Tampilkan postingan dengan label TAUFIK ISMAIL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAUFIK ISMAIL. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Agustus 2015

BEBERAPA URUSAN KITA karya : Taufik Ismail

Tentang nasib angkatan ini

Itu adalah urusan sejarah

Tapi tentang menegakkan kebenaran

Itu urusan kita

Apakah cuaca akan cemas di atas
Hingga selalu kita bernaung mendung
Apakah jantung kita masih berdegup kencang
Dan barisan kita selalu bukit-batu-karang?

Berjagalah terus. Berjagalah!
Siang kita bila berlucut laras senapan
Malam kita bila terancam penyergapan
Berjagalah terus. Berjagalah!

Mungkin kita tak akan melihat hari nanti
Mungkin tidak kau. Tidak aku. Siapa bisa tahu
Tapi itu urusan Tuhan
Masalah kemenangan, ketenteraman tanpa tiran

Tentang nasib angkatan ini

Itu urusan sejarah

Tetapi tentang menegakkan kebenaran

Itu urusan kita.



1966

=TAUFIK ISMAIL=

DARI IBU SEORANG DEMONSTRAN karya : Taufik Ismail

“Ibu telah merelakan kalian

Untuk berangkat demonstrasi

Karena kalian pergi menyempurnakan

Kemerdekaan negeri ini 

Ya, ibu tahu, mereka tidak menggunakan gada

Atau gas airmata

Tapi langsung peluru tajam

Tapi itulah yang dihadapi

Ayah kalian almarhum

Delapan belas tahun yang lalu 

Pergilah pergi, setiap pagi

Setelah dahi dan pipi kalian

Ibu ciumi

Mungkin ini pelukan penghabisan

(Ibu itu menyeka sudut matanya) 

Tapi ingatlah, sekali lagi

Jika logam itu memang memuat nama kalian

(Ibu itu tersedu sesaat) 

Ibu relakan

Tapi jangan di saat terakhir

Kauteriakkan kebencian

Atau dendam kesumat

Pada seseorang

Walaupun betapa zalimnya

Orang itu

 

Niatkanlah menegakkan kalimah Allah

Di atas bumi kita ini

Sebelum kalian melangkah setiap pagi

Sunyi dari dendam dan kebencian

Kemudian lafazkan kesaksian pada Tuhan

Serta Rasul kita yang tercinta 

Pergilah pergi

Iwan, Ida dan Hadi

Pergilah pergi

Pagi ini.

(Mereka telah berpamitan dengan ibu dicinta

Beberapa saat tangannya meraba rambut mereka

Dan berangkatlah mereka bertiga

Tanpa menoleh lagi, tanpa kata-kata). 



1966

=TAUFIK ISMAIL=

 

ARITHMATIK SEDERHANA karya : Taufik Ismail

Menyimak Adham Arsyad 


Selama ini kita selalu
Ragu-ragu

Dan berkata:
Dua tambah dua
Mudah-mudahan sama dengan empat.


1966

=TAUFIK ISMAIL=

DEPAN SEKRETARIAT NEGARA karya : Taufik Ismail

Setelah korban diusung

Tergesa-gesa

Ke luar jalanan 

Kami semua menyanyi

‘Gugur Bunga’

Perlahan-lahan 

Perajurit ini

Membuka baretnya

Airmata tak tertahan 

Di puncak Gayatri

Menunduklah bendera

Di belakangnya segumpal awan. 


1966

=TAUFIK ISMAIL=

KARANGAN BUNGA karya : Taufik Ismail

Tiga anak kecil

Dalam langkah malu-malu

Datang ke Salemba

Sore itu 

‘Ini dari kami bertiga

Pita hitam pada karangan bunga

Sebab kami ikut berduka

Bagi kakak yang ditembak mati

Siang tadi.’ 




1966

=TAUFIK ISMAIL=

ADALAH BEL KECIL DI JENDELA karya : Taufik Ismail

Sebuah bel kecil tergantung di jendela

Di bulan Juni

Berkelining sepi 

Daun asam dan cericit burung gereja

Keletak kuda andong-andong Yogya

Kota tua membentang dalam debu

Sepanjang gang ditaburnya sunyi itu 

Sebuah bel kecil tergantung di jendela

Di bulan Juli

Berkelining

Sepi.




1965

=TAUFIK ISMAIL=

PEKALONGAN LIMA SORE karya : Taufik Ismail

Kleneng bel beca

Debu aspal panggang

Sangar jalan pelabuhan

Terik kota pesisir

Tik-tik persneling Raleigh

Bungkus sarung palekat

Sungai kuning coklat

Nyanyi rumah yatim

Pejaja es lilin

Riuh Kampung Arab

Jembatan loji karatan

Genteng rumah pegadaian

Keringat pasar sepi

Kumis Raj Kapoor

Sengangar lilin batik

Deru pabrik tenun

Bal-balan Bong Cina

Harum tauto Tjarlam

Sirup kopyor dingin

Gorengan kuali tahu

Percikan minyak kelapa

Sisa bungkus megono

Panas teh melati

Tik-tok kuda dokar

Dengung DKW Hummel

Peluit sepur bomel

Klakson Debu Revolusi. 




1961

=TAUFIK ISMAIL=

ALMAMATER karya : Taufik Ismail

Di depan gerbangmu tua pada hari ini

Kami menyilangkan tangan ke dada kiri

Tegak tengadah menatap bangunanmu

Genteng hitam dan dinding kusam. Berlumut waktu

Untuk kali penghabisan 

Marilah kita kenangkan tahun-tahun dahulu

Hari-hari kuliah di ruang fisika

Mengantuk pada pagi cericit burung gereja

Praktikum. Padang percobaan. Praktek daerah

Corong anastesi dan kilau skalpel di kamar bedah

Suara-suara menjalar sepanjang gang

Suara pasien yang pertama kali kujamah 

Di aula ini, aula yang semakin kecil

Kita beragitasi, berpesta dan berkencan

Melupakan sengitnya ujian, tekanan gurubesar

Melepaskannya pada hari-hari perpeloncoan

Pada filem dan musik yang murahan 

Ya, kita sesekali butuh juga konser yang baik

Drama Sophocles, Chekov atau ‘Jas Panjang Pesanan’

Memperdebatkan politik, Tuhan dan para negarawan

Tentang filsafat, perempuan serta peperangan

Bayang benua abad dahulu lewat abad yang kini 

Di manakah kau sekarang berdiri? Di abad ini

Dan bersyukurlah karena lewat gerbangmu tua

Kau telah dilantik jadi warga Republik Berpikir Bebas

Setelah bertahun diuji kesetiaan dan keberanianmu

Dalam berpikir dan menyatakan kebebasan suara hati

Berpijak di tanah air nusantara

Dan menggarap tahun-tahun kemerdekaan

Dengan penuh kecintaan

 

Dan kami bersyukur pada Tuhan

Yang telah melebarkan gerbang tua ini

Dan kami bersyukur pada ibu bapa

Yang sepanjang malam

Selalu berdoa tulus dan terbungkuk membiayai kami

Dorongan kekasih sepenuh hati

Dan kami berhutang pada manusia

Yang telah menjadi guru-guru kami

Yang membayar pajak selama ini

Serta menjaga sepeda-sepeda kami

 

Pada hari ini di depan gerbangmu tua

Kami kenangkan cemara halamanmu dalam bau formalin

Mikroskop. Kamar obat. Perpustakaan

Gulungan layar di kampung nelayan

Nyanyi pohon-pohon perkebunan

Angin hijau di padang-padang peternakan

Deru kemarau di padang-padang penggembalaan

Dalam mimpi teknologi, kami kini dipanggil

Untuk menggarap tahun-tahun kemerdekaan

Dan mencintai manusianya

Mencintai kebebasannya. 



1963

=TAUFIK ISMAIL=

Minggu, 09 Agustus 2015

POTRET DI BERANDA karya : Taufik Ismail

Di beranda rumah nenekku, di desa Baruh

Potretku telah tergantung 26 tahun lamanya

Bersama gambar-gambar sulaman ibuku

Dibuatnya tatkala masih perawan 

Di dapur rumah nenekku, nenekku renta

Tergolek drum tua pemasak kerupuk kulit

Di atasnya sepasang tanduk hitam berdebu

Kerbau bajak kesayangan kakekku 

Kerupuk kulit telah mengirim ibuku

Sekolah ke kota, jadi guru

Padi, lobak dan kentang ditanam kakekku

Yang disulap subur dalam hidayat

Dijunjung dan dipikul ke pasar

Dalam dingin dataran tinggi

Karena ibuku yang mau jadi guru 

Dan ibuku bertemu ayahku

Yang dikirim nenekku ke surau menyabit ilmu

Dengan ikan kolam, bawang dan wortel

Di ujung cangkul kakekku kukuh

Yang kembang dan berisi dalam rahmat

Terbungkuk-bungkuk dijunjung di hari pekan

Karena ayahku mau jadi guru 

Maka lahirlah kami berenam

Dalam rahman

Dalam kesayangan

Dalam kesukaran

 

Di beranda rumah nenekku, di desa Baruh

Potretku telah tergantung 26 tahun lamanya

Bersama gambar-gambar buatan ibuku

Disulamnya tatkala masih perawan. 



1963

=TAUFIK ISMAIL=



DENGAN PUISI, AKU karya : Taufik Ismail

Dengan puisi aku bernyanyi

Sampai senja umurku nanti 
Dengan puisi aku bercinta

Berbatas cakrawala 
Dengan puisi aku mengenang

Keabadian Yang Akan Datang 
Dengan puisi aku menangis

Jarum waktu bila kejam mengiris 
Dengan puisi aku mengutuk

Nafas zaman yang busuk 
Dengan puisi aku berdoa

Perkenankanlah kiranya. 



1965

=TAUFIK ISMAIL=

ODA PADA VAN GOGH karya : Taufik Ismail

Pohon sipres. Kafe tua

Di ujung jalan

Sepi. Sepi jua 

Langit berombak

Bulan di sana

Sepi. Sepi namanya. 



1964

=TAUFIK ISMAIL=

PENGHIANATAN karya : Taufik Ismail

Siapa lagi sekarang akan ditangkap. Menanti 

Mungkin sebentar lagi mereka akan datang mengetuk pintu 

Mendorong masuk dan menjerembabkan nasib 

Di ambang waktu. Dengan berbagai tuduhan 

Barangkali agen mereka ada di antara kita 

Dengan pestol Browning di pinggang dalam 

Kita tak pernah pasti tahu 

Mengapa engkau pucat sekali? 

Intip cermin di atas lemari 

Di luar angin pepohonan damar masih berseru 

Atau jip-kah itu yang menderu? 

Cek sekali lagi: sudahkah semua dokumen dibakar 

Bersihkan sisa abu di lubang kloset 

Granat dan sten di dinding-papan 

Hapalkan nama-nama palsu kalian

Sudjono! Hentikan goyangan kakimu 

Merokoklah. Merokok di kolong kalau tak tahan 

Udara terlalu pekap di sini, dalam temaram 

Kita makin berpeluh tapi jari kenapa menggigil 

Udara panas bergetah dengan bau ikan sardin 

Seorang bangkit pelan, mengintip di balik gorden


Tiba-tiba aku berteriak, melolong-lolong 

Tjok dan Momo menerkamku tak berbunyi 

Dan menyumbat mulutku

Aku berontak, lepas dalam geliat liar 

Tapi badan mereka bagai sapi Bali 

Lenganku dikunci mereka ke punggung. Badanku 

Dibengkok-busurkan 

Keluh serak dari mulutku 

‘Lepaskan dia. Dan kau diam’
Kata Budi
‘Kau terlalu tegang’
Diapun menuding ke sudut kamar
Aku terhuyung ke sana, dua langkah
Dan tiga langkah surut kembali
Dalam gerakan terpincang, kataku serak:
‘Budi, aku telah berkhianat’

Seluruh kamar tegang dan pekat
Halilintar meledak dalam ruangan
Mata mereka nanap, duka perjuangan semakin berat
Angin pepohonan damar menebas tajam bagai kelewang

‘Budi, aku sudah berkhianat’

Aku melihat berkeliling. Mereka diam aneh

Lenganku mula mengulur, lalu bergantungan

Dengan gelisah aku berputar melihat kawan-kawan

Mataku merah dan liar serigala

Meneriakkan ‘Aku pengkhianat!’

Dan aku tersedu, tertengkurap di tengah kamar

Mereka semua diam. Sudjono mematikan rokoknya

Aku menangis seperti anak lima tahun

Yang kehilangan baling-baling kertasnya

‘Tembaklah aku. Mereka sudah tahu semuanya

Sebentar lagi mereka datang

Aku tak tahan Budi, tembaklah aku di sini’


Budi memberi tanda. Senjata-senjata dibongkar dari dinding
Dengan perkasa mereka siap berangkat dalam formasi rahasia
Mereka akan menyelinap lewat gang belakang
Sepanjang urat-urat kota memperjuangkan kemerdekaan
Di sela rapatnya rumah-rumah, meneruskan gerakan di bawah tanah

Budi melucuti belatiku dan pada Momo memberi perintah 

Menggamit Tjok dan Maliki dengan tangan perunggu 

Perlahan yang lain berangkat satu-satu 

Setiap orang memerlukan menoleh padaku sebentar 

Di lantai, aku menekuri jubin sebelah meja 

Dan Momo yang akan menjalankan perintah komandan 

Berdiri dengan belatiku telanjang di tangan.



 

1963

=TAUFIK ISMAIL=

SEORANG KULI TUA DI STASIUN YOKOHAMA karya : Taufik Ismail

Seorang kuli tua di setasiun Yokohama 

Ketika ekspres tengah hari masuk dari ibukota 

Berdiri agak terbungkuk di depan peron 

Handuk kecil di lehernya 

Beratus penumpang turun sepanjang ruangan 

Menari dalam kilau jendela kereta 

Ia pun menjamah koporku setelah menatapku 

Agak lama 

Hari itu musim panas di bulan Agustus 

Udara sangat lembab dan angin tak bertiup 

Menyeka dahi ditolaknya lembaran uang 

‘Aku dulu di Semarang’ 

Dengan hormat diucapkannya selamat jalan 

Ia pun kembali ke setasiun berbata-bata

Berkaus dan bersepatu putih 

Tiba-tiba wajahnya sangat tua 

Di kapal kenapa kuingat kakak sepupuku 

Opsir Peta di Jatingaleh berlucut senjata 

Terbunuh dalam pertempuran lima hari

Dua belas tahun yang lalu 

Hari itu musim panas di bulan Agustus 

Ketika ekspres tengah hari masuk dari ibukota

Seorang kuli di setasiun Yokohama 

Tiba-tiba wajahnya sangat tua.



 

1963

=TAUFIK ISMAIL=

Sabtu, 08 Agustus 2015

TREM BERKLENENGAN DI KOTA SAN FRANSISCO karya : Taufik Ismail

Pagimu yang cerah, San Francisco, sampai padaku di atas bukit itu, lautmu bagai bubur agar-agar, uap air di langitmu mencecerkan serbuk kabut seperti tepung nilon dan terjela-jela sepanjang jembatan raksasamu tepat seperti kartu pos bergambar yang pernah kubeli di kedai Hindustan duapuluh empat tahun yang silam di Geylang Road ketika aku masih bercelana pendek dan asyik menghafalkan nama-nama hebat dengan huruf-huruf c, v, x, dan y pada pelajaran ilmu bumi di Sekolah Rakyat partikelir.


Matahari terlalu gembira menyinari bukit-bukitmu. Bukit-bukit yang ditumbuhi rumah-rumah Eropah, Meksiko, Habsyi dan Cina, bercat putih beratap merah tua dengan bunga-bungaan yang mekar karena persekutuan akrab dengan musim semi bagai tak kunjung habisnya. Debu segan padamu. Kotoran mekanika dan asam arang kauserahkan sepenuhnya pada Los Angeles si buruk muka. Dia cemburu padamu.


Pasar buah dan rempah-rempah. Trem berklenengan dan meluncur gila pada penurunan bukit-bukit sama-kaki yang sempit. Sebuah peti cat meledak di udara dan warna-warna pun dibagi-bagi pada deretan bangunan dinding trem kota, tulang jembatan, atap, pintu dan jendela. Angin mengeringkannya dan mengaduknya dengan aroma daun-daun perladangan jeruk serta uap perairan dermaga lalu dikibas-kibaskan oleh sayap kawanan burung camar mengatasi muara lautan.


Percintaan bulan dengan lekuk-lekuk tubuhmu semacam percintaan anak-anak muda yang garang kemudian dilukiskan oleh pelukis-pelukis kubistis. Emas yang diburu-buru abad yang lalu dilambangkan dalam cahaya natrium, amat geometris, lewat tingkap-tingkap dan pipa-pipa kaca, simetris dan tidak simetris. Kapal-kapal angkat jangkar.


Di ujung meja panjang terbuat dari kayu mahoni pada suatu bar dekat Market Street seorang tua berambut putih berkumis putih berjanggut putih duduk di atas kursi plastik yang bentuknya seperti bom waktu. “Aku tidak dengar Amerika menyanyi lagi” ujarnya. Pelayan bar memberinya segelas bir.


Amerika tidak menyanyi lagi.

Amerika mengerang.


Di atas bar kayu mahoni berlapis formika hampir biru muda, padang-padang Texas dilipat ke tengah, New York berhamburan ke dalam Grand Canyon, Niagara mengental, California tergulung-gulung. Walt Whitman memeras Amerika bagai sehelai karbon bekas, dan si tua itu menuangkan bir Milwaukee berbusa ke atasnya.



Amerika mengeluarkan bunyi kerupuk kentang kering.

Yang dikunyah lambat-lambat.


Camar-camar teluk San Francisco melayang di atas kedai-kedai bunga tulip, menelisik jaringan kawat trem-trem yang berkenengan dan buang air tepat di atas kantor asuransi.


Selamat jalan c

Selamat jalan v

Selamat jalan x

Selamat jalan y

Selamat jalan.



 

1972

=TAUFIK ISMAIL=

MUSIM GUGUR TELAH TURUN DI RUSIA karya : Taufik Ismail

Seekor burung raksasa pada suatu malam cuaca mengembangkan sayap-nya yang perkasa mengibas-ngibaskannya gemuruh dan lena maka rontoklah bulu beledru di langit tua dan biru gugur dan gugur melayang dan berbaur


Musim gugur telah turun di Rusia


Berjuta bintik kapas warna putih angsa pada suatu malam cuaca naik mengambang bersama dan menggeliatlah dia menggelepar menyerakkan warna dan aroma


Musim panas melayang di atas Rusia


Dengan malasnya burung itu terbang sayapnya mengibaskan angin agak dingin daun-daun beriozka jadi berganti warna burung raksasa tiba di atas kutub utara dia berkaca sekilas di laut terus melayang ke bagian bumi yang lain seraya membagi-bagikan angin yang agak dingin


Musim gugur telah turun di Rusia.



 

1970

=TAUFIK ISMAIL=

TAMAN DI TENGAH PULAU KARANG karya : Taufik Ismail

Di tengah Manhattan menjelang musim gugur 

Dalam kepungan rimba baja, pucuknya dalam awan 

Engkau terlalu bersendiri dengan danau kecilmu 

Dan perlahan melepas hijau daunan 

Bebangku panjang dan hitam, lusuh dan retak

Seorang lelaki tua duduk menyebar 

Remah roti. Sementara itu berkelepak

Burung-burung merpati 

Di lingir Manhattan bergelegar pengorek karang 

Merpati pun kaget beterbangan 

Suara mekanik dan racun rimba baja 

Menjajarkan pohon-pohon duka 

Musim panas terengah melepas napas 

Pepohonan meratapinya dengan geletar ranting 

Orang tua itu berkemas dan tersaruk pergi 

Badai pun memutar daunan dalam kerucut 

Makin meninggi.



 

1963

=TAUFIK ISMAIL=

DI TELUK IKAN PUTIH karya : Taufik Ismail

Di Teluk Ikan Putih, telah terjangkar jasmaniku di pelabuhannya 

Pada kapal-kapal yang masuk dan tertambat sehari-hari 

Anak-anak camar bertebar atas arus melancar 

Dan perbukitan dandan perlente pina-pina berduri 

Di Teluk Ikan Putih menutup siang musim semi panjang 

Pada langitnya keruh asap, bayang bangunan dan baja 

Di perut kota bangkitlah malam sambil melenggang 

Dan dermaganya hening lelap, berlelehan keristal kaca 

Selamat jalan, malam-malam putih berhujan kapas 

Lewati perairan alim dengan pipinya dingin 

Masih ada yang berlinangan di sela gugusan karang 

Ngenangkan musim mengandung belati dalam angin 

Jabatlah teluk kami, persinggahan di tahun datang.



 

1957

LAGU UNGGAS, LAGU IKAN karya : Taufik Ismail

Katak rawa-rawa 

Menyanyi sendiri


Pii
Wii

 

Serangga pepohonan 

Daun bermerahan


Angsa menggelepar 

Dan berbunyi


Pii
Wii

 

Ikan danau jauh

Jerami yang luruh


Langit mengental 

Paya-paya kristal 

Unggas sembunyi 

Hutan pun mati 

Bunyi yang sunyi 

Pii
Wii



 

1971

=TAUFIK ISMAIL=

Selasa, 04 Agustus 2015

SEJARUM PENITI, SEPUNGGUNG GUNUNG karya : Taufik Ismail

Puisi punya kepentingan besar terhadap bertrilyun daunan yang terpasang

tepat dan rimbun pada pepohonan

pada bermilyar pepohonan yang terpancang rapi

di permukaan bukit, pegunungan, lembah dan dataran pantai

Yang dialiri beratus juta kilometer kubik

air berbentuk padat,cair dan gas

dalam gerakan dinamik yang kau tak habis kagumi ruwetnya:

tegak lurus dari atas ke bawah, tegak lurus dari bawah ke atas

miring terjal miring landai,

beringsut dari kiri ke kanan, bergulir dari kanan ke kiri

menembus permukaan daun, meluncuri serat-serat kayu

mendaki akar, menaiki elevator serambut

yang tersusun rapi dalam batang kayu

menguap gaib lewat noktah-noktah jendela mikroskopis

lalu bergabung dalam substansi gas-gas yang tak dapat

kau sentuh, kau cium, kau tatap, beribu-ribu klasifikasinya

semua tersusun dalam komposisi yang begitu rumit

tapi demikian teraturnya, yang memungkinkan kau

menengadah ke atas sana, dan tersiuk berkata

waduh biru bersih betul langit itu

dan tengoklah serpihan-serpihan bulu domba berserak di angkasa

dengarlah angin telah berganti baju jadi musik gesek instrumental

yang melatarbelakangi semua ini, dan kulihat kau menitikkan

dua tetes cairan dari kedua sudut kelopak mata kau itu.

 

Puisi punya kepentingan besar terhadap air yang tersedia

dalam berbagai ukuran bejana bumi

mengalir melalui bermacam format saluran tanah

dihuni oleh perenang-perenang sejati yang berukuran

mulai dari

sejarum peniti sampai sepunggung gunung

dengan warna-warni panorama bawah laut

yang luar biasa menakjubkan

bayangan dan penafsiran dari angkasa penuh cahaya

yang menaunginya

yang di atasnya mengapung dan mengepak

berjuta penerbang bersayap dengan gerakan matematis

bercumbu dengan angin dan bercakap-cakap dengan cuaca.

 

Puisi punya kepentingan besar terhadap unggas-unggas itu

yang ketika mengapung di atas sana

hinggap di dahan atau mengais tanah

berdialog dengan seluruh makhluk penghuni bumi

melata dia merangkak dia berjalan dua kaki dia

menyusupi rumput dia menyelami tanah dia

dan paru-paru mereka berdenyut, jantung mereka berdetak

susunan syaraf mereka memberi sinyal-sinyal cendekia

dalam sirkulasi zat asam yang siklusnya ruwet

tapi dapat dijelaskan lewat bahasa apa pun

dan susunan angka-angka apa pun

sehingga dapat kita raba

peradaban

dan budaya.

 

Puisi mencatatnya semua, menyampaikannya kembali

dengan sentuhan yang indah dan penuh keterharuan

mengulangi ini lewat daurnya sendiri-sendiri

berabad lamanya beriringan

denyut zikir tiada putusnya tegak lurus ke arah

Asal Ini Semua.

 

Puisi dengan penuh rasa khawatir, curiga dan cemburu

menyaksikan dedaunan, pepohonan, unggas, ikan,

cuaca, zat asam, susunan syaraf, sungai, danau, lautan

bercakap serak dan gagu dengan sesamanya

bagi kawanan makhluk yang telah dilucuti kesempurnaannya

dalam harmoni yang dulu tiada tertandingi.

Huruf-huruf kapital telah mengeja keserakahan,

mengejek kemiskinan, mencetak kekerasan, melestarikan penindasan,

menyebarkan kejahilan, semua dalam bentuk baru

yang tanpa bandingan sepanjang umur sejarah,

menerjemahkannya ke setiap bahasa

lengkap dengan petunjuk pelaksanaannya

secara kolektif melakukan penghancuran peradaban

mula-mula dalam kecepatan perlahan, dan kini

dalam percepatan yang seperti tiada dapat tertahankan.

 

Puisi menangisinya, mencatatnya

dengan huruf-huruf sedih, sesak nafas, geram dan naik darah.

 

Puisi menepuk bahu dan mencoba mengingatkan.     



 

1990

=TAUFIK ISMAIL=

SYAIR UNTUK SEORANG PETANI DARI WAIMITAL, PULAU SERAM, YANG PADA HARI INI PULANG KE ALMAMATERNYA karya : Taufik Ismail

 

I
Dia mahasiswa tingkat terakhir
ketika di tahun 1964 pergi ke pulau Seram
untuk tugas membina masyarakat tani di sana.
Dia menghilang
15 tahun lamanya.
Orangtuanya di Langsa
memintanya pulang.
IPB memanggilnya
untuk merampungkan studinya,
tapi semua 
sia-sia.

II
Dia di Waimital jadi petani
Dia menyemai benih padi
Orang-orang menyemai benih padi
Dia membenamkan pupuk di bumi
Orang-orang membenamkan pupuk di bumi
Dia menggariskan strategi irigasi
Dia menakar klimatologi hujan
Orang-orang menampung curah hujan
Dia membesarkan anak cengkeh
Orang kampung panen raya kebun cengkeh
Dia mengukur cuaca musim kemarau
Orang-orang jadi waspada makna bencana kemarau
Dia meransum gizi sapi Bali
Orang-orang menggemukkan sapi Bali
Dia memasang fondasi tiang lokal sekolah 
Orang-orang memasang dinding dan atapnya
Dia mengukir alfabet dan mengamplas angka-angka
Anak desa jadi membaca dan menyerap matematika
Dia merobohkan kolom gaji dan karir birokrasi

Kasim Arifin, di Waimital
Jadi petani.

III
Dia berkaus oblong
Dia bersandal jepit
Dia berjalan kaki
20 kilometer sehari
Sesudah meriksa padi
Dan tata palawija
Sawah dan ladang
Orang-orang desa
Dia melintas hutan
Dia menyeberang sungai
Terasa kelepak elang
Bunyi serangga siang
Sengangar tengah hari
Cericit tikus bumi
Teduh pohonan rimba
Siang makan sagu
Air sungai jernih
Minum dan wudhukmu
Bayang-bayang miring
Siul burung tekukur
Bunga alang-alang
Luka-luka kaki
Angin sore-sore
Mandi gebyar-gebyur
Simak suara azan
Jamaah menggesek bumi
Anak petani diajarnya
Logika dan matematika
Lampu petromaks bergoyang
Angin malam menggoyang
Kasim merebah badan
Di pelupuh bambu
Tidur tidak berkasur.

IV
Dia berdiri memandang ladang-ladang
Yang ditebas dari hutan rimba
Di kakinya terjepit sepasang sandal
Yang dipakainya sepanjang Waimital
Ada bukit-bukit yang dulu lama kering
Awan tergantung di atasnya
Mengacungkan tinju kemarau yang panjang
Ada bukit-bukit yang kini basah
Dengan wana sapuan yang indah
Sepanjang mata memandang
Dan perladangan yang sangat panjang
Kini telah gembur, air pun berpacu-pacu
Dengan sepotong tongkat besar, tiga tahun lamanya
Bersama puluhan transmigran
Ditusuk-tusuknya tanah kering kerontang
Dan air pun berpacu-pacu
Delapan kilometer panjangnya
Tanpa mesin-mesin, tiada anggaran belanja
Mengairi tanah 300 hektar luasnya
Kulihat potret dirimu, Sim, berdiri di situ
Muhammad Kasim Arifin, di sana,
Berdiri memandang ladang-ladang
Yang telah dikupasnya dari hutan rimba
Kini sekawanan sapi Bali mengibas-ngibaskan ekor
Di padang rumput itu
Rumput gajah yang gemuk-gemuk
Sayur-sayuran yang subur-subur
Awan tergantung di atas pulau Seram
Dikepung lautan biru yang amat cantiknya
Dari pulau itu, dia telah pulang
Dia yang dikabarkan hilang
Lima belas tahun lamanya
Di Waimital Kasim mencetak harapan
Di kota kita mencetak keluhan
(Aku jadi ingat masa kita diplonco
Dua puluh dua tahun yang lalu)
Dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca
Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi
Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku
Ketika aku mengingatmu, Sim
Di Waimital engkau mencetak harapan
Di kota, kami …
Padahal awan yang tergantung di atas Waimital, adalah
Awan yang tergantung di atas kota juga
Kau kini telah pulang
Kami memelukmu.




1979

=TAUFIK ISMAIL=


Catatan: Bagian IV puisi ini saya bacakan pada hari wisuda Institut Pertanian Bogor di kampus Darmaga, Sabtu, 22 September 1979, sesudah M. Kasim Arifin menerima gelar Insinyur Pertanian. Sebelumnya, Kasim yang sudah 15 tahun dikabarkan hilang, tapi ternyata menanam akar di Waimital enggan memenuhi panggilan Rektor Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasoetion. Pada kali ketiga kedatangan utusan Rektor, yaitu sahabatnya Saleh Widodo, baru Kasim mau datang ke Bogor. Dia terharu karena penghargaan alma maternya, tapi pada hakekatnya dia tidak memerlukan gelar akademik. Pada hari wisuda itu Kasim yang berbelas tahun berkaus oblong dan bersandal jepit saja, kegerahan karena mengenakan jas, dasi dan sepatu, hadiah patungan sahabat-sahabatnya.

Mahasiswa-mahasiswa IPB mengerumuninya selalu dan mengaguminya sebagai teladan keikhlasan pengamalan ilmu pertanian di pedesaan. Berbagai tawaran pekerjaan disampaikan padanya, tapi dia kembali lagi ke desa Waimital sesudah wisuda. Baru sesudah itu dia menerima pekerjaan sebagai dosen di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, di tanah asalnya. Tawaran meninjau pertanian di Amerika Serikat ditolaknya. Ketika ditanya kenapa kesempatan jalan-jalan ke A.S. itu tak diterimanya, sambil tertawa Kasim berkata bahwa pertama-tama jangankan bahasa Inggeris, bahasa Indonesianya saja sudah banyak lupa. Kemudian yang penting lagi, katanya, apa manfaatnya meninjau pertanian di sana, yang berbeda sekali dengan pertanian kita di sini. Kesempatan meninjau sambil liburan tamasya ke A.S. itu tak menarik hatinya.