Tampilkan postingan dengan label Ir. SOEKARNO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ir. SOEKARNO. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 September 2015

AKU MELIHAT INDONESIA karya : Ir. Soekarno

Jikalau aku berdiri di pantai Ngliyep
Aku mendengar Lautan Hindia bergelora
membanting di pantai Ngliyep itu
Aku mendengar lagu, sajak Indonesia

Jikalau aku melihat
sawah-sawah yang menguning-menghijau
Aku tidak melihat lagi
batang-batang padi yang menguning menghijau
Aku melihat Indonesia

Jikalau aku melihat gunung-gunung
Gunung Merapi, Gunung Semeru, Gunung Merbabu
Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Kelebet
dan gunung-gunung yang lain
Aku melihat Indonesia

Jikalau aku mendengarkan
Lagu-lagu yang merdu dari Batak
bukan lagi lagu Batak yang kudengarkan
Aku mendengarkan Indonesia

Jikalau aku mendengarkan Pangkur Palaran
bukan lagi Pangkur Palaran yang kudengarkan
Aku mendengar Indonesia

Jikalau aku mendengarkan lagu Olesio dari Maluku
bukan lagi aku mendengarkan lagu Olesio
Aku mendengar Indonesia

Jikalau aku mendengarkan burung Perkutut
menyanyi di pohon ditiup angin yang sepoi-sepoi
bukan lagi aku mendengarkan burung Perkutut
Aku mendengarkan Indonesia

Jikalau aku menghirup udara ini
Aku tidak lagi menghirup udara
Aku menghirup Indonesia

Jikalau aku melihat wajah anak-anak
di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar
“Pak Merdeka; Pak Merdeka; Pak Merdeka!”
Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia



=IR. SOEKARNO=
(dari buku “Bung Karno dan Pemuda”, hlm. 68-107)

SEJARAHLAH YANG AKAN MEMBERSIHKAN NAMAKU karya : Ir. Soekarno

Dengan setiap rambut di tubuhku
aku hanya memikirkan tanah airku

Dan tidak ada gunanya bagiku
melepaskan beban dari dalam hatiku
kepada setiap pemuda yang datang kemari
aku telah mengorbankan untuk tanah ini

Tidak menjadi soal bagiku
apakah orang mencapku kolaborator
Aku tidak perlu membuktikan kepadanya
atau kepada dunia, apa yang aku kerjakan

Halaman-halaman dari revolusi Indonesia
akan ditulis dengan darah Sukarno
Sejarahlah yang akan membersihkan namaku



=IR. SOEKARNO=
(dari buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat”, hlm. 304)

Selasa, 14 Juli 2015

DIMAKAN API UNGGUN karya : Ir. Soekarno

 

Saya merasa

diri saya sebagai

sepotong kayu

dalam satu gundukan kayu api unggun

 

sepotong dari pada ratusan

atau ribuan kayu di dalam api unggun besar

 

saya menyumbangkan sedikit

kepada nyala api unggun itu

 

tetapi sebaliknya

saya dimakan oleh api unggun itu!

Dimakan apinya api unggun

 



=Ir. SOEKARNO=

(dari buku “Tragedi Bung Karno” Pustaka Simponi 1978)

 

 

UNDANG-UNDANG karya : Ir. Soekarno

 

Jiwa ular kambang dan jiwa inlander

itulah racun yang menghinggapi kita

di tahun-tahun yang terakhir ini

 

Jikalau ingin merdeka sejati-jatinya merdeka

milikilah jiwa yang merdeka

milikilah jiwa yang besar

 

Buktikanlah memiliki jiwa yang besar itu

jiwa merdeka itu

jiwa yang tak segan bekerja dan memberi

jiwa yang dinamis yang bisa

berdiri sendiri di atas kaki sendiri

bukan jiwa yang meminta, merintih

mengemis saja ke kanan dan ke kiri

sambil bermimpi dapat mencapai

derajat penghidupan yang makmur

dengan seboleh-bolehnya tidak bekerja sama sekali

 

Kita tidak hidup di alam impian

kita hidup di alam kenyataan

 

Kita tidak hidup di alam impian

Kita hidup di alam kenyataan

Kita tidak hidup di alam sorga

Kita hidup di alam dunia

 

Di dalam dunia itu

untuk semua makhluk besar-kecil

tiada undang-undang lain

melainkan undang-undang yang berbunyi:

 

“Jikalau mau hidup, harus makan

yang dimakan hasil kerja;

jika tidak bekerja, tidak makan;

jika tidak makan pasti mati!”

 

Inilah undang-undangnya dunia

Inilah undang-undangnya hidup

Mau tak mau semua makhluk

harus menerima undang-undang ini

 

Terimalah undang-undang ini

dengan jiwa besar dan merdeka

jiwa yang tidak menengadah

melainkan kepada Tuhan.

 



=Ir. SOEKARNO=

(dari buku “Amanat Proklamasi”, hlm. 63)

 

MUSNAHLAH KEKAYAAN-KEKAYAAN ITU karya : Ir. Soekarno

 

Dengan perkataan lain

kaum modal partikelir mempunyai

kepentingan atas rendahnya tenaga produksi

dan rendahnya tingkat pergaulan hidup kami

 

imperialisme-modern

menghalang-halangi kemajuan

pergaulan hidup kami

 

imperialisme-modern

membikin rakyat bumiputra

menjadi bangsa yang terdiri

dari kaum buruh belaka

dan membikin Hindia menjadi

si buruh di dalam pergaulan bangsa-bangsa

 

Dan si buruh yang bagaimana

Tuan-tuan Hakim!

si buruh yang loonen-nya minimum loonen

si buruh yang wirtschaft-nya minimum wirschaft!

si buruh yang upahnya upah kokro

Hati-Nasional tentu berontak

atas kejahatan imperialisme-modern

yang demikian itu

 

Lagi pula

siapakah nanti yang bisa

mengembalikan lagi kekayaan-kekayaan Indonesia

yang diambil oleh mijnberdrijven partikelir

yakni perusahaan-perusahaan tambang partikelir

sebagai timah, arang batu, minyak

Siapakah nanti yang bisa

mengembalikan lagi kekayaan-kekayaan tambang itu?

 

Musnah

musnahlah kekayaan-kekayaan itu

buat selama-lamanya bagi kami

Musnah

musnahlah buat selama-lamanya

bagi pergaulan hidup Indonesia

masuk ke dalam kantong beberapa pemegang andil belaka




=Ir. SOEKARNO=

(dari buku “Indonesia Menggugat”, hlm. 58)

 

DIKANTONGI OlEH TUHAN karya : Ir. Soekarno

 

Tatkala ibumu masih perawan

bapak masih perjaka

Lantas kita menjawab

“Yah, kami waktu itu dikantongi Tuhan

Dikantongi oleh Tuhan.”

 

Maka pada satu saat Tuhan ini

ingin meng-gumelar-kan kita ke dunia

Bagaimana caranya

apa diambil kantong Tuhan

Kemudian … dijatuhkan dari langit?

Tidak!

Tuhan lantas menjodohkan

Seorang pria dan seorang wanita

Tuhan yang menjodohkan

 

Saya tempo hari berkata

jodoh itu adalah hak Tuhan

Mati hak Tuhan

Jodoh hak Tuhan

Lahir hak Tuhan

Tuhan menjodohkan seorang pria dan seorang wanita

 

Pria dan wanita ini kataku

jadikan dapur dari Tuhan

Dapur untuk meng-gumelar-kan kita di dunia

 

Nah, kita diprocotkan tidak di langit

tidak di laut

tetapi di procotkan di tanah air ini

Yang dari tanah air inilah kita, saudara-saudara

dapat makanan

yang dari tanah air inilah

kita dapat minuman

yang dari tanah air inilah

kita menghirup hawanya yang segar

 

Pendek kata

tanah airlah tempat kita

dari masih bayi merah itu

tumbuh menjadi manusia yang dewasa sekarang

karena itu maka lantas aku mengambil konklusi

hai, manusia, cintailah Tuhan

yang dulu mengantongi engkau

Cintailah ibu-bapakmu

dapur yang dibuat Tuhan

untuk meng-gumelar-kan engkau

Cintailah tanah air yang di tempat itu

engkau dapat minum, makan dan lain sebagainya

 



=Ir. SOEKARNO=

(dari buku “Ilmu dan Perjuangan”, hlm. 111)

SUDAH BER-IBU KEMBALI karya : Ir. Soekarno


 

Sudah lama bunga Indonesia

tiada mengeluarkan harumnya

semenjak sekar yang

terkemudian sudah menjadi layu

 

Tetapi sekarang bunga Indonesia

sudah kembang kembali

kembang ditimpa cahaya bulan persatuan indonesia

dalam bulan yang terang-benderang ini

berbaurlah segandi segala bunga-bungaan yang harum

dan menarik hati yang tahu akan harganya bunga

sebagai hiasan alam yang

diturunkan Tuhan Illahi

 

Kembangnya bunga ini

ialah bangunnya bangsa Indonesia

menurut langkah yang terkemudian sekali

didahului oleh bangunnya laki-laki Indonesia

beserta pemudanya

 

Langkah yang terkemudian

tetapi jejak yang pertama sekali

dalam sejarah Indonesia

dan permulaan zaman baru

 

Sudah lama Indonesia kehilangan ibu

sudah lama Indonesia kehilangan puterinya

tetapi berkat disinari cahaya persatuan Indonesia

bertemulah anak piatu dengan ibu

yang disangka sudah hilang

berjabat tanganlah dengan puteri yang

dikatakan sudah berpulang

 

Pertemuan anak piatu dengan ibu kandung

ialah saat yang semulia-mulianya

dalam sejarah anak piatu

yang ber-ibu kembali

 

Saat ini tiada dapat dilupakan

sedih dan suka

pedih dan pilu bercampur-baur

karena kenang-kenangan yang sudah berlalu

Dan oleh karena nasib baru yang akan dimulai

 

Baru sekarang Persatuan Indonesia ada romantiknya

Apa gunanya gamelan dalam pendopo kalau tidak dibunyikan

terletak saja jadi pemandangan

kaum keluarga turun-temurun

 

Gamelan Indonesia berbunyi kembali

berbunyi dalam pendopo Indonesia

dan melagukan persatuan Indonesia

pada waktu bulan purnama raya

penuh dengan bau bunga

dan kembang yang harum

Indonesia piatu sudah ber-ibu kembali

 



=Ir. SOEKARNO=

(dari buku “Di Bawah Bendera Revolusi I”, hlm. 107)

(nb. Pada baris 9, ada kata “segandi” : saya tak tahu apa arti kata itu, saya mencoba mereka-reka apakah ada kesalahan cetak, tapi tak juga ketemu, mungkin “segar di”)

 

 

SARINAH-SARINAH karya : Ir. Soekarno

 

Tetapi pikiran saya

terus melayang

melayang satu soal

soal wanita

 

Kemerdekaan!

Bilakah Sarinah-Sarinah mendapat kemeerdekaan

Tetapi, ya, kemerdekaan yang bagaimana?

 

Kemerdekaan seperti yang dikehendaki

oleh pergerakan feminismekah

yang hendak menyamaratakan

perempuan dalam segala hal dengan laki-laki

 

Kemerdekaan ala Karini?

Kemerdekaan ala Khalidah Hanum?

Kemerdekaan ala Kollontay?

 

Oleh karena soal perempuan

adalah soal masyarakat

maka soal perempuan

adalah sama tuanya dengan masyarakat

soal perempuan adalah

sama tuanya dengan kemanusiaan

atau lebih tegas:

soal laki-laki dan perempuan

adalah sama tuanya

dengan kemanusiaan

 

Sejak manusia hidup

di dalam gua-gua dan rimba-rimba

dan belum mengenal rumah

sejak “zaman Adam dan Hawa”

kemanusiaan itu pincang

terganggu oleh soal ini

 

Manusia zaman sekarang

mengenal “soal perempuan”

Manusia zaman purbakala

mengenal “soal laki-laki”

 

Sekarang kaum perempuan duduk di tingkatan bawah

di zaman purbakala kaum laki-laki duduk di tingkatan bawah

Sekarang kaum laki-laki berkuasa

di zaman purbakala kaum perempuanlah yang berkuasa

 

Kemanusiaan,

di atas lapangan soal laki-laki perempuan

selalu pincang

dan kemanusiaan akan terus pincang

selama saf yang satu menindas saf yang lain

 

Harmoni hanya dapat dicapai

kalau tidak ada saf satu di atas saf yang lain

tetapi dua “saf” itu sama derajat

– berjajar – yang satu di sebelah yang lain

yang satu memperkuat kedudukan yang lain

 

Tetapi masing-masing menurut kodratnya sendiri

sebab siapa melanggar kodrat alam ini

ia akhirnya niscaya digilas remuk redam

oleh alam itu sendiri

 

Alam benar adalah “sabar”

alam benar tampak diam

tetapi ia tak dapat diperkosa

ia tak mau diperkosa

ia tak mau ditundukkan

ia menurut kata Vivekananda adalah “berkepala batu”

 



=Ir. SOEKARNO=

(dari buku “Sarinah”, hlm. 19)

Keterangan:

- Kollontay : seorang tokoh pergerakan wanita di Rusia, pada permulaan revolusi 1917

- Vivekananda : seorang pejuang kemerdekaan India sebelum masa M.K. Gandhi

 

 

MEMBANGUN KEBANGGAAN karya : Ir. Soekarno

 

Manusia tidak hanya cukup untuk makan

 

Sungguhpun gang-gang di Jakarta penuh lumpur

dan jalanan masih kurang

namun aku telah membangun gedung-gedung bertingkat

sebuah jembatan berbentuk daun semanggi

jalan raya yang hebat yang dikenal dengan Jakarta Bypass

dan menamai jalan dengan nama-nama para pahlawan kami

Jalan Diponegoro, Jalan Thamrin, Jalan Cokroaminoto dan lain-lain

 

Banyak orang berhati katak

dengan mentalitas warung kopi

menghitung-hitung pengeluaran itu

dan menuduhkan menghamburkan harta rakyat

ini semua bukan untuk kejayaanku

semua ini dibangun demi kejayaan bangsa

supaya bangsaku dihargai oleh seluruh dunia

 

Tulang punggung tanah airku membeku

ketika mendengar pertandingan Asian Games 1963

akan diadakan di ibukotanya

 

Kami lalu mendirikan stadion dengan atap melingkar

yang tak ada duanya di dunia

Kota-kota lain mempunyai stadion yang lebih besar

tapi tak satu pun yang mempunyai

atap melingkar seperti kepunyaan kami

 

Yah, memberantas kelaparan memang penting

akan tetapi memberi makan jiwa yang

telah diinjak-injak dengan sesuatu

yang dapat membangkitkan kebanggan mereka

ini pun penting

 



=Ir. SOEKARNO=

(dari buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat”, hlm. 444)

SEMANGKUK KECIL NASI SEHARI karya : Ir. Soekarno

 

Kita negara-negara berpolitik bebas di dunia

yang mengakui dan menerima kenyataan

adanya bangsa-bangsa yang baru bangkit

mempunyai kewajiban yang mengikat untuk

memperoleh pengertian dan rakyat-rakyat di negara lain

untuk mengatakan terus terang kepada mereka

bahwa mereka tidak dapat terus hidup

di atas berjuta-juta rakyat yang miskin

 

Masyarakat-masyarakatnya mereka mewah berlimpah

dibangun di atas keringat dan susah payah

dan air mata dari jutaan manusia

yang melalui malam senggang mereka tidak

dengan mata melekat pada pesawat televisi

tapi dalam kegelapan yang ditembus oleh nyala lilin

yang sehari-harinya bukan dirundung

oleh kepunyaan tetangga mereka

tetapi oleh keinginan untuk memberi kepada

anak-anak mereka semangkuk kecil nasi sehari

 



=Ir. SOEKARNO=

(dari “Pidato pada Konperensi Nonblok I, Beograd”)

JANGAN SEKALI KALI MENINGGALKAN SEJARAH karya : Ir. Soekarno


 

Sekali lagi saya ulangi kalimat ini

membuang hasil-hasil positif dari masa yang lampau

hal itu tidak mungkin

sebab kemajuan yang kita miliki sekarang ini

adalah akumulasi dari pada hasil-hasil

perjuangan di masa yang lampau

 

Seorang pemimpin yaitu Abraham Lincoln berkata:

“One connot escape history”

orang tak dapat melepaskan diri dari sejarah

Saya pun berkata demikian!

Tetapi saya tambah. Bukan saja

“One connot escape history”

tetapi saya tambah: “Never leave history”

Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah

 

Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!

Jangan sekali-kali meninggalkan sejarahmu yang sudah!

Hai bangsaku, karena jika engkau meninggalkan yang sudah,

engkau akan berdiri di atas vacuum

engkau akan berdiri di atas kekosongan

lantas engkau menjadi bingung dan perjuanganmu

paling-paling hanya akan berupa amuk

amuk belaka

Amuk, seperti kera kejepit di dalam gelap!




=Ir. SOEKARNO=

(dari “Amanat Proklamasi, 17 Agustus 1963”, hlm. 210)

 

CARI SENDIRI karya : Ir. Soekarno

 

Het hoe

kita harus cari sendiri. Het hoe

bagaimana itu harus kita cari sendiri

sistem-sistem apa yang harus kita pakai

 

Tidak bisa saudara teorikan

apalagi dengan membuka,

hanya membuka saja textbook-textbook,

sampai saudara punya kepala botak

tidak akan saudara bisa menemukan het hoe itu

 

Tetapi kita harus cipta sendiri,

cari sendiri. This is revolution

Revolusi adalah mencari, saudara-saudara

tidak ada revolusi yang sudah ready for use

tidak, cari sendiri

 

Tidak ada satu revolusi

atau dua revolusi yang sama

 

Jangan kira revolusi Indonesia itu sama dengan revolusi Sovyet

Jangan kira revolusi Indonesia sama dengan revolusi Mesir

Jangan kira revolusi Indonesia sama dengan revolusi Kuba

Jangan kira revolusi Indonesia sama dengan revolusi RRC

Jangan kira revolusi Indonesia sama dengan revolusi Mexico

 

Revolusi adalah milik dan tugas kewajiban bangsa

dan kewajiban dari pada bangsa itu ialah mencari sendiri

Jangan menjiplak, oleh karena tidak bisa dijiplak

 

Kalau saya atau kita menjiplak revolusi Mexico

bubrah revolusi kita

Kalau saya atau kita menjiplak revolusi United Arab Republik

bubrah revolusi kita

Kalau saya atau kita menjiplak revolusi Yugoslavia

bubrah revolusi kita

Kalau saya atau kita menjiplak revolusi Polandia

bubrah revolusi kita

Kalau saya atau kita menjiplak revolusi Uni Sovyet

bubrah revolusi kita

Kalau saya atau kita menjiplak revolusi Amerika, 1776 dulu itu

bubrah revolusi kita

 

Tidak, kita harus mencari sendiri




=Ir. SOEKARNO=

(dari buku “Ilmu dan Perjuangan”, hlm. 21-22)

JANGANLAH MENJADI POLITIKUS SALON karya : Ir. Soekarno


 

Janganlah menjadi politikus salon!

Lebih dari separo

politisi kita adalah politisi salon

yang mengenal Marhaen

hanya dari sebutan saja.

 

Apakah orang mengira dapat

menyelesaikan revolusi sekarang ini

meski tingkatannya

tingkatan nasional sekalipun

tidak dengan rakyat murba

 

Politikus yang demikian itu

sama dengan seorang jenderal

yang tak bertentara

Kalau ia memberi komando

dia seperti orang berteriak di padang pasir

 

Tetapi betapakah orang dapat menarik rakyat jelata

Jika tidak terjun di kalangan mereka

mendengarkan kehendak-kehendak mereka

menyadarkan mereka akan diri sendiri

membuat revolusi ini revolusi mereka?




=Ir. SOEKARNO=

(dari buku “Sarinah”, 1947 hal. 229-230)