Kamis, 09 Juli 2015

ELEGI JAKARTA, II karya : Asrul Sani

 

Ia yang hendak mencipta,

menciptalah atas bumi ini.

Ia yang akan tewas,

tewaslah karena kehidupan.

Kita yang mau mencipta dan akan tewas

akan berlaku untuk ini dengan cinta,

dan akan jatuh seperti permata mahkota

berderai sebutir demi sebutir.

 

Apa juga nasib akan tiba.

Mesra yang kita bawa, tiadalah

Kita biarkan hilang karena isapan pasir.

 

Engkau yang telah berani menyerukan,

Kebenaranmu dari gunung dan keluasan

Sekali masa akan ditimpa angin dan hujan.

 

Jika suaramu hilang dan engkau mati,

Maka kami akan berduka, dan akan

menghormat bersama kekasih kami.

 

Kita semua berdiri di belakang tapal,

Dari suatu malam ramai,

Dari suatu kegelapan tiada berkata,

Dari waktu terlalu cepat dan kita mau tahan,

Dari perceraian-tiada mungkin

Dari sinar mata yang tiada terlupakan.

 

Serulah, supaya kita ada dalam satu barisan,

Serulah, supaya jangan ada yang sempat merindukan senja

Terik yang keras tiada lagi akan sanggup

Mengeringkan kembang kerenyam

Pepohonan sekali lagi akan berdahan panjang

Dan buah-buahan akan matang pada tahun yang akan datang.

 

Mungkin engkau orang perang dan aku petualang,

Tetapi suatu hari cinta telah dijanjikan.

Jika bulan Juni telah pulang

Aku akan membaca banyak pada waktu malam

Dan mau kembali ke pantai Selatan jika kemarau telah datang

Laut India akan melempar pasang

Bercerita dari kembar cinta dan perceraian.

 

Aku akan minta, supaya engkau

Berdiri curam, atas puncak dibakar panas

Dan sekali lagi berseru, akan pelajaran baru

Waktu itu angin Juni akan bertambah tenang

Karena bulan berangkat tua,

Kemarau akan segan kepada bunga yang telah berkembang.

 

Di sini telah datang suatu peranan

Serta kita akan menderita dan tertawa

Tawa dan derita dari

yang tewas

yang mencipta …

 

 


=ASRUL SANI=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar