Tampilkan postingan dengan label WAYAN SUNARTA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WAYAN SUNARTA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 September 2015

TANAH TUA karya : Wayan Sunarta

di tanah tua aku tiba
membawa bunga ilahi
dari jiwa yang senja

ayunan cahaya melampaui remang
bayang gerhana matamu-mataku
kilau kelabu dari luka masa lalu

di tanah tua
kita saling menduga
hidup yang fana

cuma ada sekerat kenangan
di celah hangat tubuhmu
namun jiwa telah paham
apa yang tak dirasa angin

di tanah tua
usai semua usia
pun cahaya
lupa cahaya



(Juli 2009)

=WAYAN SUNARTA=

PEKARANGAN TUBUHKU : SESERPIH KISAH UNTUKMU karya : Wayan Sunarta

jika kau jelajahi pekarangan tubuhku

‘kan kau temukan sekuntum mawar

dengan warna merah hampir luruh

dimakan waktu yang tak mau tahu

mawar itu

tumbuh di dada kiriku

aliran darah dari jantung

menghangatinya

saat musim dingin

menjalar dari ujung pulau

di tengah bulan juni

suatu waktu perawan belia

ingin memetik mawar itu

“bagus untuk dipajang di meja belajarku,” ujarnya

telah kuberikan jiwaku

melebihi sekuntum mawar

tapi dia terpukau belukar liar

yang membelit dan menyeretnya

ke kuburan terkelam dari malam

di waktu lain

gadis-gadis manis

menyiram mawar itu

dengan air liur cintanya

itu sebab warnanya

kadangkala cerah

seperti langit pagi

yang bening

suatu malam

suara perempuan lembut menyapaku

dari seberang yang jauh

yang entah dimana

“di dadamu ada mawar, ya?”

tiba-tiba saja

aku kembali sadar

mawar di dadaku

telah lama tidak disiram air cinta

tidak dipupuk rindu

namun denyut hayat

masih terasa hangat

meski samar-samar

jika kau sempat menyusuri

bagian tubuhku yang lain

di lengan kananku

bercahaya pentagram

serupa mandala

dengan angka “69” di tengah lingkaran,

lambang kelahiran yang dianugerahi langit

angka mistik yang menuntun jalanku

menyusuri semesta ilahi

hingga berkali-kali kukandas di pantai

yang begitu asing dan sepi

di punggungku seekor naga melingkar

bercengkerama dengan burung keabadian

burung api yang lahir dari abunya sendiri

naga itu tercipta dari arak

burung itu lahir dari tuak

di dusun-dusun pedalaman Bali

petani, kuli, penjaga kedai, dan brandal desa

merayakan kelahirannya

mungkin dulu naga itu hanya seekor ulat bulu

dan burung itu bisa jadi seekor pipit yang lucu

namun rahasia demi rahasia malam

telah mempertemukan mereka di punggungku

jika aku mati, mereka akan hidup selalu

dalam gambar-gambar yang kuciptakan

bayang-bayang gerhana memberi restu

bagi perjalanan terakhirku

mawar di dadaku akan kembali mekar

di atas gundukan kuburanku

yang tak dikenal

jauh dari orang-orang yang kucinta






(Karangasem, 12 Agustus 2009)

=WAYAN SUNARTA=

ANGIN TELAH KEMBALI karya : Wayan Sunarta

-kepada ketut suwidja-

karya: Wayan Sunarta

kemana kini arah angin bertiup
entah sampai dimana lelayang sanggup terbang
tak tahu gerimis telah mewarnai hari
usai sudah segala mimpi masa kanak
tak satu pun mampu direguk dari bumbung waktu

suara sunari makin menjauh
usai pula percakapan di bawah temaram bulan
walau kau masih rindu melantunkan selarik sajak
irama dalam jiwa telah mati rasa
dan kau hanya termangu di ujung lorong malam
jadi baiknya kita sudahi permainan
angin telah kembali ke dalam jiwa semesta



Februari 2009

=WAYAN SUNARTA=

PARANGKUSUMO karya : Wayan Sunarta

tapak kaki kuda, pasir-pasir, bunga pandan

dan sampailah pada hamparan biru

yang berwaktu-waktu kuburu

 

ibu parangtritis, bapa merapi, putera keraton

satu garis sunyi menggebu dalam seru angin

pada pagi pada malam pada jam-jam siangku

membawa birahi dari kucuran peluh, terik doa

dan tandas airmata

mengharap kau tiba dengan kereta kencana

menapak udara

campuran pasir, laut dalam diri

simpang siur wajahmu, sayup-sayup rambutmu

seribu kuda putih meringkiki detik-detik sunyiku

 

waktu waktu kuburu pencarianku kuburu

sampai ruhku menemumu




=WAYAN SUNARTA=

CAMPUHAN, UBUD karya : Wayan Sunarta

- bersama phutut ea-

 

mengapa jalanku tiba-tiba buntu

ketika senja menjelma

bunqa alang-alang

yang tumbuh di tebing karang

 

di bawah, ricik air bagai mantra purba

yang dilantunkan para pendeta

atau mungkin baris-baris aksara

yang digurat sang kawi

 

mengapa jiwa serupa angin

mengalun dari buluh-buluh bambu

 

pada akhirnya kau pergi

aku pergi

mereka pergi

tapi hanya jalanku

vang tiba-tiba buntu

disumbat gumpalan masa lalu

yang tidak juga enyah

 




=WAYAN SUNARTA=

SARANG CAPUNG karya : Wayan Sunarta

kau memasuki sarang capung

peliharaan peri hutan

lebat tetumbuhan pakis

dann percik air terjun bagai butiran tepung

batu-batu di sepanjang sungai bernyanyi

lumut-lumut menguapkan harum tanah

 

aku terkurung dalam sarang capung

kembali bocah itu menawariku kalung

untaian butir-butir kerang

yang dipungutnya di pasir sungai

 

letih telah membawaku menjauh dari waktu

tak mampu lagi kugurat kata

pada batu-batu sungai

kata-kata yang akan mengabarkan kisahku

sejauh waktu menenun sarang laba-laba air

 

peri-peri hutan

mengantar ruhku ke tengah sungai

dari mana perjalanan baru kumulai

kudengar merdu nyanyi serangga hutan

kulihat bocah itu melambai

:selamat tinggal bumi!




=WAYAN SUNARTA=