujung setiap rintih diserunya 

- Samijo! Samijo!

 

Bulan akan berkerut wajahnva

dan angin takut nyuruki atap jerami

seluruh kandungan malam pada tahu

roh Surnilah meratap dikungkung rindunya

pada roh Samijo kekasih dengan belati pada mata.

 

Dan sepanjang malam terurai riwayat duka 

begini mulanya:

Bila pucuk bambu ngusapi wajah bulan

ternak rebah dan bunda-bunda nepuki paha anaknya

dengan kembang-kembang api jatuh peluru meriam pertama 

malam muntahkan serdadu Belanda dari Utara.

 

Tumpah darah lelaki

o kuntum-kuntum delima ditebas belati 

dan para pemuda beribukan hutan jati 

tertinggal gadis terbawa hijaunya warna sepi.

 

Demi hati berumahkan tanah ibu

dan pancuran tempat bercinta

Samijo berperang dan mewarnai malam 

dengan kuntum-kuntum darah

perhitungan dimulai pada mesiu dan kelewang.

 

Terkunci pintu jendela

gadis-gadis tertinggal menaikkan kain dada 

ngeri mengepung hidup hari-hari

 

Segala perang adalah keturunan dendam

sumber air pancar yang merah 

bebunga berwarna nafsu

dinginnya angin pucuk pelor, dinginnya mata baja 

reruntuklah sernua merunduk 

bahasa dan kata adalah batu yang dungu.

 

Maka satu demi satu meringkas rumah-rumah jadi abu 

dan perawan-perawan menangisi malamnya tak ternilai 

kerna musuh tahu benar arti darah 

memberi minum dari sumber tumpah ruah

nyawanya kijang diburu terengah-engah.

 

Waktu siang mentari menyadap peluh

dengan bongkok berjalan nenek suci Hassan Ali 

di satu semak menggumpal daging perawan 

maka diserunya bersama derasnya darah: 

- Siapa kamu?

- Daku Sumilah daku mendukung duka!

Belanda berbulu itu membongkar pintu

dikejar daku putar-putar sumur tapi kukibas dia. 

- Duhai diperkosanva dikau anak perawan!

- Belum lagi! Demi air daraku merah: belum lagi! 

Takutku punya dorongan tak tersangka 

tersungkur ia bersama nafsunya ke sumur. 

- O tersobek kulitmu lembut berbungakan darah 

koyak-moyak bajumu muntahkan dadamu 

lenyaplah segala kerna tiada lagi kau punya

bunga yang terputih dengan kelopak-kelopak sutra, 

- Belum lagi! Demi air daraku merah: belum lagi!

 

Demi berita noda teramat cepat karena angin sendiri 

di mulut tujuh desa terucap Sumilah dan nodanya.

 

Dan demi berita noda teramat cepat kerna angin sendiri 

noda Sumilah terpahat juga di hutan-hutan jati 

lelaki-lelaki letakkan bedil kelewang mengenangnya 

dan Samijo kerahkan segenap butir darah 

lebih setan daripada segala kerbau jantan.

 

Bila dukana terkaca pada bulan keramik putih 

antara bebatang jati dengan rambut tergerai 

Sumilah yang malang mendamba Samijonya

menyuruk musang, burung gantil nyanyikan ballada hitam.

 

Satu tokoh menonggak di tempat luang

dan berseru dengan nada api nyala: 

- Berhenti! Sebut namamu!

 

Terhenti Sumilah serahkan diri ke batang rebah: 

- Suaramu berkabar kau Samijo, Samijoku. 

Daku Sumilah yang malang, Sumilahmu. 

- Tiada lagi kupunya Sumilah. Sumilahku mati! 

- Belum lagi, Samijo! Aku masih dara!

 

Bulan keramik putih tanpa darah

warna jingga adalah mata Samijo 

menatap ia dan menatap amat tajamnya.

 

- Padamkan jingga apimu. Padamkan! 

Demi selaput sutraku lembut: belum lagi!

 

Bulan keramik putih bagai pisau cukur 

sayati awan dan malam yang selalu meratap 

Samijo menatap dan menatap amat tajamnya.

 

- Samijo, ambil tetesan darahku pertama

akan terkecap daraku putih, daramu seorang 

Batang demi batang adalah balutan kesepian 

malam mengempa segala terperah sendat napas 

Samijo menatap dan menatap amat tajamnya.

 

- Samijo, hentikan penikaman pisau pandang matamu

kaubantai daku bagai najis, mengorek dena yang tiada. 

Padamlah padam kemilau yang menuntut dari dendam.

 

Wama pandangnya seolah ungkapan kutuk berkata: 

- Jadilah perempuan mandul kerna busuk rahimmu, 

jadilah jalang yang ngembara dari hampa ke dosa 

aku kutuki kau demi kata putus nenek moyang!

 

Tanpa omong dilepas tikaman pandang penghabisan 

lalu berpaling ia menghambur ke jantung hutan jati 

tertinggal Sumilah digayuti koyak-moyaknya.

 

Sedihlah yang bercinta kerna pisah

lebih sedihlah bila noda terbujur antaranya 

dan segalanya itu tak 'kan padam.

 

Kokok avam jantan esoknya bukanlah tanda menang 

adalah ratap yang juga terbawa oleh kutilang 

karena warga desa jumpai mayat Samijo

nemani guguran talok depan tangsi Belanda.

 

Merataplah semua meratap

kerna yang mati menggenggam dendam

di katup rahang adalah kenekatan linglung tersia.

 

Kerna dendamnya siksa airmatanya terus kembara 

menatap kehadiran Sumilah, dinginnya tanpa percaya

dan Sumilah jadi gila terkempa dada oleh siksa 

gadis begitu putih jumpai ajalnya di palung sungai.

 

Sumilah! Sumilah!

Tubuhnya lilin tersimpan di keranda 

tapi halusnya putih pergi kembara 

rintihnya tersebar selebar tujuh desa 

dan di ujung setiap rintih diserunya: 

- Samijo! Samijo!

Matamu tuan begitu dingin dan kejam 

pisau baja yang mengorek noda dari dada 

dari tapak tanganmu angin napas neraka 

mendera hatiku berguling lepas dari rongga 

bulan jingga, telaga kepundan jingga 

ranting-ranting pokok ara 

terbencana darahku segala jingga 

Hentikan, Samijo! Hentikan, ya Tuan!

 




=W. S. RENDRA=

BALLADA GADISNYA JAMIL, SI JAGOAN karya : W. S. Rendra

Begitu ia masuk ke dalam kali 

perawan dengan dada-dada pepaya. 

Sebab kedua matanya 

telah ia tatapkan pada bulan 

dan terkaca pada segala 

hidup bukan lagi miliknya.

 

- Jamil! Jamil!

Bahkan pandang terakhir

tiada aku diberinya. 

Punahlah sudah punah 

lelaki yang hidup dari luka. 

Kerbau jantan paling liar 

memberi gila di dada berbunga.

 

Begitu ia masuk ke dalam kali 

ikan larikan kail di rabunya 

di pusaran putih

segala tuba.

 

- Jamil! Jamil!

Amis darah di mulutnya

kukulum keraknya kini. 

Jamil! jamil! 

Bersuluh obor

mereka mengejarnya 

setelah ia bunuh

anak lurah di pesta.

Dan tikaman paling dendam 

melepas dahaga hitam 

pada tubuhnya yang capai.

 

Si dara menatap bulan di air 

didengarnya bisik arus gaib. 

Begitu ia masuk ke dalam kali.

 

Tiada kemboja di sini

dan gagak-gagak dilekati timah 

pada mata-matanya.

 

Lala! Nana!

Tembang malam dan duka cita! 

Angin di pucuk-pucuk mangga. 

Tapi siapa 'kan nyanyi untuknya?

 




=W. S. RENDRA=

BALLADA TERBUNUHNYA ATMO KARPO karya : W. S. Rendra

Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut burni

bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-pucuk para 

mengepit kuat-kuat lutut penunggang perampok yang diburu 

surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang.

 

Segenap warga desa mengepung hutan itu

dalam satu pusaran pulang-balik Atmo Karpo 

mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang 

berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri.

 

Satu demi satu yang maju tersadap darahnya 

penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka.

 

- Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal! 

Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa. 

Majulah Joko Pandan! Di mana ia? 

Majulah ia kerna padanya seorang kukandung dosa

 

Anak panah empat arah dan musuh tiga silang 

Atmo Karpo masih tegak, luka tujuh liang.

 

- Joko Pandan! Di mana ia!

Hanya padanya seorang kukandung dosa.

 

Bedah perutnya tapi masih setan ia

menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala.

 

- Joko Pandan! Di mana ia!

Hanya padanya seorang kukandung dosa.

 

Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan 

segala menyibak bagi derapnya kuda hitam 

ridla dada bagi derunya dendam yang tiba.

 

Pada langkah pertama keduanya sama baja

pada langkah ke tiga rubuhlah Atmo Karpo

panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka

 

Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka 

pesta bulan, sorak-sorai, anggur darah.

 

Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang 

la telah membunuh bapanya.




=W. S. RENDRA=

BALLADA LELAKI YANG LUKA karya : W. S. Rendra

Lelaki yang luka

biarkan ia pergi, Mama! 

Akan disatukan dirinya 

dengan angin gunung. 

Sempoyongan tubuh kerbau 

menyobek perut sepi. 

Dan wajah para bunda 

Bagai bulan redup putih.

 

Ajal! Ajal!

Betapa pulas tidurnya

di relung pengap dalam! 

Siapa akan diserunya? 

Siapa leluhurnya? 

Lelaki yang luka

melekat di punggung kuda.

 

Tiada sumur bagai lukanya. 

Tiada dalam bagai pedihnya. 

Dan asap belerang 

menyapu kedua mata.

Betapa kan dikenalnya bulan?

Betapa kan bisa menyusu dari awan? 

Lelaki yang luka

tiada tahu kata dan bunga.

 

Pergilah lelaki yang luka

tiada berarah, anak dari angin. 

Tiada tahu siapa dirinya 

didaki segala gunung tua. 

Siapa kan beri akhir padanya? 

Menapak kaki-kaki kuda 

menapak atas dada-dada bunda.

 

Lelaki yang luka

biarkan ia pergi, Mama! 

Meratap di tempat-tempat sepi. 

Dan di dada:

betapa parahnya.

 




=W, S, RENDRA=

BALADA IBU YANG DIBUNUH karya : W. S. Rendra

Ibu musang dilindung pohon tua meliang
bayinya dua ditinggal mati lakinya.

Bulan sabit terkait malam memberita datangnya 
waktu makan bayi-bayinya mungil sayang.

Matanya berkata pamitan, bertolaklah ia 
dirasukinya dusun-dusun, semak-semak, taruhan 
harian atas nyawa.

Burung kolik menyanyikan berita panas dendam warga desa 
menggetari ujung bulu-bulunya tapi dikibaskannya juga.

Membubung juga nyanyi kolik sampai mati tiba-tiba
oleh lengking pekik yang lebih menggigilkan 
pucuk-pucuk daun
tertangkap musang betina dibunuh esok harinya.

Tiada pulang ia yang meski rampas rejeki hariannya
ibu yang baik, matinya baik, pada bangkainya gugur
pula dedaun tua.

Tiada tahu akan merataplah kolik meratap juga
dan bayi-bayinya bertanya akan bunda pada angin
Tenggara.

Lalu satu ketika di pohon tua meliang
matilah anak-anak musang, mati dua-duanya.

Dan jalannya semua peristiwa 
tanpa dukungan satu dosa. Tanpa.

 



=W. S. RENDRA=

ADA TIlGRAM TIBA SENJA karya : W. S. Rendra

(Ada tilgram tiba senja 

dari pusar kota yang gila 

disemat di dada bunda).

 

(BUNDA, LETIHKU TANDAS KE TULANG

ANAKDA KEMBALI PULANG).

 

Kapuk randu! Kapuk randu! 

Selembut tudung cendawan 

kuncup-kuncup di hatiku

pada mengembang bemerkahan.

 

Dulu ketika pamit mengembara 

kuberi ia kuda bapanya 

berwarna sawo muda 

cepat larinya

jauh perginya.

 

Dulu masanya rontok asam jawa 

untuk apa kurontokkan air mata? 

cepat larinya

jauh perginya.

 

Lelaki yang kuat biarlah menuruti darahnya

menghunjam ke rimba dan pusar kota.

 

Tinggal bunda di rumah menepuki dada 

melepas hari tua, melepas doa-doa 

cepat larinya

jauh perginya.

 

Elang yang gugur tergeletak 

elang yang gugur terebah 

satu harapku pada anak

ingat 'kan pulang 'pabila lelah.

 

Kecilnya dulu meremasi susuku 

kini letih pulang ke ibu 

hatiku tersedu

hatiku tersedu.

 

Bunga randu! Bunga randu! 

Anakku lanang kembali kupangku.

 

Darah, o, darah

ia pun lelah

dan mengerti artinya rumah.

 

Rumah mungil berjendela dua 

serta bunga di bendulnya 

bukankah itu mesra?

 

Ada podang pulang ke sarang, 

tembangnya panjang berulang-ulang 

- Pulang ya pulang, hai petualang!

 

Ketapang. Ketapang yang kembang 

berumpun di dekat perigi tua 

anakku datang, anakku pulang 

kembali kucium, kembali kuriba.

 



=W. S. RENDRA=