Selasa, 25 Agustus 2015

SANDYAKALANING GUA KAMPRET karya : F. Rahardi

Dulu

di atas bukit-bukit itu

ada pohon-pohon

ada rumpun palem

rotan

paku-pakuan

dan sinar matahari hanya temaram

karena dihadang daun-daunan

dan di atas pohon-pohon besar itu

melilit akar liana

dan nun di atas dahan-dahan itu

bertengger kadaka dan

anggrek bulan.

 

Serangga pun banyak

Serangga yang merupakan makanan kampret

Itu tersedia melimpah.

 

“Itu zaman normal cu.”

kata seorang kakek kampret pada cucunya

“Sekarang semua habis

pohon-pohon itu sudah lama digergaji

lalu pabrik-pabrik dibangun

lalu warga kita banyak yang mati

dulu di sini ada jutaan kampret

sekarang cuma ribuan.”

 

 

Ketika itu pagi

mungkin baru pukul sepuluh

matahari cerah

dan para kampret

bergelayutan di kapling masing-masing

dengan perut yang tak seberapa kenyang

lantaran serangga makin susah didapat

ketika itulah

batu demi batu dicongkel

digelindingkan

dicongkel lagi

didorong

dibuldoser

lalu bukit-bukit itu runtuh

lubang gua itu tersibak

dinding ozon di planet kecil

di Citeureup itu

seperti dibedah dengan sebuah gergaji mesin.

 

Gua itu sekarang telanjang

sinar matahari langsung

menghunjam ke planet para kampret itu.

 

“Ini artinya kiamat ya kek?”

“Ya ini akhir zaman itu mari kita pergi.”

 

Dan seekor kakek kampret segera

menyeret isterinya lalu menggendong

cucunya dan kabur.

Semua silau

semua gemuruh

debu di mana-mana

para kampret itu bubar.

 

“Siapa mau ikut aku

aku mau ke Amerika

di sana semua aman

di sana bebas

Presiden pun boleh untuk mainan

ayo kita ke sana!”

 

Kampret yang teler itu lalu kabur

entah ke mana diikuti rombongannya.

 

“Amerika mbahmu itu

ayo ikut saya saja ke Ciseeng

di sana belum ada pabrik semen

atau ke Leuwiliang juga boleh

pokoknya di sana lebih aman

nanti kalau digusur ya pergi lagi

di Jawa ini gua-gua masih banyak

tidak perlu takut

tidak usah sampai Amerika segala

ayo sebelum kita lumat.”

 

“Kampret itu lalu kabur diikuti

Anak, isteri dan beberapa keponakannya.

 

“Aku tidak mau ke mana-mana

aku tidak mau kalah

gua ini

bukit-bukit ini

adalah segala-galanya

di sini dulu saya lahir

nyaplok anak kecoak

lalu jadi besar dan kekar

batu-batu ini adalah rohku

gua ini adalah nyawaku

akan kupertahankan sampai

tetes darah yang terakhir.

 

Sana, semua pergi

kampret-kampret oportunis

kampret-kampret yang jiwa nasionalismenya

sudah luntur terkena deterjen

minggat semua sana

gua ini tetap akan saya pertahankan

walau hanya sendirian.”

 

Kampret itu lalu bermeditasi

mengatur napas

memusatkan pikiran

dan pasrah

diikuti oleh anggota paguyubannya.

 

“Kita harus eling ya Saudara-saudara.”

“Ya, eling.”

Dan buldoser menggasak batu

 

“Kita musti selalu inget sama yang

memberi hidup ya sobat-sobat.”

“Ya, hidup.”

 

Lalu batu-batu itu runtuh

kampret-kampret itu ikut jatuh

lalu digiling

sampai lumat

darah berceceran

bulu kampret berhamburan.

 

“Hidup ini harus praktis

tidak perlu tetes-tetesan darah

lalu mati.

Pahlawan memang mahal

tapi jangan jadi pahlawan kesiangan.

Gua ini memang milik kita satu-satunya.

tapi cukup dipertahankan sampai

tetes liur dan kencing dan tinja

yang terakhir.”

“Artinya Pakde?”

“Ya kalau buldoser itu sudah dekat

kita kabur

wong besi kok dilawan

besi itu keras

padahal kita-kita ini lembek

ayo ngabur ke Cibubur sana

di sana ada tempat berkemah

dan taman bunga

ayo teman-teman ayo.”

 

“Kampret itu lalu dengan santai

berangkat ke Cibubur

diikuti oleh pacar gelapnya

dan anak buahnya.

 

“Semua cuma titipan

gua ini juga titipan

tak ada yang abadi di dunia ini

jadi kalau ada yang minta

ya mesti dikasi

namanya juga titipan

harta

kedudukan

pangkat

anak

gua

semua kan cuma titipan

ayo teman-teman kita

ngungsi ke Binagraha

kayaknya betonnya bagus

dan di sana pasti aman.”

 

Mereka lalu terbang ke Binagraha

tapi Paswalpres buru-buru

menembak mereka

dan mereka pun kelepak-kelepak

lalu mati

dan dibuang ke tempat sampah

disantap semut.

 

Gundukan batu kapur

batu-batu

angin

debu pabrik semen

sepi

buldoser itu capek

lalu istirahat

bangkai kampret menggunung

dan Tuhan

nun di atas sana

tetap tenang-tenang saja.




=F. RAHARDI=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar