Tampilkan postingan dengan label EMHA AINUN NADJIB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EMHA AINUN NADJIB. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 September 2015

AKU MABUK ALLAH karya : Emha Ainun Nadjib

aku mabuk Allah
semata-mata Allah
segala-galanya Aallah
tak bisa lain lagi
aku mabuk Allah
lainnya tak berhak dimabuki
lainnya palsu, lainnya tiada
nyamuk tak nyamuk
kalau tak mengabarkan Allah
langit tak langit
kalau tak menandakan Allah
debu tak debu
badai tak badai
kalau tak membuktikan Allah
kembang tang mekar
api tak membakar
kalau tak Allah
mabuklah alu mabuk Allah
tak bisa lihat tak bisa dengar
cuma Allah cuma Allah
kalau matahari memancar
siapa sebenarnya yang menyinar
kalau malam legam
siapa hadir di kegelapan
kalau punggung ditikam
siapa merasa kesakitan
mabuklah aku mabuk Allah
kalau jantung berdegup
siapa yang hidup
kalau menetes puisi
siapa yang abadi
Allah semata
Allah semata



=EMHA AINUN NADJIB=
aku mabuk Allah
semata-mata Allah
segala-galanya Aallah
tak bisa lain lagi
aku mabuk Allah
lainnya tak berhak dimabuki
lainnya palsu, lainnya tiada
nyamuk tak nyamuk
kalau tak mengabarkan Allah
langit tak langit
kalau tak menandakan Allah
debu tak debu
badai tak badai
kalau tak membuktikan Allah
kembang tang mekar
api tak membakar
kalau tak Allah
mabuklah alu mabuk Allah
tak bisa lihat tak bisa dengar
cuma Allah cuma Allah
kalau matahari memancar
siapa sebenarnya yang menyinar
kalau malam legam
siapa hadir di kegelapan
kalau punggung ditikam
siapa merasa kesakitan
mabuklah aku mabuk Allah
kalau jantung berdegup
siapa yang hidup
kalau menetes puisi
siapa yang abadi
Allah semata
Allah semata - See more at: http://orb.web.id/puisi-aku-mabuk-allah.html#sthash.3AEj22lb.dpuf

Minggu, 26 Juli 2015

TUHAN SUDAH SANGAT POPULER karya : Emha Ainun Nadjib

Satu

 

Tuhan sudah sangat populer

Nama-Nya dihapal luar kepala

Sehingga amat jarang ada

Orang yang sungguh-sungguh mengingat-Nya

 

Tuhan sudah sangat populer

Seperti matahari tak pernah tak bercahaya

Sehingga hanya kadang-kadang saja

Orang menyadari ada dan peran-Nya

 

Tuhan sudah sangat populer

Baik di kota maupun di desa

Kalau terasa tak ada, orang menanyakan-Nya

Ketika jelas, ada orang melupakan-Nya

 



1987

=EMHA AINUN NADJIB=

TAHAJJUD CINTAKU karya : Emha Ainun Nadjib

 

maha anggun tuhan yang menciptakan hanya kebaikan

maha agung Ia yang mustahil menganugerahkan keburukan

 

apakah yang menyelubungi kehidupan ini selain cahaya

kegelapan hanyalah ketika taburan cahaya tak diterima

 

kecuali kesucian tidaklah tuhan berikan kepada kita

kekotoran adalah kesucian yang hakikatnya tak dipelihara

 

katakan padaku adakah neraka itu kufur dan durhaka

sedang bagi keadilan hukum ia menyediakan diri

 

ke mana pun memandang yang tampak ialah kebenaran

kebatilan hanyalah kebenaran yang tak diberi ruang

 

maha anggun tuhan yang menciptakan hanya kebaikan

suapi ia makanan agar tak lapar dan berwajah keburukan

 

tuhan kekasihku tak mengajari apapun kecuali cinta

kebencian tak ada kecuali cinta kau lukai hatinya



 

1988

=EMHA AINUN NADJIB=

AMBIL SI PENARI UNTUKKU TARIANNYA karya : Emha Ainun Nadjib

 

            Dzu Walayah membawaku mengembara.

            Telah berulangkali kukunjungi tempat-tempat itu, namun bersamanya menjadi berubah cara berjalanku serta menjelma baru mata-pandangku.

            Kuajukan kepadanya beribu-ribu pertanyaan seperti Ibrahim menggalah beribu-ribu bintang, kureguk jawaban-jawabannya yang mesra bagai anak kambing menyusu puting induknya.

            Namun, tentang satu hal, Dzu Walayah selalu menghindar, ialah tentang wihdatul wujud, Allah dengan hambaNya manunggal.

            Tatkala kami duduk-duduk istirah di tepian pantai, ia meminta – “Ambil seciduk dua ciduk air samudera untukmu, sisakan ombaknya berikan kepadaku.”

            Ketika di malam hari aku merasa kedinginan oleh hembusan angin yang amat kencang, ia lepaskan kain sarungnya dan berkata – “Pakailah ini untuk selimutmu, tapi helai-helai benangnya biarlah untukku.”

            Dan ketika di lapangan pojok dusun itu bersama-sama kami menyaksikan acara tayuban yang riuh rendah oleh musik, teriakan dan birahi, Dzu Walayah menggamit pundakku – “Pergilah ambil penari itu untukmu, tapi terlebih dahulu berikan kepadaku tariannya.”



 

1987

=EMHA AINUN NADJIB=

Sabtu, 25 Juli 2015

HIJRAH karya : Emha Ainun Nadjib

mimpiku pawai burung

tanpa sayap terbang ke surga

mimpiku mata rabun

nyangkut di langit hampa

 

insyaallah angan-angan ini

disetujui oleh para nabi

tapi jarang kuteliti

teori mereka mengolah bumi

 

kemudian tiba ke khomeiny

marx, fraire, dan ali syari’ati

madrasah frankfurt, ngo pinggir kali

berperang brubuh di rumah sini

 

di wajah beberapa kawan

nama-nama itu menjelma siluman

ketika tangan mereka acungkan

terciptalah mesin percetakan

 

aku jatuh terjengkang

tolol di pojok jalan

hanya sanggup berpamitan

hijrah ke semesta pengembaraan

 



1985

=EMHA AINUN NADJIB= 

SYAIR CANDU 5 karya : Emha Ainun Nadjib

 

paduka kenyataan hamba

paduka juga impian hamba

luka parah hamba memburunya

 

semesta rahasia

tak terhingga jumlah pintunya

sehingga realitas terus bekerja

 

kenyataan tak bisa distop langkahnya

sebab terangkai oleh kemungkinan

yang tak tertangkap oleh kata benda

 

paduka aduk mitos kenyataan

padaka tertawakan kenyataan mitos

ketika orang membeku di salah satunya

 

maka terimalah hamba

ikut berdenyut  di jantung paduka

mengembarai hakikat yang betapa anehnya

 



1985

=EMHA AINUN NADJIB= 

BELAJAR TIDAK karya Ainun Nadjib

Ajari kami

membedakan ya dan tidak

tanpa embel-embel

 

Tuntunlah kami

bilang ya dan bilang tidak

tanpa hitung untung

 

Tenaga apa bisa kami pakai

untuk bilang ya

bagi setiap ya

untuk bilang tidak

bagi setiap tidak

 

Apa mesti pakai sukma Tuhan

untuk bisa tahan

tuding tidak pada tidak

karena tidak

ialah tidak

 

Udara sarat tidak

tiap hari sibuk tidak

tetapi sebab dicekik ya

terpaksa bilang ya

 

******

 

Mata siapa bisa kami pinjam

untuk melihat benar kehidupan

untuk menangkap setiap murni getaran

Tangan siapa bisa kami ulurkan

untuk menggenggam air bah kenyataan

 

Mau nimba ke mana

Belajar kepada apa

Berguru ke siapa

Ilmukah atau batu

Anginkah atau guru

Langitkah atau suhu

Mataharikah atau waktu

Rohkah atau langit biru

Pohonkah atau buku

Gunungkah atau para biksu

Pedang-pedangkah

atau primbon masa lalu

Lautan katakah

atau Allah yang bisu

 

*******

 

Sejuta ilmu

lupa pada yang sederhana

 

Hidup teramat lama

untuk tak bisa ngomong tidak

Hidup terlalu sumpeg

untuk selalu tak bilang tidak

Waktu terentang panjang

bisa tampung berjuta tidak

Irama begini sesak

untuk bilang satu saja tidak

 

Dinding amat tebal

Ruang terbagi-bagi

Bagian-bagian terbagi-bagi

tanpa pintu

 

Angin membusuk

Pikiran meracuni jiwa

Sukma tertidur

takut ngerti sampai di mana

 

Kata tidak menumpuk

di sel-sel penjara

di butir-butir darah

nyangkut di mata merah

 

******

 

Ya sering nampak sebagai tidak

Tidak sering seperti ya

Ya seakan-akan tidak

Tidak seolah-olah ya

Ada ya yang ketidak-tidakkan

Ada tidak yang keya-yaan

Ya biasa disulap jadi tidak

Tidak dianggap sebagai ya

Orang ya terpaksa bilang tidak

Orang tidak terpaksa bilang ya

Segala ya jadi kuasa

Bikin setiap tidak jadi ya

Asal kami bilang ya

Soal jadi tak ada

Tapi jika bilang tidak

Hari esok bisa binasa

Hukum jadi samar

Benar jadi omong besar

Merdeka jadi patung-patung

 

******

 

Kami inginkan ya yang lugas

Tidak yang tegas

Tapi siapakah guru kami?

 

Para guru sangat pandai

mengajarkan upaya

 

Pemimpin kami amat pintar

membendung segala tidak

dari mulut kami

yang dibilang pengkhianat

 

Beribu nilai tersedia

Namun kami hanya dipilihkan

Oleh suatu rangka dan susunan keadaan

Kami dikepung dan dikendalikan

 

Kiranya guru kami ialah

kata tidak itu sendiri

Tidak

Beratus-ratus tidak

Beribu-ribu tidak

Berjuta-juta tidak

Kami ucapkan

tiap pagi

siang, sore

dan malam harinya

sampai bersiap merdeka

atau gila.

 



Yogya, 10 Juni 1982 

=EMHA AINUN NADJIB=

YOGYA KU karya : Emha Ainun Nadjib

Candradimuka hanya kawah panas seribu panas

tapi Yogyaku apimu membekukan dinginmu memanggang

Di kawah aku mengolah baja namun engkau

menantang keabadianku di antara pijar matahari dan

malaikat salju

Di pelukanmu ngantuk aku tapi jika kudengar

detak jantung rahasiamu kuperoleh Tidur yang sebenarnya

Tidur abadi, sunyi segala sunyi, terkatup mulutmu

karena tahu sang Sutradara hanya menorehkan sepi

Yogyaku senyumanmu linuhung di belakang

punggung beribu orang yang mengigau pernah ketemu dan

bercakap-cakap denganmu

Anak-anak kecil yang menghiasimu dengan beratus

gelar, menabur janji, menancapkan papan-papan ikrar

dan menyuratkan buih-buih mimpi yang terbengkalai

Kata-kata macet di tengah pidato silang tindih,

nilai-nilai undur diri kepadamu di tengah program bingung

dan gerak yang serba rancu, ruh anak-anakmu terguncang

oleh kendaraan-kendaraan yang kesurupan di atas

danau-danau jalan rayamu

Kemudian sekian ratus di antara mereka,

mati rahasia, dan engkau tahu persis jumlahnya tanpa meraka

pernah kepadamu membukakannya

Yogyaku senyuman linuhungmu mengurung bagai

hamparan langit yang mahasabar, Yogyaku engkau

memaafkan para pelacur dan maling di jalan dan di singgasana

Di jalan, di gang-gang sempit, engkau menanam janji

sunyi, di singgasana engkau menaruh rasa iba hati, karena jika

engkau dijual untuk sepiring nasi, sesungguhnya engkau tak

kan pernah bisa digadaikan atau dicuri

Yogyaku engkau diangkut dari sungai masa silam

dengan truk hari depan, Yogyaku engkau direbut dari masa

datang dan tergesa dilempar ke museum ke alam abad silam,

waktu tak di dalam ruang, juga tak di luarnya,

tak di sela garis batasnya ...

 



1984

=EMHA AINUN NADJIB= 

SESOBEK BUKU HARIAN INDONESIA karya : Emha Ainun Nadjib

Melihat pentas-pentas drama di negeriku

berjudul Pesta Darah di Jember

Menyerbu Negeri Hantu Putih di Solo

Klaten, Semarang, Surabaya dan Medan

Teror atas Gardu Pengaman Rakyat di Bandung

Woyla.

Ah, ingat ke hari kemarin

pentas sandiwara rakyat

yang berjudul Komando Jihad

Ingat Malari.

Ingat beratus pentas drama

yang naskahnya tak ketahuan

dan mata kita yang telanjang

dengan gampang dikelabui dan dijerumuskan

Ah, drama-drama total

yang tanpa panggung

melainkan berlangsung di atas hamparan

kepala-kepala penonton

Darah mengucur, kembang kematian.

Bau busuk air liur para sutradara licik

yang bersembunyi di hati mulia para rakyat.

Drama peradaban yang bermain nyawa

mencumbu kemanusiaan

berkelakar secara rendahan kepada Tuhan

Kita orang-orang yang amat lugu dan tak tahu

Pikiran disetir

Hidung dicocok dan disemprot parfum

Pantat disodok dan kita meringkik-ringkik

tanpa ada maknanya

Kita yang terlalu polos dan pemaaf

beriuh rendah di antara kita sendiri

bagai anak-anak kecil yang sibuk dikasih petasan

kemudian tertidur lelap

sesudah disuapi sepotong kue bolu dan permen karet

Ah, milik siapa tanah ini

Milik siapa hutan-hutan yang ditebang

Pasir timah dan kayu yang secara resmi diseludupkan

Milik siapa tambang-tambang

keputusan buat masa depan

Milik siapa tabungan alam

yang kini diboroskan habis-habisan

Milik siapa perubahan-perubahan

kepentingan dari surat-surat keputusan

Kita ini sendiri

milik siapa gerangan.

Pernahkan kita sedikit saja memiliki

lebih dari sekedar dimiliki, dan dimiliki.

Pernahkan kita sedikit saja menentukan

lebih dari sekedar ditentukan, dan ditentukan.

 



Yogya, 13 Maret 1982 

=EMHA AINUN NADJIB=

SYAIR MALING karya : Emha Ainun Nadjib

Perjuangan utama sebuah syair, hanyalah

Untuk tak menjadi slogan

Atau kembang plastik

 

Dari Tuhan lahir seorang bayi

Dituding sebagai subversi, atau dipupuk

Menjadi hostes para priyayi

 

Syair-syair diagung-agungkan

Hingga menjadi barang kerajinan

Yang menggelikan

 

Cukuplah ia – kata seorang teman

Lahir dari angin

Tapi sahabat lagi mengklaim

-- syair ialah berak

 

Berak nasib

Orang-orang terpilin

 

Maka kita bertengkar

Buntu dan gagap

Dari hari ke hari

Sambil membiarkan maling-maling

 



1983 

=EMHA AINUN NADJIB=

Jumat, 24 Juli 2015

MAKAN DAN MINUM 6 karya : Emha Ainun Nadjib

Pada mulanya, kata jiwa saya, orang pergi

berburu binatang, menombak rusa atau

memanah burung-burung

Akhirnya hewan menipis jumlahnya dan hutan

hanya dipenuhi manusia, maka orang menembak orang

orang menggusur orang,

orang menembak orang

Sesampainya di dapur, mereka bikin sate

beramai-ramai

Yang kutangisi, kata jiwa saya lagi, bahwa

sesudah makan dan minum seratus kali

lipat dari kapasitas perutnya, para pemenggal,

penggusur dan penembak itu tidak menjadi kenyang,

melainkan justru semakin lapar

 



1984 

=EMHA AINUN NADJIB=

MAKAN DAN MINUM 1 karya : Emha Ainun Nadjib

Selalu jiwa saya bertanya kenapa tiap hari

orang mesti makan dan minum

Saya bilang itu merupakan syarat agar mereka

bisa berak dan kencing

Kalau yang orang maui, kata jiwa saya, hanya

buang air baik besar maupun kecil

Kenapa makanan dan minuman dibikin bermacam-macam,

bertingkat-tingkat serta berhias-hias

Saya bilang karena mereka tak bisa tentukan

kualitas berak, hiasan tinja atau bau harum kencing

Kalau begitu, kata jiwa saya lagi, segera

mendekatlah padaku, agar tak terlalu

lama engkau dikungkung oleh tujuan hidup

berak dan kencing

 



1984 

=EMHA AINUN NADJIB=

PESAWAT TERBANG karya : Emha Ainun Nadjib

Pertama kali naik pesawat terbang, saya ingin

            memasang iklan di koran nasional bahwa saya

            benar-benar sudah pernah naik burung ajaib

            yang dikagumi oleh seluruh kanak-kanak

            dan orang dewasa

 

Kali kedua pengin dishoot kamera betapa saya

            memasang seat-belt segampang menelan ludah

            kemudian dengan lincah menggoda stewardesses

 

Yang ketiga saya berpikir menelusuri dari modal siapa

            gerangan pesawat mewah ini dibikin, bagaimana

            modal itu diputar di meja perjudian

            ekonomi politik internasional, serta membayangkan

            siapa saja, yang bisa menikmatinya

 

Namun toh pada kali keempat saya masih saja sedikit

            mengagumi otak manusia penemu daya sihir

            burung-burung, meskipun kemudian bosan

            dan tidur kepala berat

 

Sehingga tatkala terbang kelima, keenam, ketujuh kali,

            di samping selalu disergap oleh ratusan

            pikiran murung: saya merasa pesawat terbang

            tak pernah membawa saya naik ke mana-mana

 

Ada kemungkinan para teknolog, teknokrat serta

para pemakai mereka, gagal melihat mana bawah

yang sebenarnya dan mana atas yang sesungguhnya

 



1984

=EMHA AINUN NADJIB= 

CREETE karya : Emha Ainun Nadjib

Jauh di atas kepulauan Crete, pesawat saya
            menggerunjal, seperti sedang melewati jalanan
            di kampungku yang penuh lobang dan batu-batu

Pilot pemandu hidup memberi peringatan tentang
            cuaca amat buruk, hingga kami harus menegakkan
            tempat duduk dan pasang sabuk, kemudian dianjurkan
            untuk berdoa

Para penumpang langsung bermuka mendung, para suami
            istri dan pasangan kekasih pada berpegangan tangan,
            semua tiba-tiba ingat Tuhan dan tampil di hadapan-Nya
            sebagai pengemis-pengemis yang malang

Supaya tidak mengganggu lingkungan saya pun menunduk
            khusyu, sambil kupandangi jiwa saya yang tertawa lega
            bagaikan menerima lotere

Terima kasih, terima kasih, Tuhan – katanya – Saya
            tidak ingin menitipkan onggokan daging busuk ini
            kepada siapa pun. Kalau Engkau berkenan, biarlah
            sampah hina yang duduk cemas di kursi ini segera
            saja sirna, agar saya pun merdeka!

Tapi tak lama kemudian jiwa saya itu pun ngambeg
            karena segera ada pengumuman tentang yang disebut
            keselamatan, dan daging-daging bau itu pun menarik
            nafas lega, sambil bersiap turun, berjejal-jejal
            memenuhi tong-tong sampah yang bertebaran di atas dunia



1984
=EMHA AINUN NADJIB=

KABUT karya : Emha Ainun Nadjib

Selalu kaupanggil-panggil namaku

Aku mengangguk dan tersenyum kepadamu

Tapi sebenarnya kabutlah

Yang kaupanggil itu

 

Kauseret tubuhku, kaubawa ke perjalanan

Kau perkenalkan kepada setiap orang

Kabut pun menebal, diriku tersembunyikan

 

Tak kauingatkan sudah berapa topeng

Yang kautempelkan di wajahku?

Jadi engkau sendirilah ini, bukan aku

 

Tetangga, politik, dan persangkaan

Nafsu, idolatri, dan kepentingan

Mengepulkan debu, mengabuti sejatiku

 

Kita semua adalah Tuhan yang menyamar

Menyiksa diri dengan sejarah yang samar-samar

Kalau tak juga kautanggalkan topeng-topeng ini

Kepalsuan kita panggul sampai mati

 



=EMHA AINUN NADJIB=

SAJAK ORANGTUA SERIBU karya : Emha Ainun Nadjib

Bapakku satu

Ibuku satu

Orang tuaku seribu

 

Yang satu ngajari sembahyang

Lainnya nyuruh edan

Yang satu ngasih kitab Qur’an

Lainnya menyodorkan minuman

Yang satu berkhotbah kebaikan

Lainnya mendorong ganggu istri orang

Lainnya lagi penuh kebajikan

Sekaligus bajingan

 

Langit muntah

Hujan tumpah

Mancur ke tenggorokan bumi

Membanjirkan sampah kotoran

Dari selokan dan kali-kali

 

Bapakku satu

Ibuku satu

Orang tuaku misteri

Hiruk pikuk yang sunyi

Satu wajah

Ganti beribu kali

 

Ibu hamil karena Tuhan

Lahir aku tercampak di air pasang

Yang bergerak menyeret tanpa ampunan

Yeaahh!

Kini ambil putusan

 

Si Diam bergerak ke sebaliknya

Balikkan badan

Curi ruang di antara ruang

Sang Maha Gunung terletak sumbernya

Sampai darah kering kutatap ia!

 



1982

=EMHA AINUN NADJIB= 

DARI BUKIT KOTAMU karya : Emha Ainun Nadjib

sekali waktu ingin kuajak engkau kemari, kasihku

untuk melihat lampu-lampu kotamu yang berdebu

berdiri di sini bagai berada di luar kehidupan

jika kita bergoyang-goyang ditimang tangan Tuhan

 

apa salahnya beberapa saat kita istirah

pasrah diri kepada kelam yang jauh

apa salahnya sejenak alpa pada luka yang dalam

dan hati yang robek di dalam pergulatan

 

sekali waktu ingin kuajak kau bersandar di pohon ini, kasihku

untuk menghela napas panjang, melepas keletihan

meredakan segenap dendam, meniti masa silam

dan bersiap, melayani hari-hari esok yang panjang



 

Bandung , 1977

=EMHA AINUN NADJIB=

 

TAKUT PADA MATAMU karya : Emha Ainun Nadjib

Kekagumanku kepada Tuhan

Membuat aku takut pada matamu

Apakah engkau sendiri mengerti, kekasihku

Apa gerangan yang memancar dari matamu itu?

 

Bertahun-tahun kita hanya berpandangan saja

Engkau bisu

Dan aku tuli

Karena sangat tidak mengerti

 

Bola matamu yang bening

Adalah ruang yang tiada terbatas

Tetapi jika pun engkau kelak menjadi wanitaku

Akan bisakah kumasuki ruang itu?



 

Surabaya , 1977

=EMHA AINUN NADJIB=

KOSONG karya : Emha Ainun Nadjib

Kenapakah kadang-kadang

Demikian kosong hidup ini, Tuhanku

Segala keramaian di sekelilingku

Lalu lalang pikiran dan hasrat kehidupan

Yang menggoreskan seribu warna peradaban

Segala apa pun yang dikurung langit-Mu

Segala apa pun yang di bilikku

Telapak tanganku yang tiba-tiba kuamati

Bahkan wajahku yang dipantulkan oleh cermin ini

Kurasakan amat kosong dan sunyi

Tetapi di dalam dadaku

Tetapi di dalam jiwaku

Ada bergaung suara-suara

Ada tekanan-tekanan yang asing rasanya

Seperti jeritan

Seperti teriakan dalam diam

Seperti diam dalam teriakan

Seperti dendam

Seperti kerinduan

Atau pusaran permainan

Yang tak bisa aku hindarkan

 

Tuhanku, apakah perasaan yang semacam ini juga

Yang mendorong-Mu untuk menciptakan manusia

Dan semesta yang fana?



 

Salatiga. 1977

=EMHA AINUN NADJIB=

Kamis, 23 Juli 2015

AKU INI TERMASUK ORANG YANG SUKAR BERBAHAGIA karya : Emha Ainun Nadjib


 

Aku ini termasuk orang yang sukar berbahagia

Sebab makin banyak memandang adegan kehidupan

Makin bertumpuk pula pertanyaan kepada Tuhan

 

Hidup ini ruwet seperti lingkaran setan

Seperti perang brubuh yang tak bisa diuraikan

Serta penuh benturan yang seperti sengaja diciptakan

 

Ah, tetapi mudah saja jika Tuhan mau mengubah semuanya

Atau menghapusnya lantas menciptakan lagi dunia

Yang sedikit agak bermutu, terhormat dan mulia

 

Tetapi kukira itu tak mungkin terlaksana

Sebab siapa tahu Tuhan merasa asyik dengan kekonyolan kita

Dan agar tak kehilangan permainan: kita terus saja dipelihara

 



Yogya , 1977 

=EMHA AINUN NADJIB=