Tampilkan postingan dengan label MANSUR SAMIN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MANSUR SAMIN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Agustus 2015

DUKACERITA DI BELUKAR SENJA karya : Mansur Samin

Beratap awan retak-retak

sampailah laskar di pinggir kota

mengiring putri Citrarasmi

menuju Majapahit

bakal jadi suntingan

prabu Hayam Wuruk

bakal berkerabat

dengan kerajaan Pajajaran

 

Setiba utusan di istana

wirawiri para penggawa

 

Ke singgasana

bersembah patih Gajah Mada:

Baginda Majapahit Raya

apa gunanya tamu disambut

bukankah kerajaan Pajajaran

telah lama takluk

di bawah duli Tuanku?

 

Balik utusan ke pinggir kota

Bawa pesan patih Gajah Mada

 

Setelah mendengar pesan

Sri Baduga Maharaja Pajajaran

lama terdiam

menahan duka, menahan murka:

 

Tidakkah Hayam Wuruk sendiri

melamar putriku Citrarasmi

kenapa harus aku pula

bersembah ke depannya

cuma karena dia

lebih kuasa?

 

Di itu siang

laskar Pajajaran jadilah bimbang:

Kecongkakan Majapahit

apakah dianggap angin

atau dijawab dengan lembing?

 

Atas perintah Sri Baduga

utusan kembali ke Majapahit

membawa jawaban singkat:

Adat mana pula

harus seorang bapak

menyerahkan putrinya

ke depan bakal mantunya?

 

Saat menerima jawaban

patih Gajah Mada jadilah murka:

Sebelum patih bertindak

suruh Sri Baduga

cepat ke mari membawa putrinya

bersembah ke depan baginda

 

Sebagai adat, Pajajaran yang takluk

rajanya ke mari harus bersujud!

 

Dengar pesan-perintah patih Gajah Mada

para laskar dan panglima

serasa mendapat tamparan hina

serasa mendapat lemparan nista

sibuk bersiap:

Daripada Baginda tercoreng arang

lebih baik tak pulang ke pangkalan

 

Bondongan porak peranda

siap tiap senjata

 

Bersama angin dari selatan

menderu sorak di jauhan

laskar Majapahit telah bangkit

akan menawan Raja Pajajaran

yang tak mau tunduk

yang tak mau takluk

 

Maka laskar Pajajaran

menyambut serangan dengan perwira

dan di tiap arah

perang tanding pun terbuka

 

Dari tiap penjuru

laskar Pajajaran mengamuk

lembing, kelewang dan anak panah

berlaga memorak angkasa

 

Hampir magrib

awan di langit makin tipis

laskar Majapahir masih mengalir

mengepung rapat setiap arah

 

Di segenap tempat

perang terus berkobar

laskar Pajajaran yang bertahan

betapapun perwira

kerna musuh yang menggelombang

tenaga bertahan tak imbang

perlawanan yang tangguh

jadi lumpuh

 

Nun di belukar barat

dari seorang laskar

Citrarasmi mendapat kabar:

Ayahanda Sri Baduga

telah tewas dengan perkasa

 

Meratapi berita itu

putri Citrarasmi

mengajak para inang pengasuh

mati bersama, bunuh diri!

 

Di bawah lazuardi pucat kesumba

semua laskar Pajajaran

tewas perkasa

membela malu

membela nama

 

Melintasi bangkai terkapar

semua perangkatan

kembali ke Majapahit

membawa berita akhir:

Putri Citrarasmi

telah bunuh diri!

 

Malam pun turun

sampai berita ke Hayam Wuruk

beliau pekur

sesal makin menjadi:

Putri jelita Citrarasmi

putri molek bakal permaisuri

tak dapat dipersunting

karena ulah kurang teliti

karena ulah kecongkakan diri

 

Demikianlah

telah tercipta sebuah kisah

dukacerita di belukar senja

nun, di Majapahit sana

ada cinta yang sengsara

ada cinta yang kecewa

sebab pilihan Citrarasmi

daripada hidup terhina

lebih baik mati

membela nama

 

Maka pesan dari sejarah:

setiap tindak manusia

jika terlalu mengagungkan kuasa

jika terlalu menghina sesama

akhir nasibnya tentu kecewa!




=MANSUR SAMIN=

JELMAAN karya : Mansur Samin

Siapakah kau

nakhoda, bajak atau nelayan

awas lewat di sini anak cucu

ingat jembalang cermat siga gelombang

ini laut, kubur kisahku sepanjang zaman

 

Itu perahu

berisi pengantin baru

berlayar di pagi bersih

dua jiwa menyatu kasih

 

Silir ombak berdesiran

mengelus sanggul kembang haruman

mata dan kasih bersiutan

sibuk menjahit menolak sungkan:

tanganmu itu Nakhoda Ragam

jangan liar di tengah lautan

 

Bila Siti terus menjahit

diam sendiri terasa sunyi

ingin jemari bercumbu kasih

rangkullah Abang, peluklah mari!

 

Dhuh, matamu Siti sibintangpualam

mendebur rasa penuh kobar

dhuh, jelitamu Siti sipijargumilang

menjirat cinta kalbu menggetar

 

Santun orang di perahu

ada sopan tahu malu

 

Angin segar

kasih membakar

sitangan liar

merangkul nakal

 

Alihkan tangan Nakhoda Ragam

kita di perahu ingatlah sopan

apakah tega cinta terbuang

benam berdua mangsa lautan?

 

Sekalipun di laut

sekalipun di gelombang

rangkul cintaku

peluk kasih sayang

 

Menolak yang tak dapat ditolak

tangan merangkul sejadinya

cinta pun liar, liarlah jarum

menembus jantung

seraya terjun

 

Laut menggelora

jingga oleh darah

suara di mana-mana:

onarnya cinta

kerna ulah napsu manusia!

 

Siapakah kau

nakhoda, bajak atau nelayan

awas lewat di sini anak cucu

jika jumpa buaya putih

jangan takut anak cucu

itu jelmaan nenekmu Siti.




=MANSUR SAMIN=

WARGA TERBUANG karya : Mansur Samin

Sebuah petaka

menimpa istana dan rakyatnya

putri jelita yang cantik itu

dijangkiti sampar telah seminggu

 

Di itu pagi

ketika gadis-gadis menumbuk padi

saling bertanya dalam hati

apakah akibat penyakit ini

bagi seluruh negeri?

 

Di labuhan nun, di pinggir kampung

para nelayan berkerumun

masihkah dikenal putri itu

jika sampar memenuhi tubuh?

 

Di bawah awan retak-retak

para menteri mupakat di teratak

apa disujudkan ke depan Baginda

agar segenap rakyat

terhindar dari bencana?

 

Menteri tua

merenung lama:

Betapa sedih Baginda

jika harus pisah

dengan putri jelita

 

Menteri muda

menjawab:

Raja yang bijaksana

tetap mementingkan rakyatnya

daripada

keuntungan dirinya

 

Dari sudut memutus:

Tak adakah jalan lain

agar putri jelita itu

jangan hidup terkucil?

 

Sampar adalah setan penyakit

jika berjangkit ke tengah rakyat

apa jadinya kerajaan Luwu ini

satu-satunya kebijaksanaan

putri jelita

harus dikucilkan!

 

Di malam yang penuh bintang

sujud menteri di balai dalam

mohon terbuka duli Baginda

keinginan rakyat kita

putri istana harus dikucilkan

karena di tubuhnya bersarang

penyakit menular yang mengerikan

 

Raja Luwu terdiam pekur

mengenang putri terbuang jauh

mengenang pribumi kena bencana

apa jadinya

memilih mana

putri seorang atau nasib rakyat

untuk membanding apakah jawab?

 

Bersujud pula menteri muda

patik maklumi beratnya cinta

haruskah menolak kasih

membuang darah sendiri

cuma sebab penyakit

yang akan merusak rakyat

yang akan menjangkiti rakyat

 

Antara cinta dan bijaksana

berbenturan di hati Baginda

sambil pekur bertitah:

Inilah undang Kuasa

inilah ujian Pencipta

menguji sikap seorang raja

 

Raja adalah pelita bagi rakyatnya

raja adalah tongkat bagi rakyatnya

kami menteri

cuma abdi pribumi

mohon maaf dan dimaklumi

kami pun tahu kebimbangan itu

kami pun tahu kesedihan tuanku

 

Dari barat sinar empuk keemasan

Baginda melangkah ke peraduan

direnungi tubuh putri yang terbujur

dinanapi kaki yang busuk bernanah

lalar menghitam karena bau busuk

duka mengguncang dada:

Nasibmulah itu anakku

harus terbuang jauh

apa jadinya Ayah ditinggal nanti

bersunyi sendiri sepanjang hari?

 

Perlahan terbuka mata bengkak

nyalang tapi tak dapat berkata

tinggal hati berbisik

menjeritkan pedih

antara kasih Ayah yang dijunjung

dan nasib diri yang busuk

ditentukan oleh hukum kampung

 

Di malam yang menentukan itu

telah hadir para menteri di balairung

Baginda bertitah:

Atas nama rakyat

atas kepentingan rakyat

putusan yang kupilih

membuang anak sendiri!

 

Hilirmudik para menteri

malam kerja malam ini

sebuah rakit besar

disiapkan untuk berlayar

bagi putri dan inang pengasuh

menjelang subuh

akan bertolak meninggalkan Luwu

 

Langit subuh pucat mendung

rakit pun dibawa arus

tinggallah kerajaan Luwu

tinggallah Baginda seorang

akan pergi anak terbuang

entah ke mana mengembara jauh

membawa pilu!

 

Mentari pagi menyemburat

di bukit nun, rakyat berjejal

melepas putri tak dapat melihat

akan bertolak warga terbuang

karena tuntutan

harapan rakyat

keselamatan rakyat

 

Setelah berbulan dimainkan gelombang

rakit terdampar di pintu karang

turunlah dayang-dayang

mencari daratan

mencari tempat berlindung

untuk melanjutkan hidup

 

Pagi yang amat sibuk

pontang panting para inang pengasuh

mendirikan sebuah bangsal

mencari tempat berladang

untuk napkah kehidupan

warga terbuang

 

Di atas tanah gembur

segalanya tumbuh subur

padi menjadi

kentang dan ubi

oleh berkah kehidupan

melimpah seharian

 

Setelah bertahun duka berlalu

di terik siang tengah hari

di sebuah dangau

putri yang sendiri

menjaga jemuran padi

 

Tiba-tiba dari semak hutan

merangkak kerbau putih

mendekati padi jemuran

menanapi putri yang sendiri

 

Terkejut sang putri

cepat menghalau kerbau putih

telah dilempar berulang kali

tapi makin mendekati

 

Digerakkan oleh kecemasan

berlari kencang sang putri

sebab kegugupan

tersandung rubuh ke bumi

 

Maka kuasa takdir

kerbau putih

menjilati tubuh putri

hingga bersih

bersinar lagi

 

Hari kedua berlaku pula

kerbau putih mendekati putri

menjilat tubuh berulang kali

hingga berbinar

oleh segala sinar

jadi rupawan gemilang

 

Telah tercipta hukum kuasa

tubuh putri tambah jelita

menyinar ke seluruh rimba

menyuburkan mayapada

oleh kecantikan parasnya

 

Di pagi dingin langit bersih

lahirlah sumpah sang putri

Untuk anak cucuku nanti

jangan dibunuh

jangan diganggu

kerbau putih sibaik hati

kerbau putih yang penuh kasih!

 

Sampai kini di sekitar Palu

sumpah putri masih berlaku

melarang tiap pribumi

menyembelih sikerbauputih

 

Bukankah kasih

harus bertimbang

dengan kasih?

 



=MANSUR SAMIN=

SIBAGANDING SIRAJAGODA karya : Mansur Samin

Tengah siang

di pojok nun, ke dalam restoran

berbondong para kuli berlesuan

duduk di sebaris bangku

dari bisik dan keluh:

Telah berbulan

tak ada kapal datang!

 

Sedang sama menatap ke bandar sana

terkuak pintu muka

suara siul mengalun

dari mulut kumis brenteng

tegak melangkah lagak perlente

bertopi pandan, bercekak pinggang

menatap awas ke tiap ruang

dengan gerak angkuh

menggeser sebuah bangku

 

Kuli-kuli cepat menyisih

terserak pergi

dari pandang yang heran

hati terus bertanya:

Dari mana pula munculnya

ini Sibaganding Sirajagoda

bukankah dirinya

sudah lama penghuni penjara?

 

Sambil mengunyah kacang

ia buka topi pandannya

tiba-tiba tinjunya

menghentam meja

dengan megahnya:

Kasi bir! Sambal Udang

Rokok Kowa dan Sate Padang!

 

Tengah bersantap dengan lahapnya

dari lorong utara

muncul kepala berpet kuning

Simarkamin Sikenpetai

kuli-kuli kerumun kembali

menanti apa kan terjadi:

Ini restoran

apakah bakal jadi gelanggang

dua jagoan?

 

Dengan gerak mengintai

berpaling Sibaganding

pelan meletakkan bir

tegap berdiri seperti singa

sambil memilin kumisnya:

Sibaganding Sirajagoda

siapa berani boleh coba!

 

Markamin terdiam

dan duduk tenang:

Teruskan makan Bung, silahkan minum

kedatanganku ke mari

bukan buat menangkapmu!

 

Satu demi satu

bubar para kuli

dan dari kerumun

terdengar bisik:

Sibaganding Sirajagoda

apa ada tandingnya di kota Sibolga?

 

Suatu hari

gerimis mendung memucat langit

sedang berteduh para kuli

dari sebuah bendi

turun opsir Nippon

menggandeng nona Indo

belanja ke dalam toko

 

Akan keluar dari meja kasir

di pintu telah menanti

Sibaganding Sirajagoda

dengan tampannya

bercekak pinggang

topi pandan berkibar

menatap tenang

 

Setelah bersiul

sebuah senandung

ia melangkah tegap maju

tangan yang hitam berbulu

menarik pinggang Sinonaindo

digandeng ke dalam sado

sedang Siopsir

melongo tak berkutik

 

Kembali beraksi Sirajagoda

menggeger kota Sibolga

inilah korban keduapuluh dua

perempuan kena tenungnya

 

Sibaganding Sirajagoda

siapa berani boleh coba

 

Musim gajian di akhir bulan

para kuli keluar dari labuhan

satu-satu hilang ke pakter tuak

di tengah celoteh dan cakap

dari pintu samping

muncul Sibaganding

semua jadi hening

ke sebuah meja makan

duduknya mekangkang

jarinya yang bugil

pelan mengusap kumis

 

Dalam kecemasan itu

semua dikagetkan dentaman tinju:

Mana tuak baru

Jengkol, Sambal pari

Cepat bawa ke mari!

 

Kuli-kuli balik menyisih

menanti apa yang akan terjadi

 

Selagi semua diam

dari lorong selatan

terdengar tawa riuh

menuju pintu

 

Di teritis dekat terali

sepuluh tentara Nippon

akan masuk terhenti

serempak melongo

menatap awas ke satu pojok

 

Semua mata penuh tanya

menanti gerak Sirajagoda

tapi tingkahnya yang bebas

senyum segar

jari mencukil gigi

mata melirik

dan tangan yang hitam

tenang mengangkat gelas

 

Dari rombongan tentara Nippon

seorang maju melangkah pelan

geraknya bagai kan menohok

mengekarkan lengan

tapi Sirajagoda

bersiul dan biasa

seolah tak terjadi apa-apa

 

Maka

di akhir teriakan tinggi

beterbangan stoples dan kursi

tuak berhamburan

dan di pojok tiang

sepuluh tubuh tentara Nippon

bertindih susun

tergeletak tak bergerak

 

Sibaganding Sirajagoda

dengan tenangnya

membersihkan bajunya

memilin kumisnya

dengan langkah pongah

pergi keluar

 

Sibaganding Sirajagoda

siapa berani boleh coba

 

Di hari Sabtu, hari pasaran yang sibuk

berdengung mobil-mobil truk dari timur

berloncatan tentara Nippon

menjaga ketat setiap lorong

sekitar pakter tuak

dikepung rapat

 

Gegerlah setiap pojok

telah tertangkap Sirajagoda

digiring ke Bonandolok

potong leher hukumannya

 

Sebuah pagi

di bawah langit yang cerah

ke sebuah pokok tusam

tubuh Sirajagoda

dirangket kuat

 

Tiba-tiba pedang samurai

menebas dan mendesing

tapi pental

lalu dicucuki dengan bayonet

ditikam dengan berbagai senjata tajam

tubuh Sirajagoda

tak apa-apa

 

Berapa senjata telah patah

berapa tangan telah benjol

tapi leher Sirajagoda

segubris pun tidak luka

 

Setelah putusasa

dibuka rangketannya

Sirajagoda senyum

dengan santun

minta minum

 

Hampir selesai meneguk cangkirnya

entah bagaimana mulanya

tubuh Sirajagoda

gaib tiada bekasnya

 

Begitu tersiar berita

ketakutan menggeger Sibolga

 

Atas ikhtiar Kenpetai

dihimpun para ahli

dari saran Datu Balemun

tentara Nippon dapat maklum:

Ilmu yang dipakai Sibaganding

bernama Ilmu Jugil

jika lehernya akan dipotong

jangan dirangket dengan tali

jika akan dibunuh dengan besi

jangan diberi minum air

 

Sedang merancang akan menangkapnya

dekat senja

betapa gempar kota Sibolga

dari sebuah kedai rampah

muncul Sirajagoda

menggandeng nona Cina

dan topi pandannya

berkibar megah

 

Maka beredarlah cerita:

Sibaganding Sirajagoda

bukan mati bukan menyerah

tapi korbannya keduapuluh tiga

nyonya tauke dari Singapura

 

Di pagi bersih

ketika ibu-ibu pergi mandi

tersiar pula berita:

Tadi dinihari

kedua orangtua Sirajagoda

telah diangkut dari rumahnya

 

Menjelang tengah hari

berita tersiar lagi: