Tampilkan postingan dengan label GOL A. GONG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GOL A. GONG. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Agustus 2015

ORCHAD ROAD karya : Gol A. Gong

Aku menggandengmu siang malam

menyusuri panas trotoar bermerek

kotak-kotak hasrat bernomor huruf

mengantarkan kita ke palsu peradaban

kau ingin meminum manis parfum

“Terlalu banyak gula,” kau meludah

 

Kau meminta mas kawin kepadaku

menyulap apartemen jadi kebun kopi

mengganti kucing dengan luwak

mengusir Starbucks ke negeri asal

melemparku ke kereta bawah tanah

“Tubuhmu penuh luka,” kau berteriak.

 

Aku ingin kau meminangku saat purnama

meniduriku di ranjang pengantin negeri awan

menyeduhkan kopi buat pelanggan kedai

milik kita di kampung halaman berdebu

tapi purnama kembali tak bercahaya

aku terkurung di etalase tanpa kaca

memasang beragam harga di tubuhku


Aku masih ingin terus di sini bersamamu

siang malam menyusuri trotoar menganga

menguburkan mimpi kita tentang kebun kopi

: aku mencari-cari pusaramu!



 

Singapura, 20 Maret 2012

=GOL A. GONG=

GUDANG KOPI karya : Gol A. Gong

Lampu di kota mati jika panen kopi tiba.

Aku takut bunyi aneh di kegelapan.

: Apakah itu serdadu?

Segera ajak aku menari balet.

Cangkir porselen membuatku jatuh cinta.

 



Pagar Alam, 11 Juni 2013

=GOL A. GONG=

ZIARAH KOPI karya : Gol A. Gong

Beribu kebun kopi memaksa penyair

kerja rodi bagai sapi membuat puisi.

Di kedai kopi tikus rayap berkelahi

berebut memakan kertasnya.

 

Setiap penyair meminum kopi robusta

satu huruf di kata hilang.

Jika kopi arabika terlalu pahit

kalimat kekurangan kata.

Ketika membubuhi gula rendah kalori

titik dan koma salah ditempatkan.

 

Akhirnya penyair membakar kedai kopi.

Dia menguburnya di kebun kopi.

: aku menziarahinya



 

Lubuk Linggau, 8 Juni 2013

=GOL A. GONG=

KERTAS KOPI karya : Gol A. Gong

Anak-anak petani kopi

melipat kertas kopi

berupa buntalan bola.

 

Menendang halaman kosong

tak bergaris tak bergawang

merusak panen kebun kopi.

 

Kertas kopi

teronggok di amis gudang

melipat tubuhnya sendiri.

 

Ketika kubuka

anak-anak petani kopi

tertidur di dalamnya.



 

Hayam Wuruk Hotel, Padang, 3 Juni 2013

=GOL A. GONG=

MENIMBANG KOPI karya : Gol A. Gong

Aku si pengembara lelah

ransel lusuh penuh biji kopi

panen raya tahun lalu

 

Semua berebut menjadi paling pahit

apakah tubuhmu padat berair

apakah tubuhmu pekat derita

 

Tak perlu kaucicipi

hidup ditumbuk segenggam

hirup reguk aromanya

seduh roboh tubuhnya

 

Kau tak perlu mabuk serbuk kopi

tak perlu menukar berat timbangan

tak perlu menyembunyikan kebun kopi

tak perlu tergesa menimbang biji kopi

kecuali arah angin memihak kepadamu.



 

Takengon, 8 Mei 2013

=GOL A. GONG=

 

TAK ADA KEBUN KOPI karya : Gol A. Gong

Ketika sampai di Dermaga Baloang

ramai sopir angkutan menawarkan tumpangan,

“Pengembara, pengembara! Ayo naik motor becakku.

Tak berlaku syariat di Sabang. Mari kita bergembira.”

 

Kota Sabang menyambutku dengan gerimis

wajah keriput Hokkien ada di saku baju

satu alamatnya kutemukan di lipatan kertas kopi

kuserahkan ransel lusuhku untuk diperiksa

apakah kita masih bersaudara?

 

Kususuri gedung tua tak bernomor

memantulkan tubuh renta kakekku

yang dikirim Belanda sebagai pesakitan.

 

Kuketuki pintu reyot pertokoan

ruang kosong menahan rindu tanah leluhur

tak kulihat kebun kopi di dalamnya

 

Hokkien renta menawarkan malam kepadaku

menyeduh kopi plastik di trotoar jalan

sudah bergelas kopi malam ini dihabiskan

untuk harapan digantung di lampu jalan

“Pemimpinku tak paham pergaulan.

 

Dermaga kosong. Pulauku ketinggalan zaman.

Aku katak dalam tempurung,” kauaduk

kopi gelasmu hingga keruh.

 

Kuhirup seteguk kopi rasa gula aneh di lidah

yang kuminum tadi pasti bungkus plastiknya.



 

Hotel Pum, Sabang, Pulau Weh, 3 Mei 2013

=GOL A. GONG=

PETUALANGAN KOPI karya : Gol A. Gong

Perkenalkan: si petualang

ada di gelisah jiwa muda

merdeka menyanyi cinta

merdeka merasakan rindu

merdeka menyeduh pahit kopi

 

Akulah si petualang

menyeret nyeri kampung halaman

mencari akar pohon muasal

kumulai dari merah kebun kopi

 

Ya, aku si petualang

meninggalkan petak indah sawah

menuju kota di seribu bukit

yang selalu kunyanyikan

bersama panas kopi pagi

 

Oh, aku si petualang

berdiri  di jantung Masjid Raya

mengenang air bah di telivisi

menggenggam dunia baru

dalam plastik kopi

 

Hey, kulihat banyak petualang

di setiap perempatan jalan kotamu

dengan rasa malu menanyakan

bagaimana nasibmu hari ini

setiap panen kopi tiba

 

Ah, aku si petualang luka

rencongmu hilang bentuk

golokku lupa ilalang

perempuanmu menabuh genderang

perempuanku merias wajah

kotamu megah menjulang

kotaku kelam tenggelam

pada serbuk hitam kopi

 

kopiku sudah lama dingin

aku tak berani meminumnya



 

Banten – Banda Aceh, 1 Mei 2013

=GOL A. GONG=

Selasa, 25 Agustus 2015

ANAK KOPI karya : Gol A.Gong

Aku singgah di  Pangkal Pinang

bau timah kedai kopi berebut tempat

di jalan ternama jantung kota tua

merebut tradisi kacang segelas susu

 

Kudengar seorang perantauberkeluh,

“Kasihan benar anak-anakku

untuk pintar harus ke ladang kopi

memilih biji terbaik pedih tak sekolah

memamah rumput plastik memakan telivisi 

lupa jalan pergi meninggalkan kami.”

 

Kupesan dua gelas kopi tung tau

menghibur si perantau agar segera pulang

kampung halaman menua dalam cangkir

diaduk mengabur dalam pusaran waktu

 

Masih kudengar si perantau meratap,

“Kasihan benar anak-anakku

untuk mencintai harus menjemur kopi

memilih hari baik bergantung warna langit

menumbuk mimpi menyeduh cita-cita

lupa jalan pulang kepada kami.”

 

Kutinggalkan kedai kopi tung tau

menyeberang menuju kopi tiam

aku berharap ada arabika di sana

walaupun tak ada kebun kopi di sini  



         

 Jalan Singapur, Pangkal Pinang, 22 April 2013

=GOL A.GONG=

 

KOPI JOSS karya : Gol A.Gong

Malam purnama tanpa bulan

kita duduk di Warung Lek Man

di sebelah utara Stasiun Tugu Yogya

memesan kopi plastik bara arang

orang suka sensasi suaranya

 

Bergelas kopi mengeluarkan bunyi

ibarat kereta api yang hendak pergi

mengantarkan harapan ke kota baru

walau hanya sekadar jadi babu

 

“Silakan diteguk kopinya.

Jujur saja ini kopi pabrik,” suara itu

menusuk di telinga.

 

Malam itu kau menolak kopi arang

memilih membakar tubuhmu di tungku

minta dimasukkan ke gelas kopi

bunyinya membikin ngilu di pipi

 

Kau menyuruhku mengaduknya

membuang segala racun kafein

meminumnya dengan sate bintang

agar mengerti rindumu kepadaku

tak berbalas perih hujan

 

“Aku tak mau ke kebun kopi.

Aku ingin café kopi,” kau keluar

dari gelas kopi. Tubuhmu berlumur tanah.

 

Malam purnama masih tanpa bulan

kita menyusuri Yogya hingga ke selatan

melarungkan tubuh sendiri

kami terapung bersama ribuan plastik kopi.



 

Yogyakarta, 22 Februari 2010

=GOL A.GONG=

DIDONG karya : Gol A.Gong

Nyanyianmu menumbuhkan biji kopi nomor satu.

Melawan rantai tangannya, mengusir takut tidurnya

Hari ini berulat, lupa menyanyikannya.

Matahari terbit di malam purnama tak berbulan.

Angin tak memiliki kekuatan negeri terdiam.

Kau bercermin, tak lagi memiliki mulut



 

Lubuk Linggau, 8 juni 2013

=GOL A.GONG=

KITA PURA-PURA karya : Gol A.Gong

Kita pura-pura bermimpi kehidupan dimulai saat biji kopi

ditanam.

Kita pura-pura tak merasa perlu menyiraminya.

Kita pura-pura tahu langit mengatur semuanya.

Kita pura-pura berdiri di Sabang dan berakhir di Merauke menghitung nasib.

Kita pura-pura memanennya dengan gembira.

Kita pura-pura bersahabat dengan empat penjuru mata angin.

Kita pura-pura merasakan kopi itu manis sekali.

Kita pura-pura menyampurnya dengan gula.

Kita pura-pura tidak terkena diabetes.

Kita pura-pura jadi tengkulak.

Kita pura-pura tak punya kebun kopi.

Kita pura-pura miskin.

Kita pura-pura.

 



Hotel Pum, Sabang, Pulau Weh, 3 Mei 2013

=GOL A,GONG=

 

NEGERI KOPI karya : Gol A.Gong

Air matamu mengerak di penggorengan tak berminyak

Suaramu mengepul mengiris malam.

Tubuhmu berdetak berkeringat direguk ditumbuk

“Wait a minutes, Mister. Without sugar, ya.

Ini arabika harum sekali. Seperti negeri yang Tuan singgahi.”

 

Cangkir kayumu membungkuk deritamu diseduh dikeruk.

Kau masih kental pekat rasa gula tak kauingat.

Kau sembunyi di seribu bukit, lars mesiu tubuhmu sakit.

“Sudahlah, Tuan. Tubuhku capek. Mari bersulang saja.

Ini robusta pahit sekali, seperti negeri yang Tuan gagahi.”

 

Tubuhmu mengurai serbuk,

dicambuk disegel dalam plastik.



 

Bangko, Jambi, 4 Juni 2013.

=GOL A.GONG=

KOPI INI PAHIT SEKALI larya : Gol A.Gong

Aku si pengembara pucat tersesat
berenang lemah di pinggiran Lut Tawar
melihat Bapak perih mengukir tabir batu
satu persatu di kirim ke negeri kepala ratu
dijadikannya ranjang emas biji kopi
tempat pertemuan rasa tubuh Ibu.

 

Aku si pengembara lugu termangu
menyaksikan upacara agung tanpa mantra
menari suci di pekarangan rumah
biji kopi remuk ditumbuk remuk diteguk
berserah diri pada cangkir porselen milikmu.



 

Dermaga Takengon, 8 Mei 2013

Embong Malang, Surabaya, 1 Juli 2013

=GOL A.GONG=

JANGAN MINUM KOPI karya : Gol A.Gong

Setiap pagi di meja makan

Bapak bertengkar dengan Emak

soal secangkir kopi

boleh kuminum atau tidak

itu disebabkan masih balita

 

“Kita berdosa pada petani kopi. Kita

bukan tengkulak,” Bapak menyeduh teh.

“Lagi pula ngopi bukan tradisi.”

 

Terlalu jauh Bapak memikirkan

kopi berarti kemelaratan

Emak berbeda cara pandang

warung tetangga dimakmurkan

 

“Kakekmu dikirim Belanda. Membuka

kebun kopi di seribu bukit,” Bapak masih

menyeduh teh. “HIngga kini tak ada pusaranya.”

 

Ternyata Bapak punya alasan

panjang kali lebar kebun kopi

sampailah pada panen biji kopi

selain Kakek tak ditemukan

petani pun tak merasakan

 

Kubuktikan kebenaran

ratusan bulan kuseduh kopi plastikan

hingga kopi luwak harum kotoran

terasa apa yang Bapak resahkan

kenapa ku tak boleh minum kopi

karena di cangkir ada air mata kopi

 

“Pernahkan kaurasakan

secangkir kopi di lidah terasa asin?”

Bapak tak boleh lagi meminum teh.

 

Kini tak ada lagi ribut di meja makan

karena Bapak telah berpulang

Emak kini kesepian

aku minum cappuccino sendirian



 

Serang, 20 Maret 2008

=GOL A.GONG=

AIR MATA KOPI karya : Gol A.Gong

Aku si pengembara resah

semakin jauh membuat titik

di peta perjalanan riuh dunia

tapi belum juga menemukan

peristirahatan abadi

 

“Dunia yang hendak ditaklukkan

harus dijauhkan dari wanita,” kubaca

prasastimu di dinding Gateway of India.

 

Meninggalkanmu mencari rasa kopi

berjumpa luka orang bernyanyi

berdansa tanpa busana diri

wajahmu yang sedih

saat menyeduh kopi

hadir di mimpi

 

Pergi ke Colaba di jantung kota

memaksa pemilik kedai menyeduh kopi

walau kutahu hanya ada teh susu tanah liat

wajahmu membayang di keruh hitam kopi

 

Kehadiranmu di tikungan kota

mengingatkanku menuju asal biji kopi

berharap mencium aroma itu

yang kutemui di setiap Jumat

 

oh, pemilik biji harum kopi

air mata kopi tumpah dari cangkirku



 

Mumbai, India, 6 April 2012

=GOL A.GONG=