Jumat, 14 Agustus 2015

SIBAGANDING SIRAJAGODA karya : Mansur Samin

Tengah siang

di pojok nun, ke dalam restoran

berbondong para kuli berlesuan

duduk di sebaris bangku

dari bisik dan keluh:

Telah berbulan

tak ada kapal datang!

 

Sedang sama menatap ke bandar sana

terkuak pintu muka

suara siul mengalun

dari mulut kumis brenteng

tegak melangkah lagak perlente

bertopi pandan, bercekak pinggang

menatap awas ke tiap ruang

dengan gerak angkuh

menggeser sebuah bangku

 

Kuli-kuli cepat menyisih

terserak pergi

dari pandang yang heran

hati terus bertanya:

Dari mana pula munculnya

ini Sibaganding Sirajagoda

bukankah dirinya

sudah lama penghuni penjara?

 

Sambil mengunyah kacang

ia buka topi pandannya

tiba-tiba tinjunya

menghentam meja

dengan megahnya:

Kasi bir! Sambal Udang

Rokok Kowa dan Sate Padang!

 

Tengah bersantap dengan lahapnya

dari lorong utara

muncul kepala berpet kuning

Simarkamin Sikenpetai

kuli-kuli kerumun kembali

menanti apa kan terjadi:

Ini restoran

apakah bakal jadi gelanggang

dua jagoan?

 

Dengan gerak mengintai

berpaling Sibaganding

pelan meletakkan bir

tegap berdiri seperti singa

sambil memilin kumisnya:

Sibaganding Sirajagoda

siapa berani boleh coba!

 

Markamin terdiam

dan duduk tenang:

Teruskan makan Bung, silahkan minum

kedatanganku ke mari

bukan buat menangkapmu!

 

Satu demi satu

bubar para kuli

dan dari kerumun

terdengar bisik:

Sibaganding Sirajagoda

apa ada tandingnya di kota Sibolga?

 

Suatu hari

gerimis mendung memucat langit

sedang berteduh para kuli

dari sebuah bendi

turun opsir Nippon

menggandeng nona Indo

belanja ke dalam toko

 

Akan keluar dari meja kasir

di pintu telah menanti

Sibaganding Sirajagoda

dengan tampannya

bercekak pinggang

topi pandan berkibar

menatap tenang

 

Setelah bersiul

sebuah senandung

ia melangkah tegap maju

tangan yang hitam berbulu

menarik pinggang Sinonaindo

digandeng ke dalam sado

sedang Siopsir

melongo tak berkutik

 

Kembali beraksi Sirajagoda

menggeger kota Sibolga

inilah korban keduapuluh dua

perempuan kena tenungnya

 

Sibaganding Sirajagoda

siapa berani boleh coba

 

Musim gajian di akhir bulan

para kuli keluar dari labuhan

satu-satu hilang ke pakter tuak

di tengah celoteh dan cakap

dari pintu samping

muncul Sibaganding

semua jadi hening

ke sebuah meja makan

duduknya mekangkang

jarinya yang bugil

pelan mengusap kumis

 

Dalam kecemasan itu

semua dikagetkan dentaman tinju:

Mana tuak baru

Jengkol, Sambal pari

Cepat bawa ke mari!

 

Kuli-kuli balik menyisih

menanti apa yang akan terjadi

 

Selagi semua diam

dari lorong selatan

terdengar tawa riuh

menuju pintu

 

Di teritis dekat terali

sepuluh tentara Nippon

akan masuk terhenti

serempak melongo

menatap awas ke satu pojok

 

Semua mata penuh tanya

menanti gerak Sirajagoda

tapi tingkahnya yang bebas

senyum segar

jari mencukil gigi

mata melirik

dan tangan yang hitam

tenang mengangkat gelas

 

Dari rombongan tentara Nippon

seorang maju melangkah pelan

geraknya bagai kan menohok

mengekarkan lengan

tapi Sirajagoda

bersiul dan biasa

seolah tak terjadi apa-apa

 

Maka

di akhir teriakan tinggi

beterbangan stoples dan kursi

tuak berhamburan

dan di pojok tiang

sepuluh tubuh tentara Nippon

bertindih susun

tergeletak tak bergerak

 

Sibaganding Sirajagoda

dengan tenangnya

membersihkan bajunya

memilin kumisnya

dengan langkah pongah

pergi keluar

 

Sibaganding Sirajagoda

siapa berani boleh coba

 

Di hari Sabtu, hari pasaran yang sibuk

berdengung mobil-mobil truk dari timur

berloncatan tentara Nippon

menjaga ketat setiap lorong

sekitar pakter tuak

dikepung rapat

 

Gegerlah setiap pojok

telah tertangkap Sirajagoda

digiring ke Bonandolok

potong leher hukumannya

 

Sebuah pagi

di bawah langit yang cerah

ke sebuah pokok tusam

tubuh Sirajagoda

dirangket kuat

 

Tiba-tiba pedang samurai

menebas dan mendesing

tapi pental

lalu dicucuki dengan bayonet

ditikam dengan berbagai senjata tajam

tubuh Sirajagoda

tak apa-apa

 

Berapa senjata telah patah

berapa tangan telah benjol

tapi leher Sirajagoda

segubris pun tidak luka

 

Setelah putusasa

dibuka rangketannya

Sirajagoda senyum

dengan santun

minta minum

 

Hampir selesai meneguk cangkirnya

entah bagaimana mulanya

tubuh Sirajagoda

gaib tiada bekasnya

 

Begitu tersiar berita

ketakutan menggeger Sibolga

 

Atas ikhtiar Kenpetai

dihimpun para ahli

dari saran Datu Balemun

tentara Nippon dapat maklum:

Ilmu yang dipakai Sibaganding

bernama Ilmu Jugil

jika lehernya akan dipotong

jangan dirangket dengan tali

jika akan dibunuh dengan besi

jangan diberi minum air

 

Sedang merancang akan menangkapnya

dekat senja

betapa gempar kota Sibolga

dari sebuah kedai rampah

muncul Sirajagoda

menggandeng nona Cina

dan topi pandannya

berkibar megah

 

Maka beredarlah cerita:

Sibaganding Sirajagoda

bukan mati bukan menyerah

tapi korbannya keduapuluh tiga

nyonya tauke dari Singapura

 

Di pagi bersih

ketika ibu-ibu pergi mandi

tersiar pula berita:

Tadi dinihari

kedua orangtua Sirajagoda

telah diangkut dari rumahnya

 

Menjelang tengah hari

berita tersiar lagi:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar