Senin, 17 Agustus 2015
OUT OF DREAM karya : Beni Setia
utang terhampar padang impian:
pengharapan empat varian angka
dari empat belas kali pacuan kuda
menjelang subuh terbayang
di kabut pagi, tengah hari
terpampang: ”yang sejati itu dari gua,
pohon krowak atau pelupuk mimpi?”
”mana yang mungkin?” katamu. primbon
dan empat belas tafsir impen menyatakan:
mesjid itu pertanda kemakmuran. aula bagi
jama’ah yang senantiasa kenyang sendawa
petang hari aku melihat kamu pasang
jerat di cabang lurus pohon durian,
di surut matahari kamu menenggak portas
: menantang kereta tanpa talqin dan takbir
[katamu, ”sajak ini ditulis saat utang menggila
dan di luar: debt collector geram menunggu”]
1988/2008
=BENI SETIA=
NASIB SEBUAH PERCAKAPAN karya : Beni Setia
ada yang diam-diam menyandar pada dinding
saat waktu melampaui tengah malam
dan kanak bimbang di negeri mimpi
ada yang tergelincir ke kedalaman kabut
saat jalan-jalan mengejang dan kaku
dan batu-batu memasang butiran embun
ya! ada pohon tanpa daun, ada bunga tanpa
kupu, dan ada adaan tanpa ada, kata-kata
(gunung es di laut): mencair dalam diri — sendiri
24/1 – 1984
=BENI SETIA=
MENGAPA HANYA MALAIKAT karya : Beni Setia
satu dua antara belantara (rambut
putih kehilangan hitam), satu dua
kelokan lengang menjelang malam. di ujung
menunggu pedang dengan rajam + rajam
“bila mulut banyak mengunyah, bila lambung
banyak memamah, bila darah hanya berlemak:
apa tak terbaca plakat orang-orang lapar
pada setiap kerut lipat kulit perut?”
megap-megap bagai ikan, merayap bagai ketam
: tangan si miskin terkunyah larut di darah
o, mengapa hanya malaikat yang tahu, senyum
melihat jantung diremas-gemas dendam si lapar
jalan lengang, jalan panjang, jalan bimbang
bulan ramadhan; mengapa hanya malaikat yang
tahu? mengapa
mengapa hanya malaikat
1979/1983/1987
=BENI SETIA=
NAKULA-SADEWA karya : Beni Setia
dulu: pencinta ulung itu
membelah cermin: aku
dan bayanganku terpisah
siapa yang lebih utama
antara kami? ibu kunti
menerima kami seperti
merelakan ayah dan ibu moksa
pada satu saat harus dipilih:
aku atau kau–yang tinggal
di antara yang tersisa. yudistira
wajah lelah di raut telaga
tak menjelaskan: siapa
yang dipilih raut gelombang?
1426 H/1428 H
=BENI SETIA=
BIMA karya : Beni Setia
hari kamis: aku menyelam
ke dasar samudra. mencari
awal yang membangkitkan
alun, ombak dan badai lautan
mencari penggerak diri
mencari pengukuh aku
–sumber dari segala ada
hari jumat: hati pergi
sendiri, nuh berjingkat
menjauhi hiruk-pikuk semesta ada
mengejar awal garis
: sirotol mustakim
=BENI SETIA=
YUDISTIRA karya : Beni Setia
aku akan mendaki gunung
ini, aku mencari puncak
itu. karena pengembaraan
mengekalkan rindu dalam kalbu
yang kekal itu tak di lurah,
tak di lembah, tak muncul
dari tunggul sebagai tunas. itu
ada di penghujung undakan awan
diam-diam meninggalkan
istana, menjauhi rakyat,
kerabat, musuh dan saudara
–yang mengekal batu di setapak
: ada yang memayungi segala
meski tak tampak di mana-mana
=BENI SETIA=
KARNA karya : Beni Setia
tembang siapa yang bikin
kantuk singgah? nina bobo
apa yang ngangkat jiwa
(nun) terbang ke alam mimpi?
layang-layang yang
diwahyukan lewat
ayah dan ibu
melayang-layang
anaknya lanang apa?
anaknya wadon apa?
aku cuma lumut–hanyut
mengglosor dari raut batu
sampai yang lebih kukuh
dari pancang: merengkuh.
tetes tangis menggerus
candi anonim–ayah dan ibu
yatim-piatu
=BENI SETIA=
DINDING AMARAH karya : Beni Setia
sisa panas siang naik dari ladang
angin darat menating dan menebar
di atas deru ombak dan lenguh lumba-lumba
tanpa atap. tanpa dinding. di tengah
instalasi reruntuk bombardir dini hari
adzan shubuh bagai jamaah yang tersesat
tersaruk mencari ceruk. sisa mihrab buat
mengeluh. ”berapa kilo lagi,” katanya,
”berapa hari lagi untuk tiba di jerusalem …?”
kami tak punya apa-apa. hanya amarah
yang dihidangkan dengan tangan kosong
yang akan dihidangkan dengan tangan kosong
=BENI SETIA=
Sumber: Koran Tempo, Minggu, 01 Juni 2008
TALKING ABOUT karya : Beni Setia
di winter’s tales bar di long beach
seorang penyanyi negro bergumam:
”sometimes the snow comes down on june”*]
seorang marinir mengangkat gelas wishkey,
”di libanon selatan,” katanya, ”bom + roket
berjatuhan tiap dini hari sepanjang akhir juli”
gadis-gadis topless menawarkan xo ekstra
dengan pusar ditindik butir berlian imitasi
kemilau bagai sisa tangis dalam kelam
di pipi anak yatim disiram sisa lampu
mobil ambulan. ”berjatuhan tiap dini hari …”
”semua mati …,” katanya. dan di jakarta
london. roma. paris. la. new york. tel aviv
sambung-menyambung. ledakan tak kunjung reda
=BENI SETIA=
*] bait awal lagu Vanessa Williams, ”Save The For Last”
BAALBEK - JOMBANG karya : Beni Setia
persaudaraan itu 1.000.000 tenda
yang menyatukan kita dalam satu
ruang. luka di baalbek nyeri di jombang
kami berteriak. 1.000.000.000 takbir
membuat kita lupa akan derita
penghinaan dan pengkhianatan amerika
kita tegak. tangan terkepal, suara
lantang. percaya kemurahan Allah
— roda nasib digulingkan dari jombang
dengan berteriak di jalan-jalan,
dengan berdoa di masjid-masjid
— hanya berdoa. berdoa bersama-sama
=BENI SETIA=
TRANSKRIPSI QANA karya : Beni Setia
ada lubang di mana ranjang cinta
pernah ada. seharusnya tetap ada
udara, kau tahu? penuh debu
sisa serpihan dan tebaran
bubungan dari segala yang runtuh
barbeque party di halaman dalam
di tengah musim. di sini, kini:
tak ada musik. tak ada riuh suara anak-anak
hanya sirine. gerak sigap tanpa suara
di antara ogah menangis dan mengeluh
kami bisu. kebencian muncul dari
aroma darah. silsilah bom + roket menjalar
=BENI SETIA=