Yang mulia,
angin di stasiun tua
beda dengan angin istana
di sini bau keringat penumpang dan kuli
di bawa angin ke sana dan kemari
dibawa angin pula wangi parfum murah
yang dipakai Sumirah
yang menunggu kereta yang terlambat tiba
yang rindu ibunya yang miskin di desa
setelah lama jadi pelacur di Jakarta
di bangku panjang duduk pula
pak guru tua yang menunggu cucunya
yang putus sekolah karena tidak ada biaya
dan ingin kerja di Jakarta
karena tidak ada pabrik di desa
sawah dan kebun di sana
sudah jadi milik orang kaya di kota
di sudut stasiun tua
berdiri anak muda
yang baru bebas dari penjara
dan bingung mau ke mana
bapak dan ibunya sudah tiada
rumahnya kena gusuran dan jadi jalan
dengan nama seorang pahlawan
inilah potret anak bangsa
di tanah airnya yang kaya
sementara cukong-cukong lama berjaya
merampok hutan raya
dan para koruptor tak ditembak mati
hingga lahir duka di sajak ini
=AZHAR=