Rabu, 05 Agustus 2015

SAJAK UNTUK PRESIDEN karya : Azhar

Yang mulia,

angin di stasiun tua

beda dengan angin istana

di sini bau keringat penumpang dan kuli

di bawa angin ke sana dan kemari

dibawa angin pula wangi parfum murah

yang dipakai Sumirah

yang menunggu kereta yang terlambat tiba

yang rindu ibunya yang miskin di desa

setelah lama jadi pelacur di Jakarta

 

di bangku panjang duduk pula

pak guru tua yang menunggu cucunya

yang putus sekolah karena tidak ada biaya

dan ingin kerja di Jakarta

karena tidak ada pabrik di desa

sawah dan kebun di sana

sudah jadi milik orang kaya di kota

 

di sudut stasiun tua

berdiri anak muda

yang baru bebas dari penjara

dan bingung mau ke mana

bapak dan ibunya sudah tiada

rumahnya kena gusuran dan jadi jalan

dengan nama seorang pahlawan

 

inilah potret anak bangsa

di tanah airnya yang kaya

sementara cukong-cukong lama berjaya

merampok hutan raya

dan para koruptor tak ditembak mati

hingga lahir duka di sajak ini




=AZHAR=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar