Tampilkan postingan dengan label PABLO NERUDA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PABLO NERUDA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 November 2015

TANGANMU karya : Pablo Neruda

Ketika tanganmu menyambar
menyergap tanganku, Kasih,
lalu mengambang, apa
dibawanya untukku?
Kenapa tanganmu berhenti
di bibirku, teramat tiba-tiba,
kenapa aku mengenalinya,
seperti sekali sebelumnya,
lalu, sebelum ia ada,
tangan-tanganmu pelesir
ke dahiku, ke pinggangku?

Halusnya tanganmu tiba
mengepak sayap menembusi waktu,
melewati laut dan kabut asap,
melewati Musim Semi,
dan ketika kau rebahkan
tanganmu di dadaku,
aku jadi tahu sayap-sayap ini
adalah sayap emas merpati,
aku jadi tahu liat itu,
aku tahu warna bulir padi.

Tahun-tahun hidupku
adalah jalan panjang pencarian,
pendakian anak-anak tangga,
penyeberangan ke batu-batu karang.
Gerbong kereta melemparkanku ke muka
air menyeruku kembali,
pada kulit buah anggur
seperti aku menyentuhmu.
Hutan, dalam kesekejapan,
membuat persentuhan denganmu,
pohon almon memanggil datang
kelembutanmu tersembunyi,
hingga kedua tanganmu
terkatup di dadaku,
bagai sepasang sayap
menyudahi kepak terbangnya.



=PABLO NERUDA=
(Dari Your Hands dalam Versos del Capitan)

Minggu, 27 September 2015

LIMA SAJAK CINTA karya : Pablo Neruda

I

Matilde, nama dari tanaman, atau batu, atau anggur,
dari yang dilahirkan bumi,
dan abadilah kata milik ia yang subuhnya beranjak,
ia yang musim panasnya meretaskan kemilau jeruk-jeruk sitrun.

Di dalam nama itu perahu-perahu berlayar
dikepung kobaran biru lautan,
dan huruf-hurufnya adalah air sungai
mengaliri hatiku yang terbakar.

O nama yang telanjang di bawah rambatan daun anggur
bagai pintu terowongan tak dikenal
yang menuju keharuman dunia!

O serbu aku dengan mulutmu yang membara
tanyai aku, jika mau, dengan sepasang matamu yang malam,
tapi di dalam namamu, biarkan aku berlayar dan tidur.


II 

Cintaku, betapa panjang jalan menuju sebuah ciuman,
betapa sunyi pengembaraan menujumu!
Bersama hujan kita ikuti kereta-kereta itu meluncur.
Tak ada fajar di Taltal, tak juga musim semi.

Tetapi kau dan aku, cintaku, kita bersama,
dari pakaian hingga akar kita bersama,
bersama di musim gugur, di dalam air, di pangkal paha,
hingga kita benar-benar bersama, hanya kau, hanya aku.

Memikirkan upaya sungai yang membawa
begitu banyak batu, delta perairan Boroa,
memikirkan kita yang terpisah oleh kereta dan bangsa

kau dan aku hanya harus saling mencintai,
dengan seluruh kebingungan, para lelaki dan perempuan,
bumi yang menanam pohon-pohon anyelir dan merekahkan mereka.


III 

Cinta yang sengit, bunga viola yang diliputi duri,
belukar dalam luapan gairah yang gigil,
tombak dari kesedihan, mahkotanya amarah,
demi apa dan bagaimana kau menaklukkan jiwaku?

Mengapa kau diburu api kesedihanmu,
tiba-tiba, di antara daun-daun dingin di jalanku?
Siapa yang mengajarimu langkah-langkah menujuku?
Bunga apa, batu apa, asap apa yang menunjukkan rumahku?

Yang pasti ialah yang menggetarkan malam yang ngeri,
fajar menyirami semua tubuh dengan anggurnya
dan matahari membuka kehadiran semestanya

Sementara cinta yang bengis mengepungku tanpa ampun
hingga melukaiku dengan pedang dan duri
ia bukakan dalam hatiku, jalan terdekat menujumu


IV 

Kau akan mengenang celah gunung yang bertingkah
ke mana debaran wangi mendaki,
dari waktu ke waktu seekor burung bergaun
air dan kelambanan: pakaian musim dingin.

Kau akan mengenang karunia-karunia alam:
keharuman yang beringas, lempung emas,
rumput belukar, kegilaan akar,
menyihir duri jadi belati.

Kau akan mengenang buket bunga yang kaubuat,
buket keteduhan dan air yang hening,
buket bagai batu berbuih.

Dan saat-saat itu menjadi tak pernah dan selalu:
kita pergi kepada yang tak mengharapkan apa-apa
dan menemukan semua yang diharapkannya.


V

Malam tak menyentuhmu, tidak udara, tidak aurora,
hanya bumi, kebajikan gugusan itu,
buah-buah apel yang terbit mendengarkan air murni,
lumpur dan damar dari negerimu yang wangi.

Dari QuinchamalĂ­ di mana sepasang mata
hingga kakimu diciptakan di Frontera bagi diriku
kau adalah tanah pekat yang mengetahui:
di pangkal pahamu seluruh gandum kusentuh lagi.

Barangkali kau tak tahu, putri Arauco,
sebelum mencintaimu diriku telah terabaikan ciumanmu
hatiku terus mengenang bibirmu

dan aku menjadi pesakitan di jalan-jalan
sampai aku mengerti telah kutemukan
cinta, tanah ciuman dan gunung berapiku.





=PABLO NERUDA=

SONETA CINTA XC karya : Pablo Neruda

Kupikir aku tengah sekarat, kurasakan hawa dingin mendekat
dan segala yang tersisa dari hidupku hanyalah kehadiranmu:
siang dan malamku yang fana adalah sepasang bibirmu,
kulitmu adalah republik yang tercipta oleh ciuman-ciumanku.

Pada saat begini segala buku dunia pun tamatlah,
juga persahabatan, harta yang bertumpuk dalam gelisah,
rumah transparan yang kita bangun demi hidup bersama –
mendadak sirna, kecuali sepasang matamu yang mempesona.

Sebab cinta, umpama hidup yang menghantui kita, hanyalah
gelombang yang lebih tinggi ketimbang gelombang lainnya:
namun, ah, tatkala kematian datang mengetuk pintu

di sana hanya tersisa kerlingmu menantang kehampaan,
hanya bening matamu tegak melawan kepunahan,
hanya cintamu bergerak menutup setiap bayangan.





=PABLO NERUDA=
(diambil dari Seratus Soneta Cinta karya Pablo Neruda)

Sabtu, 26 September 2015

SONETA CINTA XVII karya : Pablo Neruda

Aku tak mencintaimu seolah kau serbuk-mawar, atau batuan topas,
atau panah anyelir bernyala api terlesat lepas.
Aku mencintaimu serupa sesuatu dalam kegelapan yang pantas dicintai,
secara rahasia, antara bayangan dan jiwa.

Aku mencintaimu seperti tumbuhan yang tak pernah mekar
tetapi membawa dalam dirinya cahaya dari bebunga tersembunyi;
terima kasih untuk cintamu yang tak lain wewangian padat,
bangkit dari bumi, bernapas secara gelap dalam tubuhku.

Aku mencintaimu tanpa tahu bagaimana, atau kapan, atau dari mana.
Aku mencintaimu begini lugas, tanpa kerumitan atau kebanggaan;
sebab kutahu tiada cara lain untuk mencintaimu

kecuali ini: di mana aku tiada, kau pun tiada,
begitu dekat hingga tanganmu di dadaku tiada lain tanganku,
begitu dekat hingga jatuh tertidur aku saat terpejam matamu.





=PABLO NERUDA=
(diambil dari Seratus soneta cinta karya Pablo Neruda)

SETIAP HARI ENGKAU BERMAIN karya : Pablo Neruda

Dari hari ke hari engkau bermain dengan cahaya alam raya.
Tamu yang tersembunyi, engkau datang di dalam bunga dan air.
Engkau lebih dari sekedar kepala putih yang kupegang erat
seolah setangkai buah lebat, setiap hari, di antara kedua tanganku.

Tiadalah berbanding engkau sebab aku mencintaimu.
Ijinkan kurebahkan engkau di antara semalai bebunga kuning.
Siapa menuliskan namamu dengan huruf asap di antara bebintang selatan?
Oh ijinkan aku mengenangmu sebagaimana adamu sebelum engkau ada.

Tiba-tiba angin melolong dan menggedor jendelaku yang terkatup.
Langit tak lain sebentang jala penuh ikan serupa segala yang redup.
Di sini semua angin melepaskan pegangannya.
Hingga akhirnya hujan pun bergegas melepaskan gaunnya

Burung-burung melintas pergi, melarikan diri.
Angin. Angin.
Aku hanya mampu bersaing dengan kekuasaan lelaki.
Topan mengaduk dedaun hitam
dan melepas ke angkasa semua perahu yang tertambat tadi malam

Engkau hadir di sini. Oh, tak pula engkau melarikan diri.
Engkau akan menjawabku hingga isak terakhir.
Seolah ketakutan engkau pun memelukku.
Meski bayangan aneh pernah juga terbersit di matamu.

Sekarang, sekarang juga, mungilku, engkau membawakan bunga madu,
dan bahkan putingmu mewangi olehnya.
Sementara angin yang sedih membunuhi kupu-kupu.
Aku mencintaimu, dan kebahagiaanku adalah menggigit buah prem bibirmu.

Terbayang engkau telah menderita demi menjadi terbiasa denganku,
jiwaku yang liar, dan soliter, namaku membikin orang lain menghindar.
Begitu sering kita saksikan bintang fajar terbakar, menciumi mata kita,
dan di atas kepala kita cahaya kelabu terurai menjelma kipas berputar.

Kata-kataku menghujani dirimu, membelaimu.
Begini lama kucintai kilau mutiara tubuhmu yang terpapar matahari
Dalam benakku engkau tiada lain alam raya
Akan kubawakan engkau bebunga bahagia dari gunung, bunga loceng biru,
Hazel yang gelap, dan keranjang-keranjang sederhana penuh ciuman.
Kini, aku ingin melakukan
bersamamu segala yang dilakukan musim semi terhadap bunga ceri.





=PABLO NERUDA=
(Puisi ke 14 dari duapuluh Puisi Cinta Dan Kidung Putus Asa)

Sabtu, 19 September 2015

KAU HARUS DENGARKAN AKU karya : Pablo Neruda

Aku bernyanyi mengembara
di antara batang-batang anggur
Eropa
dan dalam angin,
angin Asia.

Yang terbaik dari sepanjang usia manusia
dan dari kehidupan,
dari kehalusan bumi,
dan damai sejati
kuhimpun darma perantauan hidupku.

Yang terbaik dari bumi yang satu
dan dari bumi yang lain
kupakukan pada bibirku
dengan laguku:
kebebasan angin,
kedamaian di taman anggur.

Kadang-kadang manusia seperti
bermusuh-musuhan
tetapi malam itu selubung
bagi semua
dan cahaya raja
menggugah kita;
cahaya dunia.

Dan ketika sampai aku di rumah-rumah
duduk mereka sekitar meja
kembali mereka dari kerja
dengan tangis atau tawa.

Semua sama.

Sekalian mata mencari
jalan cahaya.

Sekalian mulut menyanyi
lagu musim semi.

Semua.
Maka itu aku
di antara batang-batang anggur
dan dalam angin
memilih
yang terbaik pada manusia.

Dan kau harus dengarkan aku.


------------------------------------------------------------------


Dari Dua puluh Puisi Cinta dan Kidung Putus Asa 

"Puisi XIV: Setiap Hari Engkau Bermain" 

Dari hari ke hari engkau bermain dengan cahaya alam raya.
Tamu yang tersembunyi, engkau datang di dalam bunga dan air.
Engkau lebih dari sekedar kepala putih yang kupegang erat
seolah setangkai buah lebat, setiap hari, di antara kedua tanganku.

Tiadalah berbanding engkau sebab aku mencintaimu.
Ijinkan kurebahkan engkau di antara semalai bebunga kuning.
Siapa menuliskan namamu dengan huruf asap di antara bebintang selatan?
Oh ijinkan aku mengenangmu sebagaimana adamu sebelum engkau ada.

Tiba-tiba angin melolong dan menggedor jendelaku yang terkatup.
Langit tak lain sebentang jala penuh ikan serupa segala yang redup.
Di sini semua angin melepaskan pegangannya.
Hingga akhirnya hujan pun bergegas melepaskan gaunnya

Burung-burung melintas pergi, melarikan diri.
Angin. Angin.
Aku hanya mampu bersaing dengan kekuasaan lelaki.
Topan mengaduk dedaun hitam
dan melepas ke angkasa semua perahu yang tertambat tadi malam

Engkau hadir di sini. Oh, tak pula engkau melarikan diri.
Engkau akan menjawabku hingga isak terakhir.
Seolah ketakutan engkau pun memelukku.
Meski bayangan aneh pernah juga terbersit di matamu.

Sekarang, sekarang juga, mungilku, engkau membawakan bunga madu,
dan bahkan putingmu mewangi olehnya.
Sementara angin yang sedih membunuhi kupu-kupu.
Aku mencintaimu, dan kebahagiaanku adalah menggigit buah prem bibirmu.

Terbayang engkau telah menderita demi menjadi terbiasa denganku,
jiwaku yang liar, dan soliter, namaku membikin orang lain menghindar.
Begitu sering kita saksikan bintang fajar terbakar, menciumi mata kita,
dan di atas kepala kita cahaya kelabu terurai menjelma kipas berputar.

Kata-kataku menghujani dirimu, membelaimu.
Begini lama kucintai kilau mutiara tubuhmu yang terpapar matahari
Dalam benakku engkau tiada lain alam raya
Akan kubawakan engkau bebunga bahagia dari gunung, bunga loceng biru,
Hazel yang gelap, dan keranjang-keranjang sederhana penuh ciuman.
Kini, aku ingin melakukan
bersamamu segala yang dilakukan musim semi terhadap bunga ceri.





=PABLO NERUDA=

BURUNG karya : Pablo Neruda

Hal ini dilepaskan dari satu burung ke burung lainnya,
seluruh karunia hari.
Hari pun pergi dari satu seruling ke seruling lainnya,
pergi berpakaian vegetasi,
dalam penerbangan yang membuka terowongan
yang akan dilintasi angin menderu
tempat burung-burung memecahkan
udara padat biru –
dan di sana, malam pun kembali.

Ketika kembali aku dari banyak perjalanan,
aku pun istirah dan hijau
antara matahari dan geografi –
kusaksikan bagaimana sayap bekerja,
bagaimana parfum ditransmisi
oleh telegraf berbulu,
dan dari atas kusaksikan jalan,
mata air dan atap-atap genteng,
para nelayan dalam pelelangan mereka,
celana-celana busa;
kusaksikan semua itu dari atas langit hijauku.
Tiada kupunya alfabet lebih
selain beburung walet dalam kawanan mereka,
betapa mungil, kemilau air
dari burung mungil di atas kobaran api
yang menari di luar serbuk sari.





=PABLO NERUDA=

APEL BADANI, DIMABUKI PEREMPUAN, BULAN MEMBARA karya : Pablo Neruda

Apel badani, dimabuki Perempuan, bulan membara,
bau gelap rumput laut, menghancurkan lumpur dan cahaya,
pengetahuan rahasia apa terlipat antara kedua pilarmu?
Apa malam purbawi tiada menyentuh pria dengan akal sehatnya?
Ay, Cinta adalah perjalanan melintasi perairan dan bintang-bintang,
melintasi udara mencekik, prahara bebulir tajam:
          Cinta adalah perang petir,
dan dua badan lebur dalam ketunggalan nan manis.
Secium-secium kututupi sekerat kemungilan tak terbatasmu,
setiap tepianmu, sungai-sungaimu, desa-desa kecilmu,
pula senyala api genital, diubah oleh kenikmatan asali,
menyelinap melalui saluran sempit darah
demi memekarkan anyelir malam hari,
demi menjadi dan tak menjadi apa pun kecuali cahaya dalam kegelapan.





=PABLO NERUDA=

Kamis, 10 September 2015

PUEDO ESCRIBIR (AKU BOLEH MENULIS) karya : Pablo Neruda

Mungkin dapat kutulis, “Malam berkeping-keping
dan bintang-bintang biru gemetar di kejauhan.”

Angin malam hari bergulung di angkasa dan bernyanyi
 
Malam ini kutulis syair kesedihan
Aku mencintainya, kadang-kadang ia mencintaiku juga
 
Bermalam-malam seperti malam ini kuikat dia dengan pelukan
Aku menciumnya berulang-ulang di bawah langit kekal
 
Ia mencintaiku, kadang-kadang aku mencintainya juga
Aneh sekali jika engkau enggan menaruh hati pada binar matanya
 
Malam ini kutulis syair kesedihan
Berfikir jika aku tak memilikinya. Andai aku kehilangan dirinya
 
Mendengar malam yang lengang, semakin sunyi tanpanya
Sajak-sajak berjatuhan ke dalam jiwa bagai embun di padang rumput
 
Mungkin cintaku tak mampu menahannya
Malam berkeping-keping dan ia tak bersamaku
 
Di kejauhan seseorang bernyanyi. Jauh sekali
Jiwaku pilu kehilangan dirinya
 
Pandanganku mencarinya seakan hendak mengejarnya
Hatiku mencarinya, dan ia tak bersamaku
 
Malam sama putihnya dengan pepohonan
Waktu itu, kita, telah sangat berubah
 
Aku tak lagi mencintainya, tentu, namun mengapa aku mencintainya
Suaraku mengejar angin yang menyentuh daun telinganya
 
Yang lain. Dia akan menjadi milik yang lain. Seperti kecupan-kecupanku sebelumnya
Suaranya. Tubuhnya yang bercahaya. Matanya yang kekal
 
Aku tak lagi mencintainya, tentu, namun mungkin aku mencintainya
Mencinta tak semudah melupakan
 
Sebab bemalam-malam seperti malam ini kuikat dia dalam pelukan
Jiwaku sedih kehilangan dia
 
Mungkin inilah akhir duka sebab ia telah membuatku nestapa
dan inilah syair terakhir yang kutulis untuknya




=PABLO NERUDA=

KAKIMU karya : Pablo Neruda

Jika tak bisa kutatap wajahmu
aku memandangi kakimu.
Kakimu, lengkung tulang,
kaki kecil yang tegar.
Aku tahu kaki itu yang mendukungmu,
dan berat tubuh indahmu,
bangkit dari kedua kakimu.

Pinggul dan dadamu,
noktah kembar merah
lembayung putingmu,
lekuk matamu
mengalir, mengalir,
bibirmu: ranum buah,
rambutmu: ikal merah,
menara kecilku.

Tapi aku cinta kakimu
kerana hanya langkahnya
melintasi bumi
menembus angin
melewati air,
hingga akhirnya:
mendapati aku.




=PABLO NERUDA=

ODE BAGI BUKU karya : Pablo Neruda

Ketika akhirnya sebuah buku kututup
aku membuka hidup.

Aku dengar juga
tangis yang ragu menghiba
di antara dermaga-dermaga
tiang-tiang tembaga
menggelincir turun ke lubang-lubang pasir
hingga ke Tocopilla.

Waktu telah malam
di antara pulau-pulau
samudera kita
berdebaran bersama ikan,
menyentuh kaki, menyentuh paha,
rusuk-rusuk rapuh
negeriku.

Seluruh malam
berpagut teguh sepanjang pasir, hingga fajar
bangkit menggugah nyanyi
seperti dia yang telah menggairahkan gitar.
 
Hempasan samudera mengelu-elu
Hembusan angin
menyeruku
dan Rodriguez memanggilku,
juga Jose Antonio —

Ada telegram tiba
dari negara — “Negaraku”
dan dari seorang yang kuberi cinta
(yang tak kan kusebutkan siapa)
mengharapkan aku kini ada di Bucalemu.
 
Tak ada sebuah buku yang mampu
membungkusku dalam kertas
mengisi sekujurku
dengan tipografi,
dengan jejak cetak teramat riang
atau bisa mengikat mataku,

Aku beranjak keluar dari buku ke taman buah manusia
dengan parau lagu, kerabat lagu-laguku,
yang mengolah baja-baja pijar
atau menyantap daging bakar
di sisi perapian, di rumah pegunungan.

Aku cinta buku yang
penuh petualangan,
buku tentang salju atau hutan-hutan,
ke dalam bumi atau langit tinggi,
tapi aku membenci
buku tentang laba-laba
yang menyangka
telah ditebarnya jaring berbisa
menjebak lalat yang baru saja
melingkar belajar mengepak sayapnya.
 
Buku, biarkan aku pergi menjauhimu.
Aku bukan hendak mengenakan baju
dalam jilid-jilid,
aku tidak hendak beranjak keluar
untuk memunguti karya-karyaku,
karena sajak-sajakku
tak menyantap sajak-sajak —
mereka melahap takjub peristiwa-peristiwa
mereka hidup dalam kasar cuaca
mereka menggali sendiri umbi
dari bumi dan hidup lelaki.
Aku kini ada di jalanku.
Dengan debu di sepatu berdebu
terbebas dari kurung mitos-mitos:
Maka kembalikan saja buku ke dalam buku,
dan aku akan turun saja ke jalanan.
Aku telah pelajari hidup
langsung dari hidup itu sendiri.
Cinta mengajariku cukup dari satu kecupan
dan tak mengajarkan apapun pada orang lain,
kecuali bahwa aku telah hidup
dengan yang lazim ada di antara para lelaki,
ketika bergelut, beradu otot,
ketika mengatakan semua ucap mereka dalam lagu-laguku




=PABLO NERUDA=

( Sajak terjemahan Hasan Aspahani )

ODE BAGI PEREMPUAN SEDANG BERKEBUN karya : Pablo Neruda

Ya, aku tahu tanganmu adalah
rebung merecup, serumpun lili
berdaun perak:
ada yang harus engkau lakukan
dengan tanah itu,
dengan bumi yang berbunga,
tapi
ketika
kulihat engkau menggali, menggali,
mengeyahkan kerikil
dan menuntun arah akar-akar
aku tahu seketika itu,
perempuanku yang sedang berkebun,
bahwa
tidak hanya
tanganmu
tapi juga hatimu
telah menyentuh bumi,
karena di sana
engkau
menciptakan
benda-bendamu,
menyentuh
kelembaban
pintu
melalui jalan
di mana
benih-benih
menebar.

Maka pada jalan ini
dari satu tanaman
ke yang lain
satu tanaman yang
baru saja ditanam,
dengan wajahmu
dibekasi
ciuman
dari tanah liat,
engkau pergi
lalu datang lagi
memekarkan bunga,
engkau pergi
dari tanganmu
batang utama tajuk
astromeria
membangkitkan sosok sendirinya
yang anggun,
mawar mengharumkan
kabut di keningmu
dengan wangi dan bintang-bintang embun.

Segalanya tumbuh
darimu
menembus bumi
dan menjelma jadi
cahaya hijau,
daun dan kekuatan
engkau mengatakan
apa yang ingin disebutkan oleh
benih-benihmu padanya,
kekasihku,
perempuan merah yang sedang berkebun:
tanganmu yang berkerabat
dengan bumi
dan tumbuh cemerlang
adalah kesertamertaan

Cinta, pun demikian
adalah air tanganmu
bumi hatimu,
memberi
kesuburan
dan kekuatan pada laguku
kau sentuh
dadaku
sementara aku terlelap
dan pohon-pohon berbunga
dalam mimpiku.

Aku terbangun, membuka mata,
dan engkau telah ada
di sisiku
bintang-bintang dalam bayang
yang kelak datang dan terang
dalam laguku.

Begitulah, perempuan yang sedang berkebun:
cinta kita
membumi:
mulutmu adalah tanaman cahaya,
sebuah mahkota bunga, dan
hatiku menjaga di antara akar-akarnya.



=PABLO NERUDA=

( Sajak Terjemahan Hasan Aspahani )

BERSANDAR PADA SENJA karya : Pablo Neruda

Sewaktu bersandar pada senja, kutebarkan jala dukaku
ke lautan matamu.

Di sana, kesepianku membesar dan membakar dalam marak api maha tinggi
tangannya menggapai bagai orang lemas.

Kukirim isyarat merah ke arah matamu yang hampa
yang menampar lembut seperti laut di pantai rumah api.

Kau jaga hanya kegelapan, perempuanku yang jauh
pantai ketakutan kadang-kadang muncul dari renunganmu.

Sewaktu bersandar pada senja, kucampakkan jala dukaku
ke laut yang mengocak lautan matamu.

Burung-burung malam mematuk pada bintang-bintang pertama
yang mengerdip seperti kalbuku ketika menyintaimu.

Malam menunggang kuda bayangan
sambil menyelerakkan tangkai-tangkai gandum biru di padang-padang.




=PABLO NERUDA=

ODE BAGI PAKAIAN karya : Pablo Neruda

Engkau, pakaian-pakaian yang
menanti setiap pagi, di atas kursi,
Engkau yang mengisi dirimu sendiri,
dengan kepongahanku, cinta kasihku,
harapanku, dan tentu dengan tubuhku.

Begitulah, setelah
bangkit dari lelap,
lalu kulepaskan air,
maka kumasuki lenganmu,
dan kakiku mencari di
lorong-lorong kakimu,
dan kemudian terangkul erat
dalam kesetiaan engkau yang tak berbatas
aku pun bangkit menjejaki rumput itu,
memasuki puisi,
meninjau ke saujana jendela,
ke semesta benda-benda,
para lelaki dan wanita-wanita,
seluruh tingkah dan segala pertarungan,
terus membentuk aku,
terus memaksaku menghadapi apapun
menggerakkan tanganku,
membelalakkan mataku,
mengangakan mulutku,

Dan wahai
pakaian-pakaian,
aku pun juga membentukmu,
memperlebar bagian sikumu,
merapikan benang jahitmu,
dan hidupmu pun mengembara,
hingga ke imaji hidupku.

Di angin
engkau kumal dan rantas
seperti engkaulah jiwaku,
di saat yang buruk,
engkau memagut erat
tulang-tulangku,
kosong, hingga malam,
kegelapan, kembali lelap
lalu datang mereka: hantu-hantu
sayapmu dan sayapku.

Kusangka,
kelak jika suatu hari
ada sebutir peluru
dari seorang musuh
akan membasahimu dengan darahku
lalu
engkau mati bersamaku.
Atau kelak di hari lainnya,
bukan dalam senyap
tapi begitu dramatik
dan sederhana,
engkau akan jatuh sakit,
wahai pakaian-pakaian,
sakit bersamaku,
menua bersamaku, bersama tubuhku
lalu kita menyatu
lalu kita memasuki
bumi.
Karena itu,
setiap hari
aku menyapamu
dengan sedalamnya hormatku, lalu
engkau erat memelukku, aku melupakanmu,
karena kita sesungguhnya satu
dan kita akan senantiasa
menantang angin, menantang malam,
di jalanan, dalam pertarungan,
tubuh yang tunggal,
hari yang tunggal, satu hari nanti, ketika hanya ada sunyi.




=PABLO NERUDA=

(Diterjemah oleh Hasan Aspahani )

Sabtu, 05 September 2015

MENARA karya : Pablo Neruda

Barisan laut membasuh dunia
oh, kebaruan yang abadi,
oh, pedang yang sakti:
kautebas
kekacauan,
di mana sebuah kapal karam tertinggal,
di sana sebuah bintang.
dari satu titik ke titik lain ke titik lain lagi
melintaslah sepanjang barisan laut
kemurnian
dan ia tak berubah, ia suasana,
ia dapat diandalkan, ia ketepatan,
ia kukuh, ia bagian yang tegas
sementara udara berubah dan menyeberangi
menara
yang bebas dari geometri.




=PABLO NERUDA=

LAHIR karya : Pablo Neruda

Aku datang kepada tepi
di mana tak ada yang perlu berkata,
segalanya tercerap ke dalam cuaca dan lautan,
dan bulan berenang kembali,
seluruh cahayanya keperakan
dan lagi-lagi kegelapan akan pecah
oleh empasan gelombang
dan setiap hari di atas balkon laut
sayap-sayap mengembang, lahirlah api
dan segalanya kembali biru seperti pagi. 




=PABLO NERUDA=

LAUT karya : Pablo Neruda

Sebuah entitas, tetapi bukan darah.
Sebuah pelukan, kematian atau mawar.
Masuklah laut dan mempertemukan hidup kita
dan menyerbu sendirian dan menebarkan tubuhnya dan bernyanyi
pada malam-malam dan hari-hari dan para lelaki dan makhluk-makhluk hidup.
Hakekatnya: api dan dingin: pergesaran 



=PABLO NERUDA=

AIR karya : Pablo Neruda

Segala yang ada di atas bumi tegak, semak
menusuk dan kehijauannya
menggigit, kelopaknya luruh, berjatuhan
hingga satu-satunya bunga menjadi kejatuhan itu sendiri.
Air adalah hal lain,
tak memiliki petunjuk arah tetapi kejernihan geraknya sendiri,
menembus semua warna mimpi,
pelajaran-pelajaran yang jernih
dari batu
dan di dalam kerja besar itu
adalah cita-cita buih yang tak tercapai.




=PABLO NERUDA=

SAMUDERA karya : Pablo Neruda

Tubuh lebih sempurna ketimbang gelombang,
garam membasuh barisan laut,
dan burung yang berkilau
terbang tanpa sisa tanah 



=PABLO NERUDA=

KATA karya : Pablo Neruda

Lahirlah
kata dalam darah,
tumbuh dalam tubuh yang tersembunyi, berdenyut,
dan meluncur ke bibir dan mulut.

Lebih jauh dan lebih dekat
tetap saja, tetap saja ia datang
dari mayat para bapa dan dari bangsa-bangsa pengembara,
dari negeri-negeri yang telah menjelma batu,
keletihan negeri-negeri atas kemiskinan bangsanya,
karena kesedihan turun ke jalan-jalan
orang-orang pun berangkat dan tiba
dan menikahi negeri dan air yang baru
untuk menumbuhkan kembali kata-kata mereka.
Maka inilah apa yang ditinggalkan;
inilah gelombang panjang yang menghubungkan kita
dengan orang-orang mati dan permulaan
hidup baru yang belum sampai kepada cahaya.

Tetap saja atmosfer tergetar
oleh kata pertama yang diucapkan
terbungkus
dalam rasa takut dan keluhan.
Ia muncul
dari kegelapan
dan sampai sekarang tak ada petir
yang menggemuruhkan dengan suara baja
kata itu,
kata pertama
yang diucapkan:
barangkali ia hanya riak, sebuah tetesan,
sebelum bular-bularnya yang terjal luruh dan luruh.

Kemudian kata itu dipenuhi dengan makna.
Selalu dengan anak-anak ia dipenuhi kehidupan
Segalanya lahir dan bersuara:
penegasan, kejelasan, kekuatan,
pengingkaran, penghancuran, kematian:
kata kerja mengambil alih seluruh kekuatan
dan keberadaan yang dibungkus kebermaknaan
dalam gerak keanggunan dirinya.

Kata manusia, suku kata, sayap
dari perpanjang cahaya dan perak yang kukuh,
cawan pusaka yang menampung
percakapan-percakapan dengan darah:
di sinilah kesunyian datang bersama-sama dengan
keutuhan kata manusia
dan bagi manusia, tidak berbicara berarti mati:
bahasa memanjang bahkan ke rambut,
mulut berbicara tanpa gerak bibir:
segalanya tiba-tiba, mata adalah kata-kata.

Aku mengambil kata itu dan melesatkannya ke dalam perasaan-perasaanku
meskipun ia tak lebih dari sekedar bentuk kemanusiaan,
susunan-susunannya memesonakanku dan kutemukan jalan
menembus setiap gema dari kata yang diucapkan:
aku mengucapkan dan aku menjadi dan, tanpa berkata-kata, aku mendekat
menyeberangi tepi kata-kata yang membisu.

Aku minum untuk kata yang tumbuh itu
sebuah kata atau sebuah gelas kristal,
di dalamnyalah aku minum
kemurnian anggur bahasa
atau air yang tak pernah habis,
telaga keibuan kata-kata,
dan gelas dan air dan anggur
mengembangkan nyanyianku
karena verba adalah telaga
dan semangat hidup: adalah darah,
darah yang mengungkapkan hakekatnya
dan begitu menentukan istirahatnya sendiri:
kata-kata memberi kristal ke dalam kristal, darah ke dalam darah,
dan hidup ke dalam hidup itu sendiri. 




=PABLO NERUDA=