Sabtu, 28 November 2015
ZIARAH JEJAK karya : Indra Tjahyadi
angan yang berjalan di atas keremangan baying,
hingga aral adalah kewajiban.
Dan akan selalu dating
Berulang, berulang mulai terbit fajar
hingga hilangnya ajal.
Tapi, ziarah jejak dari katalog jaga
Nyanyian duka kan selalu berubah
Selalu berubah, seandainya..
=INDRA TJAHYADI=
EKSPEDISI WAKTU karya : Indra Tjahyadi
perjalanan angan yang bersinar
pada ruas redup.
Seperti awan yang mengapung terlentang
di mana malam hanya tahu; hening.
=INDRA TJAHYADI=
PERCAKAPAN SUNYI karya : Indra Tjahyadi
Keperihan demi keperihan senantiasa melumuti wajah kita
Hingga setiap kali kita terjaga dari kudeta
yang mengerikan kita akan senantiasa paham
Bagaimana harus memaknainya dengan kabut dan luka
Meski anak-anak kita yang terlahir kelak
Akan senantiasa menunjuk ke arah matahari
Seumpama perahu-perahu karam
Yang merajahkan sosok taufan pada sunyi
Karena di jurang-jurang terasing, maut
Adalah hasrat yang paling nyata atas perih
Sementara mimpi-mimpi kita kian terpenggal
Antara sekarat dan pelangi
JIWA BULAN karya : Indra Tjahyadi
Jiwa bulanku murung—menembakkan revolvernya.
Burung-burung marabu menjemput sakraktul,
membangun jalan dari kengerian dan bisu.
Kau tahu, hujan telah percuma bagi hatiku.
Di akhir lindu, laut meluap—tapi arwahku tipis,
masih saja membayangkan lesung pipimu!
Persis di belah kecil payudaramu, bumi kemabukanku remuk.
Kejahatanku yang teguh meluaskan retakan, memacu pekik,
menghamburkan reruntuh
Peronda-peronda malam dengan paloma di tangan menginsyafi arah mendung.
Di dasar badai, mayatku berenangan-melukiskan lanskap 100 bau anyir dan bisu.
Di mana-mana hanya ada tangis,
sementara jenazahku memuja-muja siksa segenap kubur,
"Sayang, iklim terlampau lembab bagi cintaku."
Gedung-gedung yang menjulang menjadi bagian
dari seluruh pendiaman dan kutuk!
Sebagai deja vu, kematianku diburu derita, bersilolong,
100 tahun menjelma himne bagi kekalahan dan pilu.
TAK ADA GERIMIS karya : Indra Tjahyadi
Pergi. Bahkan malam mabuk, memperlihatkan
Padaku sepotong jalan dari kesendirianku
Yang busuk
Barangkali telah kukenal kelam
Tapi, seribu taufan mendentum
Seperti jejak-jejak kabut terbakar
Di rambutmu, fantasiku tumbuh kurus
Melebihi bangkai kupu-kupu
Betapa harum rambutmu
Betapa buai nafasmu
Bunga-bunga pedang menancap
Di punggungku:
"Semoga Tuhan mengampunimu!”
"Semoga Tuhan mengampuniku!”
=INDRA TJAHYADI=
RUMAH DAUN-DAUN karya : Indra Tjahyadi
Di dadamu, memasang rumput yang mengirim
Sejumlah kereta ke mataku
Semacam barisan
Barisan batu yang menyusun cadas
Jadi gelung-gelung hitam rambutmu.
Aku ingin memahamimu,
Menghadiahkan tarian burung-burung
Yang gemrubyuk, menyerap dalam segenap pendaran
Cahaya matahari yang buntu, memberitahu orang
Orang ramai: bagaimana gerimis luruh, menjatuhkan embun
Dan ngungun pagi di kakimu
Musim-musim kawin
Melepaskan kunang-kunang
dan kesepian
Gerumbul Randu ke tengkorak kepalaku: kelam
Penuh belatung kupu-kupu kayu membusuk
(Tapi, masuk sajalah, toh, hanya aku yang tahu)
Seperti bunga-bunga Lili yang tercekik, sepanjang
Kemaluanmu, mengajariku setubuh dengan pikiran-pikiran
Buruk yang mesum: Penuh serdadu,
Penuh puting payudaramu,
Juga bekas-bekas pertempuran yang lalu.
Tapi, apakah yang ditangkap akar bambu itu?
Apakah bayanganmu juga muncul, di situ,
seperti kisah
Kisah pembantaian yang mengantarku Menemui
Mimpi-mimpi buruk dari seribu tidurmu,
Dari batas diam
Dan keajaibanmu:
"Ayah, lihat! Tasku penuh, dan pisau-pisau
Menancap di selangkanganku,
Apakah itu?
Apakah waktu?
Hujan dan lampu-lampu
Lalu, wajahmu
Penuh cerita malam itu
Laut yang kosong
Dan sepi
Seperti rotasi-rotasi badai yang tertahan
Di kedalaman kabut,
aku alirkan kenangan-kenangan
Yang menjemput pagebluk,
Membangun jurang-jurang kapur
Juga jalan-jalan setapak yang tak terdengar olehmu
Semacam kemuraman kelabu yang berkabung
Di dasar ususku
Jangkrik tak menolong
Kecoa-kecoa juga tak menolong,
Membutakan sebagian mataku, menggenggam
Timbunan-timbunan sampah, bergelayut
Pada lesut imajimu,
Bersatu dengan jin,
Iblis, jembalang
dan hantu-hantu
Dari seluruh rasa takutku,
Lantas Neraka datang BERSAMAKU!,
Mendentingkan dawai-dawai jamur dari pengamen
Pengamen tua yang mabuk:
"O kerinduan yang bergumul
Dengan abu dan seribu kematian,
Mayatku kelu
Menghuni rumah-rumah penjagalan
Yang biru!”
=INDRA TJAHYADI=
Kamis, 08 Oktober 2015
SEBAB HUJAN MAKIN KAFIR karya : Indra Tjahyadi
angin yang culas kupecahkan di perbukitan
dadamu. Burung-burung marabu
yang sekarat di kedalaman halimun
membangun menara, menorehkan pilu.
Tanpa batu kebodohanku meledak, menyihir
gerimis jadi kupu-kupu.
Kesadaranku tremor. Garnisun-garnisun
hantu menisbikan lindu. Ketiadaan yang sepenguk
liur tikus mereguki mayatku. "Tapi, di negri
yang porak ini semua akan menangis, sayangku..."
Masa lalu bangkit dari luka. Akhir seluruh harapan
menghunuskan parang ke mataku.
Segenap kebencian memanjangkan
rambut gemuruh.
Pada yang bernama rindu, sorga telah membakar
tandas jasadku. Pelirku yang besar adalah dosa seratus
riwayat pemberontakan dan perdu. Aku penyair gelap
yang tak diinginkan cumbu. Sayangku,
perselingkuhanku dengan dendam memulai
kembali surealisme dan setubuh. Bangkai-bangkai
serdadu bersilolong di mula kejahatan-bergeludhuk
=INDRA TJAHYADI=
SAJAK DARI HARI KEMARIN karya : Indra Tjahyadi
mengelabui kabut
memanggil sunyi yang putih
seperti menanam jasadku
di tengah waktu tersuruk
tapi, masih saja kubuka peti matimu yang hitam itu
memesan rasa sedih tiada tara
kau memang
pernah bersamaku di sini:
bersetubuh
membuat anak-anak lewat tarikan nafas yang lengang
dan kita mengisinya dengan taman-taman kota
yang koyak oleh pembangunan
tapi, aku masih merasa heran:
mengapa kau biarkan tubuhmu
menjauhiku terlebih dulu?
"padahal sudah lama angin kembali,
menidurkan anak-anak kita yang dungu itu..."
barangkali usia-usia yang kerap
kau ceritakan dulu
hanyalah sebuah plaza:
tempat manusia
berjalan
dengan segala kemunafikannya
=INDRA TJAHYADI=
DIJ'VU DAUN DAUN karya : Indra tjahyadi
membentang sepanjang sunyi, mengepakkan
harum pilu. Seolah muntahan-muntahan pemabuk, aku
tanggalkan celana dalammu. Deritaku yang teguh bersatu
dengan halimun. Kamar-kamar hotel yang menyimpan aroma
tubuhmu: tinggal gelap tanpa setubuh.
Gairahku pucat-samun, dipenuhi syahwat
hantu-hantu. Tahun-tahun lewat, seolah jalan-jalan kelam
yang dilangsamkan perusuh. Di pucuk-pucuk gemetar
jemariku bangkai-bangkai burung membiru, kehilangan
mendung. Aku susuri hari-hari yang hanya dipahami kutuk,
tapi ujud pikiran warasku terpenggal, menjadi lebih nyata
daripada perdu. Berbuntal-buntal pantat-pantat kekosongan
menjeritkan taufan, menciumi jiwaku.
Aku tenggelam dalam keremajaanmu. Tanah-tanah
segala percintaan retak, memuntahkan pagebluk.
Selapis geludhuk meloncat-loncat di udara,
membentuk semacam labirin, membakari keterpencilanku.
Sebab, kagumi coklat payudaramu, arwahku lapuk,
kesadaranku terjebak lindu! Kelak riwayat kematianku bermula
pada akhir rindu.
Serupa pelabuhan-pelabuhan tua,
kini tatapanku cuma buta, mengingat
rasa telanjang, mengkhusyuki rontokan
dij`vu daun-daun.
=INDRA TJAHYADI=
Selasa, 06 Oktober 2015
ANGIN BULAN MARET karya : Indra Tjahyadi
Dari dalam gelombang, jiwaku
yang tak berdaya melontarkan guntur.
Jalan-jalan iklim bersiul, mengukuhkan
pilu. Samadi kemiskinanku mencari-cari
rambut panjangmu. Di langit, kilat
meledak. Para pengemis memayungi
mataku dengan kabut. Darah-darah hitam
para pemabuk mencambukkan kilat-
padat: melebihi susumu.
Kanak-kanak tikus memancarkan
aroma sampah perunggu. Bangkai-bangkai
kusta malaikat membakar sejarah rumah
para penyamun. Kenanganku dibentuk
dari tahi-tahi perusuh, dongeng-dongeng
kelelahan laut mengingatkan kembali kesedihan
zaitun. Aku mencibir, tapi kau begitu cantik
dengan pipi berlesung taifun.
Angin bulan maret yang mengijingi
mimpi mendirikan candi-candi musim.
Labirin pohon-pohon kerdil digithik
gerhana, menyerupai sihir. Jurang sunyi
yang curam menyimpan makam tangis petir.
Barangkali memang telah selesai urusanku
dengan hidup! Betapa tubuh mungilmu masih
saja kurindukan sepanjang kelu. Seluruh nostalgia
kini karam-hijau-pipih. Burung-burung camar
binasa di ujung pantai, membisikkan nasib.
Kau tatap mayatku sekali lagi. Kesialan begitu
jernih menamaiku dengan sepi.
2004
=INDRA TJAHYADI=
Senin, 28 September 2015
SERUPA BAYANG SORE karya : Indra Tjahyadi
Dalam keadaan jatuh cinta,
kupu-kupu ciumanku membetot senar senar halilintar, mengagumi bibirmu.
Tanpa sadar, kuinsyafi rambutmu,
tapi waktu berlaku demikian gasang, menggergaji jari-jariku.
Aku kudus, murtad di ranjangmu.
Darah-darah hitam para penyair menyiratkan kemabukan dan pilu.
Lalu, kita menua tanpa impian dan waktu.
Sehelai kertas putih ajal berayun-ayun, tapi langit hanya mendung berguntur.
Tunggulah aku, lupakanlah segala harum dan putih kulitku!
Sebab seperti senjata, aku rindukan tubuhmu.
Jalan-jalan dan sungai-sungai memanjang tanpa ujung.
Segala penciptaan kembali ke muasal dan runtuh.
Kota-kota tanpa persimpangan menyimpan bangkai-bangkai dan lindu.
Aku samadi, berpencar-memutar, melebihi kabut.
Batu-batu dilekapi salju, tapi aku sendiri, melolong seakan umur.
Barangkali telah kunyanyikan keanggunanmu,
sajak-sajakku kian rintih serupa perdu!
Kini, kupandang rumput, mataku menghidupi set-set dan tikus.
Kelak seluruh kelenyapan mengkhianati penampakan dan kematianku.
Kesedihan-kesedihan bertiup di rumpun-rumpun randu.
2002
=INDRA TJAHYADI=
DITIUPKAN BAYANG BAYANG karya : Indra Tjahyadi
gerhana yang memburu musim sepanjang langit bersipongah dengan mendung.
Seperti senjakala, kata-kata yang dibenamkan pilu mengaliri guntur.
Aku pernah mencintaimu,
meski pada akhirnya angkasa gelap melulu.
Sebab, aku telah berada pada jarak yang tak tersifatkan oleh maut.
Lindu semak-semak menyimpan bangkai-bangkai perdu.
Melebihi hantu, aku pergi mengurai hitam tanah bertanduk.
Seakan esok yang akan kembali kutemui dalam diorama ajal berbaju serdadu,
dalam ketiadaan saat, seratus ketukan jari-jemari matahari
mengisyaratkan derita déjà vu.
O keindahan terbentang antara Sorga dan rasa mabuk!
Kegasangan pelacur menjadi bulan di tengkukku.
Mungkin sederhana saja, burung-burung berpindah dan kita sekarat, dikutuki unggun.
Menyerupai halimun, kutinggalkan dirimu,
laut yang mengelak mengumandangkan requiem requiem salju.
Kelak kita akan saling berkhianat melampaui mataku!
Kini, aku purba tanpa umur.
Seratus gugusan tata surya dipenuhi jenazah geludhuk.
Kosmos dan sepi berabad-abad busuk.
=INDRA TJAHYADI=
TAK ADA YANG BERUBAH karya : Indra Tjahyadi
Beku udara memuncaki musim.
Kalimat-kalimat bulan yang robek oleh usia harum melampaui petir.
Seperti Ke'lesab, aku terasing, mengacungkan celurit!
Burung burung tersesat, menyabitkan getir.
Sebab daun-daun adalah mimpi,
gerhana rama-rama menyerap nyala, runtuh di tanah jadi angin.
Di kedalaman darah, aku amis, membangun candi-candi seratus derita
dan dedemit.
Katakanlah aku masih mencintaimu,
tapi bayang-bayangku moksa, lebih gaib daripada takdir.
Kini, dari sebalik mendung mayatku bangkit.
Aku nasib sial nafas anjing-anjing!
Kelak suara suara senyap, sedang waktu sirna meletuskan sihir.
Jantungku berhenti berdetak!
Fantasi-fantasi liar seratus serdadu merajahkan zindik.
=INDRA TJAHYADI=
Minggu, 27 September 2015
LAUT YANG HANYA MIMPI karya : Indra Tjahyadi
menuju langit. Gorong-gorong yang ditinggalkan
pengemis sekarat menunggu hari. Aku
merintih. Seperti fantasi,
menciptakan anak-anak kunang
dari segala yang tak nampak semacam mata penyair.
Gerimis telanjang, sedang aku nisbi.
Paruh burung-burung meletuskan peluru
peluru getir.
Lalu, kebekuan memerdekakan jalan
jalan, tapi kota-kota hanya angin.
Gerhana bertahun-tahun putih, metahari melesat
dari kedalaman rasa sakit.
Kita begitu dekat, serupa jarak menjauh
dalam gerak daun-daun berhenti.
Aku terjebak waktu,
kau melenguh serupa pemuja
bangkai bulan biru. Betapa candi-candi
telah diruntuhkan, kesombonganku mengacungkan
celurit. Dendam
yang lolos dari puisi
menggerakkan akar-akar pasir.
Sebab demikianlah hidup, sedang udara
kian hitam bergasing. Melebihi iblis,
rasa bersalahku amis, menghancurkan bangkai-bangkai cacing.
Barangkali di jenazah rambutmu
seratus lindu telah kembali.
Kini aku raib, memulai segenap tidur dan sihir.
Kelak tak ada akhir dan bumi hanya dingin.
Bendera-bendera kabut
mengacungkan parang abad
abad surealis.
=INDRA TJAHYADI=
SAAT HUJAN MENGGAPAI CAHAYA karya : Indra Tjahyadi
aku yang melihat bulan
seperti belatung
gadis-gadis centil dengan tatapan
seorang pemabuk di rongga jantungnya.
Pengamen-pengamen tua dengan anjing-anjingnya
yang kudisan memuntahkan airmata panas
ke wajahku yang renta.
Seperti dunia tanpa suara,
sebuah sungai dengan tebing
tebing kilat yang kerontang mengawali
setiap persetubuhan.
Bayang-bayang Sorga raib
ke sebalik kelam. Mimpi-mimpi
maut mabuk dalam gerhana.
Dengan lidah-lidahnya yang tajam,
muram-muram zaman mereguk
segenap kesucian. Fenomena
menjentik dan seluruh fatamorgana
menyerupai malam yang kehilangan pejalan.
Seperti sebuah ketelanjangan, aku mencapai ketiadaan
dan padang-padang sunyi dibakar kegelapan.
Bumi hitam dan gambar-gambar pasir
yang binasa mencabik seluruh keheningan.
Dari ingatan mereka yang mati,
binatang-binatang liar dasar laut bangkit
dari kedalaman. Arwahku runtuh, menjelma
menara di kebisuan.
Karena kesepian telah menjelma bisikan,
sebuah oase dengan gelombang
gelombangnya yang adas
membesatkan keperihan.
Seratus lindu
menjelma kehendak
kehendak hewan-hewan buas
yang menyimpan mayat seorang pendosa.
Seperti sisa dingin mengerak di udara,
kadal-kadal derita merayapi cuaca.
Sajak-sajak mengalir bersama darah
dan senantiasa kembali ke Neraka
“O bukit dadamu yang setia, tiang-tiang patah
membuka gerbang kabut luka!
1998-2001
=INDRA TJAHYADI=
BERPIKIR BULAN karya : Indra Tjahyadi
di tengkukmu. Angin
yang sedih datang,
membawa seratus bangkai kupu-kupu.
Jasadku membiru, dicabik-cabik
gemuruh. Kilat menyusut, melontarkan bola
bola hitam taifun. Malam beratus-ratus tahun bangkit,
mengutuk nafasku.
Pendiamanku mendentum,
mengkhianati ajalku.
Seluruh kejahatanku memecut.
Keparauan menghidupkan serpihan-serpihan mayatku.
Tapi, betapakah pada arus kali yang keruh
aku masih saja menemukan potongan
potongan jenazahmu.
Bagaimana harus kuurai
panjang rambutmu? Seluruh
kekosongan melesutkan deritaku.
Kesendirian-kesendirian daun
menghentikan detak-detak
jantungku. Birahi-birahi
pasir memusar, sekarat di tengkorakku.
Dari seluruh penjuru kudengar bunyi-bunyi lindu.
Tapi, segenap ledakan sungsang mengubur malaikat
di jurang halimun. Aku menjelma hujan,
meleler di batang-batang
harum payudaramu.
Ikan-ikan gaib berterbangan,
meneluh setiap ceceran tidurku.
Aku nyanyikan kasidah-kasidah panjang
kematian serupa kecantikanmu.
Tinggalah keterasingan
mendekam dalam nafsuku. Esok segala rupa akan raib
dan aku kekal dalam kebinasaanku.
Kini, kumaki kebahagiaan,
belatung-belatung tikus
memendam segenap rasa sakit
yang ditorehkan mendung.
Bersama tetesan-tetesan embun,
tatapanku rabun, menukik ke angkasa,
membutakan seribu mata cahaya dan guntur.
1998-2001
=INDRA TJAHYADI=
DIBAWAH NUJUM KABUT karya : Indra Tjahyadi
dalammu. Setetes air membentuk
bayangan pada jiwaku.
Seratus kupu-kupu sekarat
dan aku menghijau seolah nyanyian
nyanyian tua yang menjelma suara-suara gaib
di dalam nafsuku. Ruhku memanggil teriakan-teriakan daun
yang mengental dalam mimpiku.
Jari-jemariku menyala oleh hujan muram
dua ratus tahun.
Seperti sayatan-sayatan angin
yang mengelupas rupa
musim di wajahku,
kesunyianku menjelma
seekor angsa, hari-hari kemarin
mengering di dalam nadiku. Seteguk bianglala gemas,
tapi kureguk bara yang tumbuh banal
di puncak pelirku.
Jenazahku mengerut,
lebih lindap daripada tanah
tanah tandus yang menguliti iklim
serupa gempal pantatmu.
Doaku tak lagi keramat. Payudaramu buncah,
menikam mulutku. Di farjimu, seribu kunang-kunang mampus.
Cuaca lebih hitam daripada warna kulitku.
Aku melayang sendiri serupa
malaikat-malaikat murung
di dasar kematianku.
Aku mencintaimu, sayap-sayap kemerahan mengekalkan
raut iblis yang memecut syahwatku.
Tapi seluruh kekosongan berkilau,
lebih garang daripada aroma kesedihanku.
Aku membelatung,
burung-burung mati
tanpa sepengetahuanku.
Seluruh rasa sakit menghiasi
kepalaku dengan kilat yang meledakkan
bangkai-bangkai geludhuk.
Laut yang jauh berdebur,
menyampaikan kelu.
Dengarlah olehmu requime-requime mistis kepedihan
yang melontarkan bola-bola bara
ke jurang anusku. Kelak seluruh pembantaian
terasa indah. Patung-patung
kuyup menghidupi kegelapanku.
Kini, kulupakan matahari dan malam
menyerpih bersama ajalku. Kota-kota raib,
seluruh kenyataan lenyap dari ingatanku.
=INDRA TJAHYADI=
BUAT WAN AIPING karya : Indra Tjahyadi
Seperti waktu, hari demikian gelap
dan planet-planet putih bangkit dari igaku.
Aku melawan kejahatan dan tanah-tanah retak
menyerap jejakku. Burung-burung memanggul derita
cuaca melebihi kecantikanmu. Keheningan melontarkan
spermanya ke dasar kabut.
Sedang dari balik reruntuhan kulihat malam
hadir lewat penggalan-penggalan kepala
kerbau yang membangkai di padang-padang tandus,
seiris bulan meluncur, melukis kumbang di dasar taifun.
Tapi, betapakah aku tak butuh perempuan serupa kesunyianmu!
Anak-anak malaikat lahir dari kekelamanku.
Sukmaku berlari dari satu keheningan ke keheningan
lainnya serupa birahimu. Tapi, maut dalam luka tak juga
memutihkan mataku.
Karena seluruh kesia-siaan merayapi
kulitku, kini aku pun terbunuh
dan langit demikian telanjang, merintih
dalam kesepianku. Melankolia-melankolia batu
mengental dan kesucian-kesucianku tercuri sayatan
seribu gairahmu. Bersama kata-kata,
tapi betapakah seteguk tidur terguncang!
Dan mulut-mulut Tuhan menangis darah di napasku.
Kelak aku menjelma gerhana dan perasaan-perasaan putus asa
mengerang dalam diamku. Sebab, akulah lelaki
yang telah menjadi jenazah di tatapan seekor kunang
seperti keremajaanmu. Seluruh bayang-bayang melolong,
arwahku memekik, beku di dasar guntur.
1998-2001
=INDRA TJAHYADI=
TELAH KUCIPTAKAN MALAM karya : Indra Tjahyadi
pisau kilat yang kering berpusar di rambutku.
Sesungguhnyalah maut dan gairah adalah takdirku!
Aku tutup rakaat-rakaat panjang dengan doa-doa
dosa masa silamku. Arwah-arwah burung merayapi
ketiadaan waktu.
Harapan-harapanku menjelma jurang
jurang yang digali pilu. Kabut menyimpan mayat
seorang pemabuk. Dentuman-dentuman raib
bergumpaan di hatiku. Kekosongan mengangkut
kisah-kisah guntur. Aku menjelma bulan,
terbunuh di tengkukmu.
Tapi, betapakah kulihat sosok-sosok hujan
mengucur dari bangkai-bangkai bayang-bayangku!
Biarlah seluruh pengetahuanku membusuk
dan kejahatanku beku dalam bisu.
Kini, aku persenjatai diriku
dengan derita, tak akan pernah
terbayangkan olehmu. Kelak sukmaku
sendiri, terkutuk, memuja seluruh kegelapan
di tubuhmu.
1999-2001
=INDRA TJAHYADI=
ZEITGEITS karya : Indra Tjahyadi
Kabut hening yang suram
Cahaya yang mendedas seluruh rasa pahit
Ekor-ekor seluruh ledakan rupa-rupa tangis
Orkestrasi-orkestrasi purbani
Malam yang berhenti
Dan memetakan perih pada nadi
Seperti Maut
Dzikir yang gagal dijarah angin pada gerimis
Demikianlah, aku mereguk setiap kekekalan dan sepi
Dan lewat segenap pekik yang tak tercatat pada gigil
Mataku menangkap seluruh pesona sunyi
Dan ada gairah-gairah yang menjadi belatung pada musim
Menuliskan kata-kata abadi
Katedral mayat-mayat
Orde dari seribu rasa sakit
Semangat bangkai-bangkai cacing
Aku yang tak pernah mengerti
Bagaimana kegelapan meledak
Dan kematian begitu mengagumkan serupa mimpi
Meski pada akhir sajak kita kerap bersicumbu dalam rintih
Membangun rumah-rumah peneduh sepanjang jalan matahri
Seperti apa yang tak pernah tersembuhkan
Dan burung-burung putih
1999-2000
=INDRA TJAHYADI=