Tampilkan postingan dengan label AGUS NOOR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AGUS NOOR. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Agustus 2015

DELAPAN KWATRIN KELOPAK BUNGA karya : Agus Noor

1
kau melihat kelopak bunga mengapung
di selokan rumahsakit.
“aih,” katamu,” ia bagai nyawa bayi yang dibuang,
dan menjerit.”

2
malam hari, dalam mimpimu,
kelopak bunga itu tumbuh berkilauan, bersih seperti
wajahmu semasih bayi.
kau, juga tiktok jam itu, perlahan saling tersedu.

3
kau petik bunga  yang tumbuh dalam mimpimu itu,
iseng kau tanggalkan kelopaknya, satu per satu.
kau dengar ada yang mengaduh,
ketika kelopak itu runtuh

4                    
lalu kau bayangkan: alangkah tenang
kelopak bunga itu melayang,
seakan jatuh dari ketiadaan,
kemudian mengapung di selokan

5
tiba-tiba, kamar dipenuhi guguran kelopak
bunga. ada harum yang menyebar
bersama angin yang menyelusup masuk,
dan membuatmu gemetar

6
hanya ada kau, Aku dan kelopak bunga
di kamar. tapi kau yakin: ada
yang sedang diam-diam menatap kita
dengan pandangan berkaca-kaca

7
seperti kau dengar – nun di luar kamar sana
ada yang bersabda: jadilah. maka tumbuhlah
sekuntum bunga. kau berkata: gugurlah,
maka runtuhlah seluruh duka

8
pada pagi saat kau melihat kelopak bunga
mengapung di selokan rumahsakit, kau pun merasa:
                                                      waktu telah tiba.
tergenapkanlah duka



2012
=AGUS NOOR=

Selasa, 14 Juli 2015

LELUCON MENJELANG KEMATIAN karya : Agus Noor


: Gus Dur

 

1/
Aku ingin mendengar leluconmu, sebelum mati. Engkau pun bercerita perihal kerbau.

 

Syahdan, seekor kerbau muncul di depan istana. Para penjaga heboh, dan segera melapor pada Presiden. “Apa yang harus kami lakukan?” tanya penjaga. “Jangan gegabah. Kita mesti hati-hati, pada apa yang belum kita mengerti,” jawab Presiden. “Pasti saya akan ambil keputusan, tapi nanti.”

 

Dan kau, juga aku, pada akhinya tahu: seorang penyair pernah mengatakan, hidup hanya menunda kekalahan. Maka, bagi Presiden itu, hidup hanya menunda keputusan.

 

2/
Maut, yang berdiri di sisi ranjang pun tertawa. Bahkan, menjelang mati pun kamu masih lucu. Lalu perlahan disentuhnya, ruhmu.

 

“Bukan kematian benar menusuk kalbu,” katamu, seperti pada bait puisi. “Tapi, bila boleh menawar, saya tak ingin mati hari ini. Sekarang 25 Desember, bukan? Hari yang ranum dan bahagia. Saya tak ingin siapa pun yang merayakan kelahiran Tuhan, berduka karna kematian saya.”

 

Maut terasa fana. Dalam mati pun, ada yang terasa lebih berharga.


3/
Seperti dalam puisi, gerimis pun mempercepat kelam. Langit penuh kesedihan. “Sebelum mati, ijinkan saya berpesan,” katamu. “Jangan Kau biarkan orang-orang saling dorong atau berdesakan saat pemakaman. Apalagi sampai ada yang mati terinjak atau pingsan.”

 

Kenapa, kata-Ku.

 

“Karna nanti malah dikira orang antri rebutan sumbangan…”

 

4/
Ingin kutulis puisi, sesuatu yang kelak retak tetapi kuharap abadi, setelah kau mati. Kata-kata yang tak pudar di keramik waktu.

 

“Biarkan saya mati dengan tenang, tak perlu repot memikirkan puisi. Ada baiknya saya jujur: sebenarnya saya tak terlalu suka puisi. Kau tahu, penyair lebih rumit dari sopir bajaj. Di jalanan, kalau bajaj mau belok, yang tahu hanya sopir bajaj dan Tuhan. Tapi kalau penyair menulis puisi, bahkan Tuhan dan penyairnya sendiri tak tahu, apa yang ditulisnya itu.”

 

Tapi aku ingin menulis puisi. Meski mungkin tak akan pernah menjadi abadi. Lihatlah, di matamu yang perlahan terkatup, seperti ada perih puisi.

 

Ya, katamu, selalu ada yang jauh lebih tak terduga dari puisi, melebihi mati.

 

5/
Seperti ada yang perlahan-lahan sampai. Seperti ada yang tugur di sisimu.

 

“Tuan Tuhan, bukan?”

 

Tunggu sebentar. Gus Dur lagi tidur



 

2010

=AGUS NOOR=

SAJAK SAJAK KECIL KEPADA M karya : Agus Noor


 

Sajak ini doa, tangan yang menampung luka, yang menjagamu, agar kau tak pernah merasa sendirian, dan ditinggalkan.

♥

Mencintaimu merupakan caraku berdoa setiap hari, untuk semua kebahagiaan kita.

♥

Aku telah belajar merasakan pedih, lewat ciuman-ciumanmu yang lembut dan menanggung duka dunia.

♥

Kupandangi langit lembut itu, seakan berada dalam keluasan matamu; dan kutemukan sebuah dunia, yang lebih ajaib dari surga.

♥

Kekasihku, selalu ada yang pantas kita muliakan, yang membuat kita akan terus bertahan, bahkan dalam kepedihan.

♥

Aku punya cara sederhana mencintaimu: dengan selalu mendoakan kebaikan dan keselamatanmu…

♥

Sesuatu, yang kausebut kenangan, telah membukakan padaku rahasia, cara mencintaimu tanpa pernah merasa kehilangan.

♥

Kangen ini. Laut tak bertepi…

♥

Entah kenapa, aku ingin membelikanmu jaket, yang setiap kali kaupakai, akan juga menghangatkan kerinduanku.

♥

Aku masih saja menerka-nerka, lebih merah mana, senja ataukah luka, yang kau sembunyikan sekian lama.

♥

Ada banyak cara berbahagia; satu-satunya cara yang tak pernah kubisa ialah melupakanmu.

♥

Duka hanyalah mentega yang meleleh di penggorengan panas.

♥

Senja yang muram, selalu mengingatkan pada ciuman kita yang tergesa dan gemetar.

♥

Ada saat-saat ketika mencoba melupakanmu, semua benda yang dulu pernah kita sentuh, seperti berbicara kembali tentang kamu.

♥

Darimu aku faham, bila airmata ialah rahasia penciptaan Tuhan, yang paling menakjubkan.

♥

Malam, sesungguhnya, tak pernah memejam. Ia hanya diam-diam menyembunyikan luka kita dalam kelam, agar kita bisa tidur tentram.

♥

Aku akan jadi doa malammu. Sementara kau perlahan memejam tentram, aku akan menggapai langit: mengetuk pintu surga bagimu.

 



=AGUS NOOR=

SUARAMU TELAH MEMIKAT INGATANKU karya : Agus Noor



untuk #L

 

suaramu telah memikat ingatanku, hari ini

 

kurasakan suaramu, seperti cahaya lembut, yang perlahan memeluk seluruh kesedihanku

 

kau tahu, aku telah lama belajar dari airmata, yang selalu memahami seseorang yang dicintainya dengan cara menjatuhkan diri

 

akan tiba saatnya, di malam-malamku yang penuh kerisauan, suaramu akan menjelma jerit kijang yang terpanah jantungnya

 

ya, pada saat itu aku pun tahu: ada yang lebih tajam dari pisau waktu, yakni rindu

 

kesakitan, memang terasa lebih pedih dalam ingatan. mungkin itu, yang kelak kita sebut: kenangan

 

kita dipertemukan dalam kegentingan. seperti ada burung-burung api, yang terbang dalam jiwa, dan membakar kita sendiri

 

tapi kebahagiaan, cintaku, selalu pantas diperjuangkan. apa pun resikonya

 

kau pasti akan memilih hidup dan kebahagiaanmu. kita akan saling menghapus, atau begitu saja terhapus

 

bagaimana pun caramu meninggalkan aku, engkau akan selalu bahagia dalam ingatanku. dan aku, akan betahan hidup, dengan mengingat ciuman-ciumanmu

 

hidup barangkali memang hanya menunda luka

 

di antara kita, akan tiba juga itu luka: ketika semua kancing bajumu terbuka, dan aku tak bisa lagi menutupnya.



 

2011

=AGUS NOOR=

MENGINGAT JALAN JALAN YANG DILUPAKAN INGATAN karya : Agus Noor

 

Semua jalan, Ibu,

selalu membawaku

kepadamu.

 

Di kota yang telah dilupakan oleh ingatan,

aku mencoba mengingat jalan-jalan

yang pernah kita lalui. Juga jalan-jalan

yang belum pernah kita lalui,

             dan yang mungkin akan kita lalui.

 

Pada setiap jalan yang telah dilupakan oleh ingatan

selalu ada kisah yang menolak dilupakan,

          dan tak mungkin terlupakan.

Setiap jalan punya kisah yang dengan tabah

disimpannya sendiri, menanggung luka

                                dan kebahagiaannya sendiri.

Ketika melewati sebuah jalan

                              kita tak pernah tahu:

adakah  kita menambahi luka,

                     atau kebahagiannya.

  

 Apakah jalan yang kulalui, Ibu,

menambah lukamu.

Atau menyudahi kebahagianmu?

 

Setelah tahun-tahun yang ingin dilupakan

          masih saja aku mengingat sebuah jalan

yang membentang dari masa kecil.

Jalan yang sabar menyimpan semua tangisan

yang kadang ingin kudengar dalam kesendirian.

 

Di jalan yang abadi dalam kenangan itu, Ibu,

aku tak lagi bisa membedakan tangismu dan tangisku.

Ketika kudengar tangismu, aku seperti

                     mendengar tangisku sendiri

 

Kenangan, barangkali memang piringan hitam,

yang suka memutar kesedihan berulang-ulang.

 

Kota telah mengubah jalan-jalan, tetapi akan

           selalu ada jalan yang abadi dalam ingatan.

Jalan-jalang menghilang dari sejarah.

Mereka terhapuskan tapi tak terlupakan.

Seperti engkau yang lelah, tapi menolak menyerah.

 

Bagaikan pengungsi ditawan kegelapan,

jalan-jalan itu mencari takdirnya sendiri

agar sampai yang sampai padaku,

                                     sampai juga kepadamu.

Dari arah mana pun jalan itu,

                            dari masa depan atau masa lalu,

              ia akan selalu membawaku padamu.

Adakah jalan itu, Ibu, adalah jalan

                   yang selalu menautkan kepedihan

                                              dengan kenangan

 

 “Agar kau sampai pada sunyiku, mari

kutunjukkan jalan paling rahasia,

ke jantungku,” katamu.

 

Dadamu: kota yang berdebar.

Kota penuh jalan rahasia

                yang telah lama terbakar

menjadi memar kisah samar-samar.

 

Di kota yang dilupakan oleh ingatan inilah, Ibu

aku mengingat jalan-jalan dalam dadamu.

 

Kau pernah bercerita;

perihal jalan, yang pada suatu hari

menjelma burung, terbang dan hinggap

ke kota lain. Orang-orang memberinya

nama baru. Membangun patung seorang pangeran

yang menyaru dengan jubah megahnya

hanya untuk menutupi kesedihannya.

 

Kini aku mencoba mengingat, Ibu,

di sebuah kota yang telah hilang dari ingatan:

adakah sebuah jalan yang akan terus menghubungkan

               kenangan dengan kepedihanku, kepadamu.

 

Seorang kekasih, di sebuah losmen murahan,

pernah berbisik memelukku.

“Akan kukenalkan kau pada satu jalan,” katanya

meraih bibirku yang telah  mekar oleh gairah.

Lalu ia buka bajuku. Kutangku. Celanaku.

                       Susuku. Kulitku. Ingatanku.

Dan ia tunjuk, celah pahaku:

                    inilah jalan bebas hambatan,

 

menuju surga.

 

Aku telah memilih jalan bagi kepedihanku,

ketika seluruh jalanan di kota ini ingin aku lupakan.

 

Jalanan kota ini penuh mahkluk ganjil

yang dadanya menyimpan api kemarahan.

Jalan-jalan yang berkobar tubuh para korban:

wanita yang mati diperkosa.

Jalan-jalan yang mengelabu dan mengelabui.

 

Seperti Malin terdampar di bandar

yang mengasingkannya, aku memandang jalan-jalan

yang terbakar, di sebuah kota yang telah dilupakan

oleh ingatan. Bila waktu sebuah jalan, Ibu,

betapa jauh ia telah membawaku melupakanmu.

 

“Bagi seorang anak, sebuah jalan akan melupakan.

Ibu adalah jalan mengabadikan,” katamu

 

Mungkin, suatu hari orang-orang akan menemukanmu

tergeletak di sebuah jalan tanpa nama, tanpa ingatan.

 

Pada suatu hari itu, percayalah,

hanya aku yang mengingatmu, Ibu.

Akan selalu mengingatmu.

Meski semua jalan lenyap dari ingatanku.



 

2011

=AGUS NOOR=

AUBADE karya : Agus Noor


Untuk M

 

Pagi ialah tangan yang terulur santun, ke dalam hatimu. Dibukakannya pintu kebaikan dan keselamatan, bagimu

 

Pagi yang lembut mengusap keningmu, seperti tangan ibu. Dihapusnya debu kecemasan yang berguguran semalam, dari mimpimu

 

Pagi ialah kecupan kekasih, yang membangunkan kerinduanmu. Ditumpahkannya seluruh hangat harapan, sebagai degup jantungmu

 

Jari-jari mungil pagi menggelitik jantung sepimu, ialah tangan kanak-kanak yang lucu dan menggemaskan, kebahagiaanmu

 

Bila kaurasakan pagi menyentuhkan cahayanya yang lembut, ke hidupmu, itulah tangan gaib Tuhan, membelai kegelisahanmu



 

2010

=AGUS NOOR=

 

ADA YANG LEBIH TABAH DARI HUJAN BULAN JUNI karya : Agus Noor


: SDD

 

Ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, ialah ia, yang terus mencintaimu, meski kau tak pernah menyadari, dan selalu berjaga dalam kesedihan dan kebahagiaanmu

 

Ialah yang menggeletar dalam doa-doamu, tanpa pernah kau menyadari, dan kau pun tentram karena merasa ada yang selalu menjagamu

 

Tanpa pernah kau menyadari, ia diam-diam menjelma bayanganmu, hingga bahkan pun dalam sunyi kau tak lagi merasa sendiri.

 

Ia, yang sungguh lebih tabah dari hujan bulan Juni, selalu berbisik lembut di telingamu, meski kau tak pernah menyadari, dan seluruh kenanganmu menjadi hangat dalam ingatan

 

Saat kau terisak menahan tangis, ia yang lebih bijak dari bulan Juni, merasuk ke dalam dadamu yang disesaki duka, hingga kau semakin memahami: betapa airmata mencintai orang yang paling dicintainya dengan cara menjatuhkan diri

 

Ia jugalah yang menyelusup ke paru-parumu, tanpa sekali pun pernah kau menyadari, ketika kau mendadak tersengal oleh entah apa, dan segalanya tiba-tiba saja menjadi terasa lega

 

Ketika senja, ia yang lebih arif dari bulan Juni, tanpa pernah kau menyadari, meruapkan hangat ke dalam teh yang tengah kau nikmati pelan-pelan, hingga kau merasakan sore begitu damai dan menentramkan

 

Ia jualah yang terus duduk di sampingmu, tanpa pernah kau menyadari, menemanimu dengan sabar memandangi cahaya senja yang perlahan memudar, dan kau bersyukur pada segala yang sebentar

 

Dan ketika kau tidur, ia yang lebih arif dari bulan Juni, tak lelah berjaga: dihapusnya debu kecemasan yang berguguran dalam mimpimu

 

Ada yang jauh lebih tabah dari hujan bulan Juni, lebih bijak, dan lebih arif, tetapi kau tak pernah menyadari, meski selalu ada di kesedihan dan kebahagiaanmu, karena ia tak henti-henti mencintaimu



 

2010

=AGUS NOOR=

PAGI DISECANGKIR KOPI karya : Agus Noor

– Peggy Melati Sukma

 

Aku akan menjadi kopimu,

yang rela mengendap sebagai kepedihanmu

yang sabar menghangatkan kesedihanmu.

Biarkan harum tubuhku, menenangkan jiwamu.

 

Aku kopi pahit, yang kau seduh dengan cinta.

 

Segala yang pahit, bukanlah untuk menunda sakit.

Sebab kita hidup untuk berbagi kebahagiaan.

Lalu kau pandangi aku, yang pulas dalam cemas.

 

Aku kopi pahit, yang belajar menatap dunia

dengan senyumanmu.

 

Aku akan selalu mengingat pagi bening

suara cangkir berdenting dalam hening

gemericik air dituang, juga ciuman lembut

yang membangunkanku dari perasaan sia-sia.

 

Kita pernah berteka-teki:

dari apakah terbuat sebiji kopi ini?

“Dari airmata,” katamu, “yang ketika jatuh,

tak pernah merasa kehilangan apa-apa.”

 

Ia yang rela tak terikat pada yang fana.

 

Maka, ketika airmatamu jatuh, pagi itu

yang tak tertampung oleh hatimu

biarlah tertampung dalam secangkir kopi.

 

Kau tahu, cintaku, dalam secangkir kopi

kesedihan tak membutuhkan pelukan.

Biarkan jeritmu yang tertahan

mengendap dalam gelas kehidupan.

 

Tidurlah kau setenang pagi. Tidurlah, lagi.

 

Aku kopi pahit

Biarlah seluruh kesedihanmu yang hitam

Menjadi jubahku.



 

2013

=AGUS NOOR=

HAI AKU karya : Agus Noor

 

I

Pada mulanya

Hanya sabda, “Hai, Aku!”

Tersamar gema

 

Yang bergeletar

Terdengar seperti “Kun!”

Pada telinga

 

Serupa telur

Sunyi pecah, menjelma

Ruh yang pertama

 

Di bawah bulan

Burung gagak terdiam

Terpukau dosa

 

Sedangkan kita

Getir menafsir waktu

Di usir takdir

 

“Tapi,” katamu

“Kita tak pernah siap

Dihapus senyap.”

 

Angin bergegas

Sebelum nujum timpas

Cemas pun tuntas

 

Sedingin kabut

Maut berdenyut lembut

Dan tak tersebut

 

Di pohon zaitun

Sepasang mata ular

Sehitam zakar

 

Cahaya memar

Bintang zohar

Bergeletar dan pudar

 

Lalu kusentuh

Namamu dengan doa

Di keheningan

 

Tuhan yang tak bernama

Yang berdiam di

Sabda dan dosa:

 

“Berikan aku

Nikmat yang kekal itu

Bukan di surga.”

 

“Biarkan kami

Menikmati yang dosa

Dengan bahagia.”

 

Bukan karena ular

Dan buah itu

Kita tergoda

 

Kita pilih dunia

Karena surga

Hanyalah dusta

 

Ke dalam peluk

Kaucoba tolak kutuk

Dan nasib buruk

 

“Dekaplah aku

Dan sembunyikan aku

Dalam dosaMu.”

 

“Sungguh, cintaku

Maut tak lebih nikmat

Dari senggama.”

 

II

Reranting kering

Lengking seekor anjing

Moksa ke hening

 

Sekukuh iman

Malaikat pun berjaga

Di gerbang surga

 

Sebelum lengkap ayat

Bahkan malaikat

Pun berkhianat

 

Kita mengingat:

Mephisto yang jatuh

Ke lembab kitab

 

Juga Arakiel

Yang mensucikan diri

Ke arak api

 

Sebab yang suci

Bukanlah yang ilahi

Tak terpahami

 

“Tuhan hanyalah

Yang tak ada, tetapi

Kita percaya.”

 

Kita bukanlah

Pemberontak pertama

Yang menyangsikan

 

Janganlah getir

Kita tidak terusir

Karena takdir

 

Maka, cintaku

Neraka hanya ada

Di ketakutan

 

Di jantung langit

Seiris bulan sabit

Dan sisa jerit

 

Detik melambat

Kukenang dalam khidmat

Yang kan terlewat

 

III

Kukenang kamu

Di fotosfera senja

Seindah luka

 

Aku melihat

Kepala bayi mati

Dalam selokan

 

Wajah wanita

Yang mati diperkosa

Sepucat mawar

 

Udara tuba

Penuh hujah

Oranng-orang berjubah

 

Sedang gerimis

Seperti bedak tumpah

Di langit merah

 

Bagai peronda

Kematian berjaga

Di sudut kota

 

Dan bayanganMu

Megah berjubah kubah

Sehitam Ka’bah

 

Seekor burung

Dengan sayap berkobar

Terbang bergegas

 

“Tuhan yang kudus

Kusembunyikan

Namamu dalam cemas.”

 

Masih telanjang

Kita memandang

Kota rungsang dan sungsang

 

Rasanya belum lama

Kita nikmati

Dosa pertama

 

Di kota kita

Dusta lebih dipuja

Dari yang dosa

 

Dan kau lihatlah

Tuhan dijual murah

Serta ketengan

 

“Jangan kautakut

Segala bisa kata

Para pendusta

 

Tak perlu kaujeritkan

Kecemasanmu

Ke dalam doa.

 

Sentuhkan saja

Tangan lembutmu itu

Pada cahaya

 

Dekatkanlah jantungmu

Sedekat detak

Jantungku, Cinta.”

 



2013

=AGUS NOOR=

* Lengkapnya, sajak “HAI AKU” ini berjumlah 99 haiku. Saya kutipkan sebagian, sebagaimana yang saya postingkan ini, sebelum versi lengkapnya nanti terbit dalam buku puisi yang tengah saya siapkan