Perempuanku, cintaku
bagaimana dengan segala keadaan
yang telah memojokkanmu pada sesuatu
yang bernama suratan takdir, garis nasib, tradisi kaum lelaki,
yang telah memaksamu menjalaninya.
Tak sadar kau bahwa semua telah menenggelamkanmu
pada ujung sempit dunia, yang tiada kau mengerti
selain menanti hari-hari berlalu dalam rutinitas yang begitu-begitu saja!
Perempuanku, bangun dari tidur kelenaan ini,
bangun dari semua, dari cengkeraman laki-laki,
dari fatwa dan dogma laki-laki,
dari ketentuan-ketentuan yang belum membebaskan,
dari segala kebodohan dan kepicikanmu,
atau dari belenggu ‘tradisi’, tradisi desa, tradisi kota,
yang sungguh tak kau mengerti.
Aku lihat semua telah menghitamkan tembikar di dapurmu.
Bangunlah, hanya demi Tuhan,
bukan karena dendam dan hasrat pribadi yang ingin menang sendiri,
atau bukan dari yang lain.
Bukan itu kita disuruh hidup, tapi hanya demi Tuhan.
Itulah jalan keutamaan yang bisa menerbangkanmu ke rahasia zat Allah.
Wahai perempuan, kaumku, kaum ibuku, kaum anak-anakku perempuan,
mari kayuh kebersamaan yang membebaskan,
menuju zat keabadian dengan cinta,
bukan dengan berkoar-koar yang hanya bisa memekakkan telinga
dan hilang ditelan kesemestaan gempita.
Tapi mari korbankan diri, korbankan darah dan air mata,
di setiap ujung dan pojok dunia, atau di mana saja,
dengan ilmu pengetahuan dan kehalusan cinta.
Seperti Ismail kita hendaknya,
yang hanya demi Cinta rela membuang cinta,
bukan untuk memperolehnya, karena Cinta tiada meminta balasan.
Kini, mari topang langkah kita hanya dengan ketelanjangan,
melewati jalan keutamaan, jalan kebebasan, jalan Tuhan dan cinta
Muhammad.
Yogyakarta, Desember 1996
=ARINI HIDAJATI=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar