Tampilkan postingan dengan label ARINI HIDAJATI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARINI HIDAJATI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Agustus 2015

DENGAN ASMA ALLAH karya : Arini Hidajati

Dengan asma Allah yang namaNya memenuhi segala

sesuatu, segala ruang, waktu dan keadaan.

Dengan asma Allah yang keberadaanNya bagi manusia adalah

penerang, cahaya, kebahagiaan.

Dengan asma Allah yang keagunganNya menyeret manusia pasrah dalam

ketundukan total akan kebesaran dan kesucian.

Dengan asma Allah yang ketika namaNya disebut

bergetar hati lemah tak berdaya.

Dengan asma Allah yang telah menjadikan indahnya air mata mampu

menerobos segala tabir rahasia kediamanNya.

Dengan asma Allah yang kesucianNya membuat iri aku hamba

yang berbaju dosa, kutambal dan kutambal, dengan serpihan cela.

Dengan asma Allah yang menciptakan manusia-manusia suci yang tak

tertandingi kebersihan dan ketercerahannya.

Dengan asma Allah yang menjadikan hidup ini begitu misteri, memaku

kebingungan manusia.



 

Yogyakarta, 27 Shafar 1416 H

=ARINI HIDAJATI=

ASMARA KITA karya : Arini Hidajati

Menanti pertemuan denganMu derita bagiku, puncak gelisahku.

Asmaraku kuharap juga jadi asmaraMu,

kuingin selalu bersatu, sampai hilang keakuanku,

sampai lenyap kedirianku.

Terbang! Terbanglah cintaku menuju ke angin keutamaan.

Wahai Jibril! Antarkan aku pada Kekasihku…

sebagaimana kau pernah mengantarkan Muhammad

untuk menikmati keindahan wajahNya.

 

Demak, 14 Oktober 1996

=ARINI HIDAJATI=

RASA PERJALANAN karya : Arini Hidajati

Sekali waktu harus kumanjakan diriku,

dengan perjalanan panjang ini,

dengan lapar dan dahaga ini,

dengan kering dan kurusnya tubuh ini,

dengan pucat pasi seluruh wajahku,

dengan gemetar dan gemeletuk gigi-gigiku,

dengan panas yang membakar seluruh tubuhku.

Biar! Biar aku puas dalam kenikmatan,

dalam damai jiwa insan petapa.



 

Demak, 14 Oktober 1996

=ARINI HIDAJATI=

MEMANG DEMIKIANKAH CINTA ITU ? karya : Arini Hidajati

Karena kecintaanku padamu,

ingin kuejek diriku,

ingin ‘ku melupakanmu, tak mengingatmu lagi.

Karena cintaku tlah merobek kesejatian hidupnya hatiku,

menyingkirkan kesadaran, kalau kau ternyata sudah

menemukan duniamu sendiri.

Kini, ingin kubutakan mataku dari cinta dan kututup dunia,

karena cinta memang harus berpisah, kecuali cinta padaNya.



 

Yogyakarta, 1996

=ARINI HIDAJATI=

BANGUN DARI TIDUR KEHAMPAAN INI karya : Arini Hidajati

Perempuanku, cintaku

bagaimana dengan segala keadaan

yang telah memojokkanmu pada sesuatu

yang bernama suratan takdir, garis nasib, tradisi kaum lelaki,

yang telah memaksamu menjalaninya.

Tak sadar kau bahwa semua telah menenggelamkanmu

pada ujung sempit dunia, yang tiada kau mengerti

selain menanti hari-hari berlalu dalam rutinitas yang begitu-begitu saja!

Perempuanku, bangun dari tidur kelenaan ini,

bangun dari semua, dari cengkeraman laki-laki,

dari fatwa dan dogma laki-laki,

dari ketentuan-ketentuan yang belum membebaskan,

dari segala kebodohan dan kepicikanmu,

atau dari belenggu ‘tradisi’, tradisi desa, tradisi kota,

yang sungguh tak kau mengerti.

Aku lihat semua telah menghitamkan tembikar di dapurmu.

Bangunlah, hanya demi Tuhan,

bukan karena dendam dan hasrat pribadi yang ingin menang sendiri,

atau bukan dari yang lain.

Bukan itu kita disuruh hidup, tapi hanya demi Tuhan.

Itulah jalan keutamaan yang bisa menerbangkanmu ke rahasia zat Allah.

Wahai perempuan, kaumku, kaum ibuku, kaum anak-anakku perempuan,

mari kayuh kebersamaan yang membebaskan,

menuju zat keabadian dengan cinta,

bukan dengan berkoar-koar yang hanya bisa memekakkan telinga

dan hilang ditelan kesemestaan gempita.

Tapi mari korbankan diri, korbankan darah dan air mata,

di setiap ujung dan pojok dunia, atau di mana saja,

dengan ilmu pengetahuan dan kehalusan cinta.

Seperti Ismail kita hendaknya,

yang hanya demi Cinta rela membuang cinta,

bukan untuk memperolehnya, karena Cinta tiada meminta balasan.

Kini, mari topang langkah kita hanya dengan ketelanjangan,

melewati jalan keutamaan, jalan kebebasan, jalan Tuhan dan cinta

Muhammad.

 

Yogyakarta, Desember 1996
=ARINI HIDAJATI=

MERENUNGI HIDUP karya : Aeini Hidajati

Dalam kebebasannya seorang manusia,

dalam kedalaman penghayatan akan makna dan hakekat

hidup yang dijalaninya,

dalam kesendirian,

dalam setiap kesunyian, gelap dan terang,

dalam keterlepasan dari segala kecintaan,

kecuali kecintaan dengan Tuhan,

dalam nikmatnya menikmati hidup dan Tuhan,

ikatan dunia, ikatan kepemilikan, ikatan benda-benda,

ikatan hidup yang membelenggu.

Aku menoleh pada diri, mencari jawab sebuah tanya,

sudah sedemikian terbebaskankah diriku.

dalam segalanya, ia ‘kan kian terbebas dari segala ikatan:



 

Yogyakarta, Maret 1997

=ARINI HIDAJATI=

UNTAIAN FAJAR II karya : arini Hidajati

Aku lapar, tapi hanya kumau anggur, karena rinduku

pada pemiliknya, dan anggur itupun bukanlah apa-

apa, tapi Engkaulah anggur itu sesungguhnya yang

memabukkanku.


 

Yogyakarta, 30 Maret 1997

=ARINI HIDAJATI=

Sabtu, 08 Agustus 2015

JIWA ITU KUMPULAN CAHAYA RASUL karya : Arini Hidajati

Aku ingin seperti Ya’kub, yang buta demi cinta.

Akuingin seperti Yunus yang merasakan kedalaman dan

kekhusukan taubat.

Aku ingin seperti Musa yang harap melihat Engkau.

Aku ingin seperti Isa yang diam  penuh tapa.

Aku ingin seperti Muhammad yang  merasakan mi’raj dan melihat Engkau.


 

Yogyakarta, 1996

=ARINI HIDAJATI=

TERKOYAK AKU karya : Arini Hidajati

Aku berjalan di atas padang rumput kekecewaan, di

semak-semak penderitaan, di atas gelombang putus

asa dan harapan.

Aku terombang-ambing, dan jiwaku

berkata, “Begitu kenyangkah diriku dengan hidup

yang seperti ini, dimana bagian lain dari dunia yang

bernama kemanisan dan kesenangan?

Telah pergikahsemua dari relung jiwaku, dari detak jantungku, dari

udara di sekelilingku, atau memang Tuhan menyengaja

hal ini untuk menguatkanku, untuk menemukanNya

dalam keresahanku yang tiada batas?”



 

Yogyakarta, Maret 1997

=ARINI HIDAJATI=

ANGGUR KEBIJAKAN karya : Arini Hidajati

Aku belajar menulis puisi, dari desauan angin yang

menerpa, dari panasnya mentari, dari nyanyian

burung, dari tangisan bayi, dari desahan nafas

penderitaan, dari kesendirian yang mengiris kalbu,

dari seluruh gerak dan diam alam, kutuang dan

kutuang, setetes demi setetes, dalam cawan anggur

kebijaksanaan, untuk kupersembahkan padaMu,

meskipun kutahu, Kau tak perlu itu.

 



Yogyakarta, Oktober 1996

=ARINI HIDAJATI=

KEMISKINAN II karya : Arini Hidajati

Aku adalah perempuan miskin, yang lahir dari rakyat

kecil, dan dilahirkan oleh sejarah yang miskin.

Aku  lahir diantara ribuan mereka yang lahir, di bale-bale

yang keras, di dalam gubug yang berlobang,

disebabkan oleh ayahku yang papa, yang suatu malam

mendatangi ke peluk perempuan ibuku yang miskin.

 

Aku tumbuh di tengah-tengah mereka yang makan

dari belas kasih matahari dan minum dari air hujan.

Aku tumbuh di tengah-tengah ladang yang kering dan

tandus yang andalkan tanah sempit tegalan bersama-

sama tengadahkan tangan rindukan hujan, membasahi

rumput-rumput dan tenggorokan.

Aku hidup dalam  akar yang gersang, kutanami dan kutuai buah-buah

kesengsaraan dan penderitaan.

Aku tumbuh menjadi  tetesan embun yang tak berarti, yang hidup dalam

ketakutan akan gunjangan angin, atau gerak dedaunan.

 

Aku hidup bersama perjalanan hari-hari

dan berputarnya bumi, dalam kemiskinan yang

semakin mengoyaklaparkan tubuhku yang dahaga.

Tapi dalam kemiskinan, aku hanya ingin bicara cinta,

karena ialah rahasia penyelamatan jiwaku, dan

mengayakan diriku dalam kasihNya, menggapai lewat

doa, mencapai kesejatian pengabdian, harap bisa

menikmati wajahNya.

 



Yogyakarta, Februari 1998

=ARINI HIJATI=