Tampilkan postingan dengan label RUSTAM EFFENDI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RUSTAM EFFENDI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 September 2015

SEORANG ANAK karya : Rustam Effendi

seorang anak
menoleh sayu
pada temannya
yang mengerat
sepotong daging
yang menyanyi ria
makanan bergizi
dan imunisasi



=RUSTAM EFFENDI=

KEMARAU DATANG LAGI ANAKKU karya : Rustam Effendi

kemarau datang lagi anakku
tangan ini semakin kaku
dan ulu cangkul olehku
bara terasa
dan tanah ini batu dan bata

kemarau datang lagi anakku
lihat tanaman tak berpucuk
dan mata cangkul yang mengerang
membacok batu dan bata

kemarau datang lagi anakku
apa yang kau makan siang ini
lihat tanaman tak berpucuk
di tangan bapak ada batu dan bata



=RUSTAM EFFENDI=

HUJAN TURUN LAGI ANAKKU karya : Rustam Effendi

hujan turun lagi anakku
tentu pohon para basah lagi
dan pucuk-pucuk ilalang
terasa menusuk-nusuk jantung ini

hujan turun lagi anakku
apa yang kau makan pagi ini
sepotong umbi pun jadilah
tapi, angin pun telah lama
sembunyi ke kota

hujan turun lagi anakku
hanya satu yang tersisa pada bunda
semoga malaikat datang segera
membawa sepotong umbi
pun
jadilah



=RUSTAM EFFENDI=

PENGEMIS karya : Rustam Effendi

masih terasa
ketika tangan yang terakhir
menadah dan lunglai
orang-orang berdesak lalu
cepat sekali tak sempat tahu
ada juga yang mengerling sebentar

nafasnya terengah
ketika tangannya yang kosong
rebah bersama tubuhnya



=RUSTAM EFFENDI=

AKU karya : Rustam Effendi

aku
adalah doa ayah bunda
yang tangannya cekung
menadah ke atas
yang penuh harap
yang matanya nanar
kadang berair



=RUSTAM EFFENDI=

NEGERIKU II karya : Rustam Effendi

bila malam
gelap semua
juga swara

toleh ke atas
bulan terus purnama
juga bintang yang menabur cerita

wahai pohon-pepohonan
tahan olehmu cahya itu
kecuali seberkas dan seberkas
yang mengukir cerita suci
tentang cinta kepadanya

wahai berkas cahya bulan purnama
cahya bintang yang lip-lip
yang mengukir cerita suci
kudekap isteriku
kupeluk anakku



=RUSTAM EFFENDI=

NEGERIKU 1 karya : Rustam Effendi

berbatas surga
sungai perak mengalir sejuk
ikan pik-pik di dalamnya
tangkap olehmu sesukamu

di ujung sana
hutan bentara
di atasnya buah surga
ambil olehmu
sesukamu

itu di sana
gunung beledru
benteng perkasa
nyawa kami



=RUSTAM EFFENDI=

SUATU SENJA karya : Rustam Effendi

Langit yang bagai cungkup
tinggi sekali
kuning tembaga di atasnya

langit yang bagai cungkup
tinggi sekali
ada segumpal putih
terbirit ke sana

langit yang bagai cungkup
tinggi sekali
kadang tak terperi

langit yang bagai cungkup
mengurung hamba di sini
kenapa hamba baru mengerti



=RUSTAM EFFENDI=

Senin, 10 Agustus 2015

CAHAYA MERDEKA karya : Rustam Effendi

Kepada Tanah Airku
Sekali aku terbangun dalam cerkammu,
Dari dalam jurang yang gelap hitam
Kau renggut aku hingga akan jiwaku,
Kau angkat aku membubung
menatap wajah Suria Merdeka .....
Buta aku disorot nikmat sinar gemilang,
diseret hanyut gelora arusmu,
Kemudian kau lemparkan daku
ke pantai tindakan nyata !
Telah kau remuk aku
bersatu-padu dengan sinarmu
Ta' mungkin k aku 'kan surut lagi
sampai airmu lipur cahyamu dalam matiku .......
Akan mengembus angin
dari tepi kuburku ke tiap penjuru,
membawa nikmat cahya merdeka ......
Dan sujudlah aku
di hadirat Tuhanku menunggu
putusan akhirku di dunia baka !




=RUSTAM EFFENDI=

TANAH AIR karya : Rustam Effendi

Berpadang katifah* hijau
berlembah, bekasan danau,
berlangit bertudung awan
bergunung berbukit, berpantai lautan.
O, tanah airku, yang indah sangat.
O, tanah airku yang beta cinta,
Di malam menjadi mimpi,
di siang merayan hati,
Terkurang madahan Sa'ir,
pelagukan ihtisym** asmara Kadir,
O, tanah airku yang beta cinta.
O, tanah airku yang sangat kaya,
bergoa penyimpan logam,
berkolam penerang malam,
bersungai berbatu ratna,
lautan menyimpan harta mutiara,
O, tanah airku yang sangat kaya.
O, tanah airku yang sangat subur,
bertikar bersawah padi,
berladang berkebun kopi,
Berharta di dalam hutan,
membual usaha bukan buatan,
O, tanah airku yang sangat subur.




=RUSTAM EFFENDI=

* Permadani
** hormat

 

MENCAHARI karya : Rustam Effendi

Bersalut ratna diselang emas berhari-hari,
Itulah kalung perjalanan hidupku,
Membenturkan kesenangan cahaya nubari,
Tiadalah pernah digetus pilu, rantaian mutu.
Menggeleng hati, menampik kata yang beta sebut,
Timbullah kurang, di untaian permata,
Merenggutkan gembiraku ke dalam selaput,
Menungan dada. Menurut beta, sepanjang data
Seperti sayap rajawali datang menyerang kalbu,
Menutup sinar persenyuman sejahtera,
Demikian kegelapan di dalam hatiku.
Seperti buta mencahari jalan, meraba-raba,
Begitu beta bergontaian seorangku,
Menuruti kebenaran tujuan bangsaku.




=RUSTAM EFFENDI=

MENGELUH 2 karya : Rustam Effendi

Bilakah bumi bertabur bunga,
Disebarkan tangan yang tiada terikat,
Dipetik jari, yang lemah lembut,
Ditandai sayap kemerdekaan ra’yat?
Bilakah lawang bersinar Bebas,
Ditinggalkan dera yang tiada berkata?
Bilakah susah yang beta benam,
Dihembus angin, kemerdekaan kita?
Di sanalah baru bermohon beta,
Supaya badanku berkubur bunga,
Bunga bingkisan, suara sa’irku.
Di situlah bersuka beta,
Pabila badanku bercerai nyawa,
Sebab menjemput Manikam bangsaku.




=RUSTAM EFFENDI=

MENGELUH 1 karya : Rutam Effendi

Bukanlah beta berpijak bunga,
Melalui hidup menuju makam
Setiap saat disimbur sukar,
Bermandi darah dicucurkan dendam.
Menangis mata melihat makhluk,
Berharta bukan berhak pun bukan
Inilah nasib negeri ‘nanda,
Memerah madu menguruskan badan.
Ba’mana beta bersuka cita,
Ratapan ra’yat riuhan gaduh,
Membobos masuk menyatu kalbuku.
Ba’mana boleh berkata beta,
Suara sebat sedanan rusuh,
Menghimpit madah, gubahan cintaku.




=RUSTAM EFFENDI=

LAUTAN karya : Rustam Effendi

Terdengar derai ombak, bercerai,
Terhampar ke pantai, sorai terurai.
Mengaum deram, derum lautan,
Walaupun di dalam malam yang kelam.
Terbentang muka, alun tiada,
Tergenang segara, tida’ terduga
Menyanam air, dalam arusan,
Satupun ta’ mungkin, dapat menyilam.
Demikianlah konon lautan hidup,
Bersabung ombak sebelah ke luar,
Bercatur rasaian, senang dan sukar.
Bagaimanakah artinya rahasia hidup?
Apakah ujud manusia bernyawa?
Seorang pun tiada mungkin menduga.




=RUSTAM EFFENDI=

KEPADA YANG BERGURAU karya : Rustam Effendi

O Engkau cucu Adam
Yang bermain di taman bunga, berteduh di bawah bahgia.
Alangkah senang sentosamu,
Menyedapi buah yang lezat, bertangkai di Pohon Asmara
O Engkau Ratna alam,
Yang bertilam kesuma nyawa, disimbur Asmara juwita,
Soraikan gelak suaramu,
Dipeluki tangan yang lembut, dicium, di riba Permata.
O Engkau makhluk Tuhan,
Sepatah madah tolong dengarkan, tolong pikirkan,
Sekalipun tuan dalam bergurau.
Jauh bersunyi tolan
Seorang beta dalam berduka, tiap ketika,
Merindukan tanah dapat merdeka.




=RUSTAM EFFENDI=