Tampilkan postingan dengan label ASRUL SANI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASRUL SANI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Oktober 2015

ANAK LAUT karya : Asrul Sani

Sekali ia pergi tiada bertopi

Ke pantai landasan matahari

Dan bermimpi tengah hari

Akan negeri di jauhan

 

Pair dan air seakan

Bercampur. Awan

tiada menutup

mata dan hatinya rindu

melihat laut terbentang biru

 

Sekali aku pergi

dengan perahu

ke negeri jauhan

dan menyanyi

kekasih hati

lagu merindukan

daku

 

Tenggelam matahari

Ufuk sana tiada nyata

bayang-bayang bergerak perlahan

aku kembali kepadanya

 

Sekali ia pergi tiada bertopi

Ke pantai landasan matahari

Dan bermimpi tengah hari

Akan negeri di jauhan




=ASRUL SANI=

POTRET SENDIRI AKHIR TAHUN '50 karya : Asrul Sani

Tiada lagi, kenangan! Tiada lagi

Jalan kembali telah terkunci,

Pasir mersik beterbangan melarikan jejak kaki,

Tulang-tulang dada sampai meranggah,

Berderik merih karena cekikan

Tetapi pandangan terakhir telah terlupa

 

Memang kota yang kudekati,

telah kelabu tenggelam dalam peresapan

Serta perburuan si pongang telapak

pada dinding dan ruh-ruh yang telah penasaran

Jalan-jalan lengang, di lorong-lorong tiada lagi

terdengar pekikan

 

Toh aku mesti jalan,

Kaki berpasang-pasangan, mata ikuti sosok tubuhku,

Tapi ini mata pun mata mati

mati dari mulut yang tiada akan bercerita lagi

 

Ada hati, kalau betul ada hati

Ia merasa kasihan dengan tiada perlu

Dalam mencari kawan baru

Aku hanya ingin menafaskan udara lain

Orang liwat jurang dan tinggalkan dataran

 

Jika hasil adalah: belati tadi ada di sisi

sekarang tertancap di dada sendiri

Maka kata akhir bukan lagi padaku

Hasil boleh datang kapan ia mau




=ASRUL SANI=

Senin, 12 Oktober 2015

VARIASI ATAS SUATU TANGGAPAN SESAT karya : Asrul Sani

Petandang mendendangkan kuda kampung di jalan sunyi

Pada malam yang jatuh kerut merut ke bumi

Serta rindu dendam dan matahari

Nanti berakhir pada burung bernyanyi, dan budak-kecil sunyi sendiri

 

Lamban jatuh tali-temali

Dan berduka camar yang bertengger di tiang tinggi

Serta rindu dendam gelombang dan matahari

Nanti berakhir pada arus tiada berperi, dan pemukat sunyi sendiri

 

Ambillah keluhan dan buang segala sedu-sedan

Berlupa sementara akan keliling yang mengikat

Dan kita mau berlepas untuk suatu kenyataan-merdeka,

Selamat saat masih sibuk dengan asmara sendu

 

Jangan tunggu sampai kuda kampung bebas dari bersunyi,

Burung camar tiada lagi bertengger di tiang tinggi,

Harga besar, tetapi waktu singkat

Lambai kekasih! Putar kemudi dan mari berlari

 

Kuda dan camar telah berlepas dari yang sementara

Dan kini larut dari lesu dan kerja

Kita juga tidak lagi mau perduli,

Ada ruang dalam kelemahan malam untuk persiapan besok pagi!




=ASRUL SANI=

PENYAIR YANG TERBUNUH karya : Asrul Sani

Ciumlah pinggir kejauhan

tangan terkulai karena revolusi !

Tinggalkanlah ribaan bunda

dan mari kita iringkan desir air di pasir

nikmati tokoh perawan dan gadis penari !

Kembangkan layar ! Pelaut remaja,

Baringkanlah diri di-timbaruang

dan pandang bintang tiada tertambat di pantai

 

Rahasia kita hanya disembunyikan laut,

Tiada mungkin di sana hati merindu lagi

Sayang engkau tiada kenal gelombang,

Gelombang dari rahasia pencalang

gelombang dari nakhoda yang tiada tahu pulang.

 

Kami akan selamanya cintakan engkau,

engkau penyair !

Lagu yang dulu kau dendangkan atas kertas gersang

Nanti kami rendam di laut terkembang.

Hati kita akan sama selalu,

dari waktu sampai waktu,

Apa yang akan kita bisikan senja ini

Akan jadi suara lantang di waktu pagi.

Simpanlah kertas dan pena

Hanya yang bernyawa

yang akan hidup selalu.

Sendu yang kaurasa,

di pagi kami telah membuka cahaya.




=ASRUL SANI=

DONGENG BUAT BAYI ZUS PANDU karya : Asrul Sani

Sintawati datang dari Timur,

Sintawati menyusur pantai

Ia cium gelombang melambung tinggi

Ia hiasi dada dengan lumut muda,

 

Ia bernyanyi atas karang sore dan pagi,

Sintawati telah datang dengan suka sendiri

 

Sintawati telah lepaskan ikatan duka

Sintawati telah belai nakhoda tua,

Telah cumbu petualang berair mata

Telah hiburkan perempuan-perempuan bernantian

di pantai senja

 

Jika turun hujan terlahir di laut

Berkapalan elang pulang ke benua

Sintawati telah tunggu dengan wama biang-lala,

Telah bawa bunga, telah bawa dupa

 

Sintawati mengambang di telaga gunung,

Dan panggil orang utas yang beryakinkan kelabu

Telah menakik haruman pada batang tua,

Telah dendangkan syair dari gadis remaja

 

Sintawati telah menyapu debu dalam kota

Telah mendirikan menara di candi-candi tua,

Sintawati telah bawa terbang cuaca,

Karena Sintawati senantiasa bercinta

 

Sintawati datang dari Timur,

Sintawati telah datang ..........

.......... datang,

Sinta

datang ......!

 

 


=ASRUL SANI=

(Sebagai kenangan kepada Amir Hamzah)

ORANG DALAM PERAHU karya : Asrul Sani

Hendak ke mana angin buritan ini

membawa daku

sedang laut tawar tiada mau tahu

dan bintang, tiada

pemberi pedoman tentu

 

Ada perempuan di sisiku

sambil tersenyum

bermain-main air biru

memandang kepada panji-panji

di puncak tiang buritan

dan berkata

"Ada burung camar di jauhan!”

 

Cahaya bersama aku

Permainan mata di tepi langit

akan hilang sekejap waktu

 

Aku berada di bumi luas,

Laut lepas

Aku lepas

Hendak ke mana angin buritan

membawa daku




=ASRUL SANI=

ON TEST karya : Asrul Sani

Engkau akan kubawa pergi

Dari candi ini

Ke tempat di mana manusia ada

 

Coba, coba

Di sana kata

Tidak hanya punya kita

Dan cinta mungkin kabur

Dalam kabut debu

Dan hidup menderu

Melingkungi engkau dan aku

 

Jalan panjang

Sampai di mana dunia terkembang?

Mata terlalu singkat untuk itu

 

Panjang jangan reka

Tujuan jangan terka

Pandang, di sana ada mereka,

Di sana ada mereka

 

Engkau akan kubawa pergi

Dari candi ini

Ke dunia: hidup air-dan-api




=ASRUL SANI=

Kamis, 09 Juli 2015

DARI DUA DUNIA BELUM SUDAH karya : Asrul Sani

 

Pagi ini aku dengar beritanya,

Aku ke jalan

Orang-orang jualan dan hendak pergi kerja menepi-nepi

Oto-oto kencang, berat dengan serdadu-serdadu dan tank-tank

                                                                  tak dapat digolakkan

Ada yang meronda, berdua-dua dan bersenjata

Di antaranya ruang lapan-lapan, tapi ada isi!

Semua beku padu:

manusia benda udara, tapi memperlihatkan harga

 

Aku pergi ke teman-teman berbicara, isi mengendap ke kelam

Berita: Jogja sudah jatuh, Maguwo…  Karno tertangkap

Hatta, Sjahrir …

….

Kami berbicara, menimbang dan melihat kemungkinan

Semua dari satu kata dan  untuk satu kata.

 

Senja itu aku pulang, sarat dengan berita dan kemungkinan.

Di rumahku aku disambut oleh keakuanku yang belum sudah:

buku yang terbuka, yang belum dibaca dan buku yang harus

aku sudahkan,

Tapi untuk ini aku sudah tinggalkan Bapa dan Abang

Dan baru pula teringat ini hari baru satu kali makan.

– yang periuknya selalu terbuka – Dan aku sudahkan

keakuanku

di dalam ruang kuburan yang digalikan oleh nyala pelita di

dalam kegelapan.

 

Tapi malam ini menghentam, sepatu lares pada dinding

kegelapan yang tebal

Dan ketika mereka telah pergi terdengar ratap perempuan,

bininya atau ibunya.

Padaku tak usah lagi diceritakan, bahwa ada yang dibawa

Aku hanya bisa menekankan kepala pada papan meja,

Buncah oleh itu kata yang belum punya bumi tapi telah mengejar

                                    pula ke dalam dunia yang belum sudah.

 




=ASRUL SANI=

TUGU karya : Asrul Sani

 

Bila rumah dan mimpi telah hancur

Jangan kaukatakan:

Binatang-binatang pada mati, semuanya keindahan pada redup

Dan kau telah sendirian menghadapi kenyataan. Tapi ingat!

Ini waktu akan punya tugu, berukirkan kata mula dan kata akhir

 

Jangan ada yang pulang dengan darah dan air mata

Tapi sirami bumi, semuanya ini akan bangunkan kegemilangan

Batu kekalahan di atas batu kekalahan

Sekali waktu nanti akan menugu

di mana kita yang mengukir kemenangan

 




=ASRUL SANI=

MELALUI SIANG MENEMBUS MALAM karya : Asrul Sani

 

I

 

Sebelum gadis-gadis jadi remaja,

Sebelum daun-daun akan menghijau dan bunga berwarna segar,

Di sempit pinggiran, di mana batas hanya bisa dirasakan

– dan dia tidak akan meleset, tapi harus jujur dalam pengakuan –

 

Air mata akan menakik pipi

pikiran akan membakar hati,

menjadikan diri orang kering kurus sehabis nyala.

 

Musim kemarau telah bangkitkan

dan hembuskan dan sebarkan

napas kering maut,

Kebenaran kegembiraan dalam ledakan pertama

 

Dari balik tembok-tembok sepanjang gang-gang

maut mengintai tak kunjung putus

Manusia hanyalah anak dari beberapa jam.

 

Anak Manusia yang sekarang ini hanyalah tahu cita-cita yang patah,

burung-burung yang kehabisan nyanyi.

Dan hatinya, di padang kering, batu rengkah-rengkah digersangi harapan

 

Kini dia telah pahit mulut

dadanya berayutan, berat menarik ke dalam kubur.

 

II

 

Kebenaran kegembiraan dalam ledakan pertama

Kebenaran yang diakui hati

Tapi dipatahkan pikiran, karena

dia minta jaminan bagi kehidupan seperti manusia biasa.

Pahit pertama yang menyebar dalam mulut

dan menuba dada

Pengertian inilah:

dia telah mengaburkan batas

manusia biasa dan manusia luar biasa

 

Kedua-dua adalah anak-anak manusia

Yang ditentukan oleh beberapa jam

“pada pokok mula ialah perbuatan”

 

Kebenaran yang diakui hati tapi dipatahkan pikiran

manusia luar biasa minta jaminan bagi kehidupan;

Bagi orang yang lari sebagai binatang buruan: manusia biasa

Datang melecut pada luka-luka

dia yang telah lari ke dalam gua-gua terakhir

karena dia tidak mau jadi barang sewa.

 

III

 

Demi cinta dan jujur

mari kita berterus terang

Ini hidup yang menghampar di hadapan kita

demikian indah, demikian menarik, dan penuh goda

tapi jalannya telah menuju ke ketakutan

dan setan-setan di pinggiran jalan

bersorak-sorak menganjurkan.

 

Arus yang telah diikutkan

membuat lupa dan kemegahan

membuktikan ketakutan…

 

Adakah suatu kemegahan itu bumi

Adakah suatu kemegahan itu dasar

Kemegahan yang telah dihantui oleh ketakutan dan penyesalan,

tapi tak hendak diakui?

 

IV

 

Carilah penghabisan mimpi

Carilah penghabisan nyanyi

Tapi bagaimana? Kedua-dua tidak akan habis-habis

Kedua-dua akan putus-putus

Mereka kedua memang bisa,

memang bisa, tapi bagaimana…

 

V

 

Di mana akhir daerah akan terdapat

akhir daerah, yang membuka kaki langit

Tidak cukup kesepian, tidak cukup pembuangan

tidak cukup ketahanan dan kekuatan menjejak dasar

Tidak di atas tanah bumi, tidak di atas air laut

 

Dalam ketika-antara di dalam jarak bumi dan laut

Dan hirup udara dari dua rupa.

Bumi yang punya rupa dan nama

menguapkan awan sakal dan …

 

Di perhentian lanjut

Menyadari tempat dan ketika

Kemenangan dan kekalahan

Membuat pengakuan lalu pulang ke garis jalan,

Tujuan yang dimulai bersumber hati

 

VI

 

Di daerah tuju yang membuka kaki langit

di daerah yang setiap waktu dimandi hujan,

Biar di waktu siang atau di waktu malam.

Cari waktu yang tepat

Cari tempat yang wajar, dan ingat

Tidak ada waktu dan tempat bagi dia yang dilahirkan cahaya

dan hilang ditertawakan cahaya.

 

Dia yang dilahirkan di tengah malam terbongkar

dengan hutan rimba yang satu waktu patah-patah

dan lain waktu jadi padang kering

Dia akan hidup menuju pantai dan jadi penguasa

Karena dia percaya:

Inilah bumi, air , dan udara

Di atas mana, di dalam mana, dan di antara mana

Anak Manusia harus hidup.

 

Dia perhitungkan segala hidup

Dia buat perhitungan di tiap mati

Dia hanya menggenggam nilai

Laut kekalan yang tak kenal batas,

di atas mana kapal, hidup berlayar

 

Dia telah mandikan dirinya di dalam

biru, kejujuran laut dengan badai dan kaca

mata sumber segala yang hidup

kepundan yang memancarkan segala tenaga

Dan gadis dengan keindahan penuh sehabis badai,

Akan keluar dari laut yang biru bening.




=ASRUL SANI=

KEBEBASAN karya : Asrul Sani

 

Di atas hancuran tembok yang kuruntuhkan

Berdiri aku atas kuda putihku, gaya dan jaya

Di hadapanku menghampar padang dan bukit

Dengan lengkungan langit yang membuatku lapar ruangan.

 

Lalu dadaku memberikan ruang

Bagi jantung yang memukul berdentangan

Memancarkan darah yang dia degap degupkan

 

Darah kudaku pun ikut menjalang dan dia

                                    berlonjak-lonjakan oleh kekesalan

Lalu kulepas dan kami menderu pacu ke pantai-pantai.

 



=ASRUL SANI=

ELEGI JAKARTA, II karya : Asrul Sani

 

Ia yang hendak mencipta,

menciptalah atas bumi ini.

Ia yang akan tewas,

tewaslah karena kehidupan.

Kita yang mau mencipta dan akan tewas

akan berlaku untuk ini dengan cinta,

dan akan jatuh seperti permata mahkota

berderai sebutir demi sebutir.

 

Apa juga nasib akan tiba.

Mesra yang kita bawa, tiadalah

Kita biarkan hilang karena isapan pasir.

 

Engkau yang telah berani menyerukan,

Kebenaranmu dari gunung dan keluasan

Sekali masa akan ditimpa angin dan hujan.

 

Jika suaramu hilang dan engkau mati,

Maka kami akan berduka, dan akan

menghormat bersama kekasih kami.

 

Kita semua berdiri di belakang tapal,

Dari suatu malam ramai,

Dari suatu kegelapan tiada berkata,

Dari waktu terlalu cepat dan kita mau tahan,

Dari perceraian-tiada mungkin

Dari sinar mata yang tiada terlupakan.

 

Serulah, supaya kita ada dalam satu barisan,

Serulah, supaya jangan ada yang sempat merindukan senja

Terik yang keras tiada lagi akan sanggup

Mengeringkan kembang kerenyam

Pepohonan sekali lagi akan berdahan panjang

Dan buah-buahan akan matang pada tahun yang akan datang.

 

Mungkin engkau orang perang dan aku petualang,

Tetapi suatu hari cinta telah dijanjikan.

Jika bulan Juni telah pulang

Aku akan membaca banyak pada waktu malam

Dan mau kembali ke pantai Selatan jika kemarau telah datang

Laut India akan melempar pasang

Bercerita dari kembar cinta dan perceraian.

 

Aku akan minta, supaya engkau

Berdiri curam, atas puncak dibakar panas

Dan sekali lagi berseru, akan pelajaran baru

Waktu itu angin Juni akan bertambah tenang

Karena bulan berangkat tua,

Kemarau akan segan kepada bunga yang telah berkembang.

 

Di sini telah datang suatu peranan

Serta kita akan menderita dan tertawa

Tawa dan derita dari

yang tewas

yang mencipta …

 

 


=ASRUL SANI=

PERHITUNGAN HABIS TAHUN karya : Asrul Sani

 

Semalam aku telah bercinta pula,

Kepada engkau yang datang dengan kereta senja

Dan pulang berkereta pagi,

Serta aku ingat bagaimana aku pulang

Seperti pelancung larut yang puas dahaga.

Malam hujan,

Serta engkau menangis

Dan tanganku kaku, hanya hati masih berdebar

Dan namamu yang berdiam di bibirku

 

Mengapa,

Ah, ini ialah suatu rahasia

Dari pelaut lagi mencari pelabuhan-darurat

Sekali ada disambut oleh Suki dan Rani pada teluk terbuka.

 

Tetapi mengapa

Akan jadi rahsia, sedangkan pendeta-pendeta pun.

Terpaksa berhenti berdoa karena mata yang hidup

Dan gelak melepaskan kita dari

Kertas dan bisa tinta, serta sajak-sajak tua

Yang berlagu kesedihan.

 

Tidak perlu ini akhir kelampauan kita ramaikan

Seperti kebesaran Darius di atas rata

Dan besok akan mati.

Kita diamkan saja, seperti suatu janji

Antara engkau dan daku.

Nanti jika ada sedih kita berdekapan dada sendiri

Berapa lamalah sejarah kita baru selesai,

Seperti katamu, aku telah bengkok dan dada penuh racun.

 

Semuanya ini perhitungan lurus akhir-tahun

Bagi engkau yang suka baca syair.

Apa yang akan tiba tentu nanti kita sambut,

Serta kekecilan kita maki dengan persetan

Untuk suatu pertarungan yang luas.

Suruh waktu datang!

Nanti aku datang.

 

Engkau yang datang dengan kereta senja

Dan pergi dengan kereta pagi.

Ini hanya pengakuan sementara.

Apa yang akan terjadi besok hari

Bahkan rasul pun tiada tahu.

Carilah aku,

Carilah aku,

Aku ada di pelabuhan.

Sekali-sekali kita bertukar,

Dan engkau boleh pulang seperti pelancung larut lepas dahaga.

 



Bogor, 1949

=ASRUL SANI=

PENGAKUAN karya : Asrul Sani

 

Akulah musafir yang mencari Tuhan

Atas runtuhan gedung dan dada yang remuk

Dalam waktu tiada kenal berdiam dan samadi

Serta kepercayaan pada cinta yang hilang bersama kabut pagi.

Akulah yang telah berperi,

Tentang kerinduan akan penyelesaian yang tamat,

Dari manusia, dari dunia, dan dari Tuhan.

 

Ah, bumi yang mati,

Lazuardi yang kering.

Bagaimana aku masih dapat,

Menyayangkan air mata berlinang dari kembang kerenyam yang kering,

Sedang kota-kota dan rumah-rumah bambu lebih rendah dari wajah lautan.

 

Satu-satu masih terbayang antara pelupuk mata telah hampir terkatup,

Karena murtad, karena tiada percaya

Karena lelah, karena tiada punya ingatan,

Suatu lukisan dari deru air berlayar atas lunas berganti-ganti bentuk

 

Dari suatu lembah gelap dan suram

Menguapkan kabut mati dari suatu kerahasiaan,

Tuhan yang berkata.

Akulah musafir yang mencari Tuhan,

Dalam negeri batu retak,

Lalang dan api yang siap bertemu.

Suatu kisah sedih dari sandiwara yang lucu,

Dari seorang pencari rupa,

Dari rupa yang tiada lagi dikenalinya.

 

Perawan ringan, perawan riang

Berlagulah dalam kebayangan

Berupa warena

Berupa wareni,

Dan berlupalah sebentar akan kehabisan umur.

Marilah bermain.

Marilah berjalin tangan,

Jangan ingat segala yang sedih,

Biarkanlah lampu-lampu kelip

Lebih samar dari sinar surya senja.

Kita akan bermain,

Dan tidur pulas, sampai

Datang lagi godaan:

“Akulah musafir yang mencari Tuhan.”

 



Bogor, 22 Pebruari 1949

=ASRUL SANI=

ELANG LAUT karya : Asrul Sani

 

Ada elang laut terbang

senja hari

antara jingga dan merah

surya hendak turun,

pergi ke sarangnya.

 

Apakah ia tahu juga,

bahwa panggilan cinta

ada ditahan kabut

yang menguap pagi hari?

 

Bunyinya menguak suram

lambat-lambat

mendekat, ke atas runjam

karang putih,

makin nyata.

 

Sekali ini jemu dan keringat

tiada akan punya daya

tapi topan tiada mau

dan mengembus ke alam luas.

 

Jatuh elang laut

ke air biru, tenggelam

dan tiada timbul lagi

 

Rumahnya di gunung kelabu

akan terus sunyi,

Satu-satu akan jatuh membangkai

ke bumi, bayi-bayi kecil tiada

bersuara.

 

Hanya anjing,

malam hari meraung menyalak bulan

yang melengkung sunyi.

Suaranya melandai

turun ke pantai

Jika segala

senyap pula,

berkata pemukat tua:

“Anjing meratapi orang mati!”

 

Elang laut telah

hilang ke lunas kelam

topan tiada bertanya

hendak ke mana dia.

Dan makhluk kecil

yang membangkai di bawah

pohon eru, tiada pula akan

berkata:

“Ibu kami tiada pulang.”




=ASRUL SANI=

Rabu, 01 Juli 2015

SURAT DARI IBU karya : Asrul Sani

Pergi ke dunia luas, anakku sayang
pergi ke hidup bebas !
Selama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinar daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau.
Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas !
Selama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau.
Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang kesarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nakhoda sudah tahu pedoman
boleh engkau datang padaku !
Kembali pulang, anakku sayang
kembali ke balik malam !
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari.”



=ASRUL SANI=