=IR. SOEKARNO=
Rabu, 30 September 2015
AKU MELIHAT INDONESIA karya : Ir. Soekarno
=IR. SOEKARNO=
SEJARAHLAH YANG AKAN MEMBERSIHKAN NAMAKU karya : Ir. Soekarno
=IR. SOEKARNO=
Selasa, 14 Juli 2015
DIMAKAN API UNGGUN karya : Ir. Soekarno
Saya merasa
diri saya sebagai
sepotong kayu
dalam satu gundukan kayu api unggun
sepotong dari pada ratusan
atau ribuan kayu di dalam api unggun besar
saya menyumbangkan sedikit
kepada nyala api unggun itu
tetapi sebaliknya
saya dimakan oleh api unggun itu!
Dimakan apinya api unggun
=Ir. SOEKARNO=
(dari buku “Tragedi Bung Karno” Pustaka Simponi 1978)
UNDANG-UNDANG karya : Ir. Soekarno
Jiwa ular kambang dan jiwa inlander
itulah racun yang menghinggapi kita
di tahun-tahun yang terakhir ini
Jikalau ingin merdeka sejati-jatinya merdeka
milikilah jiwa yang merdeka
milikilah jiwa yang besar
Buktikanlah memiliki jiwa yang besar itu
jiwa merdeka itu
jiwa yang tak segan bekerja dan memberi
jiwa yang dinamis yang bisa
berdiri sendiri di atas kaki sendiri
bukan jiwa yang meminta, merintih
mengemis saja ke kanan dan ke kiri
sambil bermimpi dapat mencapai
derajat penghidupan yang makmur
dengan seboleh-bolehnya tidak bekerja sama sekali
Kita tidak hidup di alam impian
kita hidup di alam kenyataan
Kita tidak hidup di alam impian
Kita hidup di alam kenyataan
Kita tidak hidup di alam sorga
Kita hidup di alam dunia
Di dalam dunia itu
untuk semua makhluk besar-kecil
tiada undang-undang lain
melainkan undang-undang yang berbunyi:
“Jikalau mau hidup, harus makan
yang dimakan hasil kerja;
jika tidak bekerja, tidak makan;
jika tidak makan pasti mati!”
Inilah undang-undangnya dunia
Inilah undang-undangnya hidup
Mau tak mau semua makhluk
harus menerima undang-undang ini
Terimalah undang-undang ini
dengan jiwa besar dan merdeka
jiwa yang tidak menengadah
melainkan kepada Tuhan.
=Ir. SOEKARNO=
(dari buku “Amanat Proklamasi”, hlm. 63)
MUSNAHLAH KEKAYAAN-KEKAYAAN ITU karya : Ir. Soekarno
Dengan perkataan lain
kaum modal partikelir mempunyai
kepentingan atas rendahnya tenaga produksi
dan rendahnya tingkat pergaulan hidup kami
imperialisme-modern
menghalang-halangi kemajuan
pergaulan hidup kami
imperialisme-modern
membikin rakyat bumiputra
menjadi bangsa yang terdiri
dari kaum buruh belaka
dan membikin Hindia menjadi
si buruh di dalam pergaulan bangsa-bangsa
Dan si buruh yang bagaimana
Tuan-tuan Hakim!
si buruh yang loonen-nya minimum loonen
si buruh yang wirtschaft-nya minimum wirschaft!
si buruh yang upahnya upah kokro
Hati-Nasional tentu berontak
atas kejahatan imperialisme-modern
yang demikian itu
Lagi pula
siapakah nanti yang bisa
mengembalikan lagi kekayaan-kekayaan Indonesia
yang diambil oleh mijnberdrijven partikelir
yakni perusahaan-perusahaan tambang partikelir
sebagai timah, arang batu, minyak
Siapakah nanti yang bisa
mengembalikan lagi kekayaan-kekayaan tambang itu?
Musnah
musnahlah kekayaan-kekayaan itu
buat selama-lamanya bagi kami
Musnah
musnahlah buat selama-lamanya
bagi pergaulan hidup Indonesia
masuk ke dalam kantong beberapa pemegang andil belaka
=Ir. SOEKARNO=
(dari buku “Indonesia Menggugat”, hlm. 58)
DIKANTONGI OlEH TUHAN karya : Ir. Soekarno
Tatkala ibumu masih perawan
bapak masih perjaka
Lantas kita menjawab
“Yah, kami waktu itu dikantongi Tuhan
Dikantongi oleh Tuhan.”
Maka pada satu saat Tuhan ini
ingin meng-gumelar-kan kita ke dunia
Bagaimana caranya
apa diambil kantong Tuhan
Kemudian … dijatuhkan dari langit?
Tidak!
Tuhan lantas menjodohkan
Seorang pria dan seorang wanita
Tuhan yang menjodohkan
Saya tempo hari berkata
jodoh itu adalah hak Tuhan
Mati hak Tuhan
Jodoh hak Tuhan
Lahir hak Tuhan
Tuhan menjodohkan seorang pria dan seorang wanita
Pria dan wanita ini kataku
jadikan dapur dari Tuhan
Dapur untuk meng-gumelar-kan kita di dunia
Nah, kita diprocotkan tidak di langit
tidak di laut
tetapi di procotkan di tanah air ini
Yang dari tanah air inilah kita, saudara-saudara
dapat makanan
yang dari tanah air inilah
kita dapat minuman
yang dari tanah air inilah
kita menghirup hawanya yang segar
Pendek kata
tanah airlah tempat kita
dari masih bayi merah itu
tumbuh menjadi manusia yang dewasa sekarang
karena itu maka lantas aku mengambil konklusi
hai, manusia, cintailah Tuhan
yang dulu mengantongi engkau
Cintailah ibu-bapakmu
dapur yang dibuat Tuhan
untuk meng-gumelar-kan engkau
Cintailah tanah air yang di tempat itu
engkau dapat minum, makan dan lain sebagainya
=Ir. SOEKARNO=
(dari buku “Ilmu dan Perjuangan”, hlm. 111)
SUDAH BER-IBU KEMBALI karya : Ir. Soekarno
Sudah lama bunga Indonesia
tiada mengeluarkan harumnya
semenjak sekar yang
terkemudian sudah menjadi layu
Tetapi sekarang bunga Indonesia
sudah kembang kembali
kembang ditimpa cahaya bulan persatuan indonesia
dalam bulan yang terang-benderang ini
berbaurlah segandi segala bunga-bungaan yang harum
dan menarik hati yang tahu akan harganya bunga
sebagai hiasan alam yang
diturunkan Tuhan Illahi
Kembangnya bunga ini
ialah bangunnya bangsa Indonesia
menurut langkah yang terkemudian sekali
didahului oleh bangunnya laki-laki Indonesia
beserta pemudanya
Langkah yang terkemudian
tetapi jejak yang pertama sekali
dalam sejarah Indonesia
dan permulaan zaman baru
Sudah lama Indonesia kehilangan ibu
sudah lama Indonesia kehilangan puterinya
tetapi berkat disinari cahaya persatuan Indonesia
bertemulah anak piatu dengan ibu
yang disangka sudah hilang
berjabat tanganlah dengan puteri yang
dikatakan sudah berpulang
Pertemuan anak piatu dengan ibu kandung
ialah saat yang semulia-mulianya
dalam sejarah anak piatu
yang ber-ibu kembali
Saat ini tiada dapat dilupakan
sedih dan suka
pedih dan pilu bercampur-baur
karena kenang-kenangan yang sudah berlalu
Dan oleh karena nasib baru yang akan dimulai
Baru sekarang Persatuan Indonesia ada romantiknya
Apa gunanya gamelan dalam pendopo kalau tidak dibunyikan
terletak saja jadi pemandangan
kaum keluarga turun-temurun
Gamelan Indonesia berbunyi kembali
berbunyi dalam pendopo Indonesia
dan melagukan persatuan Indonesia
pada waktu bulan purnama raya
penuh dengan bau bunga
dan kembang yang harum
Indonesia piatu sudah ber-ibu kembali
=Ir. SOEKARNO=
(dari buku “Di Bawah Bendera Revolusi I”, hlm. 107)
(nb. Pada baris 9, ada kata “segandi” : saya tak tahu apa arti kata itu, saya mencoba mereka-reka apakah ada kesalahan cetak, tapi tak juga ketemu, mungkin “segar di”)
SARINAH-SARINAH karya : Ir. Soekarno
Tetapi pikiran saya
terus melayang
melayang satu soal
soal wanita
Kemerdekaan!
Bilakah Sarinah-Sarinah mendapat kemeerdekaan
Tetapi, ya, kemerdekaan yang bagaimana?
Kemerdekaan seperti yang dikehendaki
oleh pergerakan feminismekah
yang hendak menyamaratakan
perempuan dalam segala hal dengan laki-laki
Kemerdekaan ala Karini?
Kemerdekaan ala Khalidah Hanum?
Kemerdekaan ala Kollontay?
Oleh karena soal perempuan
adalah soal masyarakat
maka soal perempuan
adalah sama tuanya dengan masyarakat
soal perempuan adalah
sama tuanya dengan kemanusiaan
atau lebih tegas:
soal laki-laki dan perempuan
adalah sama tuanya
dengan kemanusiaan
Sejak manusia hidup
di dalam gua-gua dan rimba-rimba
dan belum mengenal rumah
sejak “zaman Adam dan Hawa”
kemanusiaan itu pincang
terganggu oleh soal ini
Manusia zaman sekarang
mengenal “soal perempuan”
Manusia zaman purbakala
mengenal “soal laki-laki”
Sekarang kaum perempuan duduk di tingkatan bawah
di zaman purbakala kaum laki-laki duduk di tingkatan bawah
Sekarang kaum laki-laki berkuasa
di zaman purbakala kaum perempuanlah yang berkuasa
Kemanusiaan,
di atas lapangan soal laki-laki perempuan
selalu pincang
dan kemanusiaan akan terus pincang
selama saf yang satu menindas saf yang lain
Harmoni hanya dapat dicapai
kalau tidak ada saf satu di atas saf yang lain
tetapi dua “saf” itu sama derajat
– berjajar – yang satu di sebelah yang lain
yang satu memperkuat kedudukan yang lain
Tetapi masing-masing menurut kodratnya sendiri
sebab siapa melanggar kodrat alam ini
ia akhirnya niscaya digilas remuk redam
oleh alam itu sendiri
Alam benar adalah “sabar”
alam benar tampak diam
tetapi ia tak dapat diperkosa
ia tak mau diperkosa
ia tak mau ditundukkan
ia menurut kata Vivekananda adalah “berkepala batu”
=Ir. SOEKARNO=
(dari buku “Sarinah”, hlm. 19)
Keterangan:
- Kollontay : seorang tokoh pergerakan wanita di Rusia, pada permulaan revolusi 1917
- Vivekananda : seorang pejuang kemerdekaan India sebelum masa M.K. Gandhi
MEMBANGUN KEBANGGAAN karya : Ir. Soekarno
Manusia tidak hanya cukup untuk makan
Sungguhpun gang-gang di Jakarta penuh lumpur
dan jalanan masih kurang
namun aku telah membangun gedung-gedung bertingkat
sebuah jembatan berbentuk daun semanggi
jalan raya yang hebat yang dikenal dengan Jakarta Bypass
dan menamai jalan dengan nama-nama para pahlawan kami
Jalan Diponegoro, Jalan Thamrin, Jalan Cokroaminoto dan lain-lain
Banyak orang berhati katak
dengan mentalitas warung kopi
menghitung-hitung pengeluaran itu
dan menuduhkan menghamburkan harta rakyat
ini semua bukan untuk kejayaanku
semua ini dibangun demi kejayaan bangsa
supaya bangsaku dihargai oleh seluruh dunia
Tulang punggung tanah airku membeku
ketika mendengar pertandingan Asian Games 1963
akan diadakan di ibukotanya
Kami lalu mendirikan stadion dengan atap melingkar
yang tak ada duanya di dunia
Kota-kota lain mempunyai stadion yang lebih besar
tapi tak satu pun yang mempunyai
atap melingkar seperti kepunyaan kami
Yah, memberantas kelaparan memang penting
akan tetapi memberi makan jiwa yang
telah diinjak-injak dengan sesuatu
yang dapat membangkitkan kebanggan mereka
ini pun penting
=Ir. SOEKARNO=
(dari buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat”, hlm. 444)
SEMANGKUK KECIL NASI SEHARI karya : Ir. Soekarno
Kita negara-negara berpolitik bebas di dunia
yang mengakui dan menerima kenyataan
adanya bangsa-bangsa yang baru bangkit
mempunyai kewajiban yang mengikat untuk
memperoleh pengertian dan rakyat-rakyat di negara lain
untuk mengatakan terus terang kepada mereka
bahwa mereka tidak dapat terus hidup
di atas berjuta-juta rakyat yang miskin
Masyarakat-masyarakatnya mereka mewah berlimpah
dibangun di atas keringat dan susah payah
dan air mata dari jutaan manusia
yang melalui malam senggang mereka tidak
dengan mata melekat pada pesawat televisi
tapi dalam kegelapan yang ditembus oleh nyala lilin
yang sehari-harinya bukan dirundung
oleh kepunyaan tetangga mereka
tetapi oleh keinginan untuk memberi kepada
anak-anak mereka semangkuk kecil nasi sehari
=Ir. SOEKARNO=
(dari “Pidato pada Konperensi Nonblok I, Beograd”)
JANGAN SEKALI KALI MENINGGALKAN SEJARAH karya : Ir. Soekarno
Sekali lagi saya ulangi kalimat ini
membuang hasil-hasil positif dari masa yang lampau
hal itu tidak mungkin
sebab kemajuan yang kita miliki sekarang ini
adalah akumulasi dari pada hasil-hasil
perjuangan di masa yang lampau
Seorang pemimpin yaitu Abraham Lincoln berkata:
“One connot escape history”
orang tak dapat melepaskan diri dari sejarah
Saya pun berkata demikian!
Tetapi saya tambah. Bukan saja
“One connot escape history”
tetapi saya tambah: “Never leave history”
Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah
Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!
Jangan sekali-kali meninggalkan sejarahmu yang sudah!
Hai bangsaku, karena jika engkau meninggalkan yang sudah,
engkau akan berdiri di atas vacuum
engkau akan berdiri di atas kekosongan
lantas engkau menjadi bingung dan perjuanganmu
paling-paling hanya akan berupa amuk
amuk belaka
Amuk, seperti kera kejepit di dalam gelap!
=Ir. SOEKARNO=
(dari “Amanat Proklamasi, 17 Agustus 1963”, hlm. 210)
CARI SENDIRI karya : Ir. Soekarno
Het hoe
kita harus cari sendiri. Het hoe
bagaimana itu harus kita cari sendiri
sistem-sistem apa yang harus kita pakai
Tidak bisa saudara teorikan
apalagi dengan membuka,
hanya membuka saja textbook-textbook,
sampai saudara punya kepala botak
tidak akan saudara bisa menemukan het hoe itu
Tetapi kita harus cipta sendiri,
cari sendiri. This is revolution
Revolusi adalah mencari, saudara-saudara
tidak ada revolusi yang sudah ready for use
tidak, cari sendiri
Tidak ada satu revolusi
atau dua revolusi yang sama
Jangan kira revolusi Indonesia itu sama dengan revolusi Sovyet
Jangan kira revolusi Indonesia sama dengan revolusi Mesir
Jangan kira revolusi Indonesia sama dengan revolusi Kuba
Jangan kira revolusi Indonesia sama dengan revolusi RRC
Jangan kira revolusi Indonesia sama dengan revolusi Mexico
Revolusi adalah milik dan tugas kewajiban bangsa
dan kewajiban dari pada bangsa itu ialah mencari sendiri
Jangan menjiplak, oleh karena tidak bisa dijiplak
Kalau saya atau kita menjiplak revolusi Mexico
bubrah revolusi kita
Kalau saya atau kita menjiplak revolusi United Arab Republik
bubrah revolusi kita
Kalau saya atau kita menjiplak revolusi Yugoslavia
bubrah revolusi kita
Kalau saya atau kita menjiplak revolusi Polandia
bubrah revolusi kita
Kalau saya atau kita menjiplak revolusi Uni Sovyet
bubrah revolusi kita
Kalau saya atau kita menjiplak revolusi Amerika, 1776 dulu itu
bubrah revolusi kita
Tidak, kita harus mencari sendiri
=Ir. SOEKARNO=
(dari buku “Ilmu dan Perjuangan”, hlm. 21-22)
JANGANLAH MENJADI POLITIKUS SALON karya : Ir. Soekarno
Janganlah menjadi politikus salon!
Lebih dari separo
politisi kita adalah politisi salon
yang mengenal Marhaen
hanya dari sebutan saja.
Apakah orang mengira dapat
menyelesaikan revolusi sekarang ini
meski tingkatannya
tingkatan nasional sekalipun
tidak dengan rakyat murba
Politikus yang demikian itu
sama dengan seorang jenderal
yang tak bertentara
Kalau ia memberi komando
dia seperti orang berteriak di padang pasir
Tetapi betapakah orang dapat menarik rakyat jelata
Jika tidak terjun di kalangan mereka
mendengarkan kehendak-kehendak mereka
menyadarkan mereka akan diri sendiri
membuat revolusi ini revolusi mereka?
=Ir. SOEKARNO=
(dari buku “Sarinah”, 1947 hal. 229-230)