Tampilkan postingan dengan label CECEP SYAMSUL HARI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CECEP SYAMSUL HARI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Agustus 2015

DI MAKAM AMIR HAMZAH karya : Cecep Syamsul Hari

Di bawah kubah masjid Azizi

Perawan berhijab elok sekali

Masa silam kawan abadi

Kau setia menimang sunyi

 

Senyum perawan cantik rupawan

Langit Langkat mengandung awan

Di lengkung pusara para sultan

Pujangga besar dikurung rumputan

 

Langit Langkat ditikai gerimis

Burung gereja mencari sarang

Di ujung utara nisan gerigis

Aku tenggelam mengenang Tuan

 

Burung gereja basah sayapnya

Pedagang keliling khusuk shalatnya

Mencinta mendendam tiada usainya

Kudengar suaramu duka seluruhnya

 

Si pedagang membaca doa

Penjaga kubur menunggu derma

Pohon kamboja di ujung sana

Jadilah batas sorga dan dunia

 

Penjaga kubur kerabat sultan

Modin masjid sepanjang zaman

Lembut kau ulurkan tangan

Hatiku semesta kemurungan

 

Modin ramah mengantar pulang

Daun sehelai dalam sepatu

Pertemuan ini selalu akan kukenang

Kekasih yang rindu direnggut waktu

 

Daun sehelai fatihah setangkai

Cahaya senja menuju laut

Dua penyair di hujan rinai

Akan bertemu di seberang maut



 

2000

=CECEP SYAMSUL HARI= 

MENGANTAR SARAWUT PULANG karya : Cecep Syamsul Hari

Ia pendiam seperti dua kawanku asal Thailand

Di Korea Selatan dua tahun silam

 

Di depan laptop Mac hampir setiap malam

Ia duduk di ruang depan rumah tamu Rimbun Dahan

 

Ia pantang alkohol dan seorang vegetarian

 

Sering aku seduhkan untuknya

Secangkir kopi atau teh pahit saja

 

Sebab ia menjauhi gula

Sebagaimana ia menghindari wanita

 

Ia pengikut setia jalan Budha

 

Sehari sebelum pulang kami bicara tiga jam lamanya

Berkali-kali ia mengeluh soal imigrasi dan visa

 

“I’m unhappy in this country,” ia berkata

 

Ke Pudu Raya hari itu kami mengantarnya pulang

Mencari bis jurusan Penang



 

Selangor, 2008

=CECEP SYAMSUL HARI=

SAGAN-DONG karya : Cecep Syamsul Hari

 

Di depan stasiun Anguk, exit nomor satu

Aku menunggu

 

Aku ingin menyerahkan seluruh siangku

Pada hari Sabtu itu kepadamu

 

Kau terlambat setengah jam

Dari waktu yang kita berdua rencanakan

 

Dan aku yang biasanya benci menunggu

Mengalah pada tekanan kesabaranku.

 

Di depan stasiun anguk, exit nomor satu

Pada pukul sebelas tiga puluh

 

Kau muncul seperti seorang model

Dari sebuah edisi majalah musim panas.

 

“Maaf terlambat. Aku terlalu banyak minum.

Seusai latihan tadi malam,” katamu.

 

Kita pun berjalan menuju Les Trejours

Mencari sandwich dan sepotong roti.

 

“Aku yakin kau tak sempat sarapan.

Di kafe itu, hanya ada minuman ringan,” kataku.

 

Ketika sampai di Sagan-dong

Wajahmu terlihat cerah.

 

Berhadapan dengan istana Gyeongbok-gung

Sebuah kafe dibangun di bawah tanah

 

Trotoar panas dan menyala

Dan sepi sebuah pintu menunggu tamu.

 

Aku ingin menyerahkan seluruh siangku

Pada hari Sabtu itu kepadamu

 

Seperti kau menyerahkan dirimu

Pada peran yang akan kau mainkan

 

Di sebuah teater kecil di Hyewa

Dalam sebuah drama berbahasa Korea.

 

Dalam perjalanan pulang

Kita lewati mulut Insa-dong begitu saja.

 

Di sebuah sudut, sejumlah seniman jalanan

Menyebarkan aroma bawang dan shoju.

 

Jalan itu selalu mengingatkanku pada riuh

Malioboro, ketika malam tiba.

 

Di depan stasiun Anguk, exit nomor enam

Tentu, senja belum lagi tiba.

 

Ketika kau melambaikan tangan

Dan memberiku senyum perpisahan.

 

Telah kuserahkan seluruh siangku

Pada hari Sabtu itu kepadamu.



 

Seoul, 2006

=CECEP SYAMSUL HARI=

JEJU karya : Cecep Syamsul Hari

Ribuan lampu di jauh senja

Seperti kota cahaya

Di pantai Iho

 

Lelaki-lelaki tua dalam temaram senja

Melempar pancing ke laut dangkal

Buih ombak disergap bebatuan

 

Duduk di kafe Fantasia

Dengan secangkir teh hitam

Pagar kayu seperti usia tua

 

Para kekasih datang dan pergi

Bersama angin dan percakapan

Denting nampan menyergap kenangan

 

Jam berhenti

Suara tiada

Kau entah di mana

 

Di pantai Iho

Ribuan lampu di jauh senja

Seperti kota cahaya



 

Jeju-do, 2006

=CECEP SYAMSUL HARI=

DI STUDIO HUSIN karya : Cecep Syamsul Hari

Husin menafsirkan muasal manusia pada abstraksi lingkaran

Digelapkannya langit dengan warna dosa pertama

 

Di sebuah pantai Adam pun terdampar

Dalam redup senja

 

Ada telah menjadi tiada

Kekal telah menjadi fana

 

Setelah seratus tahun taubatan nasuha

Di Jabal Rahmah Adam menemukan Hawa

 

Air mata sepasang pencinta

Mengubah butiran-butiran pasir menjadi lautan permata

 

Bagaimana mungkin satu gigitan khuldi

Menentukan nasib seluruh umat manusia?

 

Husin menafsirkan suratan manusia pada abstraksi lingkaran

Kini dibiarkannya sebuah bidang putih hilang dalam sinaran



 

Selangor, 2008

=CECEP SYAMSUL HARI=

Jumat, 24 Juli 2015

DAUN MERSAWA karya : Cecep Syamsul Hari

Di tepi pagi

Hujan beranjak pergi

Pohon bungor ditimang sepi

 

Ikan-ikan koi di sudut kolam

Seperti sekumpulan pertapa

Masih kudengar suara serangga

 

Kutemukan silam wajahmu

Pada sehelai daun mersawa

Jauh di dasar jiwa

 



Selangor, 2007

=CECEP SYAMSUL HARI=

DI PASAR SENI karya : Cecep Syamsul Hari

Pada sebuah siang yang membara

Sekelompok pekerja pulang ke bahasa Jawa

 

Mereka mengeluhkan rupiah yang melemah

Patroli polisi dan tanah rantau yang mesti diakali

Paspor yang ditahan dan sisa ringgit di pundi-pundi

 

Kenapa bis murah ke Kajang

tak kunjung datang?

 

Jangan bicara cinta dengan kami

Itu cuma milik puisi

 

Jangan suruh kami pergi ke kedutaan Indonesia

Mereka bukan milik kaum pekerja

 

Jangan ingatkan kami akan larangan-larangan

Di negeri yang melarang berlaku sumbang

 

Kenapa bis murah ke Kajang

tak kunjung datang?

 

Tetapi hidup tidak hanya kisah kekerasan

Atau pameran lukisan kesedihan

 

Hidup juga janji kemakmuran di garis Utopia

Dan kami datang untuk mengejarnya

 

Pada sebuah siang yang membara

Sekelompok pekerja pulang ke bahasa Jawa

 

Di dalam bis tiga ringgit ke Kajang

Aku pun pulang entah kepada apa

 

Entah kepada siapa



 

Selangor, 2008

=CECEP SYAMSUL HARI=

LA NOCHE DE LA MUERTE karya : Cecep Syamsul Hari

-- dari kanvas Herry Dim

 

Dengan tubuh tua yang liat

Di batas pintu dan usia

Dia mengenalkan diri

Mencari nama dan alamat

 

Pada malam yang linang

Di bawah degup hujan

Dia duduk berteduh

Secangkir kopi usai kuseduh

 

Minumlah, Tuan yang menggigil

wajah Anda sepucat Yesus

 

Tetapi bagai ajal yang bimbang

Waktu cuma menangguh keluh

Seperti roti basi atau bisul di paha kiri

Seperti tahun dengan satu musim

 

Akan kuselesaikan baris terakhir

Puisi yang mengancamku bertahun-tahun

Aku lupa isi kepalaku

Talah lama menukarnya dengan sebutir melon

 

Ngomong-ngomong,

apa Tuan kenal Kerberus?

 

Tentu saja tidak

Anjing dengan tiga sungut

Dan buntut seekor naga

Kita percaya hanya jika kita pernah melihatnya

 

Di masa remaja, seorang dara berdada kencang

Sering memberiku sirup dan kecupan

Kudengar ada yang melihatnya pergi

Bersama pria berkulit pasi

 

Tuan, apakah Anda yang menculiknya?

dia tak pernah kembali

 

Di malam yang matang

Di bawah ricik hujan

Kopi menjadi dingin

Seperti perawan enggan disentuh

 

Aku pernah mendengar kisah

Lelaki berjanggut yang menolak maut

Senang sekali jika di seberang impian

Dapat bercakap-cakap dengannya

 

Tuan, nama dan alamat yang Anda cari,

namaku dan rumah ini



 

2000-2003

=CECEP SYAMSUL HARI=

SANDAL JERAMI karya : Cecep Syamsul Hari

Seseorang menimang sepi kesedihanku

Seseorang bermata cerah tidur di hatiku

 

Luka melahirkan luka,

diam dan angin tumpah di tudung meja.

 

Mengapa pertemuan singkat

selalu mengandung kutukan?

 

Aku menahan nafas,

melihat masa lalu dari pusat jendela.

 

Busa kopi seperti kapas, tali sepatu terlepas.

 

Berhentilah memandangku:

kau sedang membunuhku.

 

Sepasang cangkir dan lengan kursi

menulis puisi

 

Bercakaplah sesuatu yang bersahaja.

Tentang wajahmu yang bercahaya

setiap kali teringat rumah dan udara senja.

 

Selamat tinggal. Sandal jerami di beranda yang jauh

telah menyihirku menjadi kupu-kupu.

 

Kau memungut sapu tangan,

lembab dan ungu. Di seberang impian.

 

Selamat tinggal. Akan kukirim kisah-kisah genji

dan lampion redup dalam amplop tertutup.

 

Seseorang bermata cerah melambaikan tangan

sehabis menyentuh daguku.



 

2000-2003

=CECEP SYAMSUL HARI=

NAWANG WULAN karya : Cecep Syamsul Hari

Dua puluh tahun kemudian

Nawang Wulan terlihat keluar dari keriuhan

 

Carrefour, mendorong kereta belanjaan

dan menuntun seorang anak umur sepuluh tahunan

 

Di depan kasa

dikeluarkannya kartu Visa

 

Rambutnya pendek sekali sekarang

dicat warna biru, hijau dan pirang

 

Tubuh yang dulu berhias sayap sepasang

telah berubah menjadi pertunjukan lemak 90 kilogram

 

Ia terlihat sangat riang dan dewasa

tambun dan mempesona

 

Seperti lukisan Lady Cajica

dalam kanvas Fernando Botero

 

Dulu aku Jaka Tarub lajang

si pencuri selendang

 

yang didera cinta

tak terampunkan

 

Nawang, kebahagiaan macam apa yang telah mengubahmu

dari dewi pencinta menjadi dewi kesuburan?



 

2005

=CECEP SYAMSUL HARI=