Tengah siang
di pojok nun, ke dalam restoran
berbondong para kuli berlesuan
duduk di sebaris bangku
dari bisik dan keluh:
Telah berbulan
tak ada kapal datang!
Sedang sama menatap ke bandar sana
terkuak pintu muka
suara siul mengalun
dari mulut kumis brenteng
tegak melangkah lagak perlente
bertopi pandan, bercekak pinggang
menatap awas ke tiap ruang
dengan gerak angkuh
menggeser sebuah bangku
Kuli-kuli cepat menyisih
terserak pergi
dari pandang yang heran
hati terus bertanya:
Dari mana pula munculnya
ini Sibaganding Sirajagoda
bukankah dirinya
sudah lama penghuni penjara?
Sambil mengunyah kacang
ia buka topi pandannya
tiba-tiba tinjunya
menghentam meja
dengan megahnya:
Kasi bir! Sambal Udang
Rokok Kowa dan Sate Padang!
Tengah bersantap dengan lahapnya
dari lorong utara
muncul kepala berpet kuning
Simarkamin Sikenpetai
kuli-kuli kerumun kembali
menanti apa kan terjadi:
Ini restoran
apakah bakal jadi gelanggang
dua jagoan?
Dengan gerak mengintai
berpaling Sibaganding
pelan meletakkan bir
tegap berdiri seperti singa
sambil memilin kumisnya:
Sibaganding Sirajagoda
siapa berani boleh coba!
Markamin terdiam
dan duduk tenang:
Teruskan makan Bung, silahkan minum
kedatanganku ke mari
bukan buat menangkapmu!
Satu demi satu
bubar para kuli
dan dari kerumun
terdengar bisik:
Sibaganding Sirajagoda
apa ada tandingnya di kota Sibolga?
Suatu hari
gerimis mendung memucat langit
sedang berteduh para kuli
dari sebuah bendi
turun opsir Nippon
menggandeng nona Indo
belanja ke dalam toko
Akan keluar dari meja kasir
di pintu telah menanti
Sibaganding Sirajagoda
dengan tampannya
bercekak pinggang
topi pandan berkibar
menatap tenang
Setelah bersiul
sebuah senandung
ia melangkah tegap maju
tangan yang hitam berbulu
menarik pinggang Sinonaindo
digandeng ke dalam sado
sedang Siopsir
melongo tak berkutik
Kembali beraksi Sirajagoda
menggeger kota Sibolga
inilah korban keduapuluh dua
perempuan kena tenungnya
Sibaganding Sirajagoda
siapa berani boleh coba
Musim gajian di akhir bulan
para kuli keluar dari labuhan
satu-satu hilang ke pakter tuak
di tengah celoteh dan cakap
dari pintu samping
muncul Sibaganding
semua jadi hening
ke sebuah meja makan
duduknya mekangkang
jarinya yang bugil
pelan mengusap kumis
Dalam kecemasan itu
semua dikagetkan dentaman tinju:
Mana tuak baru
Jengkol, Sambal pari
Cepat bawa ke mari!
Kuli-kuli balik menyisih
menanti apa yang akan terjadi
Selagi semua diam
dari lorong selatan
terdengar tawa riuh
menuju pintu
Di teritis dekat terali
sepuluh tentara Nippon
akan masuk terhenti
serempak melongo
menatap awas ke satu pojok
Semua mata penuh tanya
menanti gerak Sirajagoda
tapi tingkahnya yang bebas
senyum segar
jari mencukil gigi
mata melirik
dan tangan yang hitam
tenang mengangkat gelas
Dari rombongan tentara Nippon
seorang maju melangkah pelan
geraknya bagai kan menohok
mengekarkan lengan
tapi Sirajagoda
bersiul dan biasa
seolah tak terjadi apa-apa
Maka
di akhir teriakan tinggi
beterbangan stoples dan kursi
tuak berhamburan
dan di pojok tiang
sepuluh tubuh tentara Nippon
bertindih susun
tergeletak tak bergerak
Sibaganding Sirajagoda
dengan tenangnya
membersihkan bajunya
memilin kumisnya
dengan langkah pongah
pergi keluar
Sibaganding Sirajagoda
siapa berani boleh coba
Di hari Sabtu, hari pasaran yang sibuk
berdengung mobil-mobil truk dari timur
berloncatan tentara Nippon
menjaga ketat setiap lorong
sekitar pakter tuak
dikepung rapat
Gegerlah setiap pojok
telah tertangkap Sirajagoda
digiring ke Bonandolok
potong leher hukumannya
Sebuah pagi
di bawah langit yang cerah
ke sebuah pokok tusam
tubuh Sirajagoda
dirangket kuat
Tiba-tiba pedang samurai
menebas dan mendesing
tapi pental
lalu dicucuki dengan bayonet
ditikam dengan berbagai senjata tajam
tubuh Sirajagoda
tak apa-apa
Berapa senjata telah patah
berapa tangan telah benjol
tapi leher Sirajagoda
segubris pun tidak luka
Setelah putusasa
dibuka rangketannya
Sirajagoda senyum
dengan santun
minta minum
Hampir selesai meneguk cangkirnya
entah bagaimana mulanya
tubuh Sirajagoda
gaib tiada bekasnya
Begitu tersiar berita
ketakutan menggeger Sibolga
Atas ikhtiar Kenpetai
dihimpun para ahli
dari saran Datu Balemun
tentara Nippon dapat maklum:
Ilmu yang dipakai Sibaganding
bernama Ilmu Jugil
jika lehernya akan dipotong
jangan dirangket dengan tali
jika akan dibunuh dengan besi
jangan diberi minum air
Sedang merancang akan menangkapnya
dekat senja
betapa gempar kota Sibolga
dari sebuah kedai rampah
muncul Sirajagoda
menggandeng nona Cina
dan topi pandannya
berkibar megah
Maka beredarlah cerita:
Sibaganding Sirajagoda
bukan mati bukan menyerah
tapi korbannya keduapuluh tiga
nyonya tauke dari Singapura
Di pagi bersih
ketika ibu-ibu pergi mandi
tersiar pula berita:
Tadi dinihari
kedua orangtua Sirajagoda
telah diangkut dari rumahnya
Menjelang tengah hari
berita tersiar lagi:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar