Tampilkan postingan dengan label L.K ARA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label L.K ARA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Agustus 2015

RAHMAT karya : L. K. Ara

angin lembut

yang menjamah ladangmu

menyepoikan puisi

membisikkan lagu juang tanpa akhir

 

alunan sungai

yang membelah sawahmu

mengapungkan puisi

caya-caya semangat dan keyakinan teguh

 

pada hujan renyai

turun ke bumi

mendesah napas puisi

dendang petani lagukan kerja berkepanjangan

 

panas mentari

yang menyiramimu

menaburkan puisi

himmah dan hikmah yang kekal

 

bersyukurlah

bersyukurlah

Tuhan tak putus melimpahkan rahmat-Nya

 



=L. K. ARA=

SUNGAI PESANGAN karya : L. K. Ara

airmu jernih

kaca alam yang permai

kala angin lena

dalam genangan siang

 

dengan kemilau

caya surya

kau elus kaki tebing

yang berkukuh

dalam tapanya bisu

 

kadang arusmu gemuruh

menempuh batu-batu

seakan tergesa

membawa berita

putri hijau

berbaju ular

bakal bangkit

dari danau

 

arusmu pun gitu deras

gitu tergesa

hingga tak engah

ada gadis

membungkuk di tebing

termangu mencari

bayang cintanya hilang

dalam golak air

di antara batu-batu

 

riakmu kecil-kecil

putih-putih oleh bulan

adalah selingan mesra

dari umbang-ambing peristiwa 




=L. K. ARA=

GUNUNG SINGAH MATA karya : L. K. Ara

dari puncak Singah Mata

memandang ke bawah

ke lembah pagi

ke liku-liku senyap

 

dari puncak Singah Mata

menyaksikan awan

berguguran

berkas-berkas caya

turun ke rimbun pohon

burung-burung

hinggap dan terbang

kijang-kijang berkejaran

di panas bertelau

pekik dan ciap

meriangi siang hari

panorama abadi

mengusir keresahan

 

dari puncak Singah Mata

memandang ke gunung di depan

di sampingnya jalan meliku

tadi pagi kita lalui

tanpa engah

 

tiap jengkal tanahnya

mengandung perih

darah dan keringat

riwayat derita

di bawah sangkur penjajah 




=L. K. ARA=

KABAR karya : L. K. Ara

dalam caya senja

suratmu tiba

baris-baris puisi

berdiri

menatapku

bola-bola matamu

memandangku

memandang

 

angin cemara

senja itu

mengusikku

menggeraikan rambut

duh, kian putih juga

aku kembali

ke matamu bening

ke kisah kotamu kini

agung oleh menara

lampu warna-warni

tapi di lorong-lorong gelap

rakyat merintih

ditindas beban berat

ya, anakku

di caya matamu sayu

derita rakyat kecil

kusaksikan

dalam caya senja

suratmu tiba

baris-baris puisi

bola-bola matamu

memandangku

ya, anak

rangkullah ibu 




=L. K. ARA=

ANGIN HUTAN CEMARA karya : L. K. Ara

angin hutan cemara

ditegur fajar

buru-buru bangkit

menyongsong petani

yang bergegas naik

ke lamping gunung

ke ladang luas

di mana harapan berkecambah hijau

semakin hijau

 

angin hutan cemara

siang-siang

mengantar harum bunga

ke tiap tangga

dengan kipasnya riuh

mengibas panah surya

yang terpacak di punggung pekerja

melegakan dada

untuk nyanyi-nyanyi kecil

diselang-seling ayunan cangkul

 

angin hutan cemara

sore hari

habis perjalanan jauh

walau lelah

masih sempat

melipur pengambil kayu

atau nelayan di sungai

dan pengembala di padang-padang hijau

meringankan langkah mereka

menuju rumah dan rumah tangga

 

angin hutan cemara

biasanya gemerisik

hanya sesekali menderu

tapi kian kalinya mengingatkan

enam puluh ribu hektar

cemara menderai

tak jemu-jemu menderai

minta diolah

namun tak pernah diacuhkan

walau dua puluh tahun lebih

kita merdeka

 

angin hutan cemara

ceramah namun ramah

menawarkan bagia

bagi tiap orang

yang ingin mencicipinya 




=L. K. ARA=

BUAT PAMONG karya : L. K. Ara

kami sudah tahu

kami akan nyanyi indah sekali

jadi jangan senandungkan lagu biru

kami sudah tahu

bapa butuh tugu buat diri

percuma itu semua merdu

malam tak selalu purnama

bintang timbul bintang tenggelam

 

kami mau bapa datang dengan seluruh diri

kami akan terima dengan seluruh hati

kami tahu rasa kami tahu warna

 

nanti bila datang malam bapa

jangan takut

kami telah jadi penyair

kami telah jadi pelukis

segala kata dan nada dipahatkan nanti

tembaga atau emas tugu buat bapa

sejarah bakal tentukan

 



=L. K. ARA=

Sabtu, 01 Agustus 2015

LAUT TAWARKU karya : L. K. Ara

di lereng-lereng gunung menujumu

di atas bus yang menderu

detak hati kian keras

kuatir nasibmu

sore itu

 

parasmu diusap senja

alangkah tenang

salam sederhana kau ulurkan padaku

tanpa iringan gelombang

ataupun pikatan kecipak riak

pertanda bulan akan mengambang

 

dalam sunyi malam

sebelum fajar

perahu nelayan lesu

pulang ke pangkalan

setelah semalaman direndam dingin

kulihat baju-baju lusuh

dan mata diberati kantuk

 

jalan yang meliku ke pangkuanmu

wangi oleh kenangan lama

kian terasa

sentuhan riang riak-riakmu

pada mukaku yang meminati

 

jalan menurun ke jantungmu

lembut oleh siraman embun

yang menetes teduh

tanpa suara

menjamah langkahku

satu satu

kala kuturun ke tepian

dengan debaran mesra di hati

 



=L. K. ARA=

LAWEE BULAN karya : L. K. Ara

hati gelisah reda oleh kecipakmu

airmu jernih rela menerima

tubuh berlumpur hitam keringatan

 

dada sepi hangat oleh nyanyianmu

lenggangmu lapang

tubuhmu putih ramping

melenggokkan angan ke labuhan mimpi

 

pagi sebelum fajar

mencium wajahmu sejuk

gadis-gadis merebahkan pipi

menyentuhkan tubuhnya di arusmu

bertanya

berapa banyak pemuda di muara

yang rubuh mempertahankan negeri

 

sungai bulan kala senja

sebelum tudung malam terkembang

menampung keringat dan daki

menyambut jari-jari dan dada terbuka

menyirami kaki kanak-kanak

dan membasuh mata para janda

 

sepanjang malam sungai bulan

memerciki batang padi

mengedipi bintang-bintang

angin bersiul

lawee bulan lawee bulan 




=L. K. ARA=

KUTACANE karya : L. K. Ara

sebuah kota berpagar gunung

matahari terik langit biru

tanah subur bersyukur

memercikkan tanaman

berkat keringat tumpah

dari gagang cangkul

lelaki kuat

atau dari sabit langsing

di lengan halus

gegadis jingga

 

sebuah kota digelitiki sungai

bersemu malu gadis jelita

bulan muda di kaki langit

membungakan senyum

melihat nelayan mengembangkan jala

dari perahu

atau tangan-tangan teracung

menahan pancing di atas air

 

sebuah kota mekar oleh dongengan

mimpi-mimpi disuburi cerita nenek moyang

setiap pintu rumah tahu

kisah beru dihe dan sipihir

kasih tak sampai

atau silayar tunggal dan beru jinem

kasih satria di ujung pedang

atau beru pagan

putri jelita tanpa bandingan

 

sebuah kota

tanpa patung-patung megah

hanya menyimpan kuntum luka

amis darah di rumpun bambu

benteng tua tinggal kenangan

 



=L. K. ARA=