Sabtu, 22 Agustus 2015
DELAPAN KWATRIN KELOPAK BUNGA karya : Agus Noor
Selasa, 14 Juli 2015
LELUCON MENJELANG KEMATIAN karya : Agus Noor
: Gus Dur
1/
Aku ingin mendengar leluconmu, sebelum mati. Engkau pun bercerita perihal kerbau.
Syahdan, seekor kerbau muncul di depan istana. Para penjaga heboh, dan segera melapor pada Presiden. “Apa yang harus kami lakukan?” tanya penjaga. “Jangan gegabah. Kita mesti hati-hati, pada apa yang belum kita mengerti,” jawab Presiden. “Pasti saya akan ambil keputusan, tapi nanti.”
Dan kau, juga aku, pada akhinya tahu: seorang penyair pernah mengatakan, hidup hanya menunda kekalahan. Maka, bagi Presiden itu, hidup hanya menunda keputusan.
2/
Maut, yang berdiri di sisi ranjang pun tertawa. Bahkan, menjelang mati pun kamu masih lucu. Lalu perlahan disentuhnya, ruhmu.
“Bukan kematian benar menusuk kalbu,” katamu, seperti pada bait puisi. “Tapi, bila boleh menawar, saya tak ingin mati hari ini. Sekarang 25 Desember, bukan? Hari yang ranum dan bahagia. Saya tak ingin siapa pun yang merayakan kelahiran Tuhan, berduka karna kematian saya.”
Maut terasa fana. Dalam mati pun, ada yang terasa lebih berharga.
3/
Seperti dalam puisi, gerimis pun mempercepat kelam. Langit penuh kesedihan. “Sebelum mati, ijinkan saya berpesan,” katamu. “Jangan Kau biarkan orang-orang saling dorong atau berdesakan saat pemakaman. Apalagi sampai ada yang mati terinjak atau pingsan.”
Kenapa, kata-Ku.
“Karna nanti malah dikira orang antri rebutan sumbangan…”
4/
Ingin kutulis puisi, sesuatu yang kelak retak tetapi kuharap abadi, setelah kau mati. Kata-kata yang tak pudar di keramik waktu.
“Biarkan saya mati dengan tenang, tak perlu repot memikirkan puisi. Ada baiknya saya jujur: sebenarnya saya tak terlalu suka puisi. Kau tahu, penyair lebih rumit dari sopir bajaj. Di jalanan, kalau bajaj mau belok, yang tahu hanya sopir bajaj dan Tuhan. Tapi kalau penyair menulis puisi, bahkan Tuhan dan penyairnya sendiri tak tahu, apa yang ditulisnya itu.”
Tapi aku ingin menulis puisi. Meski mungkin tak akan pernah menjadi abadi. Lihatlah, di matamu yang perlahan terkatup, seperti ada perih puisi.
Ya, katamu, selalu ada yang jauh lebih tak terduga dari puisi, melebihi mati.
5/
Seperti ada yang perlahan-lahan sampai. Seperti ada yang tugur di sisimu.
“Tuan Tuhan, bukan?”
Tunggu sebentar. Gus Dur lagi tidur
2010
=AGUS NOOR=
SAJAK SAJAK KECIL KEPADA M karya : Agus Noor
Sajak ini doa, tangan yang menampung luka, yang menjagamu, agar kau tak pernah merasa sendirian, dan ditinggalkan.
♥
Mencintaimu merupakan caraku berdoa setiap hari, untuk semua kebahagiaan kita.
♥
Aku telah belajar merasakan pedih, lewat ciuman-ciumanmu yang lembut dan menanggung duka dunia.
♥
Kupandangi langit lembut itu, seakan berada dalam keluasan matamu; dan kutemukan sebuah dunia, yang lebih ajaib dari surga.
♥
Kekasihku, selalu ada yang pantas kita muliakan, yang membuat kita akan terus bertahan, bahkan dalam kepedihan.
♥
Aku punya cara sederhana mencintaimu: dengan selalu mendoakan kebaikan dan keselamatanmu…
♥
Sesuatu, yang kausebut kenangan, telah membukakan padaku rahasia, cara mencintaimu tanpa pernah merasa kehilangan.
♥
Kangen ini. Laut tak bertepi…
♥
Entah kenapa, aku ingin membelikanmu jaket, yang setiap kali kaupakai, akan juga menghangatkan kerinduanku.
♥
Aku masih saja menerka-nerka, lebih merah mana, senja ataukah luka, yang kau sembunyikan sekian lama.
♥
Ada banyak cara berbahagia; satu-satunya cara yang tak pernah kubisa ialah melupakanmu.
♥
Duka hanyalah mentega yang meleleh di penggorengan panas.
♥
Senja yang muram, selalu mengingatkan pada ciuman kita yang tergesa dan gemetar.
♥
Ada saat-saat ketika mencoba melupakanmu, semua benda yang dulu pernah kita sentuh, seperti berbicara kembali tentang kamu.
♥
Darimu aku faham, bila airmata ialah rahasia penciptaan Tuhan, yang paling menakjubkan.
♥
Malam, sesungguhnya, tak pernah memejam. Ia hanya diam-diam menyembunyikan luka kita dalam kelam, agar kita bisa tidur tentram.
♥
Aku akan jadi doa malammu. Sementara kau perlahan memejam tentram, aku akan menggapai langit: mengetuk pintu surga bagimu.
=AGUS NOOR=
SUARAMU TELAH MEMIKAT INGATANKU karya : Agus Noor
untuk #L
suaramu telah memikat ingatanku, hari ini
kurasakan suaramu, seperti cahaya lembut, yang perlahan memeluk seluruh kesedihanku
kau tahu, aku telah lama belajar dari airmata, yang selalu memahami seseorang yang dicintainya dengan cara menjatuhkan diri
akan tiba saatnya, di malam-malamku yang penuh kerisauan, suaramu akan menjelma jerit kijang yang terpanah jantungnya
ya, pada saat itu aku pun tahu: ada yang lebih tajam dari pisau waktu, yakni rindu
kesakitan, memang terasa lebih pedih dalam ingatan. mungkin itu, yang kelak kita sebut: kenangan
kita dipertemukan dalam kegentingan. seperti ada burung-burung api, yang terbang dalam jiwa, dan membakar kita sendiri
tapi kebahagiaan, cintaku, selalu pantas diperjuangkan. apa pun resikonya
kau pasti akan memilih hidup dan kebahagiaanmu. kita akan saling menghapus, atau begitu saja terhapus
bagaimana pun caramu meninggalkan aku, engkau akan selalu bahagia dalam ingatanku. dan aku, akan betahan hidup, dengan mengingat ciuman-ciumanmu
hidup barangkali memang hanya menunda luka
di antara kita, akan tiba juga itu luka: ketika semua kancing bajumu terbuka, dan aku tak bisa lagi menutupnya.
2011
=AGUS NOOR=
MENGINGAT JALAN JALAN YANG DILUPAKAN INGATAN karya : Agus Noor
Semua jalan, Ibu,
selalu membawaku
kepadamu.
Di kota yang telah dilupakan oleh ingatan,
aku mencoba mengingat jalan-jalan
yang pernah kita lalui. Juga jalan-jalan
yang belum pernah kita lalui,
dan yang mungkin akan kita lalui.
Pada setiap jalan yang telah dilupakan oleh ingatan
selalu ada kisah yang menolak dilupakan,
dan tak mungkin terlupakan.
Setiap jalan punya kisah yang dengan tabah
disimpannya sendiri, menanggung luka
dan kebahagiaannya sendiri.
Ketika melewati sebuah jalan
kita tak pernah tahu:
adakah kita menambahi luka,
atau kebahagiannya.
Apakah jalan yang kulalui, Ibu,
menambah lukamu.
Atau menyudahi kebahagianmu?
Setelah tahun-tahun yang ingin dilupakan
masih saja aku mengingat sebuah jalan
yang membentang dari masa kecil.
Jalan yang sabar menyimpan semua tangisan
yang kadang ingin kudengar dalam kesendirian.
Di jalan yang abadi dalam kenangan itu, Ibu,
aku tak lagi bisa membedakan tangismu dan tangisku.
Ketika kudengar tangismu, aku seperti
mendengar tangisku sendiri
Kenangan, barangkali memang piringan hitam,
yang suka memutar kesedihan berulang-ulang.
Kota telah mengubah jalan-jalan, tetapi akan
selalu ada jalan yang abadi dalam ingatan.
Jalan-jalang menghilang dari sejarah.
Mereka terhapuskan tapi tak terlupakan.
Seperti engkau yang lelah, tapi menolak menyerah.
Bagaikan pengungsi ditawan kegelapan,
jalan-jalan itu mencari takdirnya sendiri
agar sampai yang sampai padaku,
sampai juga kepadamu.
Dari arah mana pun jalan itu,
dari masa depan atau masa lalu,
ia akan selalu membawaku padamu.
Adakah jalan itu, Ibu, adalah jalan
yang selalu menautkan kepedihan
dengan kenangan
“Agar kau sampai pada sunyiku, mari
kutunjukkan jalan paling rahasia,
ke jantungku,” katamu.
Dadamu: kota yang berdebar.
Kota penuh jalan rahasia
yang telah lama terbakar
menjadi memar kisah samar-samar.
Di kota yang dilupakan oleh ingatan inilah, Ibu
aku mengingat jalan-jalan dalam dadamu.
Kau pernah bercerita;
perihal jalan, yang pada suatu hari
menjelma burung, terbang dan hinggap
ke kota lain. Orang-orang memberinya
nama baru. Membangun patung seorang pangeran
yang menyaru dengan jubah megahnya
hanya untuk menutupi kesedihannya.
Kini aku mencoba mengingat, Ibu,
di sebuah kota yang telah hilang dari ingatan:
adakah sebuah jalan yang akan terus menghubungkan
kenangan dengan kepedihanku, kepadamu.
Seorang kekasih, di sebuah losmen murahan,
pernah berbisik memelukku.
“Akan kukenalkan kau pada satu jalan,” katanya
meraih bibirku yang telah mekar oleh gairah.
Lalu ia buka bajuku. Kutangku. Celanaku.
Susuku. Kulitku. Ingatanku.
Dan ia tunjuk, celah pahaku:
inilah jalan bebas hambatan,
menuju surga.
Aku telah memilih jalan bagi kepedihanku,
ketika seluruh jalanan di kota ini ingin aku lupakan.
Jalanan kota ini penuh mahkluk ganjil
yang dadanya menyimpan api kemarahan.
Jalan-jalan yang berkobar tubuh para korban:
wanita yang mati diperkosa.
Jalan-jalan yang mengelabu dan mengelabui.
Seperti Malin terdampar di bandar
yang mengasingkannya, aku memandang jalan-jalan
yang terbakar, di sebuah kota yang telah dilupakan
oleh ingatan. Bila waktu sebuah jalan, Ibu,
betapa jauh ia telah membawaku melupakanmu.
“Bagi seorang anak, sebuah jalan akan melupakan.
Ibu adalah jalan mengabadikan,” katamu
Mungkin, suatu hari orang-orang akan menemukanmu
tergeletak di sebuah jalan tanpa nama, tanpa ingatan.
Pada suatu hari itu, percayalah,
hanya aku yang mengingatmu, Ibu.
Akan selalu mengingatmu.
Meski semua jalan lenyap dari ingatanku.
2011
=AGUS NOOR=
AUBADE karya : Agus Noor
Untuk M
Pagi ialah tangan yang terulur santun, ke dalam hatimu. Dibukakannya pintu kebaikan dan keselamatan, bagimu
Pagi yang lembut mengusap keningmu, seperti tangan ibu. Dihapusnya debu kecemasan yang berguguran semalam, dari mimpimu
Pagi ialah kecupan kekasih, yang membangunkan kerinduanmu. Ditumpahkannya seluruh hangat harapan, sebagai degup jantungmu
Jari-jari mungil pagi menggelitik jantung sepimu, ialah tangan kanak-kanak yang lucu dan menggemaskan, kebahagiaanmu
Bila kaurasakan pagi menyentuhkan cahayanya yang lembut, ke hidupmu, itulah tangan gaib Tuhan, membelai kegelisahanmu
2010
=AGUS NOOR=
ADA YANG LEBIH TABAH DARI HUJAN BULAN JUNI karya : Agus Noor
: SDD
Ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, ialah ia, yang terus mencintaimu, meski kau tak pernah menyadari, dan selalu berjaga dalam kesedihan dan kebahagiaanmu
Ialah yang menggeletar dalam doa-doamu, tanpa pernah kau menyadari, dan kau pun tentram karena merasa ada yang selalu menjagamu
Tanpa pernah kau menyadari, ia diam-diam menjelma bayanganmu, hingga bahkan pun dalam sunyi kau tak lagi merasa sendiri.
Ia, yang sungguh lebih tabah dari hujan bulan Juni, selalu berbisik lembut di telingamu, meski kau tak pernah menyadari, dan seluruh kenanganmu menjadi hangat dalam ingatan
Saat kau terisak menahan tangis, ia yang lebih bijak dari bulan Juni, merasuk ke dalam dadamu yang disesaki duka, hingga kau semakin memahami: betapa airmata mencintai orang yang paling dicintainya dengan cara menjatuhkan diri
Ia jugalah yang menyelusup ke paru-parumu, tanpa sekali pun pernah kau menyadari, ketika kau mendadak tersengal oleh entah apa, dan segalanya tiba-tiba saja menjadi terasa lega
Ketika senja, ia yang lebih arif dari bulan Juni, tanpa pernah kau menyadari, meruapkan hangat ke dalam teh yang tengah kau nikmati pelan-pelan, hingga kau merasakan sore begitu damai dan menentramkan
Ia jualah yang terus duduk di sampingmu, tanpa pernah kau menyadari, menemanimu dengan sabar memandangi cahaya senja yang perlahan memudar, dan kau bersyukur pada segala yang sebentar
Dan ketika kau tidur, ia yang lebih arif dari bulan Juni, tak lelah berjaga: dihapusnya debu kecemasan yang berguguran dalam mimpimu
Ada yang jauh lebih tabah dari hujan bulan Juni, lebih bijak, dan lebih arif, tetapi kau tak pernah menyadari, meski selalu ada di kesedihan dan kebahagiaanmu, karena ia tak henti-henti mencintaimu
2010
=AGUS NOOR=
PAGI DISECANGKIR KOPI karya : Agus Noor
– Peggy Melati Sukma
Aku akan menjadi kopimu,
yang rela mengendap sebagai kepedihanmu
yang sabar menghangatkan kesedihanmu.
Biarkan harum tubuhku, menenangkan jiwamu.
Aku kopi pahit, yang kau seduh dengan cinta.
Segala yang pahit, bukanlah untuk menunda sakit.
Sebab kita hidup untuk berbagi kebahagiaan.
Lalu kau pandangi aku, yang pulas dalam cemas.
Aku kopi pahit, yang belajar menatap dunia
dengan senyumanmu.
Aku akan selalu mengingat pagi bening
suara cangkir berdenting dalam hening
gemericik air dituang, juga ciuman lembut
yang membangunkanku dari perasaan sia-sia.
Kita pernah berteka-teki:
dari apakah terbuat sebiji kopi ini?
“Dari airmata,” katamu, “yang ketika jatuh,
tak pernah merasa kehilangan apa-apa.”
Ia yang rela tak terikat pada yang fana.
Maka, ketika airmatamu jatuh, pagi itu
yang tak tertampung oleh hatimu
biarlah tertampung dalam secangkir kopi.
Kau tahu, cintaku, dalam secangkir kopi
kesedihan tak membutuhkan pelukan.
Biarkan jeritmu yang tertahan
mengendap dalam gelas kehidupan.
Tidurlah kau setenang pagi. Tidurlah, lagi.
Aku kopi pahit
Biarlah seluruh kesedihanmu yang hitam
Menjadi jubahku.
2013
=AGUS NOOR=
HAI AKU karya : Agus Noor
I
Pada mulanya
Hanya sabda, “Hai, Aku!”
Tersamar gema
Yang bergeletar
Terdengar seperti “Kun!”
Pada telinga
Serupa telur
Sunyi pecah, menjelma
Ruh yang pertama
Di bawah bulan
Burung gagak terdiam
Terpukau dosa
Sedangkan kita
Getir menafsir waktu
Di usir takdir
“Tapi,” katamu
“Kita tak pernah siap
Dihapus senyap.”
Angin bergegas
Sebelum nujum timpas
Cemas pun tuntas
Sedingin kabut
Maut berdenyut lembut
Dan tak tersebut
Di pohon zaitun
Sepasang mata ular
Sehitam zakar
Cahaya memar
Bintang zohar
Bergeletar dan pudar
Lalu kusentuh
Namamu dengan doa
Di keheningan
Tuhan yang tak bernama
Yang berdiam di
Sabda dan dosa:
“Berikan aku
Nikmat yang kekal itu
Bukan di surga.”
“Biarkan kami
Menikmati yang dosa
Dengan bahagia.”
Bukan karena ular
Dan buah itu
Kita tergoda
Kita pilih dunia
Karena surga
Hanyalah dusta
Ke dalam peluk
Kaucoba tolak kutuk
Dan nasib buruk
“Dekaplah aku
Dan sembunyikan aku
Dalam dosaMu.”
“Sungguh, cintaku
Maut tak lebih nikmat
Dari senggama.”
II
Reranting kering
Lengking seekor anjing
Moksa ke hening
Sekukuh iman
Malaikat pun berjaga
Di gerbang surga
Sebelum lengkap ayat
Bahkan malaikat
Pun berkhianat
Kita mengingat:
Mephisto yang jatuh
Ke lembab kitab
Juga Arakiel
Yang mensucikan diri
Ke arak api
Sebab yang suci
Bukanlah yang ilahi
Tak terpahami
“Tuhan hanyalah
Yang tak ada, tetapi
Kita percaya.”
Kita bukanlah
Pemberontak pertama
Yang menyangsikan
Janganlah getir
Kita tidak terusir
Karena takdir
Maka, cintaku
Neraka hanya ada
Di ketakutan
Di jantung langit
Seiris bulan sabit
Dan sisa jerit
Detik melambat
Kukenang dalam khidmat
Yang kan terlewat
III
Kukenang kamu
Di fotosfera senja
Seindah luka
Aku melihat
Kepala bayi mati
Dalam selokan
Wajah wanita
Yang mati diperkosa
Sepucat mawar
Udara tuba
Penuh hujah
Oranng-orang berjubah
Sedang gerimis
Seperti bedak tumpah
Di langit merah
Bagai peronda
Kematian berjaga
Di sudut kota
Dan bayanganMu
Megah berjubah kubah
Sehitam Ka’bah
Seekor burung
Dengan sayap berkobar
Terbang bergegas
“Tuhan yang kudus
Kusembunyikan
Namamu dalam cemas.”
Masih telanjang
Kita memandang
Kota rungsang dan sungsang
Rasanya belum lama
Kita nikmati
Dosa pertama
Di kota kita
Dusta lebih dipuja
Dari yang dosa
Dan kau lihatlah
Tuhan dijual murah
Serta ketengan
“Jangan kautakut
Segala bisa kata
Para pendusta
Tak perlu kaujeritkan
Kecemasanmu
Ke dalam doa.
Sentuhkan saja
Tangan lembutmu itu
Pada cahaya
Dekatkanlah jantungmu
Sedekat detak
Jantungku, Cinta.”
2013
=AGUS NOOR=
* Lengkapnya, sajak “HAI AKU” ini berjumlah 99 haiku. Saya kutipkan sebagian, sebagaimana yang saya postingkan ini, sebelum versi lengkapnya nanti terbit dalam buku puisi yang tengah saya siapkan