Minggu, 09 Agustus 2015

PENGHIANATAN karya : Taufik Ismail

Siapa lagi sekarang akan ditangkap. Menanti 

Mungkin sebentar lagi mereka akan datang mengetuk pintu 

Mendorong masuk dan menjerembabkan nasib 

Di ambang waktu. Dengan berbagai tuduhan 

Barangkali agen mereka ada di antara kita 

Dengan pestol Browning di pinggang dalam 

Kita tak pernah pasti tahu 

Mengapa engkau pucat sekali? 

Intip cermin di atas lemari 

Di luar angin pepohonan damar masih berseru 

Atau jip-kah itu yang menderu? 

Cek sekali lagi: sudahkah semua dokumen dibakar 

Bersihkan sisa abu di lubang kloset 

Granat dan sten di dinding-papan 

Hapalkan nama-nama palsu kalian

Sudjono! Hentikan goyangan kakimu 

Merokoklah. Merokok di kolong kalau tak tahan 

Udara terlalu pekap di sini, dalam temaram 

Kita makin berpeluh tapi jari kenapa menggigil 

Udara panas bergetah dengan bau ikan sardin 

Seorang bangkit pelan, mengintip di balik gorden


Tiba-tiba aku berteriak, melolong-lolong 

Tjok dan Momo menerkamku tak berbunyi 

Dan menyumbat mulutku

Aku berontak, lepas dalam geliat liar 

Tapi badan mereka bagai sapi Bali 

Lenganku dikunci mereka ke punggung. Badanku 

Dibengkok-busurkan 

Keluh serak dari mulutku 

‘Lepaskan dia. Dan kau diam’
Kata Budi
‘Kau terlalu tegang’
Diapun menuding ke sudut kamar
Aku terhuyung ke sana, dua langkah
Dan tiga langkah surut kembali
Dalam gerakan terpincang, kataku serak:
‘Budi, aku telah berkhianat’

Seluruh kamar tegang dan pekat
Halilintar meledak dalam ruangan
Mata mereka nanap, duka perjuangan semakin berat
Angin pepohonan damar menebas tajam bagai kelewang

‘Budi, aku sudah berkhianat’

Aku melihat berkeliling. Mereka diam aneh

Lenganku mula mengulur, lalu bergantungan

Dengan gelisah aku berputar melihat kawan-kawan

Mataku merah dan liar serigala

Meneriakkan ‘Aku pengkhianat!’

Dan aku tersedu, tertengkurap di tengah kamar

Mereka semua diam. Sudjono mematikan rokoknya

Aku menangis seperti anak lima tahun

Yang kehilangan baling-baling kertasnya

‘Tembaklah aku. Mereka sudah tahu semuanya

Sebentar lagi mereka datang

Aku tak tahan Budi, tembaklah aku di sini’


Budi memberi tanda. Senjata-senjata dibongkar dari dinding
Dengan perkasa mereka siap berangkat dalam formasi rahasia
Mereka akan menyelinap lewat gang belakang
Sepanjang urat-urat kota memperjuangkan kemerdekaan
Di sela rapatnya rumah-rumah, meneruskan gerakan di bawah tanah

Budi melucuti belatiku dan pada Momo memberi perintah 

Menggamit Tjok dan Maliki dengan tangan perunggu 

Perlahan yang lain berangkat satu-satu 

Setiap orang memerlukan menoleh padaku sebentar 

Di lantai, aku menekuri jubin sebelah meja 

Dan Momo yang akan menjalankan perintah komandan 

Berdiri dengan belatiku telanjang di tangan.



 

1963

=TAUFIK ISMAIL=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar