Jumat, 14 Agustus 2015

WARGA TERBUANG karya : Mansur Samin

Sebuah petaka

menimpa istana dan rakyatnya

putri jelita yang cantik itu

dijangkiti sampar telah seminggu

 

Di itu pagi

ketika gadis-gadis menumbuk padi

saling bertanya dalam hati

apakah akibat penyakit ini

bagi seluruh negeri?

 

Di labuhan nun, di pinggir kampung

para nelayan berkerumun

masihkah dikenal putri itu

jika sampar memenuhi tubuh?

 

Di bawah awan retak-retak

para menteri mupakat di teratak

apa disujudkan ke depan Baginda

agar segenap rakyat

terhindar dari bencana?

 

Menteri tua

merenung lama:

Betapa sedih Baginda

jika harus pisah

dengan putri jelita

 

Menteri muda

menjawab:

Raja yang bijaksana

tetap mementingkan rakyatnya

daripada

keuntungan dirinya

 

Dari sudut memutus:

Tak adakah jalan lain

agar putri jelita itu

jangan hidup terkucil?

 

Sampar adalah setan penyakit

jika berjangkit ke tengah rakyat

apa jadinya kerajaan Luwu ini

satu-satunya kebijaksanaan

putri jelita

harus dikucilkan!

 

Di malam yang penuh bintang

sujud menteri di balai dalam

mohon terbuka duli Baginda

keinginan rakyat kita

putri istana harus dikucilkan

karena di tubuhnya bersarang

penyakit menular yang mengerikan

 

Raja Luwu terdiam pekur

mengenang putri terbuang jauh

mengenang pribumi kena bencana

apa jadinya

memilih mana

putri seorang atau nasib rakyat

untuk membanding apakah jawab?

 

Bersujud pula menteri muda

patik maklumi beratnya cinta

haruskah menolak kasih

membuang darah sendiri

cuma sebab penyakit

yang akan merusak rakyat

yang akan menjangkiti rakyat

 

Antara cinta dan bijaksana

berbenturan di hati Baginda

sambil pekur bertitah:

Inilah undang Kuasa

inilah ujian Pencipta

menguji sikap seorang raja

 

Raja adalah pelita bagi rakyatnya

raja adalah tongkat bagi rakyatnya

kami menteri

cuma abdi pribumi

mohon maaf dan dimaklumi

kami pun tahu kebimbangan itu

kami pun tahu kesedihan tuanku

 

Dari barat sinar empuk keemasan

Baginda melangkah ke peraduan

direnungi tubuh putri yang terbujur

dinanapi kaki yang busuk bernanah

lalar menghitam karena bau busuk

duka mengguncang dada:

Nasibmulah itu anakku

harus terbuang jauh

apa jadinya Ayah ditinggal nanti

bersunyi sendiri sepanjang hari?

 

Perlahan terbuka mata bengkak

nyalang tapi tak dapat berkata

tinggal hati berbisik

menjeritkan pedih

antara kasih Ayah yang dijunjung

dan nasib diri yang busuk

ditentukan oleh hukum kampung

 

Di malam yang menentukan itu

telah hadir para menteri di balairung

Baginda bertitah:

Atas nama rakyat

atas kepentingan rakyat

putusan yang kupilih

membuang anak sendiri!

 

Hilirmudik para menteri

malam kerja malam ini

sebuah rakit besar

disiapkan untuk berlayar

bagi putri dan inang pengasuh

menjelang subuh

akan bertolak meninggalkan Luwu

 

Langit subuh pucat mendung

rakit pun dibawa arus

tinggallah kerajaan Luwu

tinggallah Baginda seorang

akan pergi anak terbuang

entah ke mana mengembara jauh

membawa pilu!

 

Mentari pagi menyemburat

di bukit nun, rakyat berjejal

melepas putri tak dapat melihat

akan bertolak warga terbuang

karena tuntutan

harapan rakyat

keselamatan rakyat

 

Setelah berbulan dimainkan gelombang

rakit terdampar di pintu karang

turunlah dayang-dayang

mencari daratan

mencari tempat berlindung

untuk melanjutkan hidup

 

Pagi yang amat sibuk

pontang panting para inang pengasuh

mendirikan sebuah bangsal

mencari tempat berladang

untuk napkah kehidupan

warga terbuang

 

Di atas tanah gembur

segalanya tumbuh subur

padi menjadi

kentang dan ubi

oleh berkah kehidupan

melimpah seharian

 

Setelah bertahun duka berlalu

di terik siang tengah hari

di sebuah dangau

putri yang sendiri

menjaga jemuran padi

 

Tiba-tiba dari semak hutan

merangkak kerbau putih

mendekati padi jemuran

menanapi putri yang sendiri

 

Terkejut sang putri

cepat menghalau kerbau putih

telah dilempar berulang kali

tapi makin mendekati

 

Digerakkan oleh kecemasan

berlari kencang sang putri

sebab kegugupan

tersandung rubuh ke bumi

 

Maka kuasa takdir

kerbau putih

menjilati tubuh putri

hingga bersih

bersinar lagi

 

Hari kedua berlaku pula

kerbau putih mendekati putri

menjilat tubuh berulang kali

hingga berbinar

oleh segala sinar

jadi rupawan gemilang

 

Telah tercipta hukum kuasa

tubuh putri tambah jelita

menyinar ke seluruh rimba

menyuburkan mayapada

oleh kecantikan parasnya

 

Di pagi dingin langit bersih

lahirlah sumpah sang putri

Untuk anak cucuku nanti

jangan dibunuh

jangan diganggu

kerbau putih sibaik hati

kerbau putih yang penuh kasih!

 

Sampai kini di sekitar Palu

sumpah putri masih berlaku

melarang tiap pribumi

menyembelih sikerbauputih

 

Bukankah kasih

harus bertimbang

dengan kasih?

 



=MANSUR SAMIN=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar