Aku melangkah ke luar gapura
dan tertegun di bawahnya: Gerbang
yang pernah menerima kedatanganku,
kini hendak kutinggalkan. Alangkah
kecil diriku, memandang keluasan
dunia di luar lingkungan kampus.
Aku melangkah ke luar gapura
dan tertegun di bawahnya: Gerbang
yang pernah menerima kedatanganku,
kini hendak kutinggalkan. Alangkah
kecil diriku, memandang keluasan
dunia di luar lingkungan kampus.
menemu bentuk. Tanah-tanah gersang
menjadi subur. Bagai disihir
air pun mengalir
lewat Impian abadi leluhur
padang-padang hijau
menghimbau.
Sangkuriang nanar memandang:
Kerja yang terbengkalai
akhirnya selesai.
Tubuh-tubuh baja, lengan-lengan perkasa
menyusun batu demi batu
dinding telaga raksasa.
Membendung
napsu angkara manusia
yang berpusat pada: Aku,
Sangkuriang kesiangan.
Dayangsumbi membuahkan senyum
ke bumi: Inilah cintaku
pada turunan, anak-cucu
yang datang kemudian.
Tubuh-tubuh semampai, tangan-tangan gemulai
menanam benih demi benih
padang kencana.
Perwujudan ikrar
ketika menyingsing fajar.
Cintaku pada turunan
yang datang kemudian.
Impian abadi leluhur
menemu bentuk. Tanah-tanah subur
bukan lagi impian.
Tapi: kenyataan.
1969
=AYATROHAEDI=
Tetap kucinta'
gunung-gunung gundul
karena keyakinan
tiba saatnya
'kan kembali menghijau
Unggas yang terbang itu
'kan pulang ke sarang
bertelur dan mengeram
dalam kedamaian.
Pohon di kejauhan itu
selalu melambaikan tangan
bagi yang mengerti
arti harapan.
Ikan di kali
adalah kemerdekaan.
1961
=AYATROHAEDI=
Kabut pegunungan
menutup lembah
suram cahya matari
di danau bawah
Kabut pegunungan
menutup lembah
dingin hati
mengetuk pintu
Hati dingin, hati
yang dingin,
bagai kabut pegunungan
menghadang matari.
Hati dingin, hati
yang dingin,
bagai pintu
berpalang besi.
Kabut pegunungan
menutup danau di bawah
hati 'kan tetap hati
walau pun sedingin besi.
1963
=AYATROHAEDI=
Di barat langit terbakar
matahari yang tenggelam.
Dan senja yang pijar
bersiap menyambut malam.
Pucuk-pucuk gunung
merenung.
Dan hidup sehabis senja
'kan masuk dunia lain
di bawah temaram lilin.
Pucuk-pucuk rindu
dicumbu
angin yang berkelana.
dan lambaian daunan
'kan menggugah kesadaran:
kalulah tanah kelahiran!
Di barat langit memerah
pada kutub siang.
Dan gairah bangkit
di bukit-bukit
dan lembah-lembah
tanah tersayang.
1966
=AYATROHAEDI=
Selamat tinggal, duhai, setiap kenangan!
Keharuan, kemanisan masa kanak
adalah mimpi yang tak bisa dilupakan
Adalah pagi-pagi, punggung kerbau
selalu jadi tunggangan. Musim bersawah
kesibukan kampung di sana tertumpah.
Menggema lagu gembala, lagu setiap gembala:
Darah yang turun-temurun
tetes bunda penuai padi
keringat bapa pembajak
lewat nini lewat aki
lewat jantung yang berdetak
semenjak kampung terhuni.
Angkatan demi angkatan
dan jauh sebelum itu.
Kerbauku sayang, kambing tercinta,
rumput terhampar di bumi ini
kalian cuma yang punya.
Selamat tinggal, duhai, setiap kenangan!
Keharuan, kemanisan masa kanak
adalah mimpi yang selalu dimimpikan
Adalah ketika senja, kereta tebu
selalu jadi incaran. Musim memotong
setiap anak pun berkumpul di sana.
Menggema lagu gembala, lagu setiap gembala:
Cinta yang turun-temurun
cinta bersemi di hati
cinta ladang dan tanaman
lewat bunda cinta padi
lewat bapa cinta tanah
tak pernah menjadi kering.
Angkatan demi angkatan
dan jauh sebelum itu.
Tanahku sayang, ladang tercinta
keringat ngucur di badan
adalah cuma untukmu.
Selamat tinggal, duhai, setiap kenangan!
Perpisahan antara kita adalah mimpi
yang tak pernah kumimpikan
1964
=AYATROHAEDI=
Bulan tanggal duapuluh-tiga
malam ini terlambat tiba
Dari balik awan mengintip ragu:
Apakah aku akan mampu
menembus tebalnya kabut
untuk menyampaikan amanat
di tengah gerimis hujan?
Air yang kemilau ditimpa cahya
memisahkan kedua ujung telaga.
Bulan yang ragu,
apakah jarak yang jauh
tak mungkin jadi dekat
jika padamu kutitipkan rindu?
Dari Situ Patenggang
terpandang jalan panjang
yang mungkin terlalu jauh
untuk bisa selesai kutempuh
Tapi di Situ Patenggang
semuanya jelas terbayang:
bayang-bayang
yang membayang
bagai bayangan
yang terbayang
bergoyang
1973
=AYATROHAEDI=
Di danau ini
anak-anak alam
beterjunan
dan berkejaran
sepuas hati
Di danau ini
gerak-gerak alam
berkejaran
dan bersahutan
seindah puisi
Di danau ini
gema suara alam
bersahutan
dan bersalaman
dalam hatiku
1967
=AYATROHAEDI=
Dia berdiri di tikungan
karena tuntutan penghidupan
adalah bagian dari kehidupan
Dia berjalan pelan-pelan
karena kehidupan
melemparkannya ke jalan
Disapanya setiap lelaki
tidak dengan hati
dibuahkannya senyuman
lantaran keadaan
Pandangnya membayangkan
napas penderitaan
Suram lampu jalan
suram hidupnya yang akan datang
1963
=AYATROHAEDI=
Sebuah hutan memucuk
lewat kampung Rajagaluh
gelagah lebat memanjang
tertutup jalan ke kota
biji tarum bunga kembang
burung ngisap benangsari
Dekat tidak tentram hati
tapi besok lain lagi
rindu kampung cinta dara
tak bakal sesayang bunda
habislah tahun dan bulan
tak kujelang Rajagaluh
1958
=AYATROHAEDI=
*(dari lagu rakyat Sunda)
Hujan jatuh di luar musim
menghijaukan rumput di jalan
Hujan jatuh bersama angin
melambaikan daun di dahan
Hujan jatuh membawa dingin
menyejukkan rindu di badan
Cinta yang tumbuh setiap musim
adalah cintaku pada keabadian
1958
=AYATROHAEDI=
Jalannya penuh berdebu
antara sawah dan kali
antara gunung dan tegal
di bawah kilat belati
anak pulang dari kota
mengaca mayat sendiri.
Dan rindu makin menggunung
antara mata dan hati
rindu kampung kelahiran
di bawah kilat belati
melurus jalan ke makam
bawa cinta sampai mati
1958
=AYATROHAEDI=